Senin, 10 April 2017

Dinamika Perkembangan Religiusitas

A. Pengantar Saya diminta memberi masukan tentang religiusitas karena salah satu tujuan pendidikan di YA ini adalah meningkatkan mutu religiusitas para siswanya. Tugas itu jelas tak bisa dilimpahkan hanya kepada para guru agama (katekist) kerna setiap orang mempunyai tugas dan sumbangsih pribadinya juga: menjadi saksi, teladan dan pewarta imannya. (5 tugas/panggilan dasar warga Katolik: koinonia, diakonia, liturgia, kerugma, martyria = persekutuan, pelayanan, perayaan, pewartaan, dan kesaksian hidup). Religiusitas bisa diartikan sebagai dimensi afektif dari agama: dampak dari ajaran dan praktek agama dalam hati manusia; hubungan diantara agama dengan pelbagai arus perasaan yang silih berganti timbul dalam hati manusia saat ia mengarungi aneka tahapan dan problematika kehidupan. Berikut dengan singkat akan saya sampaikan visi dua pakar psikologi agama, Henri Nouwen dan Gordon Allport, tentang tiga (3) tahap dinamika perkembangan religiusitas manusia: tahap kanak-kanak, remaja dan dewasa. B. Religiusitas Tahap Kanak-Kanak Ada tiga (3) moment penting terjadi semasa periode kanak-kanak (1-12 thn): kesadaran bahwa ego bukanlah pusat dunia, tumbuhnya kemampuan berbahasa, dan pembentukan suara hati (superego). 1. Ego Bukan Pusat Dunia Sekitar usia 18 bulan, seorang bayi samar-samar menyadari bahwa dia itu bukanlah pusat dunia: bukan satu-satunya pusat perhatian keluarganya, khususnya ibunya. Dalam periuode sebelumnya, khususnya semasa dalam kandungan, seorang bayi itu menikmati “zone of comfort and security.” Anak & ibu itu sungguh menyatu kerna keberadaan sang ibu itu sungguh tercurah dan terserap demi survival sang bayi: segalanya langsung ada dan tersedia demi pemenuhuan kebutuhan lahir-batin bayi. Melalui serangkaian pengalaman pahit (frustasi), sang bayi mulai menyadari bahwa ibunya itu bukanlah perpanjangan tubuhnya, bahwa ibunya memnpunyai perhatian dan kesibukan lain disamping dirinya: jerit & tangisnya, rontaan & rengekannya tak langsung membawa kepuasaan yang diberikan sang ibu. Ringkasnya, bayi mulai menyadari ada dunia obyektif di luar dirinya: dunia yang terpisah dan tidak di bawah kontrolnya. Dalam kaitannya dengan agama, ada gejala bahwa orang dewasa pun mempunyai religiusitas yang kekanak-kanakan: ia merasa bahwa Allah adalah ekstensi/perpanjangan dari dirinya; bahwa tugas Allah adalah memberikan “instant comfort & security.” Perlahan-lahan kita harus menyadari bahwa Allah itu lain dari diri kita dan tidak berada di bawah control kita. Ringkasnya, orientasi religiusitas kita itu mesti berubah dari “Terjadilah kehendakku” menuju “Terjadilah KehendakMu.” 2. Kemampuan Berbahasa Sekitar usia dua tahun, seorang anak menunjukkan kemampuan linguistic: mampu menguasai kata, kalimat, bahasa. Ia ingin mengetahui nama dari segala benda, aktivitas dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Penghayatan bahasa seorang anak itu bersifat “magis dan imperative.”. Bahasa itu bersifat magis kerna dirasa mempunyai kekuatan untuk menciptakan dampak tertentu. Sebuah boneka plastic bisa dirasa/dialami sebagai seorang Putri atau Malaekat kerna dinamai “Princess or Angel.” (eg. ponakan dengan angel-nya). Seorang bayi hanya bisa menikmati setangkai bunga dengan cara meremasnya sampai hancur. Namun dengan kemampuan linguistiknya, seorang anak bisa menikmati bunga dengan menciumnya sambil berkata: “Flower is nice and beautiful.” (rasa “nice & beautiful” itu diciptakan oleh kata!). Bahasa kanak-kanak juga bersifat imperative kerna melalui bahasa, ia bisa mengatur dan memerintah orang-orang di sekitarnya, khususnya di Indonesia yang banyak PRT. Bahasa mempunyai peranan yang penting dalam hidup beragama kerna melalui bahasa kita mencoba untuk berkomunikasi dengan Allah. Namun bahasa religius orang dewasa pun bisa kekanak-kanakan kerna bersifat magis & imperative: melalui doa, novena, ziarah etc, kita berusaha mengatur Allah agar IA melakukan apa yang kita inginkan. Bahasa menjadi sarana untuk mengubah hati Allah agar IA berat sebelah ke arah nasib & keberuntungan kita (dan jika tidak terjadi… kita lalu marah dan frustasi kepada Allah). Bahasa religius yang sejati itu tidak bersifat magis & imperative melainkan mempunyai cirri-ciri sbb: - ekspresif = curhat yang confidential - reflektif = membangun niat dan motivasi yang luhur-mulia - konsultatif = dialog dengan Allah untuk mencari pencerahan. Doa St. Fransiskus : « Ya, Allah, berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang harus diubah ; kepasrahan untuk menerima apa yang tak bisa diubah ; dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan di antara keduanya. » - imploratif = aneka jenis doa permohonan Ringkasnya : bahasa religius yang sejati adalah sarana untuk mengubah diri sendiri, dan bukannya mengubah Allah. 3. Pembentukan Superego Antara usia 3-8 tahun, seorang anak terlibat dalam proses pembentukan superego melalui mekanisme internalisasi : ia merekam dalam batinnya segala anjuran & larangan, segala teladan dan kelakuan orang-orang penting yang berada di sekitarnya. Otoritas eksternal menjadi otoritas internal : ia tidak lagi merampas mainan adik bukan kerna dimarah bapa melainkan kerna ia sendiri merasa itu dindakah yang salah. Bila otoritas eksternal itu terlampau keras dan kaku (tak pernah minta keterangan dan pertimbangan), maka superego anak pun akan terasa sebagai « internal policeman » : tugas utamanya adalah mengawasi, membekuk dan menjatuhkan hukuman ! Dalam hidup beragama pun Allah bisa dipandang sebagai “the Great Superego” (= The Spying God). Akibatnya, orang bisa menderita depressi kerna merasa terus menerus diawasi dan diancam oleh pelbagai larangan dan hukuman. Patut diingat bahwa “image Allah” dari Kitab Suci itu mengambarkan Allah sekaligus sebagai “Hakim yang Adil & Bapa yang Baik.” Hakim yang adil adalah hakim yang tidak menjatuhkan hukuman dengan sewenang-wenang tetapi selalu meminta keterangan dan kesaksian terlebih dahulu. Bapa yag baik adalah Bapa yang selalu memberi tempat bagi rasa sesal dan ampun, memberi kesempatan pada manusia untuk belajar dari kesalahan menuju kebaikan. Tanpa image tentang Allah sebagai Hakim & Bapa ini, maka agama bisa menjadi sumber dari collective neuroses (Freud). C. Religiusitas Tahap Kaum Remaja-Muda Dua moment penting menandai dan mempengaruhi religiusitas kaum muda, yakni: penemuan dunia batin (the internal world) dan pengaruh dari pandangan ilmiah (scientific viewpoint). 1. Eksplorasi Dunia Psikis (Jiwa) Minat dan perhatian utama seorang anak itu terutama tercurah pada dunia fisik yang berada di luar dirinya. Ia asyik mengeksplorasi segala yang bisa diamati oleh pancaindranya. Mulai masa remaja (teenage), seorang anak mulai menemukan adanya dunia yang lain, yakni dunia psikis dalam dirinya sendiri yang sarat diisi arus perasaan dan angan-angan (feelings & fantasies). Ia mulai mengeksplorasi dunia psikis itu, tenggelam dalam lamunan dan bayangan; asyik dengan buku harian, blog, FB & Twitter etc. Dunia psikis kaum muda itu bersifat “moody, conflictual and confusing.” - moody = berubah-ubah, up-down, muncul dan hilang berganti tanpa bekas dan sebab yang jelas - conflictual = sekaligus diisi oleh feelings & fantasies yang berbeda-beda, bahkan bertentangan satu sama lain: cinta X benci, agresif & kooperatif, sepi & ramai, antusias & cuek etc. - confusing = bingung kerna merasa menjadi korban perasaan intensif yang tak bisa dikendalikannya: korban dari rasa sedih, murung, kecewa; bahkan dari rasa benci atau cinta yang tak kenal batas dan perhitungan (korban kerna “kecelakaan” = korban perasaan intensif). Ada bahaya bahwa dalam hidup beragama, kita menerapkan pendekatan yang legalistic terhadap dunia psikis kaum muda ini: do not, do not, do not: jangan membunuh, jangan mencuri, jangan gossip, jangan narkoba, jangan dugem, jangan masturbasi, jangan pornografi, jangan kumpul kebo etc. Akibatnya, penghayatan agama seseorang itu bisa menjadi fanatic atau munafik: - fanatic: menghantam segala gejala haram yang berada di luar diri kita kerna takut gejala itu akan menggoda dan membakar dorongan haram yang bercokol dalam jiwanya (eksternalisasi dorongan jahat dan haram) - munafik: hidup yang mendua dan berkedok public yang palsu (sembunyi-sembunyi). Pihak agama hendaknya membantu kaum muda mengolah dunia psikisnya hingga ia bisa melakukan beberapa tindakan berikut: - introspeksi (mawas diri): mengenali dorongan baik dan buruk yang bercokol dalam jiwanya hingga ia sadar bahwa segala tuntutan perbaikan dan perubahan eksternal itu harus mulai secara internal dalam dirinya sendiri: “Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui.” Mat. 7:3-4). - empati: (sambung rasa): kemampuan untuk ikut menanggung dan menanggulangi kesalahan & kesulitan orang lain . Kisah Yesus tentang perempuan yang tertangkap basah berzinah: ”Siapa yang tidak berdosa, hendaklah ia melemparkan batu yang pertama.” Empati Yesus: Ia tidak melempar batu, sebaliknya membungkuk dan mengangkat wanita itu agar bisa bangkit dari kesalahannya.etc. - compassion (welas asih): banyak niat, motivasi, idealisme dan gerakan yang luhur dalam sejarah itu timbul dari rasa compassion = prihatin: perih-hati (Gandhi, Alabama Woman; we are the world: para artis juga bisa menjadi pejuang kemanusiaan, eg. Lady Di & A. Jolie etc). 2. Pendekatan Ilmiah Bangku sekolah dan universitas adalah tempat kaum muda berkenalan dengan dunia ilmu dan pendekatan ilmiah. Sering mereka bingung kerna serasa ada konflik antara iman dan ilmu. Tugas para ilmuwan dan teolog untuk mencoba melakukan dialog antara iman dan ilmu tersebut. Kendati demikian, dunia ilmiah memang mempengaruhi pola religiusitas kaum muda. Tiga kata kuncinya adalah: hipotesis, eksperimentasi dan probabilitas: - hipotesis: agama dan Allah tidak dirasa sebagai dogma yang mutlak tapi sebagai hipotesis hidup (the God hypothesis): keberadaan Allah dan manfaat agama bukanlah suatu kepastian yang perlu ditelan bulat-bulat tapi suatu dugaan yang perlu dipertimbangkan dengan cermat. - eksperimentasi: Kepercayaan akan agama tertentu itu dibuat berdasarkan eksperimen pribadi: pengamatan perilaku orang beragama, perbandingan teoritis & praktis antar agama, pengalaman pribadi (jangan heran lihat kaum muda bereksperimen dalam gereja & di luar gereja: seperti kutu loncat). - probabilitas (kemungkinan yang rasional): keyakinan religius dianggap sebagai suatu probabilitas, artinya: suatu kebenaran yang relatif, bukan absolut. Kebenaran yang dianggap absolut itu mengharamkan pandangan yang berbeda: lain = salah. Pandangan yang relative itu mengakui adanya skala kebenaran (& kesalahan: tak langsung total benar/salah) dan ada ruang bagi perbedaan. Penilaian yang final diserahkan kepada Allah semata. D. Religiusitas Tahap Dewasa Dewasa dalam konteks ini tidak ditentukan oleh kategori usia seseorang melainkan oleh kematangan rohaninya. Religiusitas yang dewasa itu bertumpu pada rasa fiducia (basic trust) akan nilai kehidupan: dalam kondisi apapun dan kendati apapun yang menimpa diri kita, kita itu tetaplah mahluk yang berharga & tercinta (valuable & loveable being) kerna Allah tetap mencintai kita. St. Aloysius berkata ”Ad Maiora Natus Sum” (born for something great): something great = untuk merasakan kasih Allah serta untuk meneruskan & menyebarluaskan kasih Allah tersebut dalam dunia. Fiducia adalah trust akan kasih ilahi tersebut! Sebetulnya, untuk setiap tindakan dan segala kegiatan sehari-hari, kita itu membutuhkan kadar fiducia (trust) tertentu. Setiap kali kita naik mobil/pesawat atau membuat kontrak tertentu, kita itu percaya bahwa pesawat itu akan membawa kita dengan selamat ke tempat tujuan, atau mitra kontrak kita akan menepati janjinya etc. Fiducia itu disebut ”basic trust” kerna obyeknya adalah totalitas kehidupan kita: dalam segala situasi dan trahapan hidup, hidup kita itu tetap berharga dan bermakna (juga sbg embrio kecil atau lansia uzur). Contoh berikut mungkin bisa menjelaskan arti dari fiducia tersebut. Pada suatu hari, Bunda Terasa dari Kalkula melihat ada seorang pengemis terbaring di selokan. Tubuh pengemis itu kotor dan sekujur badannya penuh dengan bisul yang bernanah. Bunda Teresa lalu membawa pengemis itu ke Panti Nirmala, dan merawatnya dengan seksama dan penuh kasih. Setelah tiga hari, pengemis itu akhirnya meninggal dunia. Namun sebeleum menghembuskan nafas, ia sempat berkata kepada bunda T: ”You are an angel. Selama hidup, saya sering diperlakukan sebagai binatang, lebih sial dan nista ketimbang anjing. Tapi bunda telah memperlakukan saya sebagai seorang manusia yang berharga. You are an angel. Trimakasih.” Mendengar itu, bunda T lalu berkata: ”No, it is you who are truly an angel.” Pengemis itu lalu meninggal dengan wajah yang tenang dan tersenyum. Beberapa hari setelahnya, suster2 lain murid BT bertanya kepadanya: Bunda, kami mengerti mengapa pengemis itu menyebut bunda sbg angel. Tapi mengapa bunda memanggilnya juga sebagai an angel?” BT lalu menjawab:” Coba kalian perhatikan. Pengemis itu sepanjang hidupnya sudah menderita, sekujur tubuhnya itu sungguh terasa sakit. Tapi ia bisa mati dengan tenang, masih bisa mensyukuri setetes kebaikan yang ia rasakan. Ia tidak marah dan benci kepada siapapun: tidak marah kepada Allah, kepada pemerintah, kepada nasib, kepada apapun dan siapapun. Hatinya bisa tetap merasa damai dan trimakasih. Itu sebabnya ia adalah an angel!” Dalam kisah itu,kita mendengar tentang tingkah dua malaekat. Sang pengemius yang tetap bisa merasa damai dan trimakasih dalam hatinya; dan BT yang memperlakukan pengemis itu sebagai insan yang berharga: sbg anak Allah yang tetap layak dicintai. Keduanya meradiasikan arti dari fiducia: percaya bahwa hidup itu tetap berharga dan pantas dicinta. “Lord, than You for life, love and people!” E. Penutup. Dari buku Paulus Winarto (HOPE, p. 50), saya baca lelucon bijak berikut: Apa perbedaan antara orang miskin, orang kelas menengah dan orang kaya dalam hal makan? - Saat makan, orang miskin akan selalu bertanya:”Besok apa kita makan?” (untuk makan hari ini saja sudah sulit didapat, beson entah makan atau tidak). - Orang kelas menengah sebaliknya akan berkata: ”Besok kita makan apa?” (maksudnya: apa menu dan preferensi makan kita besok? = makan = pilihan). - Orang kaya tipe A (serakah) akan bertanya: “Besok kita makan siapa? (soal ”acquisition”: besok kita bisa merampas peluang dan rejeki siapa?). - Orang kaya tipe B (murah hati) sebaliknya akan bertanya: ”Besok kita kasih makan siapa?” (artinya: besok siapa yang mesti dibantu?). Rasanya kita mesti berusaha menanamnkan mentalitas orang kaya tipe B itu kepada anak didik kita. Mungkin figur seperti Bill Gates bisa dijadikan sebagai contoh. Separuh dari hartanya dicurahkan ke dalam Yayasan Sosial Melinda Foundation: Melinda nama dari istrinya, dan ia pernah jadi anak didik sekolah suster ursiline di masa remajanya. We are born for something great and beautiful: for loving and being loved! Agus Rachmat osc

Pst Agus Rachmat OSC :Beriman Seperti Malaekat -Malaekat Kecil

Pengantar Dalam Kitab Suci, kita mengenal adanya kisah dan figur para malaekat. Mereka adalah utusan Allah, - the messengers of God-, pembawa pesan dan kekuatan ilahi ke dalam hati manusia. Misalnya, seorang malaekat tampil kepada Maria menyampaikan pesan bahwa ia dipilih menjadi Bunda Tuhan. Sekaligus malaekat itu menguatkan hati Maria agar ia jangan takut & gentar menanggapi panggilan ilahi tersebut. Demikian juga, pada saat Natal, muncullah rombongan malaekat yang menari dan menyanyi di langit yang terang berbintang untuk mewartakan bahwa bayi Yesus itu adalah Sang Mesias (Kristus), seorang bayi yang kelak akan menyelamatkan dunia dari bencana dosa, derita dan kematian. Dikisahkan juga bahwa malaekat datang melayani Yesus saat Ia digoda setan di padang gurun dan saat Ia mengalami pergumulan batin yang kritis di taman Getsemani: “Seorang malaekat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya.” (Lukas 22: 42). Malaekat di Taman Getsemani Siapakah malaekat itu? Apa peran dan sumbangan mereka bagi kehidupan rohani kita sebagai orang yang beriman? Malaekat adalah personifikasi dari relasi dan komunikasi yang intens di antara Allah dan manusia. Orang yang percaya akan malaekat adalah orang yang percaya bahwa Allah bukanlah Allah yang bisu dan bungkam, melainkan Allah yang terus bekerja dan berbicara sepanjang masa: Allah yang terus mencurahkan kekuatanNya dan menyampaikan pesan tentang KehendakNya kepada manusia. Pesan dan kekuatan ilahi itu masuk dalam kesadaran kita pada saat iluminasi: saat pencerahan batin. Iluminasi semacam itulah yang terjadi pada diri Yesus Kristus saat ia berada di taman Getsemani. Di tengah kegelisahan dan kegalauan yang melanda jiwanya tiba-tiba terbesit suatu kesadaran yang kuat & jelas (iluminasi) bahwa nasibnya akan berakhir di kayu salib; dan bahwa salib hidup itu akan segera menyergap dan mendera diriNya begitu Ia masuk kota Yerusalem. Kehadiran figur malaekat pada moment iluminasi itu menandakan bahwa kesadaran akan salib itu bukanlah sekedar kesimpulan logis dari pikiran Yesus semata mekainkan suatu pesan dan kekuatan ilahi yang tercurah kepadaNya. Allah seakan-akan berbisik di sanubari Yesus: “Ambillah salib itu kerna melalui salib itu, kasih dankuasa Allah akan menjadi nyata bagi dunia.” Malaekat menjadi tanda adanya kekuatan ilahi yang menyertai Yesus dalam perjalanannya memanggul salib menuju kebangkitan. Malaekat di Balik Badai Tsunami Malaekat adalah tanda (simbol) bahwa Allah terus bekerja mencurahkan pesan dan kuasaNya kepada manusia agar ia kuat menanggung salib kehidupannya sehari-hari dengan penuh iman dan harapan. Kehadiran malaekat semacam itu bisa dialami baik secara rohaniah maupun jasmaniah. Malaekat dialami secara rohaniah bila ia muncul melalui mimpi dan penglihatan batin (vision). Itulah yang dialami oleh pasangan Jusuf dan Maria dalam kisah Natal, misalnya. Namun malaekat itu bisa juga dialami secara jasmaniah dalam pergaulan dan perjumpaan kita dengan sesama manusia dalam kancah kesibukan hidup sehari-hari. Ada orang tertentu yang bisa berperan sebagai malaekat bagi kita, yakni orang yang menyampaikan pesan dan kekuatan ilahi agar kita bisa bangkit dari goncangan dan kegalauan hidup yang kita alami. Berikut adalah sebuah kisah bagaimana anak-anak bisa berperan sebagai malekat-malaekat kecil bagi para kurban gempa dan tsunami yang dahsyat yang menggoncangkan negri Jepang dua tahun yang lalu. Tiga bulan setelah bencana gempa dan tsunami, sekitar bulan Juni 2011, ada serombongan artis & seniman Jepang yang datang ke lokasi bencana guna menghibur para korban nyang tinggal di tempat penampungan darurat. Salah seorang diantaranya bernama Tatsua Ishi. Ishi adalah seorang komponis, pencipta lagu. Tugasnya adalah membuat sebuah lagu berdasarkan pengalaman dan perasaan anak-anak SD yang mengalami tsunami itu. Maka ia masuk ke dalam kelas empat sebuah SD yang jumlah muridnya sekitar 20 orang. Lalu Ishi meminta setiap anak untuk menulis satu kalimat yang mengungkapkan perasaan mereka saat dilanda tsunami. Berdasarkan kalimat-kalimat yang dibuat oleh anak-anak itu, Ishi lalu akan menyusun sebuah lagu lengkap dengan melodinya. Kerna itu semua anak lalu membuat kalimatnya masing-masing. Namun ternyata ada satu anak perumpuan yang tidak membuat kalimat apapun juga, layar laptopnya tetap kosong tanpa kata dan gambar apapun juga. Ketika Ishi bertanya kepada anak itu “Mengapa kamu tak menulis apapun juga”, anak itu tak menjawab sepatah kata pun, malah mendadak anak itu berlinangan air mata lalu menelungkupkan tubuhnya di atas meja dengan badan yang terguncang oleh rasa sedih yang mencekam. Ishi kemudian berkomentar demikian tentang peristiwa itu: “Laptop yang kosong dan airmata duka anak itu lebih menyayat hatisaya, lebih banyak berbicara kepada jiwa saya ketimbang semua kalimat yang ditulis oleh anak-anak yang lainnya. Semua anak itu sebetulnya mengalami sebuah tragedi yang sangat menakutkan, sebuah bencana traumatis yang tak sanggup mereka rumuskan dalam bahasa dan kalimat apapun juga!” Itu sebabnya (tadinya) dalam hati Ishi lalu merencanakan akan memberi judul “The Tears of Tsunami” (Airmata Tsunami) bagi lagu yang akan digubahnya itu. Setelah lagu dan melodinya lengkap dibuat, Ishi lalu kembali masuk ke kelas 4 SD itu. Untuk memancing kreativitas anak-anak, ia bertanya kepada mereka:” Apa judul yang paling tepat bagi lagu itu?” Lalu sama sekali di luar dugaan Ishi, anak perempuan yang tadinya menangis tanpa menulis apapun itu kini mengangkat tangannya! Setelah ditanya, anak itu lalu menjawab: “Baiknya, judul lagi itu adalah ‘Sekai ni arigato’ (Thank you for the world, Trimakasih bagi Dunia).” Ketika ditanya apa alasannya ia memilih judl itu, anak itu lalu menjawab: “Ketika kami sengsara, semrawutan dan kelaparan, saya melihat bahwa kami diberi bungkusan plastik makanan & minuman. Di setiap bungkusan itu, ada gambar bendera dan bahasa dari masing-masing negara pengirimnya. Saya lalu sadar bahwa kami tidak ditinggalkan sengsara sendirian. Ada banyak orang dari pelbagai penjuru dunia yang membantu kami. ‘Sekai ni arigato’, trimakasih dunia!” Mendengar penjelasan anak itu, Ishi lalu memutuskan untuk memberi judul ‘Sekai ni arigato’ bagi lagu yang digubahnya, bukan “The Tears of Tsunami.” Ia berkomentar berikut: “Entah kenapa, pada saat anak itu menyebut istilah ‘Sekai ni arigato’ dengan hati yang tulus, mendadak secara spontan muncul juga rasa trimakasih yang mendalam di hati saya, rasa trimakasih yang seperti fajar menyingsing perlahan-lahan mengusir rasa sedih dan frustasi yang tadinya mengganjal sebagai beban dalam hati saya!” Anak-anak nampaknya dianugerahi sensitivitas yang tinggi,kepekaan hati yang kuat dan tulus untuk mendeteksi adanya kebaikan dalam hidupnya, untuk merasakan dan menghargai anugerah kebaikan itu dengan ungkapan trimakasih yang jujur dan spontan. Dan anak-anak itu lalu berperan bukan hanya sebagai penerima kasih, melainkan juga sebagai penyalur kasih & trimakasih itu kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Pada masa krisis darurat tsunami itu, banyak anak SD & SMP yang diberi tugas untuk membagikan bungkusan-bungkusan makanan itu kepada para korban tsunami lainnya, khsususnya kepada para lansia yang banyak jumlahnya. Dengan riang, tertib dan bersemangat, anak-anak itu menjalankan tugasnya. Dan mereka itu bukan hanya membagikan makanan, melainkan juga menemani dan menghibur para lansia itu dengan aneka cerita, nyanyian dan tarian; dengan mengelus dan memijati bagian tubuh yang terasa pegal dan sakit kerna tidur di lantai bangsal yang kasar dan dingin. Kehadiran anak-anak itu di sekitar mereka, membangkitkan mental & moral para lansia itu: melalui anak-anak itu, para lansia yang menjadi korban tsunami itu bisa merasakan adanya denyutan kebaikan dan harapan yang terus bergetar dalam hati manusia di sepanjang sejarah. Seorang lansia menuturkan kesannya tentang anak-anak itu sebagai berikut: “The natural inclination of these children who faced disaster was to find goodness and hope even in the midst of it.” (Kecenderungan alamiah anak-anak yang mengalami bencana itu ialah menemukan kebaikan dan harapan bahkan di tengah drama bencana itu). Anak-anak tsunami itu sungguh berhati malaekat kerna mampu mendeteksi dan menghargai kebaikan di tengah tragedi kehidupan, dan menyalurkan kebaikan itu kepada orang yang berada di sekitarnya hingga mereka bisa bangkit dari rasa hampa dan putus asa. Mereka seakan-akan menjadi duta atau utusan Allah yang menyampaikan pesan religius bahwa kendati segala trauma sejarah dan tragedi alam, kasih & kuasa Allah itu tak akan pernah meninggalkan manusia melata dalam penderitaan dan keputusasaan. Penutup Terdapat sebuah lagu anak-anak Indonesia yang sederhana tetapi mempunyai pesan dan nuansa religius yang mendalam, yakni lagu “Kasih Ibu,” karangan ibu Soed alm. Kira-kira lagu itu berbunyi: “Kasih ibu kepada beta/ tak berhingga sepanjang masa./ Selalu memberi, tak penah kembali./ Bagai sang surya menyinari dunia.” Orang yang berhati seperti malaekat akan langsung merasa bahwa dalam lagu itu, kasih ibu kepada anaknya itu bukan hanya melambangkan kasih matahari kepada bumi melainkan juga kasih Sang Pencipta kepada semesta ciptaannya: Selalu memberi, tak pernah kembali! Kasih semacam itulah yang diperagakan Yesus saat itu tergantung di salib di puncak tengkorak, bukit Golgotha. Dan hanya orang yang berhatri seperti malaekat jugalah yang bisa mendeteksi arus kasih itu terus beredar dalam dunia di segala jaman, lalu berusaha merawat alam ciptaan berikut segala penghuninya agar bisa keluar dari lingkaran krisis dan tragedi. Agus Rachmat OSC

Romo Kartono : Wartawan Kehidupan ( Tulisan Oleh Pst Agus Rachmat OSC)

Pada saat Romo Kartono bertugas di Roma sebagai anggota Dewan Pimpinan Umum OSC pada tahun 2004-2010, ia menemukan satu kegemaran baru, yakni menulis berita dan laporan untuk Majalah HIDUP. Secara berkala dan berkesinambungan, ia mengisi rubrik Mancanegara HIDUP dengan berita-berita segar dan aktual tentang aneka peristiwa menarik yang terjadi di kota Roma dan Vatikan. Dengan cara itu, ia ikut memperluas cakrawala berita HIDUP dengan wawasan Gereja Universal dan sekaligus juga mendekatkan pesan & keprihatinan Sri Paus di Vatikan dengan kondisi umat Katolik di Indonesia. Ringkasnya, Romo Kartono berkeyakinan bahwa sebagai orang Katolik, kita itu harus mempunyai wawasan "Glocal", yakni global & lokal sekaligus! Namun sebetulnya terdapat segi lain di samping wawasan Glocal itu yang jauh lebih menarik perhatiannya, yakni segi personal: hasrat dan minatnya yang kuat untuk mengenal riwayat hidup seseorang dengan mendalam dan kemudian menggubah riwayat itu menjadi sebuah Kisah Teladan yang menarik guna disampaikian kepada kalangan umum yang lebih luas. Sambil separuh bercanda, Romo Kartono pernah berkata: "Cita-cita saya bukanlah menjadi wartawan HIDUP, melainkan menjadi Wartawan Kehidupan!" Maksudnya, ia ingin menjadi seorang penulis dari "moments of epiphany," saat-saat cahaya ilahi berkelebat masuk menerobos perjuangan hidup seseorang hingga ia bisa keluar dari krisis dan kemelut yang tengah merajut nasibnya. Dalam perjalanan imamatnya sendiri, Romo Kartono secara pribadi pernah mengalami saat epifani semacam itu hingga ia bisa keluar dengan selamat dari krisis panggilan yang pernah menggoncangkan nasib dan identitasnya sebagai imam. Dan ia sungguh percaya bahwa moment epifani semacam itu dialami oleh banyak orang lain juga: "Ketika semua pintu telah tertutup, Allah justru berkelebat masuk!" Didorong oleh kepekaan intuitifnya akan moment epifani itu, Romo Kartono dengan rajin dan cermat lalu menuliskan pengamatan dan renungannya tentang pelbagai kisah hidup orang yang dikenalnya itu dalam berbagai media: buku harian, blog "Batur Sajalur," aneka artikel di rubrik kesaksian & eksponent majalah HIDUP. Aneka tulisan yang berserakan itu kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi lima (5) buku berikut: ( - Buku pertama: "Ketika Semua Jalan Telah Tertutup" Ini adalah koleksi kesaksian umat yg ditemui dalam kisah perjalanan imamatnya. - Buku kedua: "Kersaning Allah". Ini Memoir dari Ganda Kusuma. - Buku ketiga: "Doewe, Tokoh Pelopor Sunda Katolik." Ini adalah kisah pendiri gereja Katolik di kota Ciledug - Cirebon, tempat Romo Kartono menjalani masa kecinya. - Buku Keempat: "Asyiknya Jadi Romo." Ini adalah kumpulan pe- ngalaman pastoralnya bersama umat. - Buku kelima:"Dibakar Semangat Pelayanan". Ini adalah koleksi kisah orang-orang yang dikenal dan dikagumi secara pribadi oleh Romo Kartono. Ada satu hal yang menarik dan menonjol dari kelima buku tersebut: semuanya bercerita tentang perjalanan hidup & perjuangan iman dari orang-orang yang dikenal secara pribadi oleh Romo Kartono. Ada dua akibat ajaib yang muncul dari cara penulisan semacam itu. Pertama, tulisan-tulisannya itu telah mengakibatkan Romo Kartono masuk dalam kancah & jejaring pergaulan yang luas dengan orang dari pelbagai kalangan dan latar-belakang yang berbeda: guru, dosen, artis, wartawan, seniman, pengusaha, dokter, rohaniwan/wati, celebriti dan lainnya. Kedua, tulisan-tulisannya itu telah menciptakan suatu "relasi yang intim" di antara sang penulis dan orang yang ditulis: nama Romo Kartono pun seakan-akan tertulis secara abadi dalam lubuk hati orang-orang yang pernah diceritakannya. Dalam perjalanan imamatnya, Romo Kartono pernah mengalami suatu krisis panggilan. Namun sejak awal April yang lalu, ia mengalami suatu krisis yang jauh lebih mencekam, yakni krisis kehidupan yang menyebabkan hari-harinya menjadi nampak gelap sebab serba tidak pasti dan membangkitkan pertanyaan yang penuh kecemasan. Semoga seperti Tuhan Yesus di taman Getsemani, ia pun mengalami moment epifani: " Seorang malaekat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya." (Lukas 22:42). Agus Rachmat OSC

Rabu, 06 Agustus 2014

Ketika Hati Sudah Berpaut

Alkisah, hiduplah seekor kuda belang nan elok di sebuah desa di Prambanan yang tak jelas namanya. Sama seperti nasib hidupnya yang tak jelas, demikian pula identitasnya pada saat itu. Sehari –hari ia membantu pekerjaan induk semangnya, yaitu menarik andong, istilah kerennya, delman. Sama seperti induk semangnya, hidupnya pun dari hari ke hari amat prihatin. Ia sudah cukup bersyukur bila mendapat jatah makan dedak sehari sekali. Menjelang malam, biasanya hanya rumput yang menjadi kudapannya menyongsong hari esok subuh yang akan dimulai dengan rutinitas yang sama, yakni mengangkut penumpang demi beberapa lembar uang ribuan bagi induk semangnya. Otot punggungnya yang ringkih menanggung beban, tak pernah dihiraukannya. Kompresan air hangat yang diberikan induk semang sedikitpun tak mengurangi reda nyeri otot yang masih amat belia, bahkan cenderung menghilangkan semua bulu surainya yang terurai indah. Perawakannya tidak gagah. Baru dua setengah tahun usianya. Ototnya pun belum terbentuk sempurna. Namun belang hitam putih yang berbercak di tubuhnya membuatnya tampak ceria dan lucu bak mainan bernyawa. Di bawah terik mentari siang, tubuhnya berkilau bercampur keringat bercucuran, menambah bercak belangnya kian menawan. Ia pun tak sempat merenungi nasibnya. Yang ia ketahui, ayahnya konon adalah seekor kuda balap yang pernah juara. Ia hanya harus pasrah…mengapa nasibnya jauh berbeda dengan sang ayah, yang tak pernah ia kenal apalagi datang menjenguknya. Satu hari, seorang pemuda, pemilik sebuah stable pacuan kuda di Pangandaran datang berwisata ke Prambanan. Ia amat tertarik dan jatuh hati dengan si belang, saat ia menaiki andong yang di hela oleh si belang. Si pemuda bertanya pada induk semangnya, apa si belang mau di lepas oleh pemiliknya. Walau dengan berat hati si belang meninggalkan induk semangnya, apa mau dikata, ia tak bisa menolak takdir. Singkat cerita, si belang pun berpindah induk semang dan pindah ke kandang yang lebih lumayan di Pangandaran. Nasib mujur sedikit mulai berubah. Ia mendapat nama Joko Wanalu, identitasnya yang baru sesuai nasibnya yang baru pula. Joko menempati kandang sendiri dengan asupan makanan kuda pacu yang lebih memadai. Joko Wanalu tak perlu bangun pagi pagi lagi untuk menghela andong. Si Joko masih punya waktu di pagi hari untuk menikmati semilirnya angin pantai Pangandaran serta berjemur di bawah teriknya mentari. Kali ini tidak dalam berpeluh basah, namun dalam suasana santai merumput di pagi hari. Oleh pemiliknya, ia dirawat baik, terlebih lagi kasih sayang yang berlimpah. Oleh sebab ia mantan kuda andong, saat dituntun ia perlu sedikit di tarik bak menarik sapi yang di cocok hidungnya. Ia tak terbiasa berjalan tanpa beban yang harus diangkutnya. Perlahan dengan penuh kesabaran sang pemuda melatihnya dengan penuh kasih dan kesabaran. Hari demi hari berlalu, sebulan kemudian, gizi yang terserap menampakkan hasil. Joko Wanalu menjelma menjadi seekor kuda yang kendati tetap kecil, namun gagah dan berwibawa. Suatu hari, ia disertakan dalam sebuah pacuan kuda. Tak disangka, keiukutsertaannya yang pertama kali itu membuahkan hasil juara pertama. Tak terkira senangnya ia dan dan sang pemilik Joko Wanalu. Seiring dengan waktu, pengalaman bertandingnya pun bertambah. Juga dalam pertandingan tunggang serasi dan jumping. Satu saat ia dipindahkan oleh pemiliknya ke Bandung. Joko Wanalu bertambah usianya. Ia mulai tertarik pada lawan jenisnya. Satu hari ia jatuh cinta pada seekor kuda yang imut imut belia, yang bernama Azumi. Azumi adalah seekor kuda yang berwarna abu abu dengan bercak putih. Surainya yang indah tertiup angin amat memikat hati Joko Wanalu. Saat merasa di perhatikan, Azumi pun mulai menebarkan pesonanya, Dengan suara nyaringnya, ia mulai meringkik sambil mengibas-ngibaskan surainya…..dengan harapan pesonanya berbalas. Joko Wanalu mendekati Azumi yang memang sedang birahi. Perlu diketahui, masa birahi kuda betina memang hanya sebulan sekali pada saat ovulasi saja. Dan itu berlangsung satu dua hari saja. Temaram sinar bulan malam itu menjadi saksi betapa indahnya kasih berpaut antara dua hati. Pemilik Joko Wanalu dan Azumi memang membiarkan itu semua terjadi. Induk semang mereka yang sama, bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka. Saat itu, sang pemuda pun sedang memadu kasih dengan gadisnya. Terinspirasi oleh paduan kasih Joko Wanalu dan Azumi, sang pemuda pun ingin segera meminang sang kekasih dan menikahinya. Sejurus berselang, Azumi mengandung dan sebelas bulan kemudian, lahirlah baby Elena, bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Konon, Elena adalah anak pertama Azumi, walau ia sudah pernah beberapa kali menjalin kasih dengan kuda lain. Suatu hari, Joko Wanalu menarik hati seorang wisatawan yang sedang bertandang ke kandang. Ia ingin menghadiahkan Joko Wanalu kepada anaknya. Pemuda, pemilik Joko Wanalu yang memang sedang memerlukan biaya bagi pernikahannya, sepakat memberikan si Joko pada penawar baru. Dengan berat hati Joko Wanalu harus meninggalkan Azumi terkasih dan baby Elena. Apa mau dikata… Hancurlah hati Azumi. Joko Wanalu adalah cinta terbesarnya. Sepeninggal Joko Wanalu, Azumi tidak pernah menebarkan pesonanya lagi pada siapapun. Untuk menghibur hati Azumi, ia pun pernah beberapa kali dijodohkan ke kuda yang lain. Namun perkawinan tak pernah membuahkan hasil. Cinta jiwa raganya sudah berpaut pada Joko Wanalu.. Tak kehilangan akal, pemilik Azumi kembali mencari Joko Wanalu ke kandang lain yang juga terletak di Bandung. Joko Wanalu ditemui dalam keadaan sehat. Hidupnya berkecukupan. Kandangnya indah luas. Makanan berlimpah dan hidup di sayang-sayang. Mantan kuda andong ini tak perlu berpacu lagi. Kini ia menjadi kuda pajangan yang hanya sesekali saja ditunggang oleh anak si pemilik baru. Joko Wanalu mendapat nama baru yang keren : Toblerone, sejurus dengan nasibnya yang berubah. Namun takdir berkata lain. Tragis, Joko Wanalu ternyata ditemukan dalam keadaan sudah dikebiri…..!! Hancurlah hati Azumi, jika saja ia mengetahuinya. Menangis darah pun tak ada artinya.( Rosiany T Chandra) Terlahir dari sebuah kisah nyata

Minggu, 18 Agustus 2013

Pius : Pencipta Sosok Yesus dan Orang Kudus

Kini ia semakin betah di “sarang” baru yang ia bangun di bengkelnya. Disini ia bisa “liar” berkreasi, seakan-akan roh pada patung patung itu sendiri yang menghampiri, memberikan inspirasi pada dirinya.
Dahulu tidur- tiduran dan “bersarang” di ITB, bak di rumah sendiri selama hampir delapan tahun rupanya tak sia sia, bagi pria berkumis ini. Satu per satu teman seangkatan Pius Prio Wibowo lulus mendahuluinya. Mau tak mau Pius berjumpa serta berkenalan dengan teman teman dari angkatan baru yang segera menyusulnya. Namun mahasiswa Seni Murni Patung ini sedikit pun tak terusik, bahkan semakin betah dan akrab saja dengan lingkungan Lab Studio Patung Fakultas Seni Rupa dan Desain ( FSRD) Institut Teknologi Bandung. Disana ia seperti menemukan sebuah oasis yang memuaskan dahaga jiwanya. Disamping itu, pesona habitat artistik ini seakan telah menggelorakan kubangan magma inspirasi serta imaginasi yang tiada hentinya bergemuruh di benak dan kalbunya. “Belakangan baru saya sadari, bahwa jiwa kesenimanan saya banyak ditempa di situ”, kenang Pius dengan penuh nostalgia.
Kelak aneka bentuk patung dan salib Yesus yang tersebar di pelbagai gereja di nusantara adalah hasil buah karyanya sejak 1994 hingga kini. Selain patung Yesus dan aneka relief yang terpasang di meja altar gereja, ia juga menghasilkan puluhan patung Bunda Maria dan para Orang Kudus yang ada di beberapa gereja, antara lain yang tersebar dari Lampung (Gereja Hati Kudus, Metro) hingga Flores Gereja Santa Maria Magdalena di Nanga Hure, Maumere). Patung patung yang mendeskripsikan perjalanan sengsara Yesus di Taman Getsemani terpajang pula salah satunya di Jalan Salib Gereja Santa Perawan Maria, Karmel – Lembang. Bahkan beberapa kaligrafi serta relief bagi mesjid adalah hasil pahatannya pula, selain beberapa monumen serta kreasi medali penghargaan yang diciptakan untuk berbagai event.
Seni Lebih Kuat Dari Tarikan Otot
Awalnya, anak ke 10 dari 13 bersaudara, pasangan (alm) Yohanes Albertus Soeparlan dan (alm) Maria Helena Soepinah ini lebih tertarik ke bidang atletik. Semasa Sekolah Menengah Pertama, ia memang sempat menjuarai lomba sprint dan volley. Sejurus dengan prestasi di bidang olahraga ini, Pius sekaligus juga meraih juara dalam sebuah lomba gambar. Disamping itu, pelajaran prakarya juga adalah hal yang ia gemari. “Oleh sebab itu saya sering ikut membantu membuat patung pahlawan untuk perayaan 17 Agustus di lingkungan tempat tinggalku”, ujar Pius yang lahir dan besar di Bandung. Selulus SMP, Pius sempat bingung dalam menentukan bidang yang ingin ia tekuni. Sempat ia bersekolah di Sekolah Guru Olahraga (SGO). Namun sesaat kemudian ia menyadari bahwa naluri seninya bergema lebih kuat daripada tarikan ototnya. Alhasil iapun banting stir untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta (1982).
Saat masa sekolah di Yogya ini, ia kerap berkunjung ke pelukis (alm) Affandi. Ia banyak belajar dari karya ekspresionisme Sang Maestro. Selain itu ia bergaul dengan kalangan seniman Yogya, antara lain ia kagum dengan seniman patung Edi Sunarso. Pius menyadari bahwa ia sangat menikmati ketika mengamati mereka berkarya. Hal ini yang selanjutnya memantapkan niatnya untuk memilih bidang seni yang ditekuninya hingga kini.
Titik Tolak Berkesenian
Tahun 1984 ia diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB jurusan Seni Murni Patung. Pius mengatakan bahwa daya tarik seni patung terletak pada media tri matra (tiga dimensi), yang memungkinkan ia melihat serta mewujudkan sesuatu dari sudut yang lebih lepas/ekspresif. “Sedangkan seni lukis hanya bermain di ranah dwi matra ( dua dimensi) dengan ekspresi internal” tutur suami seniman kaca patri, Sandra S. Hariadi. Selain itu ia menjelaskan, ada pula yang disebut lukisan semi tiga dimensi, yakni relief. “ Seorang pematung harus bisa menggambar”, ujar dosen dan kepala Studio Seni Patung ITB ini. “ Memahami anatomi manusia adalah bagian dari titik tolak dari berkesenian”, imbuhnya kemudian. Selanjutnya Pius membeberkan bahwa di dalam tubuh manusia terkandung unsur estetika yang perlu disingkapkan melalui sebuah karya seni. Untuk ini diperlukan teknik dasar modelling, carving, serta memahami berbagai bentuk dan komposisi yang didukung oleh sebuah konsep yang kokoh.
Semasa kuliah, ia sempat mengikuti lomba monumen yang diikuti pula oleh dosennya. Saat itu ia berhasil menjadi pemenang, dan sekaligus mengalahkan dosennya. Momen ini ia kenang sebagai hal yang menambah kepercayaan dirinya untuk kukuh berkarya di seni patung. Lulus 1991 dari ITB, ia bekerja pada seniman Sunaryo dan magang di mantan dosennya, Rita Widagdo. Selanjutnya ia ke Belanda, berguru kepada Prof Ans Hey untuk ‘Stone Carving’. Dilanjutkan kemudian ke Perancis untuk menimba ilmu kepada Prof Jean Kammal.
Pius mengaku bahwa ia lebih menyukai berkreasi di jalur abstrak. Menurutnya ini menjadi sebuah daya tarik karena “arena” ini tak mudah diintervensi, yang mengizinkan imaginasinya “liar” berkelana lebih jembar. “Meski demikian, esensi bentuk tubuh manusia yang telah berubah wujud menjadi sebuah bentuk abstrak tetap wajib memiliki nilai kontinuitas serta misi yang ingin disampaikan” pesan pria bersahaja dan halus budi ini.
Peduli Narapidana
Bersamaan dengan waktu ia diterima di ITB, Pius membangun sebuah Bengkel Seni Rupa. Awalnya bengkel ini bergerak di bidang pendidikan seni rupa yang menghasilkan teori pemahaman estetika bentuk. Namun seiring waktu, perusahaan mengembangkan diri di bidang yang lebih luas dan mengarah kepada praktika yang diwujudkan dalam khazanah ruang publik dan masyarakat, seperti monumental eksterior, patung, relief, piala, restorasi dll. Saat ini di bengkelnya Pius dibantu oleh beberapa orang berbakat eks narapidana. “Mereka perlu diberi hak kesempatan untuk berkerja kembali di dalam masyarakat”, ungkap pria yang masih sempat menjadi ketua lingkungan Santo Rafael, paroki Santa Odilia, Bandung.
Sejak ia masih bersekolah di SMP St. Yusuf – Bandung, berbagai rupa karyanya kerap dipamerkan hingga kini. Selain berpameran di berbagai kota besar di Indonesia, Pius juga diundang untuk memperkenalkan hasil karyanya ke segenap mancanegara, antara lain seperti Pameran “Marquis de Sade” et les Pleres de Lacoste, di Perancis ( 1993), Pameran Seni Rupa Asia di Kyungsung University, Pusan, Korea ( 1997), Taiwan dan Singapura. Disamping itu, monumen hasil rancangannya sebagian telah menjadi poros kota serta landmark di beberapa wilayah pemukiman. Salah satunya, sebut saja monumen ‘Rama’ di Gelora Bung Karno, Senayan –Jakarta dan patung Phitecanthropus Erectus di Museum Nasional.
Tak terhitung sejumlah relief indah telah menghiasi beberapa lobby bank, hotel serta gedung perkantoran terkenal di Jakarta serta kediaman pribadi para pecinta seni. Dalam merancang sesuatu ia selalu mengupayakan agar apa yang ia ciptakan dapat menggugah orang yang melihat, sehingga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Terlebih lagi jika melalui hasil pahatannya, ia dapat menuntun orang untuk lebih khusyuk berdoa sehingga menjadi lebih dekat kepadaNya.
( Rosiany T. Chandra)

Kulihat Ada Cahaya

Aku melihat dengan jelas apa yang sedang dirundingkan oleh tim dokter yang sedang mengelilingi ranjangku. Salah satu diantaranya memeriksa data di monitor yang terpasang di atas samping kepalaku. Tiba tiba aku bisa berada diantara dimensi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku berada di saat kini, di masa lalu dan di masa yang akan datang sekaligus.. Aku bingung sendiri, aku kini sedang berada di mana ya? Rasanya aku seperti ada di pojok atas ruangan yang berbau steril tersebut. Sedikit di atas atap ruang ICCU tersebut. Namun dengan pandangan mata elang yang terekam 360*. Bahkan aku mendengar dengan jelas apa saja yang sedang dibicarakan tim dokter tersebut. “ Aku melihat sorot mata Kartika, adikku yang tertunduk lesu, sambil membiarkan air matanya mengalir “, bisikku lirih kepada sebuah cahaya terang yang tiba tiba menyapaku. “ Kami memutuskan untuk tidak menambah dosis obat, biarkan semua mengalir apa adanya. Mari kita doakan”, ucap provinsial, mantan muridku itu yang disertai persetujuan kakakku.
Aku ingin berucap sesuatu, serta merta ingin menyetujui keputusan keluarga tersebut atas tubuhku yang terbujur ringkih dan kaku oleh kanker yang telah menggerogotinya. Sekonyong-konyong rasa sakit yang menyiksa tak kurasakan lagi.. Aku seperti dilepaskan dari rasa nyeri tak kepalang yang menghujam tubuhku beribu ribu laksa. “ Kalimat kalimatku yang berupa teriakan keras rupanya tak terdengar oleh mereka”, laporku pada cahaya tersebut. Aku juga bingung kenapa mereka tak bisa mendengarku. Padahal jelas jelas aku menujukan jeritanku kepada mereka.
Cahaya itu Tersenyum
“ Anakku yang kukasihi..mari ikutilah Aku..!” perintah suara dibalik cahaya yang menyilaukanku. Sejenak aku ragu.. Aku melihat sekumpulan umat dari parokiku datang menjengukku. Pak Supit dan ibu memegang tanganku. Hangat terasa genggaman tangan mereka di kiri kanan tubuhku…mereka sedang berdoa bagiku. Aku amat terharu. Sehari hari mereka banyak membantuku baik sebagai anggota dewan paroki, maupun sebagai sahabat bersepeda jika hari Sabtu tiba. Sesaat kemudian, aku bisa mendengar segala pembicaraan yang terjadi di ruang tunggu di luar kamar ICCU yang aku tempati. “ Pastor Robert adalah Pastor moderator kami yang sangat bijaksana dan senantiasa menghangatkan suasana dengan gaya jenakanya.”, jelas Bu Vera kepada salah satu ibu, umatku dari Cigugur yang sudah puluhan tahun tak pernah ku jumpa. Aku lupa lupa ingat siapa namanya. Namun parasnya tak banyak berubah. Salah satu anggota mudika yang aktif di masa aku bertugas sebagai salah satu pastor rekan di sana. Wajahnya menyiratkan keprihatinan ketika mendengar dari bu Vera bahwa harapan hidupku tinggal mujizat dari Yang Kuasa saja.
Pastor Andika tampak sedang memimpin doa bagi semua umat yang ku kenal satu persatu. Sangkin banyaknya mereka di luar sana, tak semuanya mendapat kesempatan masuk ke dalam ruangan dimana tubuhku berada. Doa yang mereka lambungkan sangat mententramkan hatiku. “ Aku baik baik saja disini…tak usah kuatir!”, ujarku sekuat tenaga di telinga mereka satu persatu…Aneh, mereka tetap tak mendengarku. Aku mulai kecewa dan panik juga. Doa Rosario meneduhkan dan menyamankan jiwaku yang galau. Kepada cahaya tersebut ku katakan bahwa aku ingin kembali kepada mereka. Umatku membutuhkanku. “Biarlah aku bersama mereka”, pintaku separuh memelas. Cahaya itu tersenyum kepadaku…”Aneh juga ya, cahaya bisa tersenyum, hal yang baru bagiku”, kataku lirih kepada almarhum ayahku yang berada disampingku. Kehadirannya sedikit banyak menghilaukan kegalauanku.
Tentram Di Keraguan
Anehnya saat itu, bukan hanya rasa sakit yang hilang, namun kedamaian yang bukan dari bumi, yang belum pernah kurasakan sebelumnya datang bersemayam di jiwaku. Aku melihat paru paru ku penuh dengan air, dengan selang oksigen di hidungku. Tubuhku yang ringkih dan makin kecil mengejutkan diriku sendiri. Aku sebenarnya tak mau kembali lagi ke tubuh yang sakit dan tak nyaman itu. Aku seolah berdiri di depan pintu kematian, sebuah pintu yang tidak dibatasi oleh apapun seperti yang ada di dunia. Pintu ini adalah sebuah tempat yang tanpa batas. Aku tak bisa mengatakan bahwa itu adalah pintu surga. Tapi aku merasa begitu dekat sekali dengan makna sebuah cinta yang memelukku sehingga aku tak memiliki rasa takut lagi.
Suara manik manik Rosario yang gemerincing dari seorang sahabatku yang sedang berdoa di samping tempat tidurku semakin memantapkan langkahku dan sekaligus meneduhkan hatiku. Aku bukan diriku lagi saat itu. Aku berjalan semakin jauh..meski bibirku ingin melontarkan luapan rasa terima kasihku, namun aku tak mampu lagi. Aku berjalan semakin jauh dengan iringan lagu lagu yang didengarkan melalui CD player yang terletak di samping tempat tidurku.” Biar kini daku bersyukur, Tuhan, merasa tenteram di keraguan..”. Lagu ini semakin jelas terdengar di telingaku.
Sejurus hal ini, semua menjadi begitu jelas.. jelas sekali terekam semua kisah perjalanan kilas balik yang aku alami dalam hidup pelayananku. Kini, tak sedikitpun ada rasa cape dan lelah akibat jadwal pelayanan yang padat yang kurasakan. Bahkan rasa kecewa yang pernah aku rasakan ketika tak memiliki waktu untuk menulis lagi sirna saat itu juga. Langkahku semakin ringan dan mantap melangkah, memenuhi panggilan Yang Kuasa. “Aku tidak terpaksa meninggalkan kenikmatan dunia.., karena disini aku baik baik saja, bahkan mungkin kenyamanan yang ku alami ini adalah kenikmatan surgawi sejati yang tak dimiliki oleh para sahabatku yang aku tinggalkan!”
( Rosiany T Chandra) Dimuat di majalah Komunikasi Agustus 2013

Minggu, 12 Mei 2013

PYM

Saya bukan termasuk teman dari jadul nya Romo Kartono. Kami baru saling mengenal pada tahun 2006 dari seorang teman saya Laurent. Berjalan dengan waktu, kami bertiga tetap keep in touch di virtual space dan senantiasa saling mempercandai, saling menimpali guyonan sekaligus saling mendukung juga.
Seringkali PYM (Paduka Yang Mulia = kami menyebut beliau demikian) mengirim tulisan untuk majalah HIDUP atau tulisan untuk konsumsi blog nya kepada kami. Tujuannya adalah meminta masukan atau penilaian atas tulisan tersebut. Biasanya saya sering memberi tanggapan atau penilaian tertentu untuk apa yang saya anggap perlu untuk diperbaiki. Sejujurnya saya memang suka gaya penulisannya yang sederhana, mudah dimengerti dan tak bertele-tele, sesuai gambaran refleksi dirinya sendiri. Tulisan darinya saya baca sebagai pengisi waktu luang yang biasanya sekaligus sebagai penambah wawasan yang bermutu.
Sejak Oktober 2008, saya membantu di buletin paroki Pandu. Dalam hal mempersiapkan tulisan-tulisan, saya banyak dibimbing dan diarahkan oleh hopeng saya ini. Saya banyak belajar hal hal baru dalam dunia tulis menulis sebagai dunia yang amat dicintainya.
> Sosok Jenaka
Sebenarnya saya banyak mengenal Romo Kartono lebih dekat melalui tulisan-tulisannya yang saya baca. Ia adalah sosok yang jenaka, jujur, rendah hati dan mempunyai kepekaan yang sangat terasah dengan baik. Dibalik pribadinya yang jenaka, pada dasarnya ia adalah orang yang boleh dibilang tertutup. Walau guyonan guyonan yang dilontarkannya terkesan keluar dengan spontan, sebenarnya ia amat piawai mengendalikan dirinya dengan baik. Candanya amat khas dan tiada duanya! Anehnya lagi, walaupun candanya terdengar kelewat batas jika diucapkan orang lain, tapi jika ia yang melontarkannya, rasanya tak ada orang yang akan tersinggung, malah gerrrrr….!!Jika anda mampu menangkis candaannya dengan baik, jangan berharap anda akan jadi pemenang. Dengan ‘licik’nya ia mampu berkelit dan anda akan dibuat terpingkal-pingkal oleh lontarannya yang tak terduga!
Eittt…jangan senang dulu jika satu saat anda dipuji PYM. Anda baru saja akan sumringah..,secepat kilat anda akan ‘dijatuhkan’ kembali dengan komentar berikutnya yang bikin gemess tiada tara. Ha ha ha…Jika ia tampil tak usil, malah kita merasa aneh. Terfikir oleh saya dan Laurent, jika sekarang aja usilnya demikian, apalagi dulu ya sewaktu kanak-kanak dan remaja. Mungkin harus ditanyakan kebenarannya ke teman sepermainannya. Ha ha..
Tetap Tersemat
Hal hal tersebut diatas sepertinya yang membuat umat cepat merasa akrab dengan Romo yang acapkali agendanya sudah penuh dengan pertemuan pertemuan jauh hari sebelum ia tiba di tanah air. Tampaknya ia amat menikmati tugas pelayanan ini yang diembannya dengan hati riang gembira serta diiringi dengan persiapan yang matang pula. Pin OSC yang senantiasa tersemat di krag bajunya mencerminkan semangat CROSSIER tetap menyala nyala dimanapun ia berada.
Amat menyenangkan punya hopeng yang ‘rame’ ini. Terima kasih untuk persahabatan yang telah terjalin. Saya sangat menikmatinya.
Selamat pesta Imamat 25 tahun Romo:
Mazmur 23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku:seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa. ( Rosiany T Chandra , 15 Agustus 2009)

Selasa, 05 Maret 2013

Bukan Hanya Cerita Di Dalam Hati

Seorang imam tengah berdiri di belakang meja altar, sambil merentangkan kedua belah lengannya. Kasula bermotif indah yang dikenakannya terpampang jelas…
Nyaris tak pernah terfikirkan oleh kita, siapa dibalik rancangan artistik yang berunsur etnik tersebut, sampai saya bertemu dengan seorang wanita yang berparas manis dengan tutur kata yang lembut. Ia adalah Sandra S. Hariadi, seorang designer rancang motif dan kacapatri yang secara “tak sengaja” terjun dalam rancang motif stola dan kasula.
Awalnya adalah Pastor Christophorus H. Suryanugraha OSC, ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia yang menawarkan Sandra untuk merancang kasula para imam yang akan digunakan dalam peresmian gedung pastoral gereja Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan – Pandu, Bandung. “ Saya mau saja, karena ini merupakan tantangan baru bagi saya”, ujar Sandra, sarjana S1 Seni Rupa dan Design ITB , jurusan Seni Murni – Studio Seni Keramik.
Sejurus berselang, sudah ada 14 motif kasula dan stola hasil kolaborasi mereka bersama. Motif yang dihasilkan sebagian besar adalah hasil eksplorasi motif kain etnik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. “ Biasanya saya menyesuaikan motif dari daerah tertentu yang akan dikembangkan, tergantung di mana kasula tersebut akan digunakan” imbuhnya kemudian. Selain itu tak jarang pula ia merancang motif geometris yang telah dikomposisi ulang menjadi sebuah motif baru. Untuk hal ini, Sandra tetap berkonsultasi dengan Pastor CH Suryanugraha OSC, agar rancangannya tetap dalam pola dasar liturgis yang menciptakan keindahan bagi Tuhan. Hingga kini kasula hasil rancangannya banyak digunakan di berbagai misa, seperti tahbisan imam, misa khusus dll di berbagai kota di Indonesia.
Cerita Di Dalam Hati
Ketertarikannya pada bidang seni rupa bermula sejak ia masih sekolah di SD St Angela. Pelajaran menggambar sangat ia senangi. “ Melalui sebuah gambar, saya bisa mengungkapkan sebuah “cerita di dalam hati” hingga menjadi sebuah wujud nyata”, papar istri seniman patung, Pius Prio Wibowo ini. Disamping itu, apa yang ia rasakan, dan ceritakan di dalam hati bisa terungkapkan lewat bentuk, warna dan rangkaian cerita/puisi dari gambar tersebut.
Tahun 1987 ia diterima di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain)ITB, Jurusan Seni Murni, Studio Keramik. Ia memilih studi keramik karena tertarik untuk berkarya dalam bentuk tiga dimensi. Menurut Sandra, bahan dasar tanah liat yang digunakan untuk membuat karya keramik, adalah bahan yang kelihatannya mudah untuk dibentuk, namun ternyata perlu perjuangan dan kesabaran khusus untuk mendapatkan hasil yang baik. “Selain itu, hampir selalu ada unsur kejutan pada hasil akhirnya, misalnya gagal, retak atau glasir beda warna, bahkan rusak atau sebaliknya malah menjadi lebih artistik!” ujar ibu dari Damian Satya Wibowo, putra semata wayangnya.
Kacapatri
Menurut Sandra, pengolahan kreatifitas dalam bidang seni rupa bisa dijadikan dasar bagi bidang artistik lainnya. Oleh sebab itu, selain merancang motif kasula, ia juga berkarya di bidang relief keramik serta elemen estetis interior rumah. Selain itu ia juga menekuni dan mengerjakan proyek kacapatri. “Saat ini saya sedang mengerjakan kacapatri untuk Gereja Santa Maria Magdalena di Maumere, Flores”, paparnya. Selanjutnya ia menyampaikan bahwa fungsi dari kaca jendela adalah meneruskan cahaya dari luar atau dari dalam ruangan. Tetapi ketika kaca jendela itu diberi sentuhan artistik, dalam hal ini kacapatri, akan memberi kesan tertentu bagi interior ruangan tersebut. Ketika kacapatri yang ada di gereja tidak lagi bercerita tentang isi hatinya, melainkan menyampaikan tentang isi hati Tuhan, Sandra mengungkapkan: “ Hal inilah yang membuat saya tertarik menekuninya, karena sebuah ruangan menjadi lebih bermakna pada akhirnya”, jelas umat paroki Santa Odilia – Cikutra, Bandung ini dengan antusias.
Kesimbangan Spiritual
Sejak SMA hingga masa kuliah, ia sudah aktif di mudika lingkungan dan kampus, antara lain mendekor berbagai kegiatan KMK serta menghias kandang natal di Katedral. Selain itu sejak 1997 hingga kini, ia adalah sekretaris lingkungan Santo Rafael, Bojongkoneng, tempat ia bermukim. Ditengah kesibukannya tersebut, sejak tiga bulan yang lalu ia bergabung dengan paduan suara Caeli Cola, sebagai salah satu bentuk pelayanan bagi gereja dan Tuhan. “Masih tersisip keinginan untuk berbuat lebih lagi, terutama dengan menggunakan talenta artistik yang dikaruniakan Tuhan kepada saya, yang mungkin sudah dimulai dengan rancang motif kasula dan kacapatri untuk gerejaNya” harap Sandra.
( Rosiany T Chandra) Telah dimuat di majalah Komunikasi edisi Februari 2013

Senin, 04 Maret 2013

Jerat Dansa

Sebenarnya saya tidak banyak berfikir macam-macam saat saya memutuskan untuk belajar dansa hampir setahun yang lalu. Saya mengajak suami saya, Andy untuk belajar waltz, hanya gara gara kami ingin menghadiri pernikahan anak dari seorang sahabat baik kami di Bali. Andy menyambut baik ajakan saya. Tanpa pikir panjang kami pun berlatih di Bale Pertemuan Bumi Sangkuriang, sebuah heritage club house yang menyediakan fasilitas latihan dansa. Sudah hampir duapuluh lima tahun kami menjadi anggota club house ini. Fasilitas yang belum kami coba dari dulu adalah latihan dansa. Semua fasilitas olahraga yang lain tentu sudah kami nikmati, sejak masa anak anak bertumbuh dan berkembang di Bumi Sangkuriang yang kami cintai. Diantaranya tenis, nonton film bareng, fitness, senam, bilyar serta beberapa pengenalan budaya dan seni lainnya.
Kejar Target
Sebenarnya sudah lama kami mengetahui ada latihan dansa di Bumi Sangkuriang. Bahkan Ballroom Nite Bumi Sangkuriang yang diadakan setiap Jumat malam sudah sangat dikenal sejak zaman Opa Oma kita dulu, yang hingga kini tetap dipertahankan sebagai sebuah trademark di Bumi Sangkuriang. Meski demikian, dansa adalah satu-satunya aktivitas yang belum pernah kami coba. Mungkin ini disebabkan karena belum ketemu momentum yang pas saja. Jadi kembali ke peristiwa wedding tadi yang akan kami hadiri, itu sepertinya sebuah titik awal bagi kami untuk berlatih dansa. Sehingga peristiwa ini seperti “proyek kejar target” bagi kami. Artinya dalam waktu sebulan, kami sudah ingin bisa berdansa secara basic.
Motivator
Sebenarnya hampir lebih dua tahun yang lampau, Pak Koko Darmawan Saputra, kini salah satu pengurus Bumi Sangkuriang, yang sudah kami kenal di lapangan tenis, tak henti hentinya selalu mengajak untuk berlatih dansa pada setiap ada kesempatan jumpa. Saya sungguh kagum dengan keberhasilannya di lantai dansa. “ Pak Koko aja yang mantan petinju bisa jadi pedansa, masak saya ga bisa ya?”, demikian gurau saya setiap jumpa dengannya. Namun diam diam sebenarnya saya tetap penasaran yang disertai decak kagum ketika melihat ia berdansa dalam salah satu acara Bumi Sangkuriang.
Saat itu saya pun tidak tahu, saya mau belajar tarian apa. Meski saya pernah mendengar istilah tarian Ballroom, namun saya tidak faham pada saat itu tarian apa saja yang masuk kategori ballroom tersebut. “ Pokoknya saya mau belajar nari lagu ini”, demikian tukas saya pada Denny, salah satu pengajar di Bumi Sangkuriang sambil memperdengarkan CD lagu Waltz. Pak Koko teperanjat juga ketika melihat kami ujug ujug datang “menyerahkan” diri untuk latihan.
Selanjutnya dari nol kami belajar basic step dari tarian waltz ini. Wah..jangan ditanya apa rasanya, hampir putus asa juga sih …karena gerakan nya di ulang-ulang dan tak membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Namun Denny dan bu Mey Mey, pakar guru dansa di BS, tetap memberikan semangat dan contoh tak henti-hentinya. “Aduh, sakit pinggang nih!”, keluh Andy, suami saya sambil menyeka keringat yang bercucuran. Demikian pula halnya pada diri saya. Saya tetap memberi semangat pada Andy, karena emang saya yang ngajak awalnya. Padahal saat itu saya juga berfikir mau udahan aja, karena rasanya ga maju maju dan badan serba kaku dan sulit membuat gerakan gerakan yang diinginkan.
Tak Tahu Dalamnya Lautan
Ketika tiba saatnya acara wedding di Bali, kami sudah sedikit menguasai teknik dasar yang 18 step itu. Ya..sedikit lega juga. Namun saat itu, saya ibaratnya belum mengetahui “dalamnya lautan”. Saya kira itu sudah semuanya tentang waltz..Ternyata saya keliru!!! Rupa-rupanya, belakangan baru saya sadari bahwa saya baru berada di tepian, sehingga kami masih jauh banget dari riak gelombang di pinggir pantai sekalipun. Akhir akhir ini, makin saya berlatih, rasanya makin banyak saja yang belum saya ketahui. Dan perlahan segalah teknis dasar yang sudah diketahui sebelumnya, makin diperhalus dan semakin dipoles.
Usai acara pernikahan, rasa penasaran sedikit demi sedikit mulai muncul seiiring dengan rasa kagum tentang pak Koko tadi mulai “mengganggu” saya kembali. “ Masak pak Koko bisa, kita ga bisa?”, gurauan antara kami kembali mengiang. Oleh sebab itu kami memutuskan untuk tetap berlatih terus. Ini adalah sebuah keputusan yang tak saya sesali kemudian. Selain berolahraga yang mengakibatkan keringat sangat hebat, ada keindahan yang dirasakan di sela sela setiap gerakan, yang menyusup ke dalam kalbu. Tak terlukiskan, namun bisa dirasakan..
Koneksi Pikiran Dan Otot
Sejurus berselang, saya ingin mencatat beberapa hal yang saya pelajari dalam proses belajar berdansa ini. Saya menemukan banyak hal baru diluar pelajaran teknik yang saya dapatkan. Sebagai pemula, memang kita harus siap “diisi” dengan segala teknik dasar yang kadang sangat membosankan, karena badan kita memang belum “menurut” seperti apa yang kita ingin kan di pikiran. Kita tahu apa yang musti kita kerjakan untuk menghasilkan gerakan yang dicontohkan. Namun “perintah” tersebut tidak “nyampe” kepada otot kita. Persoalannya menjadi bagaimana kita mampu untuk “meletakkan” pikiran kita pada otot kita, sehingga koneksi yang terbentuk itu, melalui latihan rutin akan menjadi semacam reflex yang spontan.
Sedikit demi sedikit, koneksi ini akan terbangun. Ketika hal ini sudah teratasi, latihan seakan menjadi lebih ringan. Tak urung semangat untuk bisa berdansa dengan baik dan benar tetap harus dipupuk bersama-sama dengan anggota komunitas dansa BS. Hanya melalui komunitas ini, kendala yang kita hadapi bisa kita bicarakan sehingga kita bisa mendapat masukan masukan yang berarti.
Ilmu Hidup
Selain masalah teknik yang saya sebutkan diatas, ternyata masih ada hal psikologis dan filosofis yang ternyata merasuk juga ke dalam dunia dansa. Dalam berdansa, secara otomatis sebenarnya kita membangun sebuah kedekatan dengan partner dansa kita. Sebagai lady, kita harus mampu membaca gerakan apa yang diinginkan oleh partner dansa kita. Artinya kepekaan kita dalam proses ini diasah. Kita tidak boleh mendahului dalam membuat gerakan tertentu. Tetap pedansa lelaki adalah leadernya dalam memainkan melodi tarian tersebut. Oleh sebab itu, dalam berdansa ballroom, tubuh bagian atas( sedikit dibawah dada)harus nempel pada tubuh bagian atas partner kita. Ibaratnya seperti engsel pintu yang bisa bergerak kian kemari, namun tak lepas dalam perubahan arah maupun gerak tarian. Ketika diamati, tempelan tubuh dua pedansa membuka keatas seperti huruf V. Dengan demikian, koneksi antara dua tubuh akan menghasilkan gerakan terpadu membentuk sebuah formasi yang harmonis.
Seperti pada umumnya banyak komentar yang datang dari non pedansa, yang sedikit bernada miring jika kita tidak berdansa pada pasangan hidup, memang bisa dimaklumi. Namun sebenarnya pada kenyataan, kedekatan itu tidak timbul akibat kedekatan fisik itu semata. Banyak hal hal diluar itu yang memungkinkan segala kemungkinan bisa terjadi, sama seperti halnya juga relasi di luar dunia dansa yang kerap rentan pula terhadap hal hal yang berbau sensualitas dan romantisme.
Karena jika kita secara serius berlatih dan berkonsentrasi pada gerakan tertentu, fokus kita tentu pada bagaimana caranya agar gerakan itu berhasil dengan baik. Itu saja.
Pelajaran apa yang bisa kita dapatkan saat bagaimana seorang pedansa memperlakukan ladynya, ini juga merupakan hal yang patut kita cermati. Saya tidak ingin berlarut dalam persoalan teknis, namun saya ingin menyorot dampak psikologisnya. Seorang pedansa yang baik akan mempersilahkan ladynya untuk beraksi pada saat yang tepat. Disini terjadi transaksi take and give. Mereka akan silih berganti seiring dan sepakat dalam melangkah dan mundur. Dari sisi filosofisnya, manfaat nilai yang sama tersebut terjadi dalam kehidupan sehari –hari di dalam membangun kehidupan yang nyata. Saling asih, asah dan asuh.
Untuk menghasilkan gerakan yang sempurna, tak mungkin jika kita mau menangnya sendiri melangkah tanpa memperdulikan atau mempersilahkan langkah partner kita untuk mendahului ataupun menunggu kita. Disini diperlukan koordinasi yang baik dalam mengasah kepekaan bersama yang diperlukan. Pelajaran berharga dalam seiring sejalan di dalam kehidupan berumah tangga.
Disamping itu, seberapa besar langkah yang kita ambil, sewajarnya menjadi pedoman bagi partner kita untuk mengimbanginya, meski itu ada kalanya terlalu besar ataupun terlalu kecil putarannya. Disini kita ditemukan dengan peran solidaritas yang juga kita temui dalam nilai kehidupan di masyarakat. Hal ini dilakukan bukan hanya demi sebuah bela rasa yang ingin dicapai, namun juga untuk menjaga sebuah stabilitas gerakan dansa yang sudah direncanakan. Secara filosofis, ini adalah sebuah teamwork yang membutuhkan sebuah kesatuan, meski masing masing pedansa melakukan kewajibannya sendiri sendiri. Rasa ini perlu kita asah pula dalam menjalin pertemanan dan relasi dengan siapapun.
Hal lain yang saya dapatkan dari pelajaran berdansa adalah dimana kita berhasil merefleksi diri kita dari cermin yang terpantul dari gerakan yang dihasilkan oleh partner kita. Dalam gerakan gerakan tertentu, kita mengimitasikannya, sehingga itu menjadi sebuah gerakan yang seirama, sebentuk, tapi berbalik arah bagi diri kita sendiri. Dalam arti konkretnya, apa yang kita dapatkan dari partner kita sebenarnya adalah hasil feed back/”bayangan” yang dipantulkan oleh diri kita sebelumnya. Makna filosofisnya, apa yang kita beri pada partner hidup kita, itulah yang kita dapatkan kembali. Dalam kata bijaknya, kira kira berbunyi demikian: Apa yang kamu beri, itulah yang akan kamu dapatkan. Selain itu, pada akhirnya tentu menghasilkan ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, bila distribusi tenaga dua pedansa untuk menghasilkan sebuah gerakan yang terpadu, telah terbagi berimbang
Makin saya amati, berdansa ini makin menarik, karena selain olah fisik yang membuat kita makin bugar, dansa sarat akan nuansa nuansa ilmu kehidupan. Itulah mungkin salah satu sebab mengapa saya makin cinta saja pada olahraga ini. Disamping itu, satu aspek lain yang ingin saya tambahkan adalah, rasanya tidak ada cara lain yang lebih optimal dalam menghayati sebuah musik, selain dengan berdansa! Ketika kita berdansa, musik yang kita dengar seolah-olah mencapai klimaks nya bak sebuah orgasme, saat kita mampu mengekspresikannya dalam sebuah gerakan tubuh yang seirama dan “senyawa” dengan alunan lagu yang sedang kita nikmati tersebut. Sensasi ini terjadi berulang –ulang, dan berbeda beda nikmatnya seiring dengan perubahan alunan irama, kata-kata yang dinyanyikan dari lagu, maupun suasana yang dihasilkan oleh lagu tersebut.
Ada kalanya, suasana hati kita bisa menjadi melankolis, romantis, namun tak urung seketika bisa berubah menjadi dramatis atau riang gembira. Sensasi ini yang saya kira bisa membuat seseorang refresh sejenak dari rutinitas sehari hari. Hal ini tentunya mempengaruhi seluruh system yang ada di tubuh. Jika ada yang mengatakan bahwa dengan berdansa, sesorang akan awet muda, mungkin ada benarnya, karena olahraga ini tidak hanya membentuk fisik, namun juga jiwa dan pikiran.
Mari tetap berdansa!
5/3/2013 ( Rosiany T Chandra)

Minggu, 03 Maret 2013

Ingat Pesan Pastor

Della Yusi bergegas bangkit dari duduknya, sembari mengemas alat alat kecantikan yang ada di dalam tool box miliknya. Ia berjalan menuju sebuah ruangan dan segera menutup pintunya. Della memang adalah seorang ahli perias wajah. Seorang “pelanggan” telah menunggunya disana.
Della yang kini berusia 29 tahun, telah enam tahun bekerja di Amal Penguburan Katolik (APK) St. Jusuf, dari Rumah Duka RS St Boromeus, Bandung, Jawa Barat. Sehari hari, ia memandikan dan merias wajah jenazah yang disemayamkan di sana. “ Saya selalu mengutamakan sebuah kebersihan bagi mereka yang ingin menghadap Sang Khalik”, tukas Della, seorang muslimin. Disamping itu, dalam merias jenazah, ia perlu mengeluarkan segala jurus kreativitas demi sebuah tampilan sosok yang ramah, agar nyaman dikenang bagi keluarga dan handai taulan. Untuk hasil itu, ia gesit memainkan segala alat rias yang dimilikinya.
“ Sewaktu-waktu, memang ada jenazah yang memang perlu di touch up lebih dari biasanya karena akibat kondisi kecelakaan”, ujarnya dengan mimik wajah datar. Tak ada sedikitpun aura gentar yang tergurat diwajahnya saat menceritakan profesi yang ditekuninya ini. “Ketika pertama kali ikut sebagai asisten perias, saya takut dan sempat lari karena kaget!” papar ibu dua putra ini. Namun seiiring waktu, rasa gentar ini perlahan sirna.
Sudah lama Della akrab dengan wawasan katolik. Sejak SD ia mendapat santunan dana pendidikan dari sebuah yayasan katolik, St. Jusuf, Bandung yang dikelola oleh (alm) Pst. Verhoeven, OSC. Bantuan pendidikan berlanjut hingga ia lulus SMK Insan Cinta Bangsa, jurusan perkantoran. Selanjutnya melalui serangkaian lamaran , Della tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang dipelajarinya. ”Akhirnya saya bekerja sebagai cleaning service di RS St. Jusuf serta mengurus pasien di Panti Werda St. Jusuf”, ujar Della. “ Pst. Verhoeven tak pernah memaksa saya untuk mengikuti agamanya. Beliau hanya pernah berpesan agar satu hari saya tak mengabaikan apa yang dinamakan pengabdian”, imbuhnya kemudian.
Kendati sempat terhenyak sejenak, ketika ia ditawarkan APK untuk menekuni profesi yang tak biasa ini, Della tetap ingat apa yang dipesankan oleh almarhum Pst. Verhoeven. “ Saya ingin sekali mewujudkan keinginan Pastor untuk tetap mengabdi”, kenangnya dengan wajah berseri.
Rasa pengabdian yang kini ia wujudkan dalam aksi nyata, telah menjadi bekal dan dasar kekuatan baginya dalam menekuni profesi yang dibutuhkan ini. (Rosiany T Chandra)

Bukan Setengah Dewa

Gambaran sosok “manusia setengah dewa” yang kerap kita berikan kepada seorang Romo, akhirnya tidak bisa lagi kita pertahankan. Sekurangnya Minggu siang ( 14/10) itu, cap tersebut layak dipertanyakan serta dikupas tuntas.
Bagaimana sebenarnya kehidupan seorang Romo sehari -hari sering menjadi pertanyaan yang menggelitik untuk diketahui sebagian besar umat. Namun pertanyaan tersebut seringkali tak terjawab sejurus dengan gambaran “sosok manusia tanpa cela” yang telah diberikan oleh umat, sehingga mau tak mau image tersebut ikut dipelihara oleh sebagian besar imam. Bertempat di gereja St Helena – Lippo Karawaci, tabir itu kemudian disingkapkan oleh peluncuran sebuah buku ‘Asyiknya Jadi Romo’, karya Pastor Heribertus Kartono, OSC. Acara launching buku ke empat karyanya ini, di bedah oleh Sr. Ayda, OSU, Bapak Didiek Dwinarmiadi( wartawan Kompas) dan Pastor Dr. Haryatmoko, SJ.
Buku ini berisi sembilan puluh kisah pengalaman Pastor Heri, demikian ia akrab disapa dalam kehidupannya sehari hari. Ceritera yang ia paparkan sangat variatif. Tidak hanya kisah tentang tantangan saat ia berpastoral, namun juga tentang bunga rampai kehidupannya sehari hari baik di tengah keluarga maupun orang orang yang ia kasihi.
Sama seperti sosoknya yang kocak, demikian pula adanya dengan kisah kisah yang ia tulis dengan jenaka. Meski demikian, sebenarnya tidak semua peristiwa yang ia tulis adalah kejadian yang konyol atau lucu. Bahkan beberapa kisah diantaranya adalah cerita yang mencekam, salah satunya sebut saja, kisah perampokan yang dialaminya. “Namun dibalik setiap peristiwa yang ia alami, Pastor Heri mampu melihatnya dari sisi positif dan jenaka, sekalipun hal itu adalah peristiwa pahit. Sehingga ia senantiasa menemukan solusi yang tepat”, ujar Pastor Haryatmoko dalam sesi bedah buku tersebut.
Oleh sebab itu, buku ini juga menawarkan sebuah pencerahan, seperti yang dungkapkan oleh Laurentia Ng, salah satu pengunjung;” Kisah kisah dalam buku ini mengajarkan saya bahwa kita harus bisa mengolah setiap tantangan hidup yang datang, dengan bumbu kejenakaan, sehingga bebannya menjadi lebih enteng!” “ Sikapnya yang kerap mentertawakan diri sendiri dalam sebuah kondisi yang sedang tak mudah dihadapi, justru merupakan kiatnya untuk keluar dari situasi yang sulit “, ujar pastor Haryatmoko dengan mimik yang tak kalah kocaknya. Bapa Uskup Mgr Ign Suharyo dalam kata pengantarnya di buku, menyebutkan bahwa Pastor Heri memang mempunyai bakat besar untuk menuliskan kisah-kisah hidup sehari –hari. Ada yang lucu, ada yang nakal (= seperti penulisnya), ada yang rada serius, yang semuanya merupakan bunga-bunga kehidupan.
Disamping itu, buku ini juga menjawab beberapa keraguan tentang panggilan imam yang kian surut. Ternyata menjadi imam itu asyik asyik aja kog, dan imam itu tentunya adalah seorang manusia seutuhnya, bukan setengah dewa!! ( Rosiany T Chandra)

Selasa, 16 Oktober 2012

A Flirt On The Street

Tadi pagi usai berolahraga pagi, aku segera memacu laju mobilku agar segera tiba di rumah untuk memulai aktifitas yang lain. Di tengah perjalanan , aku teringat sesuatu. Ada wesel pos hasil menulis yang sudah beberapa hari berada di dalam tas ku. Aku belum sempat saja ke kantor pos untuk menebusnya.
Karena kantor pos berada di seberang jalan,Segera aku ingin memutar balik arah mobilku, namun aku sudah melewati lajur antrian panjang mobil mobil yang ingin berbalik arah.Aku tidak lagi berada di jalur tersebut. Akan tetapi aku belum melewati mulut arah perputaran tersebut.Secara reflex sambil menghidupkan sign lampu ke kanan, aku segera menepikan mobil, berharap ada mobil di dalam antrian yang berbaik hati mengizinkan aku masuk dalam lajur antrian.
Benar saja, mobil di belakangku berbaik hati mengizinkan aku masuk. Segera aku lambaikan tangan ke belakang dari kaca jendela mobil yg aku buka. Setelah berhasil memutar arah, jalan menyempit,sehingga aku memperlambat laju mobilku, agar si pengemudi yang memberi aku jalan tadi, bisa melaju terlebih dahulu. Sengaja aku membuka jendela kiri mobil, kembali berterima kasih sambil melambaikan tangan ku. Rupanya ia juga membuka kaca mobilnya, lambaian tanganku di balas kembali olehnya.Kali ini ditambah sebuah kedipan mata! Sesaat aku terkesima, namun secara reflex segera mengedipkan mata kembali kepada si pria handsome paruh baya. ha ha...A flirt on the street! What a very nice day:) :) Langsung saja mobil ku pacu sekencang2nya...

Senin, 10 September 2012

Embun Perawan

Saat kuinjak butir embun perawan pagi
Nuansa dingin menusuk kaki menyergap jiwa
Hati yang pengap makin tergolek lemah
Kutadahkan wajah menatap pesona sang surya
Rasa hangat menjalar mencairkan selaput embun
Yang membalut hati dengan rasa dingin membeku
Kembali kurasa tak sebatangkara
Kehangatan pun ternyata datang menerpa
Diawali embun mutiara pagi..
Juli 2012

Gadisku Dan Kecoa

Beberapa hari lagi, gadisku akan kuliah ke FKG Trisakti, Jakarta. Tempat pondokan dan beberapa keperluan yang lain sudah mulai disiapkan semenjak beberapa minggu yang lalu.
Jakarta - Bandung memang ga jauh sih untuk berpisah dan mandiri dari orang tua.Kini, sebenarnya dimanapun di dunia ini hanya terpisah sejauh jarak jangkauan teknologi saja. Ataupun hanya terpisah ruang airport to airport.Selain itu, dengan usia seorang lulusan sekolah menengah tinggi, rasanya tak ada yang perlu aku kuatirkan secara berlebihan.
Aku jadi teringat saat aku pergi dari rumah dulu untuk kuliah ke luar negeri dengan usia yang 2 tahun lebih muda dari usia gadisku saat ini.Bersamaku saat itu, seorang sahabat masa kecilku ikut serta berangkat untuk merajut mimpi mimpi anak muda untuk kuliah ke Jerman.
Aku masih ingat, saat itu kedua orang tuaku mengantar aku hanya sampai bandara saja. Sejauh yang aku ingat, ibuku tak menyiratkan sebuah ekspresi di wajahnya. Entah apa yang ada di hatinya, sulit aku tebak. Aku hanya ingat bahwa ayahku menahan rasa haru diwajahnya..Akhirnya bulir airmata itu tumpah juga akhirnya.
Untuk usiaku yang 17 tahun saat itu, aku cukup bisa menahan emosiku dengan baik. Aku tidak ikut larut dalam suasana haru yang menyusup seketika. Usai mengencangkan sabuk pengaman di kursi pesawat yang membawaku ke negeri transit Singapura, tak terbendung lagi air mataku. Aku menangis sejadi jadinya.Sahabat yang duduk disampingku juga ikut menangis. Tak ada satu pun dari kami bisa berucap kata kata. Kami juga tidak saling menghibur, kami tidak saling bertatap..Namun kami tahu bahwa kami masing masing sedang menangis. Entah apa yang bermain di benak sahabat ku saat itu, hingga kini tak kuketahui. Yang aku tahu saat itu, ketika roda pesawat menyentuh daratan di Singapura, aku makin menangis karena dengan sadar mengetahui bahwa aku kini sudah kian menjauh dari rumah.
Kami duduk di deretan yang berisi tiga tempat duduk. Dijung sana duduk seorang bule, yang belakangan kami ketahui adalah seorang bule Jerman.Si bule tentu memperhatikan kami berdua yang menangis tak henti henti. Akhirnya ia penasaran juga dan mengajak kami berdialog. Dari situ kami tahu bahwa ia adalah seorang guru dan iapun memaklumi ketika mengetahui mengapa kami menangis!
Setelah tiba di negeri "mimpi", awalnya kami bak orang yang bengong..tak mengerti apa apa saat diajak berbicara dalam bahasa Jerman. Semua yang tampak adalah tulisan Jerman, segala yang di dengar, bahasa itu juga. Segala yang di TV, di majalah dan dimana mana....semua Jerman. Capek deh..!Kendati aku sudah les bahasa Jerman jauh jauh hari sebelum berangkat, rupanya itu tak terlalu banyak membantu.Belum lagi hati yang masih tetap galau pisah dari rumah...
Singkat cerita, toh akhirnya setelah 3 bulan menetap disana, kami berdua survive juga..Kini, 32 tahun telah berlalu, sahabatku bahkan telah menikah dengan orang sana dan masih tetap bermukim disana hingga kini. Sedangkan aku pulang kembali ke ibu pertiwi.
Kembali ke kisah gadisku yang hendak merajut mimpinya, aku tak terlalu khawatir, karena tak ada kendala bahasa dan "medan peperangannya" relatif lebih lembut dari apa yang kami alami saat itu. Selain itu, gadisku juga cukup mandiri dan bisa menggunakan akal sehatnya dengan baik. Ia tergolong gadis yang pemberani dan tidak cengeng. Ia tak gentar akan ular berbisa, berani memegang dan berfoto dengannya. Ia berani memegang cacing, anjing dan binatang lainnya dengan penuh kasih dan kelembutan. Ia juga gemar berkuda dan amat sayang sama binatang yang satu ini. Selain menunggang serasi, ia juga meloncat sesekali dengan kudanya. Sejak kecil ia mengerjakan segala sesuatu keperluannya dengan baik dan disiplin. Mempersiapkan jauh jauh hari segala keperluannya dan mencatat apa apa yang ia perlukan. Hal ini bahkan sering merepotkan aku, karena aku sering "di desak" untuk action jauh hari demi plan nya yang sudah ia susun rapih.
Hanya ada satu yang aku kuatirkan tentang dirinya, dan ini cukup mengganggu pikiran ku akhir akhir ini. Gadisku tak bisa melihat kecoa!! Kalau ada kecoa di kamar mandi atau di kamar tidurnya, ia langsung menjerit histeris. Dan segera meminta agar seseorang membantu untuk menyingkirkannya. Kalau di rumah ada pembantu, mereka lah sasaran jeritannya untuk segera datang dan "memusnahkan" binatang itu! Jika kecoanya sudah matipun, ia tetap akan berteriak untuk minta seseorang segera mengambilnya untuk menyingkirkannya..
Pusinglah aku jadinya....! Gimana caranya supaya tempat pondokan bebas dari kecoa???? Nyaris tak mungkin di Indonesia..!? Galauuuu...... Sukses ya nak, semoga tak ada kecoa nanti yang menghampiri ya!

Sabtu, 25 Agustus 2012

Nonton Bareng Soegija di Bandung

Yulvi (23), mahasiswi Fakultas Vikom Universitas Pajajaran Bandung bersama teman-teman kuliahnya ikut antri untuk menonton pemutaran perdana film Soegija di Blitz - Paris Van Java, Bandung. Bersama mereka, serombongan besar umat paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan dan St Laurentius , Bandung komplit dengan para gembalanya ikut nonton bareng memadati studio cinema yang berkapasitas 190 tempat duduk tersebut. “Kegiatan nonton bersama ini terutama menjadi sebuah ajang dalam memupuk tali persaudaraan dan keakraban antar umat”, ujar Pastor Agustinus Sudarno, OSC yang berada di tengah-tengah umat parokinya.
Yulvi mengatakan bahwa, ia bersama teman-temannya tergerak untuk menonton film ini, kendati belum mengetahui siapa sosok Soegija ini sebenarnya. “ Sutradara Garin Nugroho menjadi salah satu daya tarik bagi saya, selain setting dari gereja kuno serta pesan nasionalisme dalam suasana kemerdekaan tentu punya daya tarik sendiri”, ujar mahasiswi yang berjilbab ini. Disamping itu biaya produksi yang 12 M ikut membuat ia penasaran.
“ Sayang karakter Soegija yang diperankan aktor Nirwan Dewanto, belum berhasil menampilkan sosok Soegija yang berwatak seperti yang saya baca di bukunya, demikian ujar Anita Lestari usai acara nonton bareng ini. “ Sepertinya sosok Soegija “tertutup” oleh peran Mariyem yang lebih menonjol”, imbuhnya kemudian. Namun Anita mengatakan bahwa, ilustrasi musik dan setting artistik jadoel di film ini sangat bagus.
( Rosiany T Chandra) Telah dimuat di HIDUP Juli 2012

Tradisi Morning Coffee

Usai misa hari Minggu pagi di Kapel Kabar Gembira Maria, Intan bergegas keluar kapel yang terletak di halaman belakang sekolah St Aloysius- Bandung. Kapel bagi para mahasiswa ini sekaligus menjadi tempat beribadat para frater dan pastor dari biara Ordo Salib Suci (OSC), yang memang menempati lahan yang bersebelahan langsung dengan sekolah katolik tersebut.
Intan adalah salah satu mahasiswi katolik di sebuah Perguruan Tinggidi Bandung. Ia segera bergabung dengan teman-teman seiman lainnya, yang sudah menunggu di depan kapel. Mereka saling bertegur sapa, lantas berjalan bersama-sama menuju halaman biara yang menyatu dengan halaman samping kapel. Di ruang makan biara, sudah menunggu beberapa rekan mahasiswa lainnya. Suasana makin riuh penuh canda dan tawa. Beberapa frater juga ikut nimbrung, sehingga menambah semarak Minggu pagi itu. Aroma kopi dan teh menjadi penghangat dan pelengkap keakraban diantara mereka.
Daya Pikat
‘Morning Coffee’, sudah menjadi tradisi Gereja Mahasiswa ( GEMA) sejak awal berdirinya komunitas ini pada tahun 1976. Bermula pada saat itu, Pastor Harry Leermakers, OSC melihat banyak mahasiswa merindukan tempat untuk berkumpul untuk ngerumpi. Baik bagi mahasiswa pendatang dari luar kota maupun dari Universitas dan Perguruan Tinggi setempat. Januari 1976, bersama dengan beberapa aktivis mahasiswa, dimulailah saat itu misa perdana di kapel GEMA (demikian selanjutnya disebut) dengan delapan orang mahasiswa, sebagai tanda didirikannya PUSRO ( Pusat Rohani). Dua minggu kemudian, misa dihadiri oleh enambelas orang. Demikian seterusnya mereka mengajak beberapa teman lainnya.
Seiiring waktu pada tahun 1979, PUSRO berganti nama Gereja Mahasiswa ( GEMA). Lokasi yang dijadikan ajang pertemuan pada saat itu adalah biara OSC. Sejurus berselang, pada tahun 1980 an, di areal belakang GEMA didirikanlah sebuah bangunan tempat sekretariat dengan beberapa ruangan yang dijadikan basis aktivitas mahasiswa di luar kampus. Disini terdapat dapur beserta segala perlengkapannya, ruang tamu, ruang rekreasi, ruang doa, ruang redaksi dan ruang studi yang kini dilengkapi dengan Wi Fi serta beberapa perangkat komputer.
Second Home
Sepulang kegiatan kampus mereka biasanya bersosialisasi sambil mengerjakan tugas-tugas ataupun sekedar saling bertegur sapa layaknya seperti di rumah sendiri.” Tak ada jam malam yang berlaku, namun mereka diwajibkan untuk melapor kepada saya dan satpam, jika harus bermalam dalam mengejar deadline sesuatu yang harus diselesaikan”, pesan Pastor Hendra Kimawan, OSC yang sejak 2009 bertugas sebagai pastor pendamping. Kini, gedung tersebut sedang dalam tahap renovasi, yang diprakarsai oleh beberapa mantan aktivis GEMA.
Pastor (alm) Jan Sunyata, OSC yang saat itu sebagai dosen pengajar agama katolik di ITB membawa banyak mahasiswa katolik untuk ikut bergabung di GEMA. “Setelah bergabung, sebagian besar dari mereka yang memang anak kos, seperti menemukan second home, tempat mereka bisa berbagi dan berlabuh”, ujar Anjar Anastasia, aktivis pendamping mahasiswa di GEMA. “Hingga kini gedung tersebut menjadi tempat nostalgia yang tak pernah putus diantara alumni”, imbuhnya kemudian. “ Meski pada awalnya kami tak saling kenal, ketemu teman-teman disana langsung merasa dekat”, kata Lukas, mantan aktivis dari Flores.
Pengembangan Gereja Mahasiswa
Dari sejak berdirinya hingga kini, GEMA senantiasa didampingi oleh satu dan/atau dua pastor pendamping serta biarawati. Saat masa pendampingan Pastor Dany Sanusi, OSC ( 1995- 1999), GEMA membuka relasi dan jaringan baru dengan kampus Universitas dan Perguruan Tinggi, seperti ITB, Unpar dan Unpad, dimana mulai diadakan kuliah agama katolik bagi mahasiswa katoliknya. Disamping itu Pastor Dany melihat adanya potensi jumlah mahasiswa katolik yang kurang lebih berjumlah 500 an saat itu di STPDN ( Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri). “ Sebagian besar mahasiswa tidak punya teman curhat yang bisa menampung gejolak muda mereka”, kenang Pastor Dany. Selain itu letak kampus IPDN (kini Institut Pemerintahan Dalam Negeri)di Jatinangor jauh dari gereja terdekat yang ada. Selain IPDN, kampus UNPAD dan dua perguruan tinggi lainnya juga berada di wilayah Jatinangor.
“ Pihak IPDN merespons baik usulan yang disampaikan untuk membangun sebuah kapel di dalam lahan IPDN” jelas Pastor Dany kemudian. Dan tak lama kemudian berdirilah kapel St. Albertus Magnus, yang sedari awal didirikan, bukan hanya tempat beribadat para mahasiswa, namun juga terbuka bagi umat yang tinggal di sekitar kampus. Kegiatan di St Albertus Magnus kemudian menjadi bagian dari reksa pastoral Gereja Mahasiswa.
GEMA Sebagai fasilitator
Secara struktural, GEMA diketuai oleh seorang koordinator ( Leo Naibaho), sekretaris ( Maria Yana) dan bendahara( Caesilia Natalia). Aktivitas anggota mahasiswa ditampung dalam Kelompok Pelayanan GEMA (KPG). Selain dalam kegiatan berliturgi, tiga bulan sekali mereka menerbitkan buklet. Disamping itu, KPG melayani setiap KMK ( Keluarga Mahasiswa Katolik ) yang ada di kampus-kampus dalam setiap kunjungan rutin yang mereka lakukan sebulan sekali, antara lain saling bersilaturahmi dalam menyelenggarakan ibadat bersama. Disamping itu, GEMA bersosialisasi pula dengan merajut jaringan dengan orang muda katolik/non katolik di seluruh Indonesia.
Sebagai fasilitator, untuk mempererat unit unit KMK, GEMA mengajak KMK yang ada di masing –masing Universitas dan Perguruan Tinggi untuk misa bersama. Secara innovatif, GEMA mencoba merancang misa yang berbau orang muda, sejauh tetap dalam kerangka liturgis. Selain itu nilai – nilai yang berbau tradisi dan konvensional diusahakan tetap sebagai daya pikat yang kental. Sudah menjadi tradisi dari generasi sebelumnya, dalam kurun waktu setelah Rabu Abu dan sebelum Minggu Palma, diadakan lima kali Ibadat Rabu Tobat. Ibadat ini menjadi daya tarik sendiri, dimana antara lain ditampilkan drama kecil, pembicara dengan tema dan penyajian yang berbeda, baik dari dalam maupun luar gereja. Ibadat ini biasanya melibatkan rumah biara lain, imam Projo, susteran & frateran dll.
Kepedulian Dan Pelatihan
Kepedulian sosial GEMA ditunjukkan pula dalam kunjungan ke Panti Werdha, Rumah Yatim dan membagikan makanan ke anak jalanan. Dalam memupuk tunas kepemimpinan, secara rutin dalam lima tahun berturut-turut diadakan Student Leadership Camp. Tahun ini akan diadakan di Gambung ( 27/8- 2/9) dengan tema : Kepedulian. Camp ini terbuka bagi setiap mahasiswa katolik yang berada di dalam/luar Bandung. Berbagai pelatihan lain juga pernah diberikan GEMA, seperti pelatihan liturgi, fotografi, jurnalistik, videografi dan Ajaran Sosial Gereja( ASG). Terdapat kurang lebih 5000 mahasiswa katolik yang berada di Keuskupan Bandung. GEMA terbuka bagi siapa saja yang katolik dan mahasiswa. Tidak diperlukan persyaratan khusus dalam mendaftar. Kini, ada sekitar tiga puluh an mahasiswa yang aktif dalam kegiatan GEMA sehari-hari.
“Sejauh ini, biasanya mereka datang untuk membicarakan berbagai kegiatan yang direncanakan di KMK masing-masing universitas”, jelas Pastor Hendra. “ Ketika kegiatan di KMK berjalan seirama beriringan dengan program aktivitas yang berlangsung di GEMA, disinilah GEMA lebih bersifat sebagai Forum dan fasilitator”, papar Pastor Hendra, seorang ahli Teologi Kitab Suci.
Masalah internal seperti konflik keluarga, tantangan perkuliahan serta keprihatinan soal ekonomi kerap menjadi problematika yang dihadapi para mahasiswa. Sebisa mungkin GEMA berupaya mendampingi mereka dalam mencari solusi yang tepat. Interaksi atau sharing dengan senior bisa menjadi salah satu alternatif solusi yang baik, selain konseling dengan para pastor pendamping jika diperlukan.
“ Dewasa ini masih cukup banyak mahasiwa yang hanya fokus kepada bidang studinya saja, sehingga mengabaikan interaksi dalam belajar berorganisasi”, kata Pastor Hendra dengan nada prihatin. Namun pastor Hendra berharap, mereka datang ke GEMA bukan hanya untuk ngobrol saja, namun lebih sebagai tempat memupuk iman. Seiiring waktu, tradisi mingguan Morning Coffee ini bersinergi dengan CafĂ© du Croisier, acara dwibulanan ‘spiritual evening coffee’ dari biara OSC yang dikemas dengan presentasi, ngerumpi serta diskusi topik topik rohani yang menyengat jiwa muda.
( Rosiany T Chandra)