Hari Sabtu sore di awal bulan Januari, anak dan suami ku berhalangan ke misa sore di Stasi Sukawarna. Aku pun sudah mengurungkan niatku ke gereja sore hari nan cerah itu.
Namun sejenak aku teringat sepedaku yang sudah lama ‘nganggur’ di garasi rumahku. Tergerak hatiku untuk menggowes saja ke Stasi. Kapan lagi kesempatan ini terbuka lebar? Kalau tak ke Stasi, yang letaknya hanya beberapa blok dari rumah, tentu aku belum berani ke jalan besar menghadapi mobil mobil yang tak kan ramah pada penggowes amatir ini.
Ternyata setelah sekian tahun tak pernah mengayuh, diperlukan keseimbangan badan yang cukup, agar kita tetap dalam posisi stabil untuk mengayuh. Dalam perjalanan, ada sedikit tanjakan yang perlu dilewati dengan mengeraskan buah betis yang disertai nafas yang memburu. Sebaliknya dalam meluncur kebawah, aku betul betul harus waspada dalam menarik pedal rem, agar sepeda tidak berhenti mendadak pula. Pake feeling lah!
Akhirnya tibalah aku di ujung jalan menuju Stasi. Dari jauh aku sudah melihat mobil Pastor Warhadi memasuki halaman Stasi. Bak tentara yang menang di medan laga, aku melambai lambaikan tanganku kepada beliau. Namun tampaknya ia tak mengenaliku, yang hari itu spesial pake jaket komplit dengan syal plus tas ransel kecil.
Aku memutuskan untuk memarkir sepeda yang tak berkunci itu di gerbang pintu menuju sakristi, agar aman oleh tangan tangan jahil. Disana bertemulah aku dengan Pastor Warhadi yang sedang bersiap –siap. Ia menyarankan padaku untuk parkir disitu saja, sembari sedikit kaget, siapa gerangan ibu yang bersepeda ini. Tak ayal beberapa umat stasi yang ku kenal, ikut datang melihat-lihat sepedaku, sembari ada yang bilang :” Wah, saya mau juga nih ke gereja naik sepeda”. Terfikir oleh saya saat itu, jika benar banyak umat yang datang bersepeda dari lingkungan sekitar gereja, tentu tak di perlukan lagi lahan parkir yang luas untuk menampung mobil- mobil yang ada.
Singkatnya, usai misa saya otomatis bergegas merogoh saku celana saya untuk mencari kunci mobil. Sempat sesaat aku tertegun, karena tak menemukannya! Aku baru tersadar, ketika melihat sang sepeda masih bersender manis di tempatnya. Aku tak ingat lagi, apakah saat itu aku berharap sepedaku berubah jadi mobil ya? Atau sebaliknya, apa sepeda perlu kunci mobil kah?
Kemudian sampailah aku menggowes ke depan Warung Cerbon yang ada di ujung kiri jalan menuju arah rumahku. Perut mulai keroncongan. Aku memutuskan untuk berhenti disitu untuk menyantap lotek kesukaanku. Paman parkir datang menyambutku dengan ramah. Bak gaya seseorang yang meminta jasa valet parking, langsung kuserahkan sepedaku kepada si paman. Ia pun lantas sigap mengambil sepedaku. Entah dimana diparkirnya, aku pun sudah tak peduli.
Usai bersantap, ku keluarkan selembar ribuan anyar dari dompetku. Paman parkir pun dengan gesit menyambarnya sembari menyerahkan sepedaku dengan membungkukkan badannya dengan hormat ke arahku. Valet parking tanpa karcis! Tapi…ya sudahlah, servisnya memuaskan kog!
Tak lupa, ketika aku mau mulai mengayuh sepedaku ke arah jalan besar, ia membunyikan pluit parkirnya …priiiiiittt…dengan suara lantang yang amat panjang sambil memberhentikan mobil yang hendak lalu lalang!
Dalam hati aku geliiiiiiiiii… sendiri, tapi tak berani ketawa sendiri lagiii…Padahal suara hatiku sudah ingin ngakak! Tapi kutahan- tahan sambil tetap mengayuh dan menahan tawa agar tak dikira ibu ini perlu dibawa ke RSJ!
Paman parkir telah memberikan pelayanan terbaiknya! (Rosiany T. Chandra)
Minggu, 23 Januari 2011
Rabu, 08 Desember 2010
Si Bruce Dan Sepeda

Sore hari itu, agak gerimis, namun cuaca yang tak menentu ini tak menyurutkan niat Pastor Rob Stigter, OSC untuk segera berkemas. Dengan cekatan ia segera mengenakan ransel di punggungnya. Kemudian Pastor yang lahir di Den Haag, (Belanda) 71 tahun yang silam ini, berjalan dengan langkah tegap ke arah sepedanya. Sebelum sampai ke sepedanya, ia meluangkan waktu sejenak untuk menyapa Bruce, anjing peliharaannya.
Sebelum mengayuh sepedanya, ia sempat melipat kedua belah ujung kaki celananya, agar tak basah oleh percikan air hujan. Pastor Rob akan menghadiri sembahyang lingkungan yang diadakan sore hari itu di wilayah Paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan, Bandung.
Dalam aktifitasnya, Pastor Rob bersepeda tidak hanya dalam kunjungan ke lingkungan saja, namun juga sehari-hari, baik untuk pelayanan misa ke Stasi St. Theodorus, maupun untuk kunjungan ke lansia dan orang sakit. Bersepeda baginya bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga ramah lingkungan. “Dan ajaibnya tak kan pernah ditilang bung polisi”, candanya. Dus, ramah polusi dan polisi.
Ia memang sosok yang senang berolah fisik. Setiap pagi, siang dan sore, dengan penuh kasih sayang ia mengajak Bruce untuk berjalan - jalan di sekitar gereja. Kegiatan ini juga sekalian untuk melatih fisiknya yang tampak tetap bugar di usianya yang terbilang tak muda lagi.
Pastor Rob yang sudah menjadi WNI ini mempunyai hobby naik gunung di masa mudanya. Beberapa gunung yang sempat ia daki, antara lain: G. Ciremay, G. Tampomas, G. Merbabu, G. Sumbing, dll.
Ketika ditanyakan, kapan naik gunung lagi, ia mengatakan, sekarang ia tidak naik gunung lagi. Sesuai usia, sesekali ia bersama Bruce naik bukit di daerah Dago Pakar sambil menikmati bandrek dan pisang bakar yang dijajakan di warung kopi yang berada disana.(Rosiany T. Chandra)
(dimuat di HIDUP No 50, 12 Des 2010)
Rabu, 24 November 2010
Tangga Aborsi

Ia tetap ada disana
walau terasah masa
menukik tajam ke lembah
curam menerjal batas usia
kokoh merekam detak sejarah
Kembali ku kesana
bertanya pada pohon beringin
sudah kah ia berkisah padamu tentangku?
Mendaki tangga menapak seirama
kita berkisah tentang dunia yang tak senada
Perih tetap terasa..
saat sepakat meniti jalan bersimpang
Genggaman tangan di gagang payung
masih terasa hangat menyentuh jemariku.
Serpih hujan awal November itu
Teriris hatiku menjadi jadi.
Masih kita melempar senyum
Di ujung tangga
Ku berpaling segera
menepis duka yang menghentak
tak tertahankan…
Sambil bergegas kutelan doa
semoga hidup menyapamu ramah
RTC
Tas Kain Perca

Saat ku tiba di sebuah toko batik ternama di kota Yogyakarta, hati ku sudah senang bukan kepalang. Akhir akhir ini aku memang lagi gandrung batik. Selain bahan batik enak dikenakan, rasanya ada kebanggaan tersendiri bila mendapatkan hasil ‘buruan’ desain dan corak warna batik yang cantik. Walau aku tak mengerti arti dari corak batik itu, aku tetap menikmatinya saat aku melumat keindahan aneka motif- motif tersebut dalam aneka corak dan warnanya.
Sore itu aku berhasil mendapatkan tiga helai blus. Harga nya pun tentu jauh lebih murah, sebelum ia memasuki mal ternama di kotaku. Usai berburu batik, Yogya rasanya makin menawan saja. Sebelum aku meninggalkan toko tsb, mataku masih mencari- cari apa yang masih bisa kubeli. Sesaat kemudian, mataku terarah pada tumpukan tas tas yang terbuat dari kain perca batik lawas. Seakan- akan ada kekuatan yang begitu kuat yang memaksaku, agar segera memasukkannya kedalam keranjang tas belanjaan ku. Tas batik ‘compang camping’ yang indah itu membawaku kepada sebuah kenangan..
Dalam ingatan masa kecilku, nenek ku amatlah cantik. Ia berkonde encim dan berkebaya encim pula. Kebayanya ada yang panjang dan ada yang pendek. Konon jika seorang encim memasuki usia tertentu, ia wajib mengganti kebaya pendeknya dengan yang panjang. Sepertinya jika seorang encim ‘memasuki’ usia kebaya panjang, ia telah ‘menjelma’ menjadi seorang yang lebih bijak dan dihormati. Demikian yang diceritakan kepadaku, saat aku masih kanak-kanak.
Sering aku mengagumi dan mengamati motif- motif kerancang bordir yang ada disetiap ujung segitiga kebaya nenekku. Biasanya kebaya si Mak, demikian aku memanggilnya, terbuat dari bahan yang tipis menerawang. Kerancang-kerancang itu menambah indahnya kostum sehari-hari Mak, yang terbordir rapih pada setiap ujung segitiga, kiri dan kanan kebayanya. Sebagai anak kecil, aku tentu belum bisa mengapresiasi keindahan itu. Yang ku ingat, aku sering meraba raba ujung segitiga kebaya Mak dan sesekali memilin milinnya dengan jari jari ku. Ada kedamaian dan keteduhan yang masih kurasakan, tatkala aku mengenangnya kembali kini.
Dibalik kebaya itu, ia memakai kutang jahitannya sendiri yang bertali-tali. Sering aku diminta untuk menyeratkan tali tali tersebut saat ia berdandan memoleskan bedak dingin disekujur leher dan wajahnya usai ia mandi. Bedak dingin yang bunder-bunder putih itu menebarkan semerbak aroma bunga melati.
Ketika terik matahari menampakkan wujudnya, Mak sering mengulen tepung beras menjadi butiran butiran kecil putih. Tak lupa ia bumbuhi dengan melati berkelopak lebat yang baru dipetik dari halaman depan rumahnya. Segera butiran butiran kecil putih yang dibunderkan dengan kedua belah telapak tangannya itu, memenuhi tampah yang menghias tepi sumur di halaman belakang rumah. Siap untuk dikeringkan dibawah sang surya.
Saya dan beberapa sepupu lainnya ikut ikutan membunderkan kelereng kelereng bola beras itu. Seringkali kami mempermainkan bola tepung beras itu ditangan kami yang kotor, sehingga ia menjadi berwarna kehitam-hitaman dan tidak layak guna lagi!
Itulah bedak dingin, dengan nama kerennya kini: foundation. Selain memberi rasa dingin di tubuh, mungkin ada daya tarik sendiri jika seorang ncim berpupur putih tampil dengan kebayanya yang menerawang. Yang pasti aku sangat terpesona dengan acara dandan si Mak.
Sesaat kemudian ia membuka almari bajunya. Banyak tumpukan kain batik yang tersusun rapi, disetiap ambal lemarinya. Diujung sana tampak tumpukan kain kain batik yang berwarna biru putih saja. Dari letak penyimpanannya, kelihatan deretan kain sarung ini jarang dipakai. Tak ada warna lain. Sejenak aku heran.. dan bertanya dalam dialek Minang: ”Mak, mengapa kain kain itu warnanya biru putih se?” Se itu bisa diartikan jeh dalam bahasa cerbon atau semacam dong atau deh dalam betawi. “ Sarong- sarong itu Mak pake, kalau Toa Ha saja”. Aku baru mengerti, rupanya sarung biru putih itu hanya dikenakannya jika ada sanak keluarga yang meninggal, jadi hanya untuk masa berkabung saja.
Sore itu, ia memakai kebaya dengan motif kerancang bunga krisan kuning kecil- kecil. Ada benang kuning yang terbordir diatas kain putih lenan itu. Ia membentuk sekelompok bunga dengan segitiga daun –daun yang mengitarinya. Indah sekali.. Berpadu dengan kain sarung motif kecoklatan, Mak tampak serasi mempesonaku.
Ia sudah lama menjanda. Bahkan aku tak pernah mengenal kakekku dari pihak ibuku ini. Sehari hari, ia menjajakan dari rumah ke rumah barang dagangannya, yakni bumbu rempah kambing, bumbu kue spekoek yang resep racikannya ia dapatkan turun temurun dari leluhurnya. Selain itu, ia menjajakan juga kain kain bahan baju dan kebaya yang ia kulak dari pusat pasar di kota Padang. Sepertinya, memakai istilah jaman sekarang, Mak ku adalah pedagang asong keliling. Jaman itu kan belum ada arisan. Jika ada, mungkin Mak ku bisa jadi disebut sebagai Ibu Arisan.
Mengetuk dari pintu ke pintu. Itulah model dagangan pada masa itu. Hampir semua ibu rumah tangga berada di rumah sepanjang hari. Mereka punya waktu untuk melayani Mak ku yang datang. Dari cerita yang ku cerna sekarang, tentu segala hot news yang terjadi di kota, tak luput pula menjadi bahan pembicaraan antara si pedagang keliling dan si nyonya rumah.
Nah, sore itu usai berdandan, ia siap berkeliling membawa barang dagangannya. Tumpukan kain kain itu, ia letakkan diatas kain segi empat yang dijahit dari berbagai corak batik kain perca. Ujung yang satu, ia simpulkan erat dengan ujung diagonal lainnya. Lantas ujung yang ketiga, ia tautkan dengan ujung keempat. Namun kali ini, tidak ia tarik dengan simpul yang erat. Ia sisakan ruang untuk tempat memasukkan tangan, agar ia bisa mengapit jinjingan itu diantara tangan dan sikutnya.
Kain perca segiempat itu telah menjelma menjadi sebuah tas yang rapih dan berseni. Berbekal sebuah payung bergagang kayu dan beratap kertas, ia siap menapaki jalan jalan di kota Padang. Aku masih ingat, tak lupa ia meneteskan minyak Kolonye di saputangannya. Barangkali, itulah bentuk cipratan parfum masa kini bagi perempuan yang jarang bersaputangan lagi.
Kenangan akan tas kain perca Mak ku ini telah menuntunku untuk segera membeli tas kain perca batik “compang camping”. Ia mampu membawaku sejenak kembali ke pesona tempo dulu dimana keindahan masih bertahta diatas nilai kejujuran semata.(Rosiany T. Chandra)
Senin, 30 Agustus 2010
PAKET CINTA

Sore itu aku mendapat sms dari tanteku, yang mengatakan bahwa dia baru saja mengirimkan sebuah paket dari Depok (tempat tinggalnya). Aku diminta untuk mengambil paket tersebut di pool Cipaganti di Cihampelas.
Aku tidak terlalu sering menjalin kontak dengan Tante Ceng ini. Tapi secara berkala, kami memang saling bertukar kabar via sms.
Tante Ceng ini orang Padang asli yang pintar memasak apa saja. Dari kue hingga masakan khas Padang yang enak enak. Sejak kepin dahannya ke Jakarta, ia memang berjualan aneka macam kue basah. Tiap pagi pagi buta, ia, saudara dan para pembantunya sudah siap dengan aneka macam kue yang menunggu untuk didistribusikan ke masing masing outlet.
Ini dilakukannya bertahun tahun dan tampaknya relatif cukup menghasilkan.
Sekarang dengan bertambahnya usia, ia tak berjualan kue lagi. Memang kegiatan berjualan kue ini sangat menguras tenaga fisik. Seiiring dengan waktu, mereka pun punya sumber penghasilan lain.
Sewaktu ayahku masih ada, mereka amat dekat. Tante Ceng tahu persis , apa saja jenis masakan kegemaran ayahku. Jika ayahku mau ke Depok, ia pasti sudah halo halo ke Tante Ceng. Tante Ceng segera menyiapkan masakan Padang, antara lain seperti gule pakis, kesukaan ayahku.
Gule pakis ini dimasak dengan sejenis ikan yang sudah diawetkan. Lalu dipadu dengan santan kental. Tante Ceng selalu tahu, pakis jenis mana yang pas untuk masakan ini. Selain dimakan bersama nasi, uniknya gulai ini sering pula dimakan dengan pisang goreng! Itulah ke khas san kuliner ranah Minang yang mungkin tak se populer rendang.
Jadi kembali ke cerita paket tadi, sepulang dari kantor, aku mampir ke pool Cipaganti untuk mengambil paket tersebut. Aku mengira, mungkin aku dikirimi kripik balado atau cemilan khas Padang lainnya. Sambil menyetir, aku masih menebak nebak dan selalu mencuri pandang paket yang 'duduk' disebelahku pada tiap lampu ' bang - jo' (abang -ijo). Hatiku senang bukan kepalang dapat paket sore tadi. Aku tak begitu perduli sebenarnya akan isinya.
Begitu sampai di rumah, aku segera mengambil gunting dan membuka isi paket tsb. Aroma masakan Padang segera menyapa hidungku. Wah..ternyata tak kusangka, isinya adalah enam buah bungkusan, yang masing masing isinya adalah gulai pakis, rendang dan dendeng balado.
Sekonyong -konyong, aku merasa amat dicinta dengan kedatangan paket ini. Ia seakan - akan juga mewakili " tradisi kehadiran" ayahku kembali.
Langsung saja kutelpon Tante Ceng dan kuluapkan emosi ku dengan berterima kasih kepadanya, sembari mengatakan ," Hari ini aku mendapatkan sebuah Paket Cinta!" (Rosiany T. Chandra)
Rabu, 11 Agustus 2010
Berkencan Hampa

Saat jiwa disergap hampa
berat bergayut kelam
ia bergeliat merambah kata
Menelisik rasa dan angan dalam puisi
membuka ruang baru dalam hati,
masuk lautan dimensi
mengeksplorasi imaginasi
Jiwa serasa meluas
laksana samudera tak bertepi
Oh..jiwa
kusambut pengalaman duniawi
hari ini
Namun kehampaan
tetap membayang
di tepi hati
satu saat
....nanti
Rosiany T. Chandra
Guriang
Minggu, 18 Juli 2010
AYO MEMASAK....!!

Malam itu aku, suami dan anakku duduk bersama di meja makan saat makan malam tiba. Aku menatap hidangan yang tersedia diatas meja. Menu hari itu yaitu; semur bola daging, sayur bening dan pergedel jagung.Tak satupun itu hasil olahanku.Tentu saja si Tusiyem dengan setia memasakkan untuk kami sekeluarga.
Secara tak sadar aku teringat kembali akan pertemuanku dengan seorang ibu sederhana yang biasa di panggil Mbak Tris (58) oleh sahabatku. Pertemuan ini amat mengesankan hatiku, sehingga aku memutuskan untuk menulisnya agar siapa tahu bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang lain juga.
Mbak Tris adalah seorang janda yang telah ditinggal pergi oleh suaminya kira kira 10 tahun yang lalu.Tentu tak mudah menjanda dengan usia relaif muda, kurang lebih 48 tahun.
Sebenarnya saat pertemuanku dengannya, ia tak terlalu banyak berbicara juga. Tetapi dari apa yang diceritakannya, aku menangkap ia adalah sosok seorang ibu yang penuh cinta kasih kepada keluarga terutama kepada anak anaknya. Seorang ibu yang tanpa pamrih mengabdi untuk mengurus semua keperluan keluarga, seperti mengasuh anak anak, mendidik dan memasak untuk seluruh anggota keluarga. Nah..,kegiatan yang terakhir ini- kata sahabatku - adalah kegiatan yang paling disukainya. Katanya sayur lodeh bikinan Mbak Tris, adalah made in Cirebon yang bisa bikin sahabatku terkangen kangen!
Dari sejak awal pernikahannya Mbak Tris selalu memasak untuk suami dan anak anaknya. Entah mengapa, sesaat aku merenung teringat Mbak Tris, saat aku menatap masakan yang terhidang tadi malam diatas meja makanku. Aku menjadi malu sendiri dan menyadari kalau aku jarang memasak untuk suami dan anakku. Betapa aku tidak bisa menjadi seorang ibu yang mengabdi dan berbakti kepada keluarga yang semestinya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Mbak Tris.
Melalui baktinya selama ini, Mbak Tris telah menuai ‘buah’ dari anak anaknya yang telah ‘mengembalikan’ cinta kasih dan perhatian mereka yang besar kepada ibu mereka. Anak anaknya telah hidup mandiri dan tak satupun dari mereka yang menyusahkan Mbak Tris. Semua ingin membahagiakannya walau empat dari anak anaknya tinggal di luar kota.
Pertemuanku dengan Mbak Tris mampu membuatku merenung tentang diriku sendiri yang tak ada apa apanya dibanding dengan apa yang sudah ia berikan kepada keluarganya.
Ia sosok sederhana, namun mampu memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Ia layak dan harus percaya diri mendapat reward dari apa yang sudah ia berikan hingga kini. Sedangkan aku? Memasakpun aku tak mampu!
Aku menjadi maklum, kalau memang benar adanya, masakan adalah salah satu saluran bentuk cinta kasih yang tiada duanya!
Ayo kembali memasak dan mengabdi…!!(Rosiany T. Chandra, ditulis pada tanggal 17 Desember 2009)
Selamat Jalan Mbak Tris...
Langganan:
Postingan (Atom)
