Sabtu, 14 Mei 2011

Persaudaraan Lintas Batas Sejak Kecil



Menyambut Hari Pendidikan Nasional (2 mei 2011), Paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan ( Pandu ), Bandung mengajak anak anak Pra dan TK untuk bermain bersama di aula paroki. Kegiatan ini menjadi unik karena anak-anak balita yang bergabung pagi hari itu berasal dari tiga sekolah dengan latar belakang agama & budaya yang berbeda.

Selain murid dari sekolah TK Katolik Indryasana, milik WK cabang Bandung, gereja mengundang pula murid murid sekolah dari TK BKB Kemas (Bina Kelompok Balita) yang letaknya tidak jauh dari gereja dan anak anak PAUD Ceria ( binaan gereja Pandu) yang sebagian besar didampingi oleh orang tua mereka yang beragama Islam. Total ada delapan puluh lima anak dengan tigabelas orang guru yang mendampingi.

Perayaan gabungan tahunan ini dibuka dengan doa oleh masing masing pembina secara Muslim dan Katolik. Tampak anak – anak berlarian riang gembira bersama dan berkumpul untuk saling mengenal dan membangun persahabatan diantara mereka dalam banyak permainan- permainan yang digelar. Mereka asyik bermain tanpa mengenal dan mempermasalahkan perbedaan SARA yang ada diantara mereka. Pertemanan dan kebersamaan lah yang mereka utamakan.

“Persaudaraan akan lebih mudah terjalin sejak kecil”, demikian tutur Romo Agustinus Sudarno, OSC, sebagai penggagas kegiatan ini. “Selain itu, komunikasi akan lebih terbina sedini mungkin”, lanjut pastor kepala paroki Pandu ini.
Selain bermain dan bernyanyi bersama, anak- anak mendapat paket makan siang serta bingkisan berupa paket susu dan snack yang sudah disiapkan oleh para donatur yang mendukung acara persaudaraan dini ini.(Rosiany T Chandra)

Minggu, 23 Januari 2011

Sepenggal Pengakuan


Di akhir Advent kesumat itu mencair
mengalir lewat cerah kepasrahan
Bermuara dalam suatu pengakuan

Ku ketuk pintu hatiNya
Tangan terbuka Dikau menyapa
Sebelum kuucapkan kata
Seakan Dikau tahu situasi yang ada

Tersendat kalimat itu hendak loncat
Tersangkut ia disana
Hanya tumpahan air bak mutiara menggenang
Terus… terus….tak terbendung

Ampuni aku ya Bapa
Telah kuingkari janjiku sendiri
Dikau hanya bilang:
“Anakku, Aku mengerti”

Saat itu juga
Cinta sendiri datang memelukku
Penuhi aku dengan kemewahan surgawi

Rosiany T. Chandra, 17 Des 2010

API YANG MENYALA TERUS



Seperti yang kita ketahui Mgr Johannes Pujasumarta telah diangkat Vatikan menjadi Uskup baru bagi Keuskupan Agung Semarang mulai tanggal 7 januari 2011 nanti. Sebelum ia meninggalkan Bandung, kami diberi kesempatan bertemu di tempat kediaman resmi beliau (8/12/2010). Dalam bincang bincang singkat sore hari itu terekam banyak hal, baik seputar masa tugas beliau di Keuskupan Bandung, maupun tentang gerak kehidupan gereja pada umumnya…


Sore itu Mgr bercerita bahwa beliau teringat akan peristiwa bersejarah dua setengah tahun yang lalu, saat ia ditahbiskan menjadi Uskup Bandung di Sasana Budaya Ganesha. Kala itu panitia mampu menjadikan moment tahbisan itu sebagai peristiwa iman umat bersama. Moment bersejarah itu amat berkesan dan berkenan di hatinya karena semua kalangan umat terlibat dengan penuh antusiasme. “ Api dari nyala lilin yang telah dibagikan ke umat itu, saya harapkan jangan padam. Biarkan ia menyala terus, sebagai lambang semangat pelayanan dan kerjasama yang selalu membara di tengah umat Katolik,” demikianlah ia tandaskan, ketika ditanyakan, apa saja hal-hal positif yang ia lihat sebagai seorang ‘outsider’ pada saat itu; kesan dan kenangan berharga untuk diperhatikan serta dikembangkan lebih lanjut di Keuskupan Bandung.

Ketika disinggung bahwa dua setengah tahun adalah masa yang relatif singkat untuk pengembangan karya-karya pastoral, Bapa Uskup tak menampiknya. Namun beliau menegaskan: ”Kendati demikian, buah buah Muspas telah mampu menjadi referensi arah dasar Keuskupan Bandung untuk periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2014 mendatang”
Himbauan Tuhan, “Duc In Altum” (bertolaklah ke tempat yang dalam) juga telah ditanggapi umat, salah satunya dalam bentuk pembangunan Ruang Adorasi Abadi “Pradipa Kumara” di Paroki Pandu.

Seiring dengan itu, selanjutnya ia berpesan, agar gerakan cinta Ekaristi mampu menjadi puncak pengalaman hidup rohani yang bisa dibagikan kepada orang lain sebagai wujud perutusan dalam kehidupan sehari hari.

Ia yakin keberadaan ILSKI dalam naungan spiritualis OSC serta Simposium dan Hari Studi Liturgi yang terus bergelombang dapat menunjang dan mampu menjadi landasan yang baik untuk mendukung gerakan umat agar lebih mencintai Ekaristi.

Tambahan pula, sejurus dengan hal ini, indikasi banyaknya umat yang mengikuti Ekaristi hingga melimpah ke luar gereja, adalah pertanda bahwa ruang gereja tidak mencukupi lagi. Perlu adanya rencana proyeksi ke depan dalam mengantisipasi hal tersebut.

Bapa Uskup dari dulu memang suka menulis. Kini dengan ditunjang oleh perangkat teknologi yang ada, beliau dengan cekatan dapat mencatat setiap peristiwa yang sedang berlangsung di laptop maupun Blackberry nya. Umat dapat segera mengakses berita terkini melalui blog nya di Multiply.

Disela-sela perbincangan, ia sempat menunjukkan kepada kami salah satu buku dari catatan peristiwa yang ia ketik dengan mesin ketik pada tahun 1983. Tampaknya, ia betul betul menghayati makna dari kata: “Pergilah, kita diutus”, yang selalu kita dengar di akhir sebuah misa. Ia diutus untuk membagikan cerita cerita bersejarah dan kabar baik itu sendiri kepada siapa saja melalui apa yang telah direnungkan dan ditulisnya.

Keguyuban para imam di Keuskupan Bandung pun menjadi perhatiannya. Melalui FORPITU ( Forum Pimpinan Tarekat dan Unio diharapkan terbangun jaringan kerjasama dalam meniti hidup bakti baik antara imam diosesan maupun di kalangan religius.

“ Saya tentu akan menyesuaikan kembali dengan kota Semarang, yang tak sesejuk kota Bandung”, demikian paparnya. “Selain itu beberapa pertemanan dan persaudaraan yang mengesankan akan menjadi kenangan indah di kemudian hari”, lanjutnya.
Di akhir pembicaraan, sekali lagi Bapa Uskup berpesan, agar api yang telah bernyala, jangan lah dipadamkan. Api ini diperlukan pekerja pekerja Allah untuk membangun gereja. Ia mengutip kata kata Rasul Paulus di 1 Korintus 3:6 : “ Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”

Segenap umat di Keuskupan Bandung dengan tulus mengucapkan Terima Kasih dan Selamat Jalan kepada Bapa Uskup Johannes Pujasumarta. Tuhan memberkati beliau di ladang pastoral barunya nanti di Keuskupan Agung Semarang. ( Rosiany T. Chandra)(dimuat di Komunikasi edisi 363 Januari 2011)

SERVIS TERBAIK

Hari Sabtu sore di awal bulan Januari, anak dan suami ku berhalangan ke misa sore di Stasi Sukawarna. Aku pun sudah mengurungkan niatku ke gereja sore hari nan cerah itu.
Namun sejenak aku teringat sepedaku yang sudah lama ‘nganggur’ di garasi rumahku. Tergerak hatiku untuk menggowes saja ke Stasi. Kapan lagi kesempatan ini terbuka lebar? Kalau tak ke Stasi, yang letaknya hanya beberapa blok dari rumah, tentu aku belum berani ke jalan besar menghadapi mobil mobil yang tak kan ramah pada penggowes amatir ini.

Ternyata setelah sekian tahun tak pernah mengayuh, diperlukan keseimbangan badan yang cukup, agar kita tetap dalam posisi stabil untuk mengayuh. Dalam perjalanan, ada sedikit tanjakan yang perlu dilewati dengan mengeraskan buah betis yang disertai nafas yang memburu. Sebaliknya dalam meluncur kebawah, aku betul betul harus waspada dalam menarik pedal rem, agar sepeda tidak berhenti mendadak pula. Pake feeling lah!
Akhirnya tibalah aku di ujung jalan menuju Stasi. Dari jauh aku sudah melihat mobil Pastor Warhadi memasuki halaman Stasi. Bak tentara yang menang di medan laga, aku melambai lambaikan tanganku kepada beliau. Namun tampaknya ia tak mengenaliku, yang hari itu spesial pake jaket komplit dengan syal plus tas ransel kecil.

Aku memutuskan untuk memarkir sepeda yang tak berkunci itu di gerbang pintu menuju sakristi, agar aman oleh tangan tangan jahil. Disana bertemulah aku dengan Pastor Warhadi yang sedang bersiap –siap. Ia menyarankan padaku untuk parkir disitu saja, sembari sedikit kaget, siapa gerangan ibu yang bersepeda ini. Tak ayal beberapa umat stasi yang ku kenal, ikut datang melihat-lihat sepedaku, sembari ada yang bilang :” Wah, saya mau juga nih ke gereja naik sepeda”. Terfikir oleh saya saat itu, jika benar banyak umat yang datang bersepeda dari lingkungan sekitar gereja, tentu tak di perlukan lagi lahan parkir yang luas untuk menampung mobil- mobil yang ada.

Singkatnya, usai misa saya otomatis bergegas merogoh saku celana saya untuk mencari kunci mobil. Sempat sesaat aku tertegun, karena tak menemukannya! Aku baru tersadar, ketika melihat sang sepeda masih bersender manis di tempatnya. Aku tak ingat lagi, apakah saat itu aku berharap sepedaku berubah jadi mobil ya? Atau sebaliknya, apa sepeda perlu kunci mobil kah?

Kemudian sampailah aku menggowes ke depan Warung Cerbon yang ada di ujung kiri jalan menuju arah rumahku. Perut mulai keroncongan. Aku memutuskan untuk berhenti disitu untuk menyantap lotek kesukaanku. Paman parkir datang menyambutku dengan ramah. Bak gaya seseorang yang meminta jasa valet parking, langsung kuserahkan sepedaku kepada si paman. Ia pun lantas sigap mengambil sepedaku. Entah dimana diparkirnya, aku pun sudah tak peduli.

Usai bersantap, ku keluarkan selembar ribuan anyar dari dompetku. Paman parkir pun dengan gesit menyambarnya sembari menyerahkan sepedaku dengan membungkukkan badannya dengan hormat ke arahku. Valet parking tanpa karcis! Tapi…ya sudahlah, servisnya memuaskan kog!

Tak lupa, ketika aku mau mulai mengayuh sepedaku ke arah jalan besar, ia membunyikan pluit parkirnya …priiiiiittt…dengan suara lantang yang amat panjang sambil memberhentikan mobil yang hendak lalu lalang!
Dalam hati aku geliiiiiiiiii… sendiri, tapi tak berani ketawa sendiri lagiii…Padahal suara hatiku sudah ingin ngakak! Tapi kutahan- tahan sambil tetap mengayuh dan menahan tawa agar tak dikira ibu ini perlu dibawa ke RSJ!

Paman parkir telah memberikan pelayanan terbaiknya! (Rosiany T. Chandra)

Rabu, 08 Desember 2010

Si Bruce Dan Sepeda


Sore hari itu, agak gerimis, namun cuaca yang tak menentu ini tak menyurutkan niat Pastor Rob Stigter, OSC untuk segera berkemas. Dengan cekatan ia segera mengenakan ransel di punggungnya. Kemudian Pastor yang lahir di Den Haag, (Belanda) 71 tahun yang silam ini, berjalan dengan langkah tegap ke arah sepedanya. Sebelum sampai ke sepedanya, ia meluangkan waktu sejenak untuk menyapa Bruce, anjing peliharaannya.
Sebelum mengayuh sepedanya, ia sempat melipat kedua belah ujung kaki celananya, agar tak basah oleh percikan air hujan. Pastor Rob akan menghadiri sembahyang lingkungan yang diadakan sore hari itu di wilayah Paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan, Bandung.
Dalam aktifitasnya, Pastor Rob bersepeda tidak hanya dalam kunjungan ke lingkungan saja, namun juga sehari-hari, baik untuk pelayanan misa ke Stasi St. Theodorus, maupun untuk kunjungan ke lansia dan orang sakit. Bersepeda baginya bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga ramah lingkungan. “Dan ajaibnya tak kan pernah ditilang bung polisi”, candanya. Dus, ramah polusi dan polisi.
Ia memang sosok yang senang berolah fisik. Setiap pagi, siang dan sore, dengan penuh kasih sayang ia mengajak Bruce untuk berjalan - jalan di sekitar gereja. Kegiatan ini juga sekalian untuk melatih fisiknya yang tampak tetap bugar di usianya yang terbilang tak muda lagi.
Pastor Rob yang sudah menjadi WNI ini mempunyai hobby naik gunung di masa mudanya. Beberapa gunung yang sempat ia daki, antara lain: G. Ciremay, G. Tampomas, G. Merbabu, G. Sumbing, dll.
Ketika ditanyakan, kapan naik gunung lagi, ia mengatakan, sekarang ia tidak naik gunung lagi. Sesuai usia, sesekali ia bersama Bruce naik bukit di daerah Dago Pakar sambil menikmati bandrek dan pisang bakar yang dijajakan di warung kopi yang berada disana.(Rosiany T. Chandra)
(dimuat di HIDUP No 50, 12 Des 2010)

Rabu, 24 November 2010

Tangga Aborsi


Ia tetap ada disana
walau terasah masa
menukik tajam ke lembah
curam menerjal batas usia
kokoh merekam detak sejarah

Kembali ku kesana
bertanya pada pohon beringin
sudah kah ia berkisah padamu tentangku?

Mendaki tangga menapak seirama
kita berkisah tentang dunia yang tak senada
Perih tetap terasa..
saat sepakat meniti jalan bersimpang
Genggaman tangan di gagang payung
masih terasa hangat menyentuh jemariku.
Serpih hujan awal November itu
Teriris hatiku menjadi jadi.

Masih kita melempar senyum
Di ujung tangga
Ku berpaling segera
menepis duka yang menghentak
tak tertahankan…

Sambil bergegas kutelan doa
semoga hidup menyapamu ramah

RTC

Tas Kain Perca


Saat ku tiba di sebuah toko batik ternama di kota Yogyakarta, hati ku sudah senang bukan kepalang. Akhir akhir ini aku memang lagi gandrung batik. Selain bahan batik enak dikenakan, rasanya ada kebanggaan tersendiri bila mendapatkan hasil ‘buruan’ desain dan corak warna batik yang cantik. Walau aku tak mengerti arti dari corak batik itu, aku tetap menikmatinya saat aku melumat keindahan aneka motif- motif tersebut dalam aneka corak dan warnanya.

Sore itu aku berhasil mendapatkan tiga helai blus. Harga nya pun tentu jauh lebih murah, sebelum ia memasuki mal ternama di kotaku. Usai berburu batik, Yogya rasanya makin menawan saja. Sebelum aku meninggalkan toko tsb, mataku masih mencari- cari apa yang masih bisa kubeli. Sesaat kemudian, mataku terarah pada tumpukan tas tas yang terbuat dari kain perca batik lawas. Seakan- akan ada kekuatan yang begitu kuat yang memaksaku, agar segera memasukkannya kedalam keranjang tas belanjaan ku. Tas batik ‘compang camping’ yang indah itu membawaku kepada sebuah kenangan..


Dalam ingatan masa kecilku, nenek ku amatlah cantik. Ia berkonde encim dan berkebaya encim pula. Kebayanya ada yang panjang dan ada yang pendek. Konon jika seorang encim memasuki usia tertentu, ia wajib mengganti kebaya pendeknya dengan yang panjang. Sepertinya jika seorang encim ‘memasuki’ usia kebaya panjang, ia telah ‘menjelma’ menjadi seorang yang lebih bijak dan dihormati. Demikian yang diceritakan kepadaku, saat aku masih kanak-kanak.

Sering aku mengagumi dan mengamati motif- motif kerancang bordir yang ada disetiap ujung segitiga kebaya nenekku. Biasanya kebaya si Mak, demikian aku memanggilnya, terbuat dari bahan yang tipis menerawang. Kerancang-kerancang itu menambah indahnya kostum sehari-hari Mak, yang terbordir rapih pada setiap ujung segitiga, kiri dan kanan kebayanya. Sebagai anak kecil, aku tentu belum bisa mengapresiasi keindahan itu. Yang ku ingat, aku sering meraba raba ujung segitiga kebaya Mak dan sesekali memilin milinnya dengan jari jari ku. Ada kedamaian dan keteduhan yang masih kurasakan, tatkala aku mengenangnya kembali kini.

Dibalik kebaya itu, ia memakai kutang jahitannya sendiri yang bertali-tali. Sering aku diminta untuk menyeratkan tali tali tersebut saat ia berdandan memoleskan bedak dingin disekujur leher dan wajahnya usai ia mandi. Bedak dingin yang bunder-bunder putih itu menebarkan semerbak aroma bunga melati.

Ketika terik matahari menampakkan wujudnya, Mak sering mengulen tepung beras menjadi butiran butiran kecil putih. Tak lupa ia bumbuhi dengan melati berkelopak lebat yang baru dipetik dari halaman depan rumahnya. Segera butiran butiran kecil putih yang dibunderkan dengan kedua belah telapak tangannya itu, memenuhi tampah yang menghias tepi sumur di halaman belakang rumah. Siap untuk dikeringkan dibawah sang surya.
Saya dan beberapa sepupu lainnya ikut ikutan membunderkan kelereng kelereng bola beras itu. Seringkali kami mempermainkan bola tepung beras itu ditangan kami yang kotor, sehingga ia menjadi berwarna kehitam-hitaman dan tidak layak guna lagi!

Itulah bedak dingin, dengan nama kerennya kini: foundation. Selain memberi rasa dingin di tubuh, mungkin ada daya tarik sendiri jika seorang ncim berpupur putih tampil dengan kebayanya yang menerawang. Yang pasti aku sangat terpesona dengan acara dandan si Mak.

Sesaat kemudian ia membuka almari bajunya. Banyak tumpukan kain batik yang tersusun rapi, disetiap ambal lemarinya. Diujung sana tampak tumpukan kain kain batik yang berwarna biru putih saja. Dari letak penyimpanannya, kelihatan deretan kain sarung ini jarang dipakai. Tak ada warna lain. Sejenak aku heran.. dan bertanya dalam dialek Minang: ”Mak, mengapa kain kain itu warnanya biru putih se?” Se itu bisa diartikan jeh dalam bahasa cerbon atau semacam dong atau deh dalam betawi. “ Sarong- sarong itu Mak pake, kalau Toa Ha saja”. Aku baru mengerti, rupanya sarung biru putih itu hanya dikenakannya jika ada sanak keluarga yang meninggal, jadi hanya untuk masa berkabung saja.

Sore itu, ia memakai kebaya dengan motif kerancang bunga krisan kuning kecil- kecil. Ada benang kuning yang terbordir diatas kain putih lenan itu. Ia membentuk sekelompok bunga dengan segitiga daun –daun yang mengitarinya. Indah sekali.. Berpadu dengan kain sarung motif kecoklatan, Mak tampak serasi mempesonaku.

Ia sudah lama menjanda. Bahkan aku tak pernah mengenal kakekku dari pihak ibuku ini. Sehari hari, ia menjajakan dari rumah ke rumah barang dagangannya, yakni bumbu rempah kambing, bumbu kue spekoek yang resep racikannya ia dapatkan turun temurun dari leluhurnya. Selain itu, ia menjajakan juga kain kain bahan baju dan kebaya yang ia kulak dari pusat pasar di kota Padang. Sepertinya, memakai istilah jaman sekarang, Mak ku adalah pedagang asong keliling. Jaman itu kan belum ada arisan. Jika ada, mungkin Mak ku bisa jadi disebut sebagai Ibu Arisan.

Mengetuk dari pintu ke pintu. Itulah model dagangan pada masa itu. Hampir semua ibu rumah tangga berada di rumah sepanjang hari. Mereka punya waktu untuk melayani Mak ku yang datang. Dari cerita yang ku cerna sekarang, tentu segala hot news yang terjadi di kota, tak luput pula menjadi bahan pembicaraan antara si pedagang keliling dan si nyonya rumah.

Nah, sore itu usai berdandan, ia siap berkeliling membawa barang dagangannya. Tumpukan kain kain itu, ia letakkan diatas kain segi empat yang dijahit dari berbagai corak batik kain perca. Ujung yang satu, ia simpulkan erat dengan ujung diagonal lainnya. Lantas ujung yang ketiga, ia tautkan dengan ujung keempat. Namun kali ini, tidak ia tarik dengan simpul yang erat. Ia sisakan ruang untuk tempat memasukkan tangan, agar ia bisa mengapit jinjingan itu diantara tangan dan sikutnya.
Kain perca segiempat itu telah menjelma menjadi sebuah tas yang rapih dan berseni. Berbekal sebuah payung bergagang kayu dan beratap kertas, ia siap menapaki jalan jalan di kota Padang. Aku masih ingat, tak lupa ia meneteskan minyak Kolonye di saputangannya. Barangkali, itulah bentuk cipratan parfum masa kini bagi perempuan yang jarang bersaputangan lagi.

Kenangan akan tas kain perca Mak ku ini telah menuntunku untuk segera membeli tas kain perca batik “compang camping”. Ia mampu membawaku sejenak kembali ke pesona tempo dulu dimana keindahan masih bertahta diatas nilai kejujuran semata.(Rosiany T. Chandra)