Sabtu, 14 Mei 2011

Dari Gereja Di Lampung Hingga Madura




Pukul lima dini hari, Suster perawat Inge baru tiba di asrama keperawatan St Borromeus di Jl Suryakencana, Bandung. Ia baru saja turun dari bis malam, usai berlibur di Yogyakarta. Ia bergegas, karena harus segera dinas di Ruang Operasi RS St Borromeus subuh itu. Tatkala ia meloncati tapak landasan menuju lantai atas berikutnya, ia terpeleset ”Bruk…….!!”

Sesaat kemudian, tubuhnya pun tergeletak di lantai, terbanting dari ketinggian kira-kira enam meter ke bawah. Suara kegaduhan yang ditimbulkan, memecah keheningan dini hari itu. Seorang rekan yang bersamanya, segera berteriak minta tolong dan mengambil tandu dari rumah sakit Borromeus yang terletak di seberang asrama. Tak lama kemudian Suster Inge menjadi pasien rumah sakit ini, tempat dimana ia mengabdikan hampir seluruh usia produktifnya sebagai perawat.

Ia masih ingat betul, hari yang naas itu adalah tanggal 10 Oktober 1977. Selama 7 minggu ia bergelut dengan rasa sakit, setelah mengalami fraktur impressi pada tulang torakal dan lumbal serta servikal dari tulang lehernya. Ketika itu secara sadar ia tidak mau di operasi karena faham akan akibatnya berdasarkan pengalamannya selama tigabelas tahun sebagai suster kepala kamar bedah RS St Borromeus. Kendati sudah dinasehati oleh rekan dokter yang mengobatinya agar menjalani operasi, ia tetap memilih terapi teraksi, yakni sebuah terapi yang mengembalikan posisi tulang seperti semula oleh seorang dokter rehabilitasi medik.

Ditengah pergumulannya dengan rasa sakit dalam masa bedrest , ia berdoa dengan perasaan yang amat sedih. “ Sambil tersedu saya bilang pada Tuhan, ketika saya bekerja di ruang operasi, sering saya menerima pasien sudah dalam keadaan setengah sadar. Ketika pasien belum sadar betul dan tidak mampu mengucapkan terima kasih, saya tidak pernah pamrih dan tidak berharap apapun dari mereka, kecuali semata-mata hanya kesembuhan dari pasien yang saya tolong” tuturnya dengan lirih. “ Bapa, saat ini saya sangat kesakitan, kog saya diberi derita yang seperti ini?” jeritnya dalam salah satu doanya.

Melalui beberapa saat hening di ruang rawat inap yang berminggu ia lewati, ia melanjutkan doa-doanya : “ Tuhan Yesus, saya tidak mengharapkan apa apa dari Engkau, jika Engkau masih menghendaki aku bekerja sebagai perawat seperti sebelumnya, tolong berilah aku pemulihan seperti sedia kala”. Itulah satu-satunya permohonan yang ia ulangi dalam setiap doa-doa yang didaraskan.

Selepas masa perawatan, ia mendapat cuti selama satu bulan. Waktu ini ia pergunakan untuk berkeliling dari satu gereja ke gereja lainnya. Konon ada yang mengatakan padanya, jika seseorang datang mengunjungi gereja gereja yang belum pernah dikunjungi, ia boleh memohon tiga permintaan di gereja gereja itu yang bisa dikabulkan. Ziarahnya berawal dari arah barat, gereja di Lampung sampai ke arah timur, Surabaya dan Madura. Walau ada tiga permohonan yang bisa disampaikan, Suster Inge tetap hanya menyampaikan sebuah doa permohonan yang ia ulangi berkali–kali setiap masuk ke gereja baru : ”Sembuhkan saya ya Bapa seperti semula, agar saya mampu bekerja kembali seperti sedia kala”

Tiga bulan kemudian, ia pulih dan kembali bertugas di kamar operasi setelah sebelumnya, beberapa saat ditempatkan di bagian administrasi roentgen sebagai masa transisi. Beberapa minggu bertukar peran sebagai pasien, telah membuatnya lebih memahami akan kebutuhan pasien yang bukan hanya mengharapkan sebuah pelayanan medis saja, melainkan juga akan sentuhan kasih sayang perhatian pada saat seseorang tergolek lemah tak berdaya.

Pernah Bercita-Cita Jadi Dokter

Suster Inge Irawati lahir di Purwokerto 74 tahun yang silam. Sejak kecil ia bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Namun karena keterbatasan biaya, keinginan ini terpaksa dilupakannya. Keinginannya berkarir di bidang medis terwujudkan ketika ia diterima sebagai siswa Sekolah Pengatur Perawat RS St Borromeus pada tahun 1961 dan lulus pada tahun 1964 dengan Cum Laude. Ia menempuh masa pendidikan dibawah bimbingan salah satu direktrisnya, alm Sr biarawati Angelbertha CB yang terkenal sangat disiplin serta menerapkan pola kedisiplinan ini pula kepada murid-muridnya baik di sekolah maupun di asrama tempat mereka tinggal. Pedoman dasar kedisiplinan ini berpengaruh kelak dalam keseharian suster Inge. “Suster Inge orangnya jujur, disiplin baja, kerja keras tak kenal waktu, tapi hatinya lembut dan mau menghargai orang lain!”, demikian tutur salah satu mantan rekan kerjanya, dr. Kuswardono.

Setamat dari sekolah perawat, ia menjalani ikatan dinas selama satu tahun di RS St Borromeus dan dilanjutkan kemudian di berbagai tempat, dari bidang internis, bedah, UGD dll sampai menjadi suster kepala kamar bedah hingga tahun 1983. Karirnya menanjak terus ketika pada tahun yang sama, ia diangkat menjadi Kepala Bidang Perawatan, yang menjalankan fungsi wakil direktur perawatan hingga masa pensiunnya pada tahun 1993. Karena tanggung jawab dan loyalitas pengabdiannya sudah teruji beberapa dekade, ia dikontrak kembali selama enam tahun hingga 1999.

Tetap Bersemangat Di Usia Senja

Dari awal masa pensiun hingga kini, ia tetap ingat akan permohonan doanya yang dikabulkan Tuhan. Ia tetap ingin bekerja melayani sesama. Di Yayasan Dharma Ibu, selama dua periode (2000-2007) ia mengurus bagian pendidikan serta mengelola keuangan koperasi Lestari milik yayasan. Sebelum memasuki masa pensiun pun, pada tahun 1993 ia sudah aktif sebagai anggota Lions Club, organisasi internasional yang bergerak dibidang sosial. Selain itu , disela sela pekerjaannya, ia masih sempat berlatih untuk mengisi paduan suara di parokinya, Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Buahbatu-Bandung. Disini, kembali ia dipercaya sebagai bendahara koperasi Surya Kasih dari tahun 2000 hingga sekarang.

Dengan senyum khas di bibirnya, Suster Inge tetap semangat dalam setiap pelayanan yang ia lakukan. Sebulan dua kali, ia merebus sejumlah telur untuk dibagikan di posyandu kepada balita-balita sebagai program penambahan gizi dari Lions Club Bandung Lestari. Dengan tertatih–tatih dan dibantu dengan sebuah tongkat penyangga, ia tetap semangat siap berangkat, jika jadwal pembagian tiba. Setiap balita yang mendapatkan bingkisan tersebut darinya, disapanya dengan penuh cinta kasih.

Hingga masa tuanya, ia tidak pernah berkeluarga, walau mengalami beberapa kali masa pacaran. Ketika ini ditanyakan, apakah ia menyesali keputusannya untuk hidup sendiri. Ia mengatakan bahwa, di masa mudanya, kesempatan itu hilang begitu saja, dimana salah satunya akibat ia tetap harus berjaga stand by di kamar bedah, ada atau tidak ada pasien yang hendak di operasi. “Nyaris tidak ada waktu bergaul yang tersisa tempo itu” ujarnya . “Tenaga medis yang tersedia kala itu tidak sebanyak yang tersedia sekarang” sambungnya dengan sorot mata yang ramah.

Walau tenaga medis bertambah, ia mencermati bahwa nilai nilai spiritual yang mendasari pelayanan ini kini kian memudar. “Cinta kasih yang tercurahkan kepada pasien mutlak harus tetap terpelihara”, pesannya. “Jangan sampai ditengah penambahan fasilitas, terjadi penurunan kualitas”, demikian lanjutnya dengan mimik serius.
Kesendiriannya kini tidak pernah ia sesali, karena beragam pelayanan yang ia berikan telah memaknai titian kehidupannya sembari menorehkan aneka warna pelangi bagi semangat hidupnya.

Rosiany T Chandra(dimuat di majalah HIDUP Nr 20, 15 Mei 2011)

Dia Akan Melengkapi



Sehari sebelum hari Jumat (23/4/2010) , saya menerima sebuah pesan singkat dari Danny Karjo. Isinya mengabarkan bahwa keesokan harinya akan diadakan penggantian Sakramen Mahakudus di ruang adorasi pada pkl.05.30 di Jl.Pandu 27 Bandung. Mgr. Yohanes Pujasumarta berkenan hadir untuk memimpin misa ekaristi dalam mengawali ritual kudus ini.

Malam hari menjelang tidur, saya baru ingat lagi akan pesan singkat tadi. Saya memutuskan untuk hadir agar bisa memotret acara ini untuk kepentingan buletin Pandu, BERITA KITA.

Esok subuh, saya sudah berada di lokasi sekitar pkl.05.20. Saya bergegas ke ruang adorasi agar saya punya waktu untuk berdoa sejenak. Namun sesampai di pintu ruang adorasi, ternyata misa telah dimulai. Sejenak saya terhenti ragu , sedikit heran kalau misa telah dimulai lebih awal. Bapak Uskup yang berdiri tepat di depan pintu masuk, mengisyaratkan agar saya melanjutkan langkah saya kedalam.

Ada sekitar 10-12 umat berkumpul di ruang yang tak terbilang luas ini. Saya segera duduk bersila tepat didepan meja altar dadakan ini. Hanya tempat ini yang tersisa bagi saya, dan itupun pas di depan pintu masuk. Pada saat itu saya justru merasa beruntung, karena bisa memotret dengan leluasa dari posisi paling depan.

Pagi itu saya tak datang ke ruang adorasi dengan setumpuk doa permohonan. Tujuan utama saya adalah hanya untuk memotret event special ini, dimana kehadiran Bapak Uskup bisa saya bagikan kepada segenap pembaca BERITA KITA. Hanya terbersit pada saat itu, saya hanya ingin bersyukur saja atas semua anugerah yang saya terima.
Sesudah menerima komuni langsung dari Bapak Uskup yang mendatangi umat satu persatu, saya pun larut dalam doa sesudah komuni.

Saat itu saya pun hanya bersyukur tanpa mengucapkan hal yang lain padaNYA. Sekonyong konyong kemudian, ada yang melintas di benak saya: “You are not alone…, don’t be afraid ”. Saya tidak mau/bisa mengatakan bahwa saya mendengar suara tersebut.

Pengalaman ini sangat pribadi dan baru pertama kali terjadi dalam ratusan ekaristi yang telah saya alami.
Yang terjadi kemudian, saya begitu terharu dan berlinang air mata. Tak tahu juga mengapa. Saya tak mengatakan apapun kepadaNya, namun Dia telah berkunjung ke dalam hati saya.

Masih dalam linangan air mata, usai misa saya bergegas berupaya kembali ke mobil, dengan harapan agar tak ada yang menyaksikan saya dalam keadaan terharu tersebut. Tak diduga, Pastor Darno yang berdiri di depan pintu ruang adorasi berpapasan dengan saya yang terburu buru. Mau tak mau saya harus pamit kepadanya. Ia menyaksikan keharuan saya. Lalu sekilas bahu saya ditepuk beliau. Saya tambah terharu dan secepat kilat berlalu ke mobil.

Di dalam mobil, saya masih ber bengong - bengong ria bertanya dalam hati, fenomena apakah ini ?
Hari ini saya menemukan jawabannya: Kita hanya perlu bersyukur. Dia akan melengkapi kita! (Rosiany T.Chandra)

Menghidupkan Firman Allah Yang Membeku




Seksi Liturgi paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan(Pandu) baru-baru ini mewujudkan lontaran idea dari komunitas lektornya untuk menyelenggarakan sebuah workshop yang bertajuk : ‘Menjadi Pelayan Liturgi Yang Oke’. Lokakarya yang bertempat di Aula gereja Pandu, pada hari Minggu, tanggal 27 maret 2011 ini menghadirkan dua orang pembicara, yakni Ibu Maria Oentoe dan Pastor Eka Wahyu Djoko Santoso, OSC.

Ibu Maria Oentoe adalah seorang pengajar senior para lektor dari Keuskupan Agung Jakarta. Sedangkan pastor Eko, demikian panggilan akrabnya, adalah koordinator unit retret dari Rumah Retret Pratista. Dua pembicara itu saling melengkapi saat workshop yang dibagi dalam lima sesi. Acaranya berlangsung dari pkl. 09.00 – 16.00 dengan break santap siang.

Tidak disangka, workshop ini mendapat tanggapan yang amat baik tidak hanya dari paroki paroki yang ada di kota Bandung, tetapi juga dari luar kota seperti Subang, Garut dan Purwakarta. Hal ini nampak dari banyaknya paroki yang mengirimkan entah lektor ataupun utusannya dari minimal lima sampai duapuluh orang peserta. Total tercatat ada 243 peserta yang mengikuti workshop ini. Angka yang jauh melebihi target panitia!

Kehadiran Allah, pertama-tama dirasakan lewat Sabda. Tanpa pewartaan Sabda, kita tak akan mampu mengenali kehadiranNya lewat Pemecahan Roti. Namun kekuatan Sabda ini tidak terletak pada saat kita mendengarnya saja, melainkan dalam daya ubahnya yang mengerjakan karya ilahi ketika kita mendengarkannya. Dalam tindakan mendengarkan itulah Allah hadir menyapa dan mengubah hidup kita. Ketika seorang lektor membacakan kutipan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, saat itulah ia ingin menegaskan kembali kehadiran Sang ilahi dalam hidup manusia. Peran seorang lektor menjadi penting, karena merupakan salah satu bagian kunci dari penyampaian serta penghayatan sebuah liturgi, sarana bagi terjalinnya hubungan antar manusia dengan Allah.

Demikian beberapa hal mendasar yang disampaikan oleh Pastor Eko, sebelum masuk ke sesi berikutnya, yakni saat ibu Maria Oentoe membahas lebih dalam tentang tehnik pengolahan vokal, serta aspek-aspek lain yang harus diperhatikan saat seorang lektor bertugas di atas mimbar.

Ibu Maria Oentoe menyampaikan bahwa dalam membaca firman Tuhan yang akan disampaikan, seorang lektor diwajibkan untuk bisa melihat serta memahami makna yang terkandung dalam naskah yang akan dibacanya. Selain itu, ada beberapa aspek yang perlu dikuasainya, seperti beberapa ketrampilan teknis berikut : pengenalan bentuk huruf, unsur linguistik serta kemampuan menyuarakan firman Tuhan yang membeku dalam naskah menjadi Firman yang hidup dan berdaya.

Untuk itu diperlukan pengucapan kata dan frasa yang tepat, intonasi yang wajar dengan kecepatan yang sesuai pula, sehingga pada akhirnya Firman Tuhan dapat “dipindahkan” ke dalam hati dan budi orang yang mendengarkannya. Dalam membaca, seorang lektor tidak diperkenankan untuk meletakkan pikiran atau perasaan pribadi ke dalam bacaannya. “ Membaca Firman Tuhan, bukanlah sebuah bentuk deklamasi atau dramatisasi sebuah sandiwara”, demikian pesan Ibu Maria.

Pada akhir sesi, bukan sekedar materi teorinya saja yang dibahas, namun praktek membaca serta evaluasinya pun di bahas bersama-sama demi tercapainya dinamika pembacaan yang diinginkan.
Dengan dibagikannya sertifikat keikutsertaan kepada seluruh peserta : “Mari menjadi pelayan liturgi yang oke!!”

Rosiany T Chandra (dimuat di KOMUNIKASI 367 MEI 2011)

Persaudaraan Lintas Batas Sejak Kecil



Menyambut Hari Pendidikan Nasional (2 mei 2011), Paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan ( Pandu ), Bandung mengajak anak anak Pra dan TK untuk bermain bersama di aula paroki. Kegiatan ini menjadi unik karena anak-anak balita yang bergabung pagi hari itu berasal dari tiga sekolah dengan latar belakang agama & budaya yang berbeda.

Selain murid dari sekolah TK Katolik Indryasana, milik WK cabang Bandung, gereja mengundang pula murid murid sekolah dari TK BKB Kemas (Bina Kelompok Balita) yang letaknya tidak jauh dari gereja dan anak anak PAUD Ceria ( binaan gereja Pandu) yang sebagian besar didampingi oleh orang tua mereka yang beragama Islam. Total ada delapan puluh lima anak dengan tigabelas orang guru yang mendampingi.

Perayaan gabungan tahunan ini dibuka dengan doa oleh masing masing pembina secara Muslim dan Katolik. Tampak anak – anak berlarian riang gembira bersama dan berkumpul untuk saling mengenal dan membangun persahabatan diantara mereka dalam banyak permainan- permainan yang digelar. Mereka asyik bermain tanpa mengenal dan mempermasalahkan perbedaan SARA yang ada diantara mereka. Pertemanan dan kebersamaan lah yang mereka utamakan.

“Persaudaraan akan lebih mudah terjalin sejak kecil”, demikian tutur Romo Agustinus Sudarno, OSC, sebagai penggagas kegiatan ini. “Selain itu, komunikasi akan lebih terbina sedini mungkin”, lanjut pastor kepala paroki Pandu ini.
Selain bermain dan bernyanyi bersama, anak- anak mendapat paket makan siang serta bingkisan berupa paket susu dan snack yang sudah disiapkan oleh para donatur yang mendukung acara persaudaraan dini ini.(Rosiany T Chandra)

Minggu, 23 Januari 2011

Sepenggal Pengakuan


Di akhir Advent kesumat itu mencair
mengalir lewat cerah kepasrahan
Bermuara dalam suatu pengakuan

Ku ketuk pintu hatiNya
Tangan terbuka Dikau menyapa
Sebelum kuucapkan kata
Seakan Dikau tahu situasi yang ada

Tersendat kalimat itu hendak loncat
Tersangkut ia disana
Hanya tumpahan air bak mutiara menggenang
Terus… terus….tak terbendung

Ampuni aku ya Bapa
Telah kuingkari janjiku sendiri
Dikau hanya bilang:
“Anakku, Aku mengerti”

Saat itu juga
Cinta sendiri datang memelukku
Penuhi aku dengan kemewahan surgawi

Rosiany T. Chandra, 17 Des 2010

API YANG MENYALA TERUS



Seperti yang kita ketahui Mgr Johannes Pujasumarta telah diangkat Vatikan menjadi Uskup baru bagi Keuskupan Agung Semarang mulai tanggal 7 januari 2011 nanti. Sebelum ia meninggalkan Bandung, kami diberi kesempatan bertemu di tempat kediaman resmi beliau (8/12/2010). Dalam bincang bincang singkat sore hari itu terekam banyak hal, baik seputar masa tugas beliau di Keuskupan Bandung, maupun tentang gerak kehidupan gereja pada umumnya…


Sore itu Mgr bercerita bahwa beliau teringat akan peristiwa bersejarah dua setengah tahun yang lalu, saat ia ditahbiskan menjadi Uskup Bandung di Sasana Budaya Ganesha. Kala itu panitia mampu menjadikan moment tahbisan itu sebagai peristiwa iman umat bersama. Moment bersejarah itu amat berkesan dan berkenan di hatinya karena semua kalangan umat terlibat dengan penuh antusiasme. “ Api dari nyala lilin yang telah dibagikan ke umat itu, saya harapkan jangan padam. Biarkan ia menyala terus, sebagai lambang semangat pelayanan dan kerjasama yang selalu membara di tengah umat Katolik,” demikianlah ia tandaskan, ketika ditanyakan, apa saja hal-hal positif yang ia lihat sebagai seorang ‘outsider’ pada saat itu; kesan dan kenangan berharga untuk diperhatikan serta dikembangkan lebih lanjut di Keuskupan Bandung.

Ketika disinggung bahwa dua setengah tahun adalah masa yang relatif singkat untuk pengembangan karya-karya pastoral, Bapa Uskup tak menampiknya. Namun beliau menegaskan: ”Kendati demikian, buah buah Muspas telah mampu menjadi referensi arah dasar Keuskupan Bandung untuk periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2014 mendatang”
Himbauan Tuhan, “Duc In Altum” (bertolaklah ke tempat yang dalam) juga telah ditanggapi umat, salah satunya dalam bentuk pembangunan Ruang Adorasi Abadi “Pradipa Kumara” di Paroki Pandu.

Seiring dengan itu, selanjutnya ia berpesan, agar gerakan cinta Ekaristi mampu menjadi puncak pengalaman hidup rohani yang bisa dibagikan kepada orang lain sebagai wujud perutusan dalam kehidupan sehari hari.

Ia yakin keberadaan ILSKI dalam naungan spiritualis OSC serta Simposium dan Hari Studi Liturgi yang terus bergelombang dapat menunjang dan mampu menjadi landasan yang baik untuk mendukung gerakan umat agar lebih mencintai Ekaristi.

Tambahan pula, sejurus dengan hal ini, indikasi banyaknya umat yang mengikuti Ekaristi hingga melimpah ke luar gereja, adalah pertanda bahwa ruang gereja tidak mencukupi lagi. Perlu adanya rencana proyeksi ke depan dalam mengantisipasi hal tersebut.

Bapa Uskup dari dulu memang suka menulis. Kini dengan ditunjang oleh perangkat teknologi yang ada, beliau dengan cekatan dapat mencatat setiap peristiwa yang sedang berlangsung di laptop maupun Blackberry nya. Umat dapat segera mengakses berita terkini melalui blog nya di Multiply.

Disela-sela perbincangan, ia sempat menunjukkan kepada kami salah satu buku dari catatan peristiwa yang ia ketik dengan mesin ketik pada tahun 1983. Tampaknya, ia betul betul menghayati makna dari kata: “Pergilah, kita diutus”, yang selalu kita dengar di akhir sebuah misa. Ia diutus untuk membagikan cerita cerita bersejarah dan kabar baik itu sendiri kepada siapa saja melalui apa yang telah direnungkan dan ditulisnya.

Keguyuban para imam di Keuskupan Bandung pun menjadi perhatiannya. Melalui FORPITU ( Forum Pimpinan Tarekat dan Unio diharapkan terbangun jaringan kerjasama dalam meniti hidup bakti baik antara imam diosesan maupun di kalangan religius.

“ Saya tentu akan menyesuaikan kembali dengan kota Semarang, yang tak sesejuk kota Bandung”, demikian paparnya. “Selain itu beberapa pertemanan dan persaudaraan yang mengesankan akan menjadi kenangan indah di kemudian hari”, lanjutnya.
Di akhir pembicaraan, sekali lagi Bapa Uskup berpesan, agar api yang telah bernyala, jangan lah dipadamkan. Api ini diperlukan pekerja pekerja Allah untuk membangun gereja. Ia mengutip kata kata Rasul Paulus di 1 Korintus 3:6 : “ Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”

Segenap umat di Keuskupan Bandung dengan tulus mengucapkan Terima Kasih dan Selamat Jalan kepada Bapa Uskup Johannes Pujasumarta. Tuhan memberkati beliau di ladang pastoral barunya nanti di Keuskupan Agung Semarang. ( Rosiany T. Chandra)(dimuat di Komunikasi edisi 363 Januari 2011)

SERVIS TERBAIK

Hari Sabtu sore di awal bulan Januari, anak dan suami ku berhalangan ke misa sore di Stasi Sukawarna. Aku pun sudah mengurungkan niatku ke gereja sore hari nan cerah itu.
Namun sejenak aku teringat sepedaku yang sudah lama ‘nganggur’ di garasi rumahku. Tergerak hatiku untuk menggowes saja ke Stasi. Kapan lagi kesempatan ini terbuka lebar? Kalau tak ke Stasi, yang letaknya hanya beberapa blok dari rumah, tentu aku belum berani ke jalan besar menghadapi mobil mobil yang tak kan ramah pada penggowes amatir ini.

Ternyata setelah sekian tahun tak pernah mengayuh, diperlukan keseimbangan badan yang cukup, agar kita tetap dalam posisi stabil untuk mengayuh. Dalam perjalanan, ada sedikit tanjakan yang perlu dilewati dengan mengeraskan buah betis yang disertai nafas yang memburu. Sebaliknya dalam meluncur kebawah, aku betul betul harus waspada dalam menarik pedal rem, agar sepeda tidak berhenti mendadak pula. Pake feeling lah!
Akhirnya tibalah aku di ujung jalan menuju Stasi. Dari jauh aku sudah melihat mobil Pastor Warhadi memasuki halaman Stasi. Bak tentara yang menang di medan laga, aku melambai lambaikan tanganku kepada beliau. Namun tampaknya ia tak mengenaliku, yang hari itu spesial pake jaket komplit dengan syal plus tas ransel kecil.

Aku memutuskan untuk memarkir sepeda yang tak berkunci itu di gerbang pintu menuju sakristi, agar aman oleh tangan tangan jahil. Disana bertemulah aku dengan Pastor Warhadi yang sedang bersiap –siap. Ia menyarankan padaku untuk parkir disitu saja, sembari sedikit kaget, siapa gerangan ibu yang bersepeda ini. Tak ayal beberapa umat stasi yang ku kenal, ikut datang melihat-lihat sepedaku, sembari ada yang bilang :” Wah, saya mau juga nih ke gereja naik sepeda”. Terfikir oleh saya saat itu, jika benar banyak umat yang datang bersepeda dari lingkungan sekitar gereja, tentu tak di perlukan lagi lahan parkir yang luas untuk menampung mobil- mobil yang ada.

Singkatnya, usai misa saya otomatis bergegas merogoh saku celana saya untuk mencari kunci mobil. Sempat sesaat aku tertegun, karena tak menemukannya! Aku baru tersadar, ketika melihat sang sepeda masih bersender manis di tempatnya. Aku tak ingat lagi, apakah saat itu aku berharap sepedaku berubah jadi mobil ya? Atau sebaliknya, apa sepeda perlu kunci mobil kah?

Kemudian sampailah aku menggowes ke depan Warung Cerbon yang ada di ujung kiri jalan menuju arah rumahku. Perut mulai keroncongan. Aku memutuskan untuk berhenti disitu untuk menyantap lotek kesukaanku. Paman parkir datang menyambutku dengan ramah. Bak gaya seseorang yang meminta jasa valet parking, langsung kuserahkan sepedaku kepada si paman. Ia pun lantas sigap mengambil sepedaku. Entah dimana diparkirnya, aku pun sudah tak peduli.

Usai bersantap, ku keluarkan selembar ribuan anyar dari dompetku. Paman parkir pun dengan gesit menyambarnya sembari menyerahkan sepedaku dengan membungkukkan badannya dengan hormat ke arahku. Valet parking tanpa karcis! Tapi…ya sudahlah, servisnya memuaskan kog!

Tak lupa, ketika aku mau mulai mengayuh sepedaku ke arah jalan besar, ia membunyikan pluit parkirnya …priiiiiittt…dengan suara lantang yang amat panjang sambil memberhentikan mobil yang hendak lalu lalang!
Dalam hati aku geliiiiiiiiii… sendiri, tapi tak berani ketawa sendiri lagiii…Padahal suara hatiku sudah ingin ngakak! Tapi kutahan- tahan sambil tetap mengayuh dan menahan tawa agar tak dikira ibu ini perlu dibawa ke RSJ!

Paman parkir telah memberikan pelayanan terbaiknya! (Rosiany T. Chandra)