Sabtu, 16 Juli 2011

DEKLARASI KEGEMBIRAAN KAUM MUDA


“Saya menyadari bahwa hidup saya adalah sebuah kegembiraan. Saya mencari Rahmat dalam setiap keadaan karena diperbaharui oleh hubungan kreatif saya dengan semesta alam, dengan gagah berani saya menempuh kehidupan saya dengan kegembiraan, kebaikan, keindahan, dan kegembiraan yang semakin bertambah. Karena saya hidup dalam kegembiraan saat demi saat. Saya merupakan berkah bagi semua orang yang saya kenal, semua yang saya dukung, dan semua yang saya kasihi. Saya melihat dunia saya melalui kacamata kegembiraan dan saya menjadi ceria, dilindungi, dan dikasihi seutuhnya.”

Berbagai rangkaian acara dalam menyambut Bandung Diocese Youth Day 2011 (BDYD), sebenarnya sudah terdengar gaungnya sejak diadakannya perlombaan Futsal pada bulan April yang lalu. Namun puncak acara Hari Kaum Muda Keuskupan Bandung ini betul betul terasa gemanya pada hari Sabtu, 2 Juli 2011 di GOR Pajajaran, Bandung. Segenap kaum muda Katolik berkumpul bersama untuk sebuah acara yang dikemas dengan tema : “Orang Muda Peduli Budaya”.

“ Diharapkan melalui BDYD ini, keprihatinan terhadap kemerosotan nilai moral kaum muda bisa dibangkitkan kembali. Selain itu wujud figur yang bisa diteladani kaum muda sekiranya dapat ditampilkan pula, ditengah merebaknya berbagai pergeseran nilai figur mana yang pantas diidolakan, terkait banyak berita miring seputar tokoh tokoh yang banyak diberitakan di mass media akhir- akhir ini”, demikian ungkap Pastor Antonius Haryanto, Pr sebagai ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Bandung, penggagas acara temu anak muda ini. “ Temu acara ini menunjukkan pula bahwa Gereja peduli pada orang muda”, tambah Pastor Haryanto.

Perayaan Kaum Muda ini dibuka dengan misa yang dipimpin oleh Administrator Apostolik Keuskupan Bandung, Mgr Ignatius Suharyo sebagai selebran yang didampingi konselebran, Pastor Dwi Harsanto, Pr (Sekr. Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI) dan Pastor Antonius Haryanto, Pr serta beberapa konselebran lainnya.
Dalam homilinya, Bapa Uskup mengutip injil I Timotius 4:12 yang berbunyi: Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Menanggapi ayat itu, Bapa Uskup mengajak kaum muda agar dalam semangat antusiasme, memberi bentuk pada budaya kehidupan serta mempunyai kerinduan untuk mewujudkan daya kehidupan itu sendiri, sesuai makna antusiasme ( dari kata enteos = dalam Allah). “Semangat tanpa kenal lelah sebagai sumber kegembiraan, dapat terwujud ketika kita hidup di dalam Allah”, demikian Bapa Uskup mengakhiri homili misa petang itu yang kemudian dirangkaikan dengan sebuah Deklarasi Kegembiraan yang disuarakan oleh beberapa kaum muda dengan penuh antusias.

Kurang lebih 2500 kaum muda ambil bagian dalam pentas seni dan budaya seusai misa yang bernuansa inkulturasi. Rangkaian perjumpaan kaum muda yang indah ini selain diisi dengan aneka perlombaan( jingle, vocal group, fotografi serta pentas seni), juga dimeriahkan oleh terselenggaranya lima bidang workshop( liturgi, wirausaha, lingkungan hidup, teater rakyat dan politik) yang telah dilaksanakan beberapa hari sebelum puncak acara.

Hasil dari beberapa workshop ini diharapkan, mampu menjawab berbagai keprihatinan kaum muda dalam mewujudkan mimpi mereka. Disamping itu melalui gerakan ini, antusiasme kaum muda katolik bisa digairahkan serta bisa melahirkan beberapa aspirasi yang berkaitan dengan budaya nilai; agar hasil kreasi budaya ini bisa menjadi andalan bagi berjalannya Komunitas Basis yang bisa menggerakkan paroki mereka masing-masing, sesuai arah tema pastoral Keuskupan Bandung 2011. (Rosiany T Chandra)

Telah dimuat di majalah HIDUP Nr 29( 17 Juli 2011)

Perbaharui Diri Dalam Konvenda VIII


Sekitar limaratus orang perwakilan pengurus serta aktivis yang
tergabung dalam BPK PKK (Badan Pelayanan Keuskupan PembaharuanKarismatik Katolik) berkumpul pada tanggal 17-19 Juni 2011 di Grand Hotel Lembang, Bandung. Mereka adalah para peserta Konvensi DaerahVIII Pembaharuan Karismatik Katolik yang berasal dari tiga keuskupan (Jakarta, Bandung dan Bogor). BPK PKK Keuskupan Bandung kali ini mendapat giliran sebagai tuan rumah penyelenggara Konvenda, kegiatan yang bergulir sekali dalam tiga tahun itu.

Dengan mengusung tema “ Jangan biarkan kerajinanmu kendor, biarlahrohmu bernyala-nyala, dan layanilah Tuhan ( Roma 12:11), seluruh peserta Konvenda diajak untuk melihat kembali perjalanan iman dan karya pelayanan Gerakan Pembaharuan Karismatik Katolik. Tema tadi berusaha menggugah semangat dan kesadaran para peserta bahwa pembaharuan diri para aktivis adalah modal spiritual guna berkecimpung dalam upaya pembaharuan gereja lokal dalam terang dan kuasa Roh Kudus.

Rangkaian acara selama tiga hari ini, diawali dengan misa agung pembukaan oleh Mgr Ignatius Suharyo sebagai selebran utama, didampingi beberapa imam konselebran lainnya. Selanjutnya, acara Konvenda ini diisi dengan adorasi, pujian dan penyembahan (praise & worship), berbagai ceramah, sambung rasa & tukar pikiran, serta lokakarya tentang kurnia dan tantangan Roh Kudus. “Diharapkan rangkaian acara ini dapat menyulut inspirasi untuk menjadikan diri mereka menyala nyala berkat sentuhan & siraman Roh Kudus, hingga siap diutus untuk melayani siapapun, agar
banyak orang semakin bersemangat dan penuh sukacita dalam mengikuti Tuhan kita Yesus Kristus”, demikian papar Moderator BPK PKK Keuskupan Bandung, Pastor Yustinus Hilman Pujiatmoko, Pr.

Selaras dengan topik ceramah, “ Back to Basic” , oleh Bapak Felix Ali Chendra, Pastor Hilman menandaskan bahwa salah satu ciri khas dari pembaharuan Karismatik Katolik adalah karunia Roh Kudus. Karunia ini lah yang harus dipunyai oleh para aktivis di setiap Persekutuan Doa, yang tentu akan mempengaruhi perjalanan PD tersebut. “Apa jadinya bila PD tidak mempunyai karunia, persekutuan itu akan tumpul bahkan mati sebab menjadi suatu komunitas tanpa Roh, tanpa Spirit yang hidup dan
menghidupkan”, ujar Pastor Hilman menambahkan.

Selain ceramah di atas, masih ada ceramah umum II yang bertajuk
"Biarlah Rohmu menyala-nyala” (Pastor Eka Wahyu Djoko Santoso, OSC), ceramah umum III “Duc in Altum”( Bpk Endie Raharja), ceramah umum IV "Empowered Leadership" (Pastor John Bunay, Pr). Untaian ceramah ini disambung beberapa lokarya tentang metode narasi serta pemberdayaan SDM dalam komunikasi, pujian, penyembahan, regenerasi dsbnya. “Rangkaian tema dan kegiatan itu telah dikemas sedemikian rupa untuk memperkaya peserta”, tutur Ibu Susilawaty Surjana, koordinator BPK PKK Keuskupan Bandung.

Ketika ditanyakan bagaimana jalur dan pola pengembangan gerakan
Karismatik Katolik saat ini, Pastor Hilman mengatakan bahwa,
pengembangan di jalur parokial bertumbuh seirama dengan jalur
kategorial, misalnya tumbuhnya PDKK di komunitas mahasiswa,
pengusaha, guru dsbnya. “Semoga lewat Konvenda VIII ini, para pucuk pimpinan maupun basis akar rumput gerakan Karismatik Katolik sungguh memahami aneka karunia Tuhan, agar semakin banyak orang yang diperbaharui dan digerakkan oleh
Roh Kudus sendiri sehingga lebih banyak umat yang terlibat agar Gereja kita semakin hidup dan berbuah bagi banyak orang”, harap Pastor Y.Hilman Pujiatmoko, Pr ( Rosiany T Chandra)

Telah dimuat di majalah HIDUP Nr 27 (3 Juli 2011)

Minggu, 12 Juni 2011

KETIKA HATI SUDAH BERPAUT




Alkisah, hiduplah seekor kuda belang nan elok di sebuah desa di Prambanan yang tak jelas namanya. Sama seperti nasib hidupnya yang tak jelas, demikian pula identitasnya pada saat itu. Sehari –hari ia membantu pekerjaan induk semangnya, yaitu menarik andong, istilah kerennya, delman.

Sama seperti induk semangnya, hidupnya pun dari hari ke hari amat prihatin. Ia sudah cukup bersyukur bila mendapat jatah makan dedak sehari sekali. Menjelang malam, biasanya hanya rumput yang menjadi kudapannya menyongsong hari esok subuh yang akan dimulai dengan rutinitas yang sama, yakni mengangkut penumpang demi beberapa lembar uang ribuan bagi induk semangnya.

Otot punggungnya yang ringkih menanggung beban, tak pernah dihiraukannya. Kompresan air hangat yang diberikan induk semang sedikitpun tak mengurangi reda nyeri otot yang masih amat belia, bahkan cenderung menghilangkan semua bulu surainya yang terurai indah.

Perawakannya tidak gagah. Baru dua setengah tahun usianya. Ototnya pun belum terbentuk sempurna. Namun belang hitam putih yang berbercak di tubuhnya membuatnya tampak ceria dan lucu bak mainan bernyawa. Di bawah terik mentari siang, tubuhnya berkilau bercampur keringat bercucuran, menambah bercak belangnya kian menawan. Ia pun tak sempat merenungi nasibnya. Yang ia ketahui, ayahnya konon adalah seekor kuda balap yang pernah juara. Ia hanya harus pasrah…mengapa nasibnya jauh berbeda dengan sang ayah, yang tak pernah ia kenal apalagi datang menjenguknya.

Satu hari, seorang pemuda, pemilik sebuah stable pacuan kuda di Pangandaran datang berwisata ke Prambanan. Ia amat tertarik dan jatuh hati dengan si belang, saat ia menaiki andong yang di hela oleh si belang. Si pemuda bertanya pada induk semangnya, apa si belang mau di lepas oleh pemiliknya. Walau dengan berat hati si belang meninggalkan induk semangnya, apa mau dikata, ia tak bisa menolak takdir.

Singkat cerita, si belang pun berpindah induk semang dan pindah ke kandang yang lebih lumayan di Pangandaran. Nasib mujur sedikit mulai berubah. Ia mendapat nama Joko Wanalu, identitasnya yang baru sesuai nasibnya yang baru pula. Joko menempati kandang sendiri dengan asupan makanan kuda pacu yang lebih memadai. Joko Wanalu tak perlu bangun pagi pagi lagi untuk menghela andong. Si Joko masih punya waktu di pagi hari untuk menikmati semilirnya angin pantai Pangandaran serta berjemur di bawah teriknya mentari. Kali ini tidak dalam berpeluh basah, namun dalam suasana santai merumput di pagi hari. Oleh pemiliknya, ia dirawat baik, terlebih lagi kasih sayang yang berlimpah.

Oleh sebab ia mantan kuda andong, saat dituntun ia perlu sedikit di tarik bak menarik sapi yang di cocok hidungnya. Ia tak terbiasa berjalan tanpa beban yang harus diangkutnya. Perlahan dengan penuh kesabaran sang pemuda melatihnya dengan penuh kasih dan kesabaran. Hari demi hari berlalu, sebulan kemudian, gizi yang terserap menampakkan hasil. Joko Wanalu menjelma menjadi seekor kuda yang kendati tetap kecil, namun gagah dan berwibawa.

Suatu hari, ia disertakan dalam sebuah pacuan kuda. Tak disangka, keiukutsertaannya yang pertama kali itu membuahkan hasil juara pertama. Tak terkira senangnya ia dan dan sang pemilik Joko Wanalu. Seiring dengan waktu, pengalaman bertandingnya pun bertambah. Juga dalam pertandingan tunggang serasi dan jumping. Satu saat ia dipindahkan oleh pemiliknya ke Bandung.

Joko Wanalu bertambah usianya. Ia mulai tertarik pada lawan jenisnya. Satu hari ia jatuh cinta pada seekor kuda yang imut imut belia, yang bernama Azumi. Azumi adalah seekor kuda yang berwarna abu abu dengan bercak putih. Surainya yang indah tertiup angin amat memikat hati Joko Wanalu. Saat merasa di perhatikan, Azumi pun mulai menebarkan pesonanya, Dengan suara nyaringnya, ia mulai meringkik sambil mengibas-ngibaskan surainya…..dengan harapan pesonanya berbalas. Joko Wanalu mendekati Azumi yang memang sedang birahi. Perlu diketahui, masa birahi kuda betina memang hanya sebulan sekali pada saat ovulasi saja. Dan itu berlangsung satu dua hari saja.

Temaram sinar bulan malam itu menjadi saksi betapa indahnya kasih berpaut antara dua hati. Pemilik Joko Wanalu dan Azumi memang membiarkan itu semua terjadi. Induk semang mereka yang sama, bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka.

Saat itu, sang pemuda pun sedang memadu kasih dengan gadisnya. Terinspirasi oleh paduan kasih Joko Wanalu dan Azumi, sang pemuda pun ingin segera meminang sang kekasih dan menikahinya. Sejurus berselang, Azumi mengandung dan sebelas bulan kemudian, lahirlah baby Elena, bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Konon, Elena adalah anak pertama Azumi, walau ia sudah pernah beberapa kali menjalin kasih dengan kuda lain.

Suatu hari, Joko Wanalu menarik hati seorang wisatawan yang sedang bertandang ke kandang. Ia ingin menghadiahkan Joko Wanalu kepada anaknya. Pemuda, pemilik Joko Wanalu yang memang sedang memerlukan biaya bagi pernikahannya, sepakat memberikan si Joko pada penawar baru.

Dengan berat hati Joko Wanalu harus meninggalkan Azumi terkasih dan baby Elena. Apa mau dikata… Hancurlah hati Azumi. Joko Wanalu adalah cinta terbesarnya. Sepeninggal Joko Wanalu, Azumi tidak pernah menebarkan pesonanya lagi pada siapapun. Untuk menghibur hati Azumi, ia pun pernah beberapa kali dijodohkan ke kuda yang lain. Namun perkawinan tak pernah membuahkan hasil. Cinta jiwa raganya sudah berpaut pada Joko Wanalu..

Tak kehilangan akal, pemilik Azumi kembali mencari Joko Wanalu ke kandang lain yang juga terletak di Bandung. Joko Wanalu ditemui dalam keadaan sehat. Hidupnya berkecukupan. Kandangnya indah luas. Makanan berlimpah dan hidup di sayang-sayang. Mantan kuda andong ini tak perlu berpacu lagi. Kini ia menjadi kuda pajangan yang hanya sesekali saja ditunggang oleh anak si pemilik baru. Joko Wanalu mendapat nama baru yang keren : Toblerone, sejurus dengan nasibnya yang berubah.

Namun takdir berkata lain. Tragis, Joko Wanalu ternyata ditemukan dalam keadaan sudah dikebiri…..!!
Hancurlah hati Azumi, jika saja ia mengetahuinya. Menangis darah pun tak ada artinya.( Rosiany T Chandra)

Terlahir dari sebuah kisah nyata
ket Foto : dari atas ke bawah :Elena, Azumi, Joko Wanalu

Sabtu, 14 Mei 2011

Yang Datang Dan Pergi



Pada hari kamis, 20 Januari 2011 di Aula Atas Pandu telah diadakan acara pisah sambut antara pastor dan bruder yang akan meninggalkan kita dengan pastor pastor baru yang akan bertugas di gereja Pandu.
Seperti diketahui, Br. Dwi akan mendapat tugas baru di Keuskupan Agats, Asmat - Papua. Pastor L. Tarpin menyusul pula dengan kepindahannya ke biara Kumara Warabrata di Jl. Sultan Agung, Bandung dengan mengemban tugas baru sebagai magister para frater disana.

Sebagai gantinya, Paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan memperoleh dua orang pastor baru dan seorang frater diakon. Mereka adalah Pastor Setevanus Budi Saptono, OSC , Pastor Mateus Antara Juwana, OSC dan Frater Diakon Mammouth KAMDP, OSC.
Empat tahun sudah berlalu, sejak Pastor Tono, demikian panggilan akrab Pastor S. Budi Saptono, pernah melayani di Pandu. Sedangkan Pastor Juwana meninggalkan parokinya di St. Jusuf – Cirebon, menuju Pandu. Yang disebut terakhir, adalah Frater Diakon Mammouth yang mudik ke Indonesia setelah bertugas di Generalat OSC, Roma - Italia selama 13 tahun.

Sore hari itu, acara diawali dengan rangkaian Ibadat Sabda dalam doa dan pujian. Selanjutnya renungan singkat diberikan oleh Bapak A.B.M Witono. Dalam renungan ini kita diingatkan betapa sebuah perhatian yang diberikan kepada seseorang akan berdampak besar pada pribadi orang tsb. Hadirin yang terdiri dari seluruh anggota DPP Pandu/Stasi, koordinator/ketua wilayah, ketua lingkungan, kategorial serta para undangan sekalian diajak untuk peka dalam menebarkan cinta kasih dengan memberikan perhatian kepada orang –orang disekitar kita.

Pembawa acara, Ibu Laurentia Ng mampu menghangatkan suasana malam hari itu dengan penampilannya yang spontan dan segar. Tak lupa ia mendaulat beberapa tokoh umat Pandu untuk tampil mengungkapkan kesan dan pesan mereka tentang Pastor Tarpin dan Br. Dwi. Mereka adalah Bpk Frans Garnaen, Bpk. Triawan dan Bpk. Sucoyo yang mewakili umat di Stasi St. Theodorus.

Terungkap, bahwa Pastor Tarpin dibalik senyum simpul dan suaranya yang menggelegar, ternyata adalah seorang yang penuh disiplin dan tegas. Ia tak segan segan akan menunjukkan raut wajah yang tak puas, jika ada yang tak mentaati soal waktu yang telah disepakati. Disampaikan oleh salah seorang dari mereka, bahwa Br. Dwi adalah seorang pribadi yang hangat dan selalu cepat tanggap akan sesuatu yang perlu segera ditangani.

Selanjutnya, pemberian kenang-kenangan kepada Pastor Tarpin dan Br. Dwi sebagai ungkapan rasa terima kasih umat kepada pelayanan mereka berdua selama di paroki Pandu. Seiiring dengan itu, ucapan selamat datang juga disampaikan kepada pastor Juwana dan pastor Tono, dengan harapan semoga dalam tugas dan pelayanannya nanti sungguh mencerminkan cinta Allah kepada umat paroki Pandu.

Ibadat di tutup dengan doa penutup dan berkat oleh pastor Darno yang sebelumnya diselingi dengan gurauan dan lelucon khas pastor Darno tentang Br. Dwi.
Acara ramah tamah dalam hidangan santap malam yang telah dipersiapkan ibu ibu WK, betul –betul mampu membawa umat ke dalam suasana keramah-tamahan yang terjalin dengan saling bertegur sapa dan bersenda gurau malam itu. Kilatan kamera disana- disini ikut memeriahkan acara penuh kenangan ini.(Rosiany T. Chandra)

Komunitas Sant' Egidio



Komunitas Sant’ Egidio adalah sebuah komunitas kaum awam Katolik yang pada asal mulanya dibentuk di kota Roma- Italia pada tahun 1968, setelah Konsili Vatikan II. Komunitas ini terbentuk pada awalnya, oleh semangat dari lima orang pemuda yang ingin belajar membaca kitab suci serta menghayatinya dalam kehidupan doa mereka sehari-hari.

Gerakan ini dipimpin oleh seorang pemuda, Andrea Riccardi. Dari kegiatan ini, muncullah aksi nyata perwujudan dari apa yang mereka baca, seperti memperhatikan orang-orang miskin dan menderita. Selain doa dan membaca kitab suci, pilar lain yang mendasari kegiatan mereka adalah persahabatan dengan orang miskin serta dialog.

Dengan berjalannya waktu, Sant’Egidio kini sudah hadir di 72 negara di dunia. Di Indonesia, komunitas Sant’ Egidio pertama kali lahir di Padang pada tahun 1990 oleh pendirinya, Maria Felisia. Ia mengenal komunitas ini ketika ia berkunjung ke Roma. Waktu itu ia diajak dan diperkenalkan kepada komunitas ini oleh Romo Heri Kartono, OSC yang saat itu sedang menyelesaikan studinya disana. Dari Padang komunitas ini menyebar ke berbagai kota seperti Pekanbaru, Jakarta, Duri, Yogyakarta, Atambua, Kefamenanu, Kupang, Nias, Medan, Aceh, Denpasar, Semarang, Pontianak, Dumai, Maumere dan pada tahun 2010 di Bandung. Anggota komunitas kebanyakan adalah mahasiswa, orang muda dan dewasa.

Baru- baru ini, pada hari Minggu tanggal 20 Feb 2011, telah diadakan misa syukur dan perayaan HUT Sant’ Egidio sedunia yang ke 43 dan HUT Sant’ Egidio Jakarta yang ke 15, di Aula D, Universitas Katolik Atmajaya Jakarta. Misa dipimpin oleh Mgr AM Sutrisnaatmaka, MSF ( Uskup Palangkaraya), yang didampingi oleh Romo Y Subagyo ( Vikjen Keuskupan Agung Jakarta), Romo Paulus Wirasmohadi Soerjo ( Vikjen Keuskupan Bandung) beserta empat konselebran lainnya. Misa ini dihadiri pula oleh Bapa Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo.

Sampai saat ini komunitas Sant’ Egidio- Jakarta, secara rutin melayani serta menjalin persahabatan dengan anak-anak di Sekolah Damai (Sunter). Ini adalah bentuk pelayanan pertama komunitas Sant’ Egidio Jakarta. Disamping kegiatan belajar, bermain dan bernyanyi, komunitas turut pula memperhatikan kesehatan serta keluarga mereka yang datang dari berbagai latar belakang etnis, agama dan suku budaya. Selain itu komunitas ini memberikan perhatian dan pelayanannya pula kepada lansia pada panti –panti jompo serta anak-anak jalanan yang terpaksa harus tinggal di jalanan Jakarta.

Di Bandung, salah satu kegiatan Sant’ Egidio yang sudah dimulai secara rutin pada setiap hari minggu adalah memberi pelajaran tambahan bagi anak-anak di daerah Jl. Pahlawan. Orang muda yang sudah bergabung kurang lebih 30 orang. Agar semangat ini bisa menjadi ragi diantara kita, mari bergabung bagi yang bersimpati dengan komunitas Sant’ Egidio di Bandung, melalui kontak Sant’ Egidio Bandung, Martina Setyasih/Tyas ( 081392842584)

(Rosiany T. Chandra)dimuat di KOMUNIKASI edisi Maret 2011

Pastor Matheus Antoro Juwono, OSC



Pastor Juwono bertugas di Pandu sejak akhir Januari yang lalu. Banyak dari umat yang belum mengenal Pastor yang murah senyum ini. Mari kita mengenalnya..
Pastor Juwono lahir di Yogyakarta, pada tanggal 25 September 1952. Ia mengenyam masa SD dan SMP di kota kelahirannya. Jenjang pendidikan selanjutnya ia teruskan ke SPG di kota Cimahi pada tahun 1967 dan lulus tiga tahun kemudian pada tahun 1970. Namun selanjutnya ia tak berkarir sebagai guru, tapi memutuskan untuk masuk Seminari Tinggi OSC di Pandu. Pada tahun 1978, ia lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat & Teologi.

Masa pastoral, ia jalani di gereja Kristus Raja - Cigugur selama dua tahun, hingga 1979. Pada tahun yang sama, pada tanggal 19 September ia ditahbiskan menjadi imam di gereja St. Petrus-Katedral oleh Uskup Mgr Artnz bersama-sama dengan Pastor Widyo dan Pastor G. Lala.

Usai tahbisan, ia masih berkarya di Cigugur hingga akhir 1981. Kemudian ia ditugaskan beberapa bulan ke St. Mikael, Indramayu dan dilanjutkan kemudian ke gereja Hati Kudus Yesus, Tasikmalaya sebagai pastor paroki hingga 1986.
Pada tahun 1986, untuk beberapa bulan, ia kembali ke kota Bandung dan bertugas di paroki St. Paulus, Moh. Toha. Lantas pada tahun yang sama, ia berangkat dalam On Going Formation, ke Roma dan London selama sembilan bulan.

Sekembalinya, ia bertugas kembali di Cigugur, Subang, Pratista dan di biara Sang Kristus, Jl. Nias.
Pada tahun 1992 hingga 1993, ia berkarya di biara Sultan Agung, membina para frater disana. Pada tahun 1993-1996, ia bertugas di Seminari Menengah Cadas Hikmat.
Selanjutnya pada tahun 1996 hingga akhir 1998, ia menjadi sekretaris Provinsialat OSC di Jl. Nias. Selesai bertugas dibidang administratif, ia kembali melayani umat di paroki St. Jusuf – Cirebon hingga Januari 2011.

Kini pastor yang hobby beli buku Teologi & Filsafat ini, menjadi pastor rekan di gereja Pandu. Dalam suasana bincang- bincang, Pastor yang terkesan pendiam ini mengaku kalau ia tak suka menyanyi. Dari pengalamannya yang pernah bertugas di berbagai kota, ia melihat kenyataan bahwa umat di kota besar cenderung lebih mandiri dari yang di kota kecil. Sebagai imam, ia senantiasa ingin menanamkan iman katolik yang murni bagi setiap umatnya.

Untuk itu, secara sederhana ia ungkapkan pula bahwa Motto hidupnya adalah keinginan untuk menjadi imam yang baik saja.
Ketika ditanyakan, apa pengalaman hidup yang mengesankannya, ia mengatakan bahwa ia menanggapi hidup ini dengan mengalir begitu saja.

Selamat berkarya Romo …( Rosiany T Chandra)

Yang Ketiga Kalinya!



Senja hari, menjelang malam hari Minggu itu, tampak banyak pastor dan umat datang ke biara Pandu. Sebagian besar dari umat tampak membawa makanan dan masuk ke dalam biara seraya mempersiapkan segala sesuatunya mendampingi seksi Rumah Tangga.

Hari minggu itu, tanggal 3 April 2011, pastor Rob Stigter, OSC merayakan hari jarig nya. Siapa yang menyangka bahwa pastor yang masih berperawakan gesit dan lincah ini telah lama merajut usia, sejak saat ia dilahirkan di Den Haag, 72 tahun yang silam!. Ketika ditanyakan, apa resep awet muda dan awet lincahnya, ia mengatakan ;” Cukup menjaga apa yang dimakan dan setia bergerak dan berolahraga”.

Seperti yang sudah kita ketahui, ia memang senantiasa, mau tak mau, berlatih gerak dengan kehadiran Bruce, anjing biara, yang diasuhnya dengan sepenuh hati. Sejak kehadiran Pastor Rob di paroki, Bruce mendapat kasih sayang yang berlimpah. Mereka seiring dan sejalan dalam menuai kehangatan dalam balutan kebersamaan.

Pastor mengatakan, sepanjang yang ia ketahui, ia telah merayakan dua kali ulang tahunnya di Pandu sejak ia bertugas disini. Namun ada kejutan yang telah disampaikan Ceu Uum, pembantu di biara, kepadanya; bahwasanya ini adalah yang ketiga kalinya ia berulang tahun disini. Bagaimana mungkin? Rupa-rupanya, pada tahun 1965, saat ia masih seorang frater, ia pernah merayakan hari ulang tahunnya di Pandu. Ini diceritakan Ceu Uum ketika ia masih ikut orang tuanya yang telah membantu di biara pada tahun 1969. Tentu ini membawa kenangan tersendiri bagi Pastor Rob.

Dekorasi yang tampak unik di dalam biara adalah sebuah janur yang tergantung dengan asri di sebuah pojok ruangan, berisi ucapan selamat ulang tahun bagi pastor Rob. Ide yang kreatif dari Fr. Mammouth ini mampu menyemarakkan suasana hati Pastor Rob dan tamu tamu yang hadir sepanjang hari itu.

Usai menyanyikan lagu ulang tahun dengan speed yang kian di percepat dan meniup kue ulang tahun, tamu tamu yang hadir mempersatukan hati dalam doa syukur yang dipimpin oleh Romo Heri Kartono, OSC yang secara khusus datang dari Jakarta untuk menghadiri pemakaman Pastor Chris Tukiyat, OSC sekaligus bisa meramaikan perayaan jarig Pastor Rob.

Beberapa konfrater yang hadir adalah : Pst. Harimanto, Pst. Samong, Pst. Bekatmo, Pst. Markus, Pst. Tedjo Bawono, Pst. Blessing, Pst. Rutten dll serta tentunya para Romo dari biara Pandu sendiri.
Umat pun membaur dalam rasa dan kata. Sambil merasai kenikmatan santapan, mereka juga merajut kata –kata dengan penuh kehangatan antar sesama yang hadir disitu.

Gelukkige verjaardag Pastor 

Rosiany T Chandra