Rabu, 23 Mei 2012

Menemukan Misteri Adorasi Ekaristi

Kedatangan Pastor Antoine Thomas CSJ di Bandung ( 17-23 Feb 2012) telah mengawali rangkaian berbagai acara dalam menyambut ulang tahun Keuskupan Bandung yang ke 80. Sesuai dengan tema Tahun Ekaristi yang telah dicanangkan, panitia Tahun Ekaristi Keuskupan Bandung 2012 bekerja sama dengan Tim Kapel Adorasi Abadi Pradipa Kumara telah mengundang Pastor Antoine untuk membangkitkan kegairahan umat dalam menghayati misteri penebusan Tuhan dalam Ekaristi.
Adorasi adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menimba kekuatan rohani dari karya penebusan yang ada dalam Sakramen Ekaristi. Melalui program “ Children Love Play But They Also Love To Pray”, Pastor Antoine mengajak anak-anak sedini mungkin untuk menimba kekuatan kasih dari Ekaristi.
Selama kunjungannya di Bandung, Pastor Antoine mengunjungi beberapa sekolah, diantaranya SD St. Jusuf, SD St Angela, SD St Aloysius dan SD Pandu. Di setiap sekolah, anak anak dibimbing untuk melakukan Jam Suci, yakni adorasi kepada Sakramen Mahakudus dalam bentuk beberapa rangkaian sembah sujud, doa permohonan dan saat hening yang telah dikemas secara sederhana dan di format khusus bagi anak-anak. Pastor Antoine, seorang imam berkebangsaan Perancis menyampaikan pentingnya membawa anak-anak kepada Hati Kudus Yesus. Menurutnya, melalui Adorasi anak-anak dapat merasakan kehadiran Allah di dalam Tabernakel; merasakan apa itu Sakramen Maha Kudus. Pada umumnya anak-anak hanya diceritakan kisah Yesus dan diajak misa tanpa mengerti betul akan kehadiran Allah, sekaligus tanpa merasakan bahwa Allah benar-benar hadir dihadapan mereka.
Selain mengajar anak-anak untuk beradorasi, Pastor Antoine juga memberikan seminar dua hari berturut-turut di gereja Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan (20 - 21 Feb). Seminar yang mengambil topik ‘Marilah datang Menyembah Dia’ ini mendapat respons yang antusias, tidak hanya dari umat berbagai paroki di Bandung, namun juga dari para biarawan dan biarawati. Tiket terjual habis dan kapasitas tempat duduk di dalam gereja terisi maksimal.
Dalam seminar ini dipaparkan beberapa pencerahan kepada umat, termasuk di dalamnya bagaimana Pastor Antoine berbagi pengalamannya dalam mendampingi anak-anak, remaja dan keluarga dalam beradorasi. Pastor yang kini menetap di New Zealand ini mempunyai pengalaman bertahun tahun sebelumnya sebagai pastor sekolah yang banyak mendampingi siswa- siawa disekolahnya.
Dikatakannya, perlunya sebuah pendampingan awal sehingga kita semua bisa mengalami “ perjumpaan dengan Yesus” dalam keheningan adorasi Ekaristi yang kita lakukan.” Saya sangat senang datang ke Bandung dan sekaligus merasa kaget dan kagum atas sambutan yang begitu meriah dari anak-anak dan umat disini”, demikian paparnya dalam seminar. Disamping memberikan seminar, Pastor Antoine memimpin beberapa misa konselebrasi di paroki St Laurentius, St Paulus dan Pandu. Usai misa, acara dilanjutkan kemudian dengan Adorasi keluarga, anak-anak dan remaja sesuai jadwal yang telah diumumkan sebelumnya di masing-masing paroki. Bagi yang ingin mengetahuinya lebih lanjut, silakan kunjungi website: childrenofhope.org dan nzstjohn.wordpress.org (Rosiany T Chandra)

Cempaka Duka

Kelam malam
Melumat kepedihan
Yang tersembunyi
Di celah dedaunan
Di bayang rimbun cempaka
Malaikat datang menyapa
Menyeka air mata
Berbisik tentang dendang surga.
Hanya selemparan batu jauhnya
Antara surga dan nestapa.
Ketika jarak itu pula
Yang menerpa jiwa entah kemana
Laksana harum cempaka
Yang sirna dibawa angin malam
Rosiany T Chandra( 8 Mei 2012 )

PEGANG ERAT SALIBNYA

“Ueeenaaak…!!!”, itu adalah jawaban standar Bruder Samidi, ketika mengomentari rasa makanan yang sedang disantapnya. Hal ini merupakan salah satu yang disampaikan Pastor Darno tentang Bruder Samidi dalam homili misa requiem sore itu, Selasa, tanggal 20 Maret 2012 Bruder Justinus Samidi, OSC telah menghadap Yang Kuasa pagi harinya, pada pkl 7.30 di RS St Boromeus. Sejak ia dibawa ke rumah sakit pada tanggal 19 Feb yang lalu, paramedis telah berusaha maksimal melakukan yang terbaik baginya, namun kondisinya pasca operasi kian menurun. Konfrater di Pandu secara bergiliran menemaninya malam hari di Boromeus. Senin malam itu, giliran Fr Mammouth yang bermalam disana hingga esok paginya. Malam hari itu, Bruder tidur tenang dengan nafas teratur, meski lemah. Pagi hari Selasa, Pst Rob datang untuk menjenguknya. Sesaat kemudian, mereka terkejut mendapati alat bantu medis mencatat angka 0.. Bruder telah pergi selamanya dalam damai… “ Pada hari Minggu yang lalu, saat saya menjenguk Bruder Samidi, ia minta maaf pada saya”, demikian ucap Pastor Darno dalam homilinya. “ Ia memohon maaf atas segala sikapnya yang mungkin tak berkenan pada pastor paroki, termasuk salah satunya mencuri-curi dalam merokok”, sambung Pastor Darno. Bruder Samidi mengatakan bahwa ia lelah dan ingin beristirahat dan pergi pada bulan Paskah. Agaknya, Tuhan memang telah menjemput sesuai dengan waktu yang diinginkannya. Selanjutnya Pastor Darno menyampaikan bahwa Bruder Samidi adalah sosok pribadi yang sederhana, namun memiliki keyakinan dan iman yang teguh. Disamping itu, prinsip logikanya tidak mudah untuk dipahami. Meski demikian, Bruder Samidi telah membawa warna sendiri dalam komunitas di Pandu. Selain itu, Bruder Samidi adalah seorang konfrater yang tak pernah mengeluh akan sakitnya. Saat di rumah sakit, ketika ditanyakan padanya, apa yang sakit, ia senantiasa berucap; “Tidak ada yang sakit.” Sehingga dokter pun memuji sekaligus “bingung” atas daya tahannya. Beberapa hari menjelang ajalnya, Bruder Samidi meminta untuk diberikan salib yang bisa dipegangnya terus menerus. Tampaknya, penderitaannya telah ia persatukan dengan Salib Kristus. Oleh sebab itu, hingga ajalnya tak sedikitpun ia gentar dan goyah akan iman yang diyakininya, bahwa Allah akan menyediakan tempat yang luar biasa indah baginya kelak. “ Bruder Samidi adalah sosok yang sangat perhatian kepada sesama konfrater di rumah dan tak pernah marah”, ujar Pastor Rob Stigter. “ Selain itu, ia amat menikmati hidupnya dengan ringan tanpa keluh kesah “, sambung Pastor Rob kemudian. Disampaikan juga bahwa ia suka memasak nasi goreng dan sup daging babi dalam waktu senggang. Selebran utama dalam misa adalah Pastor Agustinus Sudarno, OSC yang didampingi oleh Pastor Anton Subianto, OSC dan Pastor Johanes Jino Widyasuharjo, OSC sebagai konselebran. Pastor Widyo, demikian ia biasa disapa, adalah keponakan dari Bruder Samidi. Pastor Widyo mengatakan bahwa , pamannya adalah sosok yang amat mempengaruhinya dalam pilihan hidupnya sebagai biarawan. “ Kalau saya saja diterima sebagai biarawan, kamu pasti juga bisa!”, bujuk Bruder Samidi kepadanya. Pastor Widyo juga menyampaikan bahwa pamannya adalah seorang yang sederhana, jujur dan tulus hatinya. “ Selain itu, ia suka memuji orang lain” kata pastor Widyo yang kini bertugas di paroki St Ignatius, Cimahi. Pastor Widyo mengungkapkan bahwa dulu saat ia memutuskan ingin menjadi pastor, ia malah tak meminta izin ke ayahnya. Ia hanya bilang ke Bruder Samidi, yang memang tinggal serumah dengan kedua orang tuanya, yang adalah kakak dari almarhum. Di penghujung homili, Pastor Darno menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh umat yang telah memberi perhatian, membantu dan mempersiapkan segala sesuatu dalam waktu yang singkat. “ Kita semua kehilangan Bruder Samidi, namun perlu bersyukur, bahwa ia telah hadir untuk memberi keyakinan dalam mewartakan iman kepada kita : Penderitaan kita tak ada apa apanya dibanding dengan penderitaan Kristus, ketika kita mampu memegang erat salibNya hingga akhir hayat”, ujar Pastor Darno menutup homilinya. RIP Bruder..(Rosiany T Chandra)

Lilin Ke Enam

Lieke panik di depan counter check in Bandara Chang I, Singapura. Rupanya e ticket ke Sydney yang ia pesan melalui internet tidak tercatat oleh system computer penerbangan. Entah mengapa itu terjadi, tidak dapat dimengerti oleh Lieke saat itu. Padahal ini adalah ke sekian kalinya ia mondar mandir antara Bandung dan Sydney dengan tiket elektronik tersebut.
Lieke terpaksa pindah antri ke counter penerbangan lain untuk membeli tiket baru. Sore itu ia baru saja transit beberapa jam dari Bandung. Untung antrian yang baru tidak seberapa panjang, sehingga tak lama kemudian, ia pun dilayani oleh seorang petugas yang ramah. “ Semoga saja masih ada tersisa satu seat untuk ke Sydney”, gumamnya dalam hati. Sambil menanti petugas mencermati layar komputernya, Lieke menyibakkan anak rambut yang menggerai di pelipisnya sambil menghela nafas panjang. Sejurus itu, sorot matanya menyapu antrian yang ada di sampingnya. Tatapannya sesaat beradu pandang dengan seorang bule yang antri persis di counter sebelah berikutnya. “Your ticket madam”, suara petugas itu sontak membuat Lieke segera memutar kembali tubuhnya yang atletis semampai. Raut wajahnya menyiratkan kelegaan dan kegembiraan, ketika petugas menyodorkan lembar tiket yang ia harapkan. “ Oh..great!..thank you”, ujarnya hampir berteriak. Setelah menyelesaikan pembayaran, Lieke segera bergegas menarik kopernya, sambil berlari kecil. Tak banyak waktu yang tersisa lagi. Panggilan boarding yang menyebutkan nomer penerbangannya sedang berkumandang dengan aneka bahasa.
Dengan nafas masih terengah, ia sudah mencapai mulut perut pesawat. Seorang pramugari menebarkan senyum termanisnya. Menemukan seat yang dituju, Lieke dengan sigap membungkuk dan mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan kopernya keatas tempat bagasi. Ketika koper masih setengah mengudara, sebuah tangan kekar menangkap koper tersebut dan segera mengantarkannya ke kabin bagasi yg tepat berada diatas kepala Lieke. Sedetik Lieke terperanjat dan tak melihat sosok wajah si empunya tangan kekar. Liekepun segera berpaling dan secara reflex sambil tersenyum lebar menatap ke arah si bule tadi yang telah bermurah hati menolongnya. Kali ini si bule membalas senyuman Lieke ditambah sorot mata yang ramah.
Seperti banyak perkenalan yang diceritakan di novel-novel, mereka pun akhirnya duduk bersebelahan menuju Sydney. Percakapan dimulai dengan basa basi dan sapaan ramah tamah biasa. Akhir-akhir ini Lieke memang tidak terlalu terbuka dalam pergaulan akibat kegagalan perkawinannya empat tahun yang lalu. Sakramen perkawinannya enam tahun silam, masih meninggalkan luka yang mendalam di hatinya. Selain itu perasaan sesal dan dosa masih menggerogotinya. Kendati berulang kali ia mengaku dosa, perasaan bersalah itu kerap menderanya hingga kini. Beban tak mampu menjalankan janji perkawinan seperti yang pernah ia ucapkan, tak bisa pupus begitu saja.
“ Kamu tinggal di Sydney?”, tanya Kevin, demikian si bule memperkenalkan dirinya. “ Tidak, saya tinggal di Bandung, namun sering ke Sydney untuk menjenguk orang tua saya yang menetap disana”, jawab Lieke dengan bahasa Inggris yang fasih. Lieke memang sekolah semenjak bangku SMA hingga univeristas disana. Selanjutnya mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan umum yang menyenangkan. Tak terasa beberapa jam kemudian, pesawat mendarat dengan mulus di negeri kangguru tersebut. Sebelumnya mereka sempat bertukar telepon dan alamat di Sydney.
Seminggu berlalu, pertemuan di pesawat itu hampir dilupakan Lieke. Namun hari jumat Lieke mendapat kabar dari Kevin, mengajak untuk bertemu minum kopi di sebuah café esok harinya. Lieke menyambut gembira, karena ia memang tak ada kegiatan khusus di Sydney selain mengunjungi orang tuanya. Selain itu Lieke juga berfikir, tak ada salahnya ia merajut sebuah pergaulan sambil rehat sejenak dari rutinitas agenda pekerjaan di hotel yang ia kelola. Pertemuan minum kopi berlanjut lain hari ke bush walking, yaitu jalan jalan ke taman di pinggiran kota. Akhir pekan berikutnya disambung dengan kayaking, mengayuh sampan bersama-sama di sebuah danau. Kalau dilukiskan pertemuan mereka persis seperti yang banyak ditayangkan di film-film. Tapi itulah kenyataan yang sebenarnya terjadi pada Lieke dan Kevin.
Seminggu sebelum kepulangan Lieke ke Bandung, persahabatan mereka kian intens. Mereka saling menemukan kecocokan dalam berkomunikasi. “ Aku bisa bercerita dan bertanya apa saja kepada Kevin “, chats Lieke pada sahabatnya, Anas di tanah air, sambil menceritakan kisah pertemuannya dengan Kevin. “ Hal yang tidak diketahuinya, di jawabnya dengan apa adanya” , sambung Lieke pada Anas. Kewajaran dan kesederhanaannya amat aku kagumi, papar Lieke kemudian. “Jatuh cinta?” goda Anas pada Lieke. “Entahlah.. aku tak tahu, sebenarnya pertanyaan yang sama aku ajukan pada diriku sendiri”, jawab Lieke tergelak.
Senin, Lieke sudah harus balik ke Bandung. Akhir pekan sebelum hari keberangkatannya, mereka lewatkan dengan melakukan aktifitas nonton bola dan makan malam bersama. Suasana makan malam di sebuah resto, di pinggir pantai kota Sydney itu amat romantis dengan kerlap kerlip lampu kota. Angin malam menusuk. Lieke membiarkan dirinya direngkuh dalam pelukan Kevin. Hangat.. dan ia menikmatinya. Lieke tak tahu pasti apa yang sedang ia rasakan. Semua seakan seperti mimpi dan sebelum mimpinya buyar, ia baru tersadar ketika sudah berada di bandara, siap untuk kembali ke Bandung.. Kevin mengantarnya dan kenyataan akhir yang harus dihadapi, mereka toh tetap harus berpisah dengan berat hati.
Ini hari ketujuh, semenjak Lieke menjejakkan kakinya kembali di tanah air. Komunikasi dengan Kevin semakin akrab via telpon dan skype. Hari ini adalah lilin ke enam yang ia nyalakan di gua Maria, yang berada di samping gereja, tempat ia dulu menerima sakramen perkawinan. Dengan khusyuk Lieke minta tuntunan Bunda Maria, apa yang harus ia lakukan dengan perasaan jatuh hatinya, sekaligus mohon belas kasih akan rasa takutnya menatap masa depan. “ Bunda Maria, apa yang harus saya lakukan, kalau satu saat aku tak kan bisa menikah lagi di hadapan PuteraMu yang amat aku kasihi ?”, ujar Lieke dalam doa yang ia bisikkan pada Bunda yang ia cintai. Lieke masih mengharapkan pencerahan dari lilin ke tujuh dan selanjutnya..( Rosiany T Chandra)

Sabtu, 31 Maret 2012

Lila, sang penari


Peluh masih bercucuran menetes dari dahinya yang putih mulus. Ia menyekanya dengan lap handuk kecil yang selalu dibawanya, baik pada saat latihan maupun kini, di sebuah club dansa yang rutin dikunjunginya.

Lila membungkuk sambil membenarkan tali sepatu dansanya. Sorot matanya memancarkan keletihan, namun seberkas kepuasan membias dibalik binar bola matanya. Ia baru saja selesai berdansa dengan salah satu muridnya. Wajahnya tak menyiratkan usia yang sesungguhnya, apalagi sintal tubuhnya. Lila baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh lima. Seiiring itu, lagu berirama tango, La Cumparsita terdengar dengan gagah membahana yang dimainkan oleh House Band disana.

Lila menyenderkan tubuhnya di kursi sambil meneguk anggur merah yang baru saja dituangkan pelayan kedalam gelasnya. Sembari mengamati murid-muridnya yang berlatih dansa, kakinya masih ikut bergoyang-goyang mengikuti irama lagu Tango tersebut. Hampir dua tahun terakhir, ia memang dibantu oleh dua orang asisten. Kendati staminanya masih prima mengajar pagi dan sore di studionya, kehadiran dua asistennya telah banyak meringankan pekerjaannya sebagi guru dansa .

Sesekali ia berdiri dari pojok ruangan dansa untuk sekedar memanjangkan lehernya yang sudah jenjang guna mengamati setiap pasangan murid yang sedang berdansa. Malam itu ia berdandan sedikit istimewa. Namun rambutnya tetap ia cepak sebagai ekor kuda, khas gaya seorang penari. Hanya anak-anak rambut yang sedikit menghiasi keningnya. “ Kakinya masih kurang nutup tuh”, ujarnya kepada Dedi, salah satu asistennya, sambil menunjuk kepada salah seorang murid. Ia berharap Dedi segera memperbaikinya nanti pada jadwal latihan biasa. Hari itu, setiap Jumat malam adalah saat yang ditunggu –tunggu oleh para murid Lila. Mereka semua boleh tampil dengan pasangan masing-masing setelah giat berlatih sebelumnya. Bagi yang tak mempunyai pasangan, bisa berlatih dengan Dedi atau Adang. Mereka siap dengan sabar dan sepenuh hati membagikan ilmunya.

Di pojok sebelah sana, sekelebat sepasang pedansa mampir di penglihatannya. Pencahayaan di arena dansa itu memang agak redup, sehingga Lila tak bisa melihat dengan jelas kedua penari itu. Mereka menari dengan sangat indahnya, sesuai dengan beat irama tango yang menghentak-hentak bak hendak berperang. Lila hafal gerakan tubuh si pria. Sejenak Lila terhenyak. Ya, dia pasti Wilan…dia pasti Wilan, gumamnya di dalam hati. “ Ya pasti”, tanpa sadar ia berucap. Dedi, yang duduk disampingnya spontan berkata: “ Ya bu, pasti akan saya latih lagi, biar kakinya nutup”. Spontan Lila melirik ke arah Dedi sambil tergelak : “ Baiklah, terima kasih”, tanpa mengungkapkan kegusaran hati yang sebenarnya kepada Dedi. Ia merubah sikap duduknya untuk menutupi gejolak hatinya yang sedikit rusuh. Dedi masih tetap dengan mimik serius menanggapi instruksi induk semangnya.

Wilan pernah menjadi partner dansanya selama delapan tahun. Berbagai kompetisi di dalam dan di luar negeri pernah mereka menangkan. Lila dan Wilan adalah pasangan dansa nasional yang disegani untuk kategori International Ballroom. Mereka berlatih dan bekerja secara professional. Saat itu, suami Lila mendukung penuh prestasi istrinya. Demikian pula halnya kenyataan yang ada pada istri Wilan. Pasangan pedansa ini ditemukan oleh guru dansa mereka bersama, seorang Belanda totok yang tak pulang ke negerinya pada zaman revolusi, setelah menikahi seorang Nyai dari tatar Sunda.

Kedekatan secara fisik sudah harus terjadi pada saat berdansa. Tanpa kendali kontak fisik, tak mungkin seorang pedansa akan memaklumi instruksi dari pasangan dansanya. Wilan dan Lila saling melengkapi dalam berdansa. Setiap kontak mata mengisyaratkan sesuatu. Prestasi demi prestasi pun diraih mereka. Di luar arena dansa, mereka jarang berkontak. Meski demikian, mereka tetap menjalin kedekatan dalam berlatih, sehingga apabila setiap sentuhan ataupun hentakan ringan yang diberikan oleh Wilan, Lila sudah faham betul, gerakan apa yang diinginkan Wilan untuk ia peragakan. Apa yang sering disebut orang body language itu sudah mendarah daging pada pasangan dansa yang ditakuti oleh lawan-lawan mereka pada zaman itu.

Sambil tetap memegang handuk kecilnya, Lila tampak sudah lebih nyaman dengan dirinya. Matanya masih menerawang jauh dan pikirannya masih berputar-putar. Kakinya sudah tak bergoyang- goyang lagi walau musik masih tetap mengalun, berubah ke irama waltz yang mendayu-dayu . Sejak usia balita, Lila sudah berlatih balet. Penghayatan akan setiap gerakan membuatnya terlatih menjadi seorang yang sangat sensitif dan peka. Pernah suatu kali ia bertanya kepada Adang:” Dang, kenapa ya, kita ini sering sulit dimengerti oleh orang lain? “ “ Bu Lila, mungkin karena kita bahasanya body language ya? “, timpal Adang dengan polosnya. Mereka tergelak geli bersama sore itu. Sejak suami Lila berpulang tiga tahun yang silam, Lila memang mencurahkan seluruh waktunya kepada studio dansanya.

Nenek dari tiga orang cucu yang sudah remaja ini, semakin menikmati passion dansanya sambil mengajar. Dua orang anaknya sudah menikah. Yang sulung seorang dokter, si bungsu adalah seorang pelukis. Terutama ia amat bangga kepada si bungsu yang mewarisi darah seninya. Di sisi lain, ia kagum juga kepada profesi putri sulungnya. Ia akui, ia bukan lah seorang kutu buku. Imaginasi dan perasaannya lebih bermain daripada segala hafalan istilah kedokteran.

Sorot matanya tetap tak lepas dari gerak tubuh Wilan dan pasangannya yang masih berdansa. Lila tak mengenal pasangannya itu. Namun Lila tak peduli, ia tampak menikmati dansa mereka…Gerakan Wilan masih tetap sempurna seperti dulu. Pasangannya juga mengimbangi kemahiran Wilan dengan luwesnya. Kendati ia tetap bangga kepada Wilan, tak urung ada perasaan sedih yang menyesak dadanya saat itu. Untuk menutupi kegelisahan hatinya, ia beranjak mengambil mantel untuk menutupi tubuhnya yang tiba- tiba berkeringat kembali. “ Bu Lila, mending duduk disini”, ujar Dedi mempersilahkan tempat duduknya kepada Lila, sambil berfikir bahwa induk semangnya kena angin malam. “ Oh..tak apa-apa”, jawab Lila terkejut.

Hampir tiga tahun sudah berlalu, sejak terakhir Lila menjadi pasangan Wilan. Saat itu, Lila sibuk mengurus suaminya yang sedang sakit parah dan kemudian pergi menghadapNya. Untuk beberapa bulan, Lila vakum dari dunia dansa. Tidak seperti pada sebuah perkawinan. Tidak ada perjanjian tertulis yang mengatakan seorang partner dansa harus setia kepada pasangannya. Dengan berat hati, Lila mengatakan kepada Wilan, agar ia mencari seorang partner dansa yang baru. Menunggunya adalah mustahil saat itu, karena situasi dan kodisi suaminya yang tak menentu. Lila masih ingat ujar Wilan saat itu:” Uruslah suamimu, aku akan menunggu”. Lila amat terharu pada saat itu akan kesetiaan Wilan.

Satu tahun berlalu, suami Lila akhirnya tak tertolong. Lila amat terpuruk kehilangan suami yang dikasihinya. Suami Lila tak gemar berdansa, namun ia amat menikmati ketika melihat istrinya lincah menari balet. Itulah kisah awal mengapa ia jatuh cinta kepada Lila. Lila juga amat menghormati Otto, suaminya, serta menghargai kepercayaan yang telah diberikan almarhum. Hanya pedih dan duka yang ia rasakan berbulan-bulan kemudian. Sejurus berselang, tak ada berita dari Wilan. Diam-diam Lila masih tetap berharap, satu waktu bisa kembali berdansa dengan Wilan.

Seiring waktu, terbetik kabar bahwa Wilan telah pindah ke luar kota. Dengan seorang teman, ia membuka studio dansa disana. Lila amat menyayangkan, hingga kini Wilan tak pernah pamit kepadanya. Lila ingin segera menghampiri Wilan. “Bu Lila, ayo turun”, suara Dedi mengajaknya, sehingga membuyarkan seluruh lamunannya. “ Siap!”, balas Lila serta merta. Sesaat kemudian, mereka sudah berada di lantai dansa. Kaki mereka dengan lincahnya mengikuti alunan musik waltz yang seakan datang bergelombang seperti pasang dan surut di bibir pantai. Ketika gerakan tarian mereka melewati Wilan, sekonyong-konyong sorot mata Lila dan Wilan bertemu. Lila dan Wilan sama-sama terhenyak. Serentak mereka masing-masing terpaku diam. Baik Dedi, maupun pasangan Wilan hampir tersandung gara-gara mereka berhenti tiba-tiba.

Lila dan Wilan berhamburan dalam pelukan. Tak sedikitpun ada rasa kecewa di hati Lila, ditinggal Wilan. Dedi dan pasangan Wilan, bingung memperhatikan apa yang terjadi saat itu. “ Aku senang sekali menemukan kamu disini”, bisik Lila pada Wilan, sambil tetap merangkul erat Wilan. Kontak fisik itu masih saja terasa seperti dulu. Bahkan seandainya Lila menutup mata sekalipun, ia sudah hafal benar kalau sosok itu adalah Wilan. “Maafkan aku ya Lila, tidak meminta izin padamu, saat aku mulai berpartner dengan pasangan ku ini”, bisik Wilan masih di telinga Lila. “ Aku takut melukai hatimu”, sambung Wilan selanjutnya. “ Kamu mau kan memaafkan ku?”, pintanya sekali lagi. Tak ada kata-kata yang bisa terungkap dari bibir Lila saat itu. Airmatanya deras mengalir di pipi saat itu. Ia terisak. Ia ingin berkata-kata, namun kerongkongannya seperti tersumbat. Namun Lila yang masih berada di pelukan Wilan, mengangkat dagunya dan menatap ke arah Wilan. Dalam bening bola mata Lila, terpancar sebuah maaf yang tak bertepi..seluas samudera. Wilan tahu persis apa arti kontak mata dari Lila saat itu. Hatinya lega sudah. Sebuah batu yang menghimpit selama ini, tiba-tiba seperti terangkat. “ Kenalkan, ini Wilan, partnerku dulu”, ujarnya kepada Dedi. Wilan juga segera memperkenalkan partnermya, Niken kepada Lila.

Terngiang sebuah kutipan di telinga Lila yang mengatakan: Banyak jalan pintas untuk mendapatkan kebahagiaan, salah satunya adalah berdansa.

Hari itu , Lila belajar bahwa pernyataan itu tidak sepenuhnya benar. Tak jauh berbeda seperti kehidupan suami istri, dalam berdansa sekalipun, kesedihan kerap datang menghampiri. Itupun tanpa keterlibatan emosional atau kehadiran cinta antara mereka berdua. Kesedihan dan kebahagian memang sudah saling memiliki, tak terhindari, dimana pun mereka berada dan tak terbatas, pada dunia dansa juga.( Rosiany T Chandra)

Rabu, 29 Februari 2012

Salib Sebagai Sumber Hiburan Dan Kekuatan


Sekitar lima (5) tahun yang lalu, saya berkunjung ke sebuah biara
imam-imam OSC di kota Uden, Belanda. Setelah makan siang bersama, ada seorang pastur tua yang mengajak saya dengan berkata: "Mari, kita pergi ke kamar saya. Disitu kita bisa merokok dengan santai, tanpa mengganggu siapapun!" Nampaknya kami mempunyai hobi (jelek) yang sama.
Di antara kepulan asap, pastur tua itu tiba-tiba bertanya: "Coba kamu amati dua salib yang terpajang di dinding kamar saya itu. Apa beda diantara keduanya?" Sekilas saya pandang kedua salib itu: salib yang satu itu mempunyai "corpus" (tubuh) Yesus; sementara yang lainnya itu salib yang kosong atau polos: tak tergantung siapapun pada palangnya. Maka saya menjawab: "Salib yang mempunyai "corpus" itu adalah salib Katolik, sementara salib yang kosong itu adalah salib versi Protestant." Mendengar jawaban saya semacam itu, pastur tua itu lalu berkomentar: "Jawaban kamu lucu, tapi kurang bermutu. Perbedaan diantara kedua salib itu bukanlah perbedaan antara Katolik dan Protestant! "Ooh, begitu," ujar saya, "lalu apa bedanya dong?"
Setelah mengisap serutunya dengan nikmat, pastur tua itu lalu berkata lagi: "Salib yang dengan 'corpus" itu adalah Salib Kristus. Setiap malam saya berdoa sambil memandang salib itu untuk mencamkan dalam hati bahwa Kristus begitu mencintai saya hingga IA rela menderita dan mati agar saya lepas dari kuasa dosa dan maut. Sebaliknya, salib yang kosong itu adalah salib saya sendiri. Setiap malam, saya menggantungkan emosi saya, meletakkan perasaan saya pada salib kosong itu, khususnya rasa sedih dan susah yang saya alami pada hari itu. Dengan cara itu, saya merasa seolah-olah saya itu tergantung dekat dengan Yesus, serasa saya itu senasib-sepenanggungan dengan Yesus sendiri. Ringkasnya, justru kalau saya itu sedih dan susah, saya itu sungguh merasa dekat dengan Yesus, dan menimba hiburan serta kekuatan langsung daripadaNYA."
Saya terkesan dengan kisah pastur tua itu. Salib itu bukan hanya sekedar lambang atau hiasan belaka melainkan suatu ajakan untuk bisa hidup lebih dekat dan akrab dengan Yesus, Tuhan dan Junjungan kita. Kita sering berkata bahwa salib itu berarti penderitaan. Namun sebetulnya tidak setiap dan tidak semua penderitaan itu pantas disebut "salib hidup." Penderitaan itu hanya bisa disebut "salib" bila menjadi suatu ajakan dan kesempatan untuk makin mendekati Yesus, menjadi solider denganNya yang telah rela menderita demi cinta bagi manusia. Salib adalah penderitaan yang diresapi oleh rasa dan suasana cintakasih.

Keunikan iman Kristiani ialah melihat penderitaan bukan sebagai suatu beban melainkan sebagai suatu jalan, bukan sebagai suatu kutukan melainkan suatu kesempatan untuk mengungkapkan cinta kita kepada Allah dan sesama manusia. Yesus bersabda bahwa setiap orang itu "harus memikul salibnya setiap hari dan MENGIKUTI AKU." (Lukas 9: 23). Penderitaan itu hanya mempunyai nilai rohani, hanya menjadi "salib" kalau membawa kita kepada Yesus, mendekatkan hati kita dengan HatiNYA yang bersimbah dengan cintakasih. Dengan cara itu, "salib kita" bisa
menjadi suatu cara untuk berpartisipasi dalam "Salib Kristus", yakni salib sebagai sumber hiburan dan keselamatan.

Kisah tentang seorang ibu muda berikut mungkin bisa menjadi contoh tentang apa artinya berpartisipasi dalam Salib Kristus itu.

Seorang ibu mengandung untuk pertama kalinya. Saat usia kehamilannya mencapai tujuh bulan, analisa medis mengatakan bahwa janin yang dikandungnya adalah janin yang bercacat. Kemungkinan besar, janin itu akan meninggal saat ia dilahirkan; dan andaikan ia selamat dari proses kelahiranpun, seumur hidupnya bayi itu akan tumbuh menjadi seorang anak yang cacat, sakit-sakitan, dan terus menderita. Mendengar hasil diagnosis semacam itu, rasa panik dan sedih langsung melanda hati ibu
itu. Apa yang harus ia lakukan? Banyak pihak menyarankan agar ibu itu menggugurkan saja bayi yang tengah dikandungnya itu. Alasannya, kerna bayi itu kelak hanya akan tumbuh sebagai bayi yang menderita dan tak berguna. Tambahan lagi, kedua orang tuanya bukanlah orang yang berada. Rumah saja harus mereka kontrak! Dari mana bisa mendapat biaya untuk
merawat anak yang kelak akan sakit-sakitan sepanjang hidupnya itu? Bahkan ada yang berbisik: "Gugurkan saja janin itu. Kamu kan masih muda. Jadi masih banyak kesempatan untuk hamil lagi dan mendapatkan anak yang sehat di kemudian hari!"

Perang batin berkecamuk dalam hati ibu itu. Namun setelah berdoa dan berunding bersama suaminya, keduanya memutuskan untuk terus melahirkan anak itu, apapun resikonya! Betul saja: setelah lahir, bayi itu tak pernah bisa lepas dari kesakitan dan perawatan obat serta rumah sakit. Kedua orang tuanya sungguh harus berjuang untuk menyelamatkan nyawa bayinya dan menyelamatkan nafkahnya sehari yang pas-pasan!
Pada saat bayi itu berusia empat (4) tahun, seorang dokter ahli bedah otak tertarik pada kasusnya. Ia lalu menawarkan untuk mengoperasi bayi itu dengan biaya gratis. Operasi itu bisa mengurangi rasa sakit yang dialami bayi itu setiap hari, kendati tidak total memulihkan kesehatannya. Dokter itu juga lalu berusaha ikut membantu meringankan beban orang tua bayi itu dengan memberi sumbangan berkala untuk membeli obat-obatan. Ketika dokter itu ditanya mengapa ia terdorong untuk membantu keluarga muda itu, maka ia menjawab: "Hati saya tergerak oleh cinta ibu itu akan bayinya yang cacat. Ia sungguh berjuang mati-matian demi menyelamatkan jiwa anaknya. Semoga ia kelak mempunyai anak lain yang sehat sebagai balas dari cinta dan pengorbanannya!"
Ibu itu kini telah melahirkan anak kedua yang yang sehat dan lucu. Ia berkata bahwa anak kedua itu sungguh rahmat Allah yang membahagiakan hidupnya, Namun, katanya lirih, "Anak yang pertama itu sungguh buah hati saya. Saya mencintainya dengan segenap jiwa raga saya!" Salib yang ditanggung ibu itu telah membuat hatinya merekah penuh kasih sayang. Ia sungguh berpartisipasi dalam Salib Kristus: salib yang meluap dari rasa cinta untuk menyelamatkan nasib manusia. (ditulis oleh Pastor Agus Rachmat OSC)

Saya sangat suka tulisan yang menguatkan ini, sehingga saya unggah ke blog atas izin penulis

Kamis, 26 Januari 2012

INTRODUKSI GRAPHOLOGY



Graphology adalah ilmu yang mempelajari tentang analisa tulisan tangan untuk mengintepretasi karakter dan kepribadian seseorang, termasuk ’identitas’ diri seseorang.

Graphology merupakan alat tes kepribadian yang sangat sederhana dan tidak bias. Menulis adalah gerakan motorik yang dihasilkan oleh kontraksi sistem syaraf dan otot, yang merupakan refleksi dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar manusia. Pikiran sadar akan mengatur apa yang ditulis sedangkan pikiran bawah sadar akan mengatur cara tulisan tersebut dibuat. Oleh karena itu, tulisan tangan merupakan cerminan dari pikiran, suasana hati, spontanitas dan cara pandang seseorang tentang keseluruhan lingkungannya.

Beratus-ratus tahun yang lalu, Aristoteles membagi manusia ke dalam tiga aspek yaitu body, mind and spirit atau sekarang lebih dikenal dengan istilah physical, mental and emotional dan graphology dapat mengintepretasi ketiga aspek tersebut. Wujud fisik manusia adalah identitas tentang seseorang, sama seperti DNA, sidik jari , tanda tangan ataupun tulisan tangan. Tulisan tangan dan tanda tangan seseorang adalah unik dan tidak mungkin sama dengan tulisan tangan orang lain sehingga bila tulisan tangan kita dimasukkan ke dalam ratusan tumpukan tulisan tangan orang lain, kita akan dapat mengenali tulisan tangan atau tanda tangan kita sendiri.

Yang dapat diketahui melalui graphology tentang body/physical adalah kesehatan penulis, keadaan tertentu seperti ketergantungan pada obat-obatan atau alcohol dan juga dorongan fisik yang dimiliki oleh penulisnya (termasuk kecenderungan agresif, kasar dan dorongan sexual) Graphology akan berbicara mengenai kepandaian dan kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh seseorang ketika dihubungkan dengan aspek mind/mental. Mengapa demikian? Manusia memiliki kepandaian untuk menggunakan simbol-simbol tertulis sebagai alat komunikasi dan tidak ada mahluk lain memiliki kepandaian tersebut.

Jika anda memberikan pulpen kepada seekor kera, kera tersebut tidak akan mampu menggunakan coretan yang dihasilkan untuk berkomunikasi dengan kera yang lain. Itu sebabnya, kepandaian seseorang akan terdeteksi melalui tulisan tangannya dan di dalamnya termasuk juga cara berpikir, kemampuan untuk merespon perubahan situasi, minat dan bakat yang sesuai, kejujuran, dan itikad baik dalam diri seseorang.

Sedangkan untuk aspek spirit/emotional, graphology memberikan informasi mengenai cara pandang seseorang tentang dirinya, masa lalu, masa depan serta caranya memandang orang lain sebagai kesatuan lingkungannya. Informasi tersebut meliputi, seperti: penghargaan terhadap diri sendiri, visi dan misi, orientasi dalam hidup, interaksi sosial, kejujuran, depresi, trauma masa lalu, ketelitian, keinginan untuk mencapai tujuan serta cara yang digunakan untuk mendapatkan tujuan dan masih banyak karakter lainnya.

Dalam organisasi, Graphology dapat membantu untuk melakukan penilaian baik terhadap pekerjaan maupun individu pemegang jabatan/kandidatnya. Sehingga, dasar penentuan apakah seseorang tepat berada di posisinya atau tidak akan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan tersebut dan dapat dievaluasi dengan menggunakan alat yang sama.

Disisi lain, penggunaan graphology dapat diterapkan kepada anak-anak dalam waktu yang sedini mungkin. Kita coba untuk merubah kebiasaan dan kepribadian anak kita, karena mereka adalah harta yang berharga.
Pertanyaannya kemudian apakah graphology sebagai cerminan dari pikiran dan kepribadian kita dapat memberikan solusi untuk merubah kebiasaan serta kepribadian seorang anak? Jawabannya adalah YA.

Dengan merubah cara anak anda menulis maka kita merubah “komputer” yang dimilikinya menjadi lebih pintar dan metoda untuk merubah cara anak anda menulis dikenal dengan istilah “Grapho-theraphy”. Para psikolog di Amerika juga telah menerapkan grapho-therapy lebih dari 30 tahun lamanya dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa grapho-theraphy adalah metoda yang tercepat, termudah dan terbaik untuk merubah perilaku/kebiasaan seseorang.

Selain dapat memberikan gambaran mengenai kepribadian anak, graphology juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal di dalam kehidup manusia. Antara lain ia dapat memainkan peranan yang menarik dalam strategi penyelesaian yang efektif diantara dua individu yang memiliki kepribadian yang berlainan.

Hasil analisa graphology dapat pula digunakan dalam mengetahui titik-titik keunggulan seseorang maupun kekurangannya. Sehingga secara dini, analisa bisa dimanfaatkan sebagai acuan bagi pemilihan lingkungan yang akan mengembangkan serta mendukung potensi seseorang ataupun lingkungan yang akan mengurangi dampak kekurangan tersebut.(Rosiany T Chandra, Master Of Graphologist)