Rabu, 23 Mei 2012
Sapaan Bapa Kardinal Dalam Misa Krisma
Seragam kasula yang dikenakan kurang lebih seratus imam dari Keuskupan Bandung seakan mengisyaratkan, tak ada perbedaan yang tampak antara imam diosesan dan biarawan. Semua bersatu erat untuk merayakan Misa Krisma di Gereja Katedral Bandung, St Petrus, Rabu ( 4/4) sore itu. Kendati Keuskupan Bandung satu-satunya Keuskupan di Indonesia yang sede vacante, semangat kolegialitas terajut dalam penerimaan Sakramen Penguatan yang diperbaharui.
Intimewanya, misa ini dipimpin oleh satu-satunya kardinal yang dimiliki Indonesia, yaitu Yulius Kardinal Darmaatmadja. Di dalam perayaan Ekaristi khusus ini, Bapa Kardinal yang mewakili Administrator Apostolik Keuskupan Bandung, Mgr Ignatius Suharyo memberkati tiga minyak, yaitu: Minyak Katekumen, Minyak Krisma dan Minyak Orang Sakit. Ini menandakan fungsi imamat seluruh Gereja diperbaharui.
Dalam homilinya, Bapa Kardinal menyampaikan bahwa inti dan pokok kekuatan fungsi imamat Gereja adalah kasih Allah sendiri yang terjelma nyata dalam Yesus yang sengsara dan wafat di salib. “ Peran Imamat Kristus dalam GerejaNya akan diperbaharui lewat pembaruan diri para imam, biarawan-biarawati dan umat beriman yang mengemban tugas imamat umum berkat sakramen baptis dan Krisma “ pesan Bapa Kardinal. Peran Tuhan Yesus sebagai Imam Agung yang berkorban diri bagi keselamatan semua orang dihadirkan dalam Gereja lewat para imam tertahbis maupun lewat imamat umum yang diemban mereka. “ Peran penyelamatan semua orang inilah yang kita perbaharui hari ini” serunya.
Aksi penyelamatan ini tidak hanya ditujukan kepada mereka yang sudah ada dalam pangkuan gereja, namun juga membuka pastoral kepada semua orang di luar Gereja Katolik. Bapa Kardinal juga mengajak para imam untuk menyemangati dan mengarahkan kekuatan kekuatan kekuatan pastoral yang sudah ada di Keuskupan. Selain itu, sapaan ini juga ditujukan kepada awam di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial lainnya, juga orang katolik yang sudah dalam posisi strategis yang menggarami kehidupan sosial, ekonomi dan politik, seperti: penulis, penerbit koran atau majalah.
“ Adalah tugas para imam untuk menyemangati dan mengarahkan kegiatan mereka ke fokus utama: makin berbakti kepada Allah dan makin baik berperilaku menuju terbinanya budaya hidup baru yang lebih baik” pesan Bapa Kardinal mengakhiri homilinya.
Sehari sebelumnya, Bapa Kardinal memberikan rekoleksi kepada para imam Keuskupan Bandung (3-4 April) di Hotel Gumilang Sari, Lembang.( Rosiany T Chandra)
Keluarga Therapeutis Sekar Mawar
Suasana di ruang keluarga Yayasan Sekar Mawar tampak biasa seperti umumnya ruang keluarga yang kita kenal. Ada seperangkat sofa, sebuah organ dan sepiranti komputer terletak di salah satu pojok ruangan tersebut. Pagi menjelang siang itu, Yohanes, 17 (nama samaran) sedang tergelak riang bersama dengan Ibnu, 21 (nama samaran) ketika mereka duduk bersama di depan layar monitor komputer.
Sepintas mereka layaknya seperti kakak beradik yang tumbuh dalam sebuah keluarga. Yohanes dan Ibnu adalah dua residen dari sementara, enam penghuni Panti Rehabilitasi Yayasan Sekar Mawar. Yayasan yang beralamat di Jl. Tangkuban Perahu, Lembang - Bandung 40391 itu adalah sebuah yayasan sosial dalam naungan Keuskupan Bandung yang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan masalah penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya).
Kala itu, pada tahun 1999, dr. Adjitijo A. Amidjojo, Sp.B dan beberapa rekan dokter sejawatnya serta beberapa aktivis dari berbagai paroki di Keuskupan Bandung prihatin berat akan kondisi Panti Rehab itu yang tidak memadai lagi guna menampung jumlah penderita yang kian meningkat. Mereka bertekad untuk berbuat sesuatu yang nyata. Beberapa waktu kemudian, disepakatilah pendirian Yayasan Sekar Mawar yang dikelola oleh awam, namun didukung penuh oleh (alm) Mgr. Alexander Djajasiswaja, Uskup Bandung saat itu.
Dari awal pengadaan gedung panti, hingga kini untuk biaya operasional sehari-hari, pendanaan diperoleh dari sumbangan para donatur, baik personal maupun lembaga, entah sumbangan tetap atau tak tetap; dan tentu juga juga dari Keuskupan Bandung.
Therapeutic Community
Dr. Adjitijo mengatakan bahwa, Yayasan Sekar Mawar itu didirikan atas dasar keprihatinan dan kepedulian terhadap gelagat semakin meningkatnya jumlah korban Napza di tengah kehidupan masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. “Gejala kecanduan itu tentu saja dapat menjadi jerat yang sangat mengerikan yang dapat menghancurkan kehidupan pribadi dan masa depan korban itu sendiri “, ujarnya dengan nada prihatin. Selain itu ia menyampaikan bahwa keberadaan yayasan ini juga seiring sejalan peranannya dengan upaya pemerintah dalam membantu, mengatasi, mencegah dan menanggulangi kondisi sosial yang semakin memprihatinkan bangsa Indonesia ini.
“ Dalam menjalankan semua kegiatan di yayasan, kami bekerja secara professional dengan pendekatan holistik & komprehensif, dengan menggunakan metoda rehabilitasi yang disebut sebagai pendekatan Therapeutic Community (TC)”, papar dr. Adjitijo selanjutnya. Konsep TC ini berbasis prinsip “man helps man to help himself/herself”, yang kurang lebih maknanya adalah, "dibantu untuk mampu membantu dirisendiri dalam sebuah keluarga." Metoda dari Amerika ini dikemas oleh satu team professional yang terdiri dari psikiater, psikolog, pararelawan/wati (guru, guru agama dll), para konselor (mantan pecandu yang sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus). Tugas mereka diawasi dan diarahkan oleh beberapa konselor profesional dan seorang Program Manager.
Jeremias, Program Manager yang ditemui di panti mengatakan bahwa hingga saat ini, Yayasan Sekar Mawar telah “meluluskan” kurang lebih seratus orang residen yang kembali ke masyarakat dengan “bersih”. Ia mengakui bahwa standar keberhasilan ini kendati bisa diukur pada mantan residen, tetap diperlukan sebuah supervisi yang ketat untuk memantau tingkat keberhasilan yang akurat dan permanen." Memang ada beberapa mantan residen yang kemudian terjerat kembali, namun tak urung banyak juga yang sudah berhasil kembali ke masyarakat dengan ketrampilan dan pekerjaan yang baik.”, tutur Bro Jerry, demikian ia akrab disapa oleh residen di keluarga Sekar Mawar.
Family Concept
Lebih jauh, konsep Therapeutic Community ini selain berbasis pada sisi spiritual, juga berpola pada "behavior shaping (pembentukan perilaku), vocational skill (kemampuan ketrampilan) dan therapeutic session" ( sesi terapi). Selanjutnya ia menandaskan bahwa selain mentaati program pemulihan diatas, residen dikondisikan hidup bersama dalam sebuah pola family concept, yakni hubungan mereka dibina seperti layaknya dalam sebuah keluarga normal. Dengan demikian, antara lain mereka mendapat tugas, seperti memasak, mencuci dan pekerjaan rumah tangga lainnya, sesuai jadwal masing-masing. Sejurus ini, residen dipersiapkan dan dibekali pula dengan berbagai ketrampilan yang ia minati, agar siap terjun kembali dengan produktif ke dalam masyarakat. “Ketika diterapkan pada residen, konsep TC ini memang menjadi sebuah acuan, namun acapkali perlu ada penyesuaian tertentu sesuai latar belakang masing-masing residen” , imbuh Bro Jerry.
Yohanes, salah satu residen yang ditemui siang itu mengatakan, bahwa tak sia-sia ia dibawa oleh orang tuanya dari Singkawang, Kalbar ke keluarga therapeutis ini. “ Saya sudah memakai inhaler sejak usia sepuluh tahun, yang kemudian meningkat ke ganja “, ujarnya. Ia sudah tinggal di keluarga Sekar Mawar selama lima belas bulan. “ Kini saya sudah boleh keluar sendiri untuk beberapa jam”, ujarnya dengan bangga. Bro Jerry yang juga seorang mantan pecandu menyampaikan bahwa setelah dievaluasi perkembangannya, seorang residen perlu mendapatkan sebentuk
kepercayaan kembali yang telah musnah akibat ketergantungannya.
“Pelecehan fisik dan verbal yang dialami seorang anak membuat ia mempunyai mental yang rapuh. Demikian pula faktor suasana keluarga yang tidak harmonis sangat mempengaruhi kestabilan jiwa seorang anak. “ papar Bro Jerry. Ditambah kemudian oleh pengaruh lingkungan, yang membuat pola pikirnya melenceng dan lari kepada sebuah “pembenaran semu”, yang ditemukannya pada zat zat adiktif tersebut.
Badan Narkotika Nasional
Selain memberikan program rehabilitasi kepada residen, Yayasan Sekar Mawar membina kerja sama dengan BNN ( Badan Narkotika Nasional) dalam memberikan penyuluhan masalah NAPZA dan penanggulangannya bagi masyarakat. Aksi ini dilaksanakan di berbagai tingkat lembaga pendidikan, gereja serta instansi terkait lainnya. Disamping itu secara berkala, pelayanan konsultasi juga diberikan bagi penderita, keluarga dan masyarakat umum. Sebagai kegiatan pendukung, Family Support Group telah dibentuk dengan tujuan untuk menata kembali kehidupan keluarga residen dan mantan residen. Pemulihan dalam keluarga ini diperlukan untuk mengatasi berbagai ganggguan dan masalah yang muncul akibat sikap dan perilaku anggota keluarga yang menjadi pecandu.
Dr Adjitijo menyampaikan bahwa sementara ini, kapasitas yang tersedia di keluarga Sekar Mawar adalah untuk lima belas orang. “ Kami hanya menerima residen pria saja, karena keterbatasan ruangan yang ada”, ujar suami dari dr. Widyastuti Amidjojo ini dengan nada sesal. Disamping keprihatinan tentang residen yang kabur, keterbatasan dana yang tersedia juga menjadi kecemasan tersendiri dari pihak pengelola. Namun dr Adjitijo tetap optimis upaya regenerasi kepengurusan yang sedang dipersiapkan bisa terlaksana dengan baik. Dengan begitu, kepedulian Gereja terhadap sesama yang menderita, khususnya para korban narkoba, bisa dilestarikan sesuai dengan integritas moral dan falsafah yayasan.( Rosiany T Chandra)
“KOMUNIKASI”, SEBAGAI LAHAN BELAJAR
Menyambut Hari Komsos 20 Mei 2012
“KOMUNIKASI”, SEBAGAI LAHAN BELAJAR
Salah satu komisi yang beranung di bawah Dewan Karya Pastoral (DKP) Keuskupan Bandung adalah Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS). Dalam usaha menjadi komunitas basis dalam pewartaan melalui media, program kerjanya dibagi menjadi empat unit kerja, yaitu : Sanggar Pratikara, Teknologi Informasi, Mimbar Agama Katolik dan Majalah Komunikasi.
Masing-masing unit memiliki program kerja yang dijalankan secara berkesinambungan dengan mengacu pada tema Pastoral Keuskupan Bandung. Unit Sanggar Pratikara dibentuk pada tahun 1979 oleh Pst.(alm) R. Mertens, OSC dan diresmikan oleh (alm)Mgr. Petrus Marinus Arntz, OSC tahun 1980. Unit ini memproduksi siaran rohani, renungan-drama, baik program harian maupun bulanan. Sejauh ini kerjasama telah dibentuk dengan sebuah stasiun radio swasta di Bandung dan RRI Regional I Bandung.
Selain memfokuskan diri dalam aktivitas membangun forum komunikasi serta pengembangan sarana teknologi informasi Keuskupan Bandung (www.keuskupanbandung.org), unit Teknologi Informasi berperan sebagi konsultan dalam pemanfaatan TI dalam lingkup kerja paroki. Sensus Umat Katolik Keuskupan Bandung pada tahun 2011 adalah salah satu program kerja yang telah difasilitasi oleh unit ini.
Mimbar Agama Katolik dihadirkan pada tahun 2010 sebagai sarana pewartaan yang berbentuk audio visual. Unit ini bekerja sama baik secara internal dengan komisi-komisi yang ada di DKP dan paroki-paroki, maupun dengan pihak eksternal. Sejauh ini program kerjasama acara sudah terbentuk dengan Komsos KAJ, Studio Audio Visual Puskat-Yogyakarta, Spacetoon TV, RCTI dan TV lokal STV.
Unit kerja media cetak yang didirikan oleh oleh Mgr.(alm) Petrus Marinus Arnzt, OSC) adalah majalah Komunikasi yang terbit secara rutin tiap bulan sejak 1980. Sejak itu, penerbitan majalah keuskupan ini dikelola oleh awam volunteer bersama-sama dengan Romo pembimbing yang ditunjuk oleh keuskupan. Ketua Komsos Keuskupan Bandung saat ini adalah Pastor Yustinus Nana Sujana, OSC yang sekaligus adalah Pemimpin Redaksi Komunikasi. Ia mengatakan bahwa kendala yang kerap dihadapi dalam setiap periode pengelolaan adalah sumber daya yang tidak konstan menetap. Hal ini diakibatkan oleh kesibukan masing-masing volunteer di parokinya masing-masing. Meski demikian, kontinuitas penerbitan tetap berlangsung dengan baik berkat pengelolaan manajemen yang tanggap. “ Kekompakan personil dalam sebuah tim di periode tertentu adalah kunci keberhasilan yang amat menentukan bagi penampilan Komunikasi”, ujar Pastor Heri Kartono, OSC, mantan Pemimpin Redaksi Komunikasi ( 1990-1995).
“ Sebagai volunteer, Komunikasi sering dijadikan lahan belajar bagi para mahasiswa yang bergelut di media cetak”, ujar Pastor Nana. “ “Beberapa dari mereka dulu yang membantu, sekarang sudah bekerja sebagai wartawan professional di berbagai media cetak terkenal di tanah air.”, sambungnya kemudian. Selain itu, ikatan kekeluargaan yang sudah terbina, berkelanjutan mengakar hingga ke antar generasi. “Komunikasi kini didukung oleh beberapa penulis tetap, kontributor dan wartawan volunteer”, jelas Pastor kelahiran Kuningan ini. Di sisi lain, ia mengatakan bahwa tak dipungkiri saat ini, sulit mencari sumber daya manusia yang berkomitmen. Hal ini disebabkan, salah satunya oleh banyaknya fasilitas yang membuat seseorang asyik sendiri.
Sejauh ini, pendaanan Komunikasi didapatkan dari swadaya iklan, yang ditambah subsidi rutin dari Keuskupan. Setiap tema penerbitan, biasanya disesuaikan dengan perpaduan antara kalender liturgi gereja, event tertentu maupun fokus pastoral di keuskupan. Tiap bulan dicetak kurang lebih 1000 buku, dengan harga jual Rp. 10.000,-/buku. Dari jumlah tersebut, sebagian secara gratis dibagikan ke berbagai paroki, biara, seminari dan sebagian keuskupan di Indonesia. Selain itu jaringan distribusi penjualan adalah melalui paroki dan agen-agen.
“ Tampilan dan isi Komunikasi saat ini lebih berbobot, namun kerap jaringan distribusi masih agak tersendat”, ujar Maria Sugianti, umat dari stasi St Theodorus, paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan, Bandung.
Melalui pembenahan manajemen internal yang sedang berlangsung saat ini, diharapkan Komunikasi dan tiga unit lainnya dapat mendukung Komisi Komsos Keuskupan Bandung dalam mengakomodasi berbagai kebutuhan DKP dan paroki, untuk bertindak sebagai pelaksana, fasilitator dan motivator pewartaan melalui media. ( Rosiany T Chandra)
Menemukan Misteri Adorasi Ekaristi
Kedatangan Pastor Antoine Thomas CSJ di Bandung ( 17-23 Feb 2012) telah mengawali rangkaian berbagai acara dalam menyambut ulang tahun Keuskupan Bandung yang ke 80. Sesuai dengan tema Tahun Ekaristi yang telah dicanangkan, panitia Tahun Ekaristi Keuskupan Bandung 2012 bekerja sama dengan Tim Kapel Adorasi Abadi Pradipa Kumara telah mengundang Pastor Antoine untuk membangkitkan kegairahan umat dalam menghayati misteri penebusan Tuhan dalam Ekaristi.
Adorasi adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menimba kekuatan rohani dari karya penebusan yang ada dalam Sakramen Ekaristi. Melalui program “ Children Love Play But They Also Love To Pray”, Pastor Antoine mengajak anak-anak sedini mungkin untuk menimba kekuatan kasih dari Ekaristi.
Selama kunjungannya di Bandung, Pastor Antoine mengunjungi beberapa sekolah, diantaranya SD St. Jusuf, SD St Angela, SD St Aloysius dan SD Pandu. Di setiap sekolah, anak anak dibimbing untuk melakukan Jam Suci, yakni adorasi kepada Sakramen Mahakudus dalam bentuk beberapa rangkaian sembah sujud, doa permohonan dan saat hening yang telah dikemas secara sederhana dan di format khusus bagi anak-anak. Pastor Antoine, seorang imam berkebangsaan Perancis menyampaikan pentingnya membawa anak-anak kepada Hati Kudus Yesus. Menurutnya, melalui Adorasi anak-anak dapat merasakan kehadiran Allah di dalam Tabernakel; merasakan apa itu Sakramen Maha Kudus. Pada umumnya anak-anak hanya diceritakan kisah Yesus dan diajak misa tanpa mengerti betul akan kehadiran Allah, sekaligus tanpa merasakan bahwa Allah benar-benar hadir dihadapan mereka.
Selain mengajar anak-anak untuk beradorasi, Pastor Antoine juga memberikan seminar dua hari berturut-turut di gereja Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan (20 - 21 Feb). Seminar yang mengambil topik ‘Marilah datang Menyembah Dia’ ini mendapat respons yang antusias, tidak hanya dari umat berbagai paroki di Bandung, namun juga dari para biarawan dan biarawati. Tiket terjual habis dan kapasitas tempat duduk di dalam gereja terisi maksimal.
Dalam seminar ini dipaparkan beberapa pencerahan kepada umat, termasuk di dalamnya bagaimana Pastor Antoine berbagi pengalamannya dalam mendampingi anak-anak, remaja dan keluarga dalam beradorasi. Pastor yang kini menetap di New Zealand ini mempunyai pengalaman bertahun tahun sebelumnya sebagai pastor sekolah yang banyak mendampingi siswa- siawa disekolahnya.
Dikatakannya, perlunya sebuah pendampingan awal sehingga kita semua bisa mengalami “ perjumpaan dengan Yesus” dalam keheningan adorasi Ekaristi yang kita lakukan.” Saya sangat senang datang ke Bandung dan sekaligus merasa kaget dan kagum atas sambutan yang begitu meriah dari anak-anak dan umat disini”, demikian paparnya dalam seminar.
Disamping memberikan seminar, Pastor Antoine memimpin beberapa misa konselebrasi di paroki St Laurentius, St Paulus dan Pandu. Usai misa, acara dilanjutkan kemudian dengan Adorasi keluarga, anak-anak dan remaja sesuai jadwal yang telah diumumkan sebelumnya di masing-masing paroki. Bagi yang ingin mengetahuinya lebih lanjut, silakan kunjungi website: childrenofhope.org dan nzstjohn.wordpress.org (Rosiany T Chandra)
Cempaka Duka
Kelam malam
Melumat kepedihan
Yang tersembunyi
Di celah dedaunan
Di bayang rimbun cempaka
Malaikat datang menyapa
Menyeka air mata
Berbisik tentang dendang surga.
Hanya selemparan batu jauhnya
Antara surga dan nestapa.
Ketika jarak itu pula
Yang menerpa jiwa entah kemana
Laksana harum cempaka
Yang sirna dibawa angin malam
Rosiany T Chandra( 8 Mei 2012 )
PEGANG ERAT SALIBNYA
“Ueeenaaak…!!!”, itu adalah jawaban standar Bruder Samidi, ketika mengomentari rasa makanan yang sedang disantapnya. Hal ini merupakan salah satu yang disampaikan Pastor Darno tentang Bruder Samidi dalam homili misa requiem sore itu, Selasa, tanggal 20 Maret 2012
Bruder Justinus Samidi, OSC telah menghadap Yang Kuasa pagi harinya, pada pkl 7.30 di RS St Boromeus. Sejak ia dibawa ke rumah sakit pada tanggal 19 Feb yang lalu, paramedis telah berusaha maksimal melakukan yang terbaik baginya, namun kondisinya pasca operasi kian menurun. Konfrater di Pandu secara bergiliran menemaninya malam hari di Boromeus.
Senin malam itu, giliran Fr Mammouth yang bermalam disana hingga esok paginya. Malam hari itu, Bruder tidur tenang dengan nafas teratur, meski lemah. Pagi hari Selasa, Pst Rob datang untuk menjenguknya. Sesaat kemudian, mereka terkejut mendapati alat bantu medis mencatat angka 0.. Bruder telah pergi selamanya dalam damai…
“ Pada hari Minggu yang lalu, saat saya menjenguk Bruder Samidi, ia minta maaf pada saya”, demikian ucap Pastor Darno dalam homilinya. “ Ia memohon maaf atas segala sikapnya yang mungkin tak berkenan pada pastor paroki, termasuk salah satunya mencuri-curi dalam merokok”, sambung Pastor Darno. Bruder Samidi mengatakan bahwa ia lelah dan ingin beristirahat dan pergi pada bulan Paskah. Agaknya, Tuhan memang telah menjemput sesuai dengan waktu yang diinginkannya. Selanjutnya Pastor Darno menyampaikan bahwa Bruder Samidi adalah sosok pribadi yang sederhana, namun memiliki keyakinan dan iman yang teguh. Disamping itu, prinsip logikanya tidak mudah untuk dipahami. Meski demikian, Bruder Samidi telah membawa warna sendiri dalam komunitas di Pandu.
Selain itu, Bruder Samidi adalah seorang konfrater yang tak pernah mengeluh akan sakitnya. Saat di rumah sakit, ketika ditanyakan padanya, apa yang sakit, ia senantiasa berucap; “Tidak ada yang sakit.” Sehingga dokter pun memuji sekaligus “bingung” atas daya tahannya. Beberapa hari menjelang ajalnya, Bruder Samidi meminta untuk diberikan salib yang bisa dipegangnya terus menerus. Tampaknya, penderitaannya telah ia persatukan dengan Salib Kristus. Oleh sebab itu, hingga ajalnya tak sedikitpun ia gentar dan goyah akan iman yang diyakininya, bahwa Allah akan menyediakan tempat yang luar biasa indah baginya kelak.
“ Bruder Samidi adalah sosok yang sangat perhatian kepada sesama konfrater di rumah dan tak pernah marah”, ujar Pastor Rob Stigter. “ Selain itu, ia amat menikmati hidupnya dengan ringan tanpa keluh kesah “, sambung Pastor Rob kemudian. Disampaikan juga bahwa ia suka memasak nasi goreng dan sup daging babi dalam waktu senggang.
Selebran utama dalam misa adalah Pastor Agustinus Sudarno, OSC yang didampingi oleh Pastor Anton Subianto, OSC dan Pastor Johanes Jino Widyasuharjo, OSC sebagai konselebran. Pastor Widyo, demikian ia biasa disapa, adalah keponakan dari Bruder Samidi. Pastor Widyo mengatakan bahwa , pamannya adalah sosok yang amat mempengaruhinya dalam pilihan hidupnya sebagai biarawan. “ Kalau saya saja diterima sebagai biarawan, kamu pasti juga bisa!”, bujuk Bruder Samidi kepadanya. Pastor Widyo juga menyampaikan bahwa pamannya adalah seorang yang sederhana, jujur dan tulus hatinya. “ Selain itu, ia suka memuji orang lain” kata pastor Widyo yang kini bertugas di paroki St Ignatius, Cimahi. Pastor Widyo mengungkapkan bahwa dulu saat ia memutuskan ingin menjadi pastor, ia malah tak meminta izin ke ayahnya. Ia hanya bilang ke Bruder Samidi, yang memang tinggal serumah dengan kedua orang tuanya, yang adalah kakak dari almarhum.
Di penghujung homili, Pastor Darno menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh umat yang telah memberi perhatian, membantu dan mempersiapkan segala sesuatu dalam waktu yang singkat. “ Kita semua kehilangan Bruder Samidi, namun perlu bersyukur, bahwa ia telah hadir untuk memberi keyakinan dalam mewartakan iman kepada kita : Penderitaan kita tak ada apa apanya dibanding dengan penderitaan Kristus, ketika kita mampu memegang erat salibNya hingga akhir hayat”, ujar Pastor Darno menutup homilinya. RIP Bruder..(Rosiany T Chandra)
Lilin Ke Enam
Lieke panik di depan counter check in Bandara Chang I, Singapura. Rupanya e ticket ke Sydney yang ia pesan melalui internet tidak tercatat oleh system computer penerbangan. Entah mengapa itu terjadi, tidak dapat dimengerti oleh Lieke saat itu. Padahal ini adalah ke sekian kalinya ia mondar mandir antara Bandung dan Sydney dengan tiket elektronik tersebut.
Lieke terpaksa pindah antri ke counter penerbangan lain untuk membeli tiket baru. Sore itu ia baru saja transit beberapa jam dari Bandung. Untung antrian yang baru tidak seberapa panjang, sehingga tak lama kemudian, ia pun dilayani oleh seorang petugas yang ramah. “ Semoga saja masih ada tersisa satu seat untuk ke Sydney”, gumamnya dalam hati. Sambil menanti petugas mencermati layar komputernya, Lieke menyibakkan anak rambut yang menggerai di pelipisnya sambil menghela nafas panjang. Sejurus itu, sorot matanya menyapu antrian yang ada di sampingnya. Tatapannya sesaat beradu pandang dengan seorang bule yang antri persis di counter sebelah berikutnya. “Your ticket madam”, suara petugas itu sontak membuat Lieke segera memutar kembali tubuhnya yang atletis semampai. Raut wajahnya menyiratkan kelegaan dan kegembiraan, ketika petugas menyodorkan lembar tiket yang ia harapkan. “ Oh..great!..thank you”, ujarnya hampir berteriak. Setelah menyelesaikan pembayaran, Lieke segera bergegas menarik kopernya, sambil berlari kecil. Tak banyak waktu yang tersisa lagi. Panggilan boarding yang menyebutkan nomer penerbangannya sedang berkumandang dengan aneka bahasa. Dengan nafas masih terengah, ia sudah mencapai mulut perut pesawat. Seorang pramugari menebarkan senyum termanisnya. Menemukan seat yang dituju, Lieke dengan sigap membungkuk dan mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan kopernya keatas tempat bagasi. Ketika koper masih setengah mengudara, sebuah tangan kekar menangkap koper tersebut dan segera mengantarkannya ke kabin bagasi yg tepat berada diatas kepala Lieke. Sedetik Lieke terperanjat dan tak melihat sosok wajah si empunya tangan kekar. Liekepun segera berpaling dan secara reflex sambil tersenyum lebar menatap ke arah si bule tadi yang telah bermurah hati menolongnya. Kali ini si bule membalas senyuman Lieke ditambah sorot mata yang ramah. Seperti banyak perkenalan yang diceritakan di novel-novel, mereka pun akhirnya duduk bersebelahan menuju Sydney. Percakapan dimulai dengan basa basi dan sapaan ramah tamah biasa. Akhir-akhir ini Lieke memang tidak terlalu terbuka dalam pergaulan akibat kegagalan perkawinannya empat tahun yang lalu. Sakramen perkawinannya enam tahun silam, masih meninggalkan luka yang mendalam di hatinya. Selain itu perasaan sesal dan dosa masih menggerogotinya. Kendati berulang kali ia mengaku dosa, perasaan bersalah itu kerap menderanya hingga kini. Beban tak mampu menjalankan janji perkawinan seperti yang pernah ia ucapkan, tak bisa pupus begitu saja. “ Kamu tinggal di Sydney?”, tanya Kevin, demikian si bule memperkenalkan dirinya. “ Tidak, saya tinggal di Bandung, namun sering ke Sydney untuk menjenguk orang tua saya yang menetap disana”, jawab Lieke dengan bahasa Inggris yang fasih. Lieke memang sekolah semenjak bangku SMA hingga univeristas disana. Selanjutnya mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan umum yang menyenangkan. Tak terasa beberapa jam kemudian, pesawat mendarat dengan mulus di negeri kangguru tersebut. Sebelumnya mereka sempat bertukar telepon dan alamat di Sydney. Seminggu berlalu, pertemuan di pesawat itu hampir dilupakan Lieke. Namun hari jumat Lieke mendapat kabar dari Kevin, mengajak untuk bertemu minum kopi di sebuah cafĂ© esok harinya. Lieke menyambut gembira, karena ia memang tak ada kegiatan khusus di Sydney selain mengunjungi orang tuanya. Selain itu Lieke juga berfikir, tak ada salahnya ia merajut sebuah pergaulan sambil rehat sejenak dari rutinitas agenda pekerjaan di hotel yang ia kelola. Pertemuan minum kopi berlanjut lain hari ke bush walking, yaitu jalan jalan ke taman di pinggiran kota. Akhir pekan berikutnya disambung dengan kayaking, mengayuh sampan bersama-sama di sebuah danau. Kalau dilukiskan pertemuan mereka persis seperti yang banyak ditayangkan di film-film. Tapi itulah kenyataan yang sebenarnya terjadi pada Lieke dan Kevin. Seminggu sebelum kepulangan Lieke ke Bandung, persahabatan mereka kian intens. Mereka saling menemukan kecocokan dalam berkomunikasi. “ Aku bisa bercerita dan bertanya apa saja kepada Kevin “, chats Lieke pada sahabatnya, Anas di tanah air, sambil menceritakan kisah pertemuannya dengan Kevin. “ Hal yang tidak diketahuinya, di jawabnya dengan apa adanya” , sambung Lieke pada Anas. Kewajaran dan kesederhanaannya amat aku kagumi, papar Lieke kemudian. “Jatuh cinta?” goda Anas pada Lieke. “Entahlah.. aku tak tahu, sebenarnya pertanyaan yang sama aku ajukan pada diriku sendiri”, jawab Lieke tergelak. Senin, Lieke sudah harus balik ke Bandung. Akhir pekan sebelum hari keberangkatannya, mereka lewatkan dengan melakukan aktifitas nonton bola dan makan malam bersama. Suasana makan malam di sebuah resto, di pinggir pantai kota Sydney itu amat romantis dengan kerlap kerlip lampu kota. Angin malam menusuk. Lieke membiarkan dirinya direngkuh dalam pelukan Kevin. Hangat.. dan ia menikmatinya. Lieke tak tahu pasti apa yang sedang ia rasakan. Semua seakan seperti mimpi dan sebelum mimpinya buyar, ia baru tersadar ketika sudah berada di bandara, siap untuk kembali ke Bandung.. Kevin mengantarnya dan kenyataan akhir yang harus dihadapi, mereka toh tetap harus berpisah dengan berat hati. Ini hari ketujuh, semenjak Lieke menjejakkan kakinya kembali di tanah air. Komunikasi dengan Kevin semakin akrab via telpon dan skype. Hari ini adalah lilin ke enam yang ia nyalakan di gua Maria, yang berada di samping gereja, tempat ia dulu menerima sakramen perkawinan. Dengan khusyuk Lieke minta tuntunan Bunda Maria, apa yang harus ia lakukan dengan perasaan jatuh hatinya, sekaligus mohon belas kasih akan rasa takutnya menatap masa depan. “ Bunda Maria, apa yang harus saya lakukan, kalau satu saat aku tak kan bisa menikah lagi di hadapan PuteraMu yang amat aku kasihi ?”, ujar Lieke dalam doa yang ia bisikkan pada Bunda yang ia cintai. Lieke masih mengharapkan pencerahan dari lilin ke tujuh dan selanjutnya..( Rosiany T Chandra)
Langganan:
Postingan (Atom)



