Sabtu, 25 Agustus 2012

Launching buku Ludovicus Doewe, Pelopor Sunda Katolik

Demi Masyarakat Dan Gereja
Tidak tampak kegiatan perkuliahan di Gedung Fakultas Filasafat Unpar sore itu, Sabtu ( 26/5). Namun di Aula, pada lantai dasar ada sebuah keramaian yang sedang terjadi. Dari spanduk yang terbentang besar di latar belakang dinding, terbaca tulisan : ‘Launching Buku – Ludovicus Doewe, Pelopor Sunda Katolik’.
Ada tiga orang pembicara yang diundang dalam acara bedah dan luncur buku karya Pastor Heri Kartono, OSC ini. Mereka adalah Pastor Agus Rachmat, OSC (mantan propinsial OSC), Prof Jakob Sumardjo (budayawan, sastrawan) dan Vikjend Keuskupan Bandung, Pastor Paulus Wirasmohadi Soerjo, Pr. Dalam acara ini, Mgr Glen Lewandowski, OSC, Master General OSC yang sedang mengadakan visitasi di Bandung turut hadir menyaksikan. Hal ini tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi pastor Kartono, karena mereka berdua pernah tinggal serumah, saat Pastor Kartono mendampingi Master General sebagai Conselor selama enam tahun di Roma ( 2003 – 2009).
Selain itu, hadir pula Pastor Agust Surianto, Pr yang memberikan kata sambutannya, selaku direktur Penerbit buku ini ( Obor). Dekan Fakultas Filsafat Unpar, Pastor C. Harimanto, OSC ikut mendukung acara dengan menyediakan tempat bagi berlangsungnya acara yang akrab dan penuh nostalgia ini. Selain kehadiran beberapa anggota keluarga dari Pak Doewe sendiri, hadir pula para alumni dari St Thomas, Ciledug, sekolah yang didirikan oleh pak Doewe. Kesempatan ini sekaligus dimanfaatkan sebagai ajang reuni diantara mereka.
Di depan sekitar 135 undangan yang hadir, Pastor Heri Kartono, OSC menyampaikan bahwa buku ini ditulis pertama-tama sebagai bentuk penghargaan yang setinggi-tingginya atas jasa Pak Doewe, yang boleh disebut sebagai pionir katolik di tanah Pasundan. Beliau dibaptis menjadi katolik pada tahun 1927. “ Selain itu, semoga semangat serta keteladanan Pak Doewe yang luar biasa ini dapat ditularkan kepada siapa saja yang membaca riwayat hidupnya” serunya dari atas mimbar yang berhias karpet merah. “ Baik orang tua saya maupun orang tua Pastor Agus menjadi katolik adalah berkat jasa dan pengaruh Pak Doewe”, ujarnya. “ Bahkan, di rumah dulu kami diwajibkan sembahyang Rosario tiap hari, juga adalah gara-gara pak Doewe!” selorohnya yang disambut tawa gelak hadirin.
Character Building
Pastor Agus Rachmat memaparkan betapa pentingnya character building bagi para siswa ditengah masyarakat yang semakin majemuk dan materialist kini. Formula character building itu bisa ditemukan dalam tiga dimensi “Excelsior” (keunggulan), yakni nama yang dipilih saat mendirikan sekolah yang jadi cikal bakal sekolah Santo Thomas, di Ciledug – Cirebon. “ Tiga dimensi Excelsior tersebut adalah keunggulan intelektual, moral dan religius “, ungkap Pastor yang kini tampak lebih sehat.
Lebih lanjut Pastor Agus memaparkan bahwa jauh jauh hari pak Doewe sudah menyadari betapa pentingnya pendidikan adalah sebagai sebuah “jembatan emas” dalam mencapai keunggulan intelektual. Disamping itu, di dalam formula dimensi pendidikannya yang holistik (utuh) terkandung pula dimensi moral, yakni proses pemancaran nilai dan sikap hidup yang mau peduli dan tanggap pada problematika sosial yang marak dalam masyarakat. Selain itu, melalui formula dimensi religius, proses pendidikan diharapkan membentuk siswa/i menjadi manusia yang beriman, yakni insan yang bisa mempertanggungjawabkan tindakannya kepada Allah, bukan di akhirat nanti setelah mati tapi justru dalam dunia selama masih hidup!
Vikjend Keuskupan Bandung, dalam kata sambutannya menghimbau agar umat katolik Ciledug bisa memikirkan untuk memperingati jasa Pak Doewe, setiap tgl 25 Mei, hari baptisannya. Tentu saja seruan ini mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah dari segenap umat Ciledug, termasuk di dalamnya alumni Santo Thomas yang memprakarsai acara launching ini.
Saat break, segenap hadirin beramah satu sama lain di selasar samping taman yang baru selesai di tata ulang, sambil menikmati kopi teh serta cemilan yang disediakan oleh panitia. Di sela-sela rehat tersebut, Pastor Kartono berujar : “ Saya merasa senang dan bersyukur bahwa acara launching buku ini mendapat banyak dukungan, baik dari keluarga besar pak Doewe, umat Ciledug, alumni Santo Thomas, para pastor, pimpinan OSC dan pihak Keuskupan “. “ Tamu yang datang melebihi perkiraan kami, adalah suatu tanda yang amat baik! “, imbuhnya kemudian.
Selanjutnya Pastor Kartono berharap bahwa semoga semangat Pak Doewe dalam berkarya demi masyarakat dan gereja terus hidup di kalangan umat katolik pada jaman ini juga.
( Rosiany T Chandra)
Telah dimuat di Komunikasi edisi Juli 2012

Doa Dalam Karya Nyata Sabda

Pagi hari itu kesibukan sudah tampak di Balai Pengobatan sebuah paroki di kota Bandung. Beberapa petugas hilir mudik sambil mempersiapkan bangku bangku dan sebagian ada yang mencatat obat-obatan yang tersedia di rak tempat persediaan obat. Satu diantara mereka sedang mencatat daftar nama nama pasien yang sudah mengantri sejak tadi.
Dua dokter yang bertugas sudah siap di meja kerjanya masing-masing. Sesaat kemudian semua petugas berkumpul di ruang periksa dokter. Mereka menyatukan hati dalam doa bersama untuk hari yang indah tersebut dan memohon berkat penyertaan Tuhan untuk pelayanan mereka hari ini.
Apa yang mereka lakukan, selaras dengan apa yang diserukan Paus Benediktus XVI baru –baru ini. “Kasih dan keadilan tidak hanya dalam bentuk aksi sosial, tetapi juga tindakan spiritual dalam terang Roh Kudus,” kata Paus saat audiensi umum di Basilika St. Petrus, 25 April yang lalu. Semua karya pastoral, termasuk mempromosikan keadilan sosial dan membantu masyarakat miskin, harus ditopang dengan doa, selanjutnya ujar Paus Benediktus XVI.Tanpa merenungkan dan melakukan internalisasi Sabda Allah setiap hari, salah satu risiko adalah karya itu dianggap sebagai beban dan orang akan mengabaikan peran Roh Kudus, katanya, seperti dilansir Catholic News Service.
Selanjutnya Paus mengutip Kisah Para Rasul Pasal 6, yang mengisahkan bagaimana komunitas Kristen perdana memutuskan untuk memanggil “tujuh orang dari antara kamu yang terkenal baik dan, yang penuh Roh dan hikmat” yang akan mengabdi untuk tugas tersebut dan supaya kami memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” Para rasul menciptakan pelayanan baru yang didedikasikan kepada orang miskin karena Gereja dipanggil bukan hanya untuk mewartakan Sabda, tetapi juga memenuhinya melalui tindakan nyata, katanya.
Pada saat yang sama, katanya, para rasul menekankan pentingnya doa. Untuk itu mereka yang melayani misi amal Gereja hendaknya melakukan “dalam semangat iman dengan terang Allah.”, demikian yang disampaikan Paus. . ( Rosiany T Chandra)
Disadur dan dilansir dari http://indonesia.ucanews.com
Dimuat di Warta Dunia majalah Komunikasi 2012

Atlit Olimpiade Masuk Seminari

Olimpiade London 2012 yang berlangsung dari tanggal 27 Juli hingga 12 Agustus 2012 telah mendapat sambutan yang meriah baik dari kalangan pecinta olahraga maupun khalayak umum. London, Inggris pernah menjadi tuan rumah olimpiade modern sebanyak tiga kali, yakni tahun 1908, 1948 dan 2012.
Sebanyak 204 negara ikut serta dalam pesta akbar para atlit dunia ini. Sementara itu diperkirakan sebanyak 10.500 atlit turut bertanding dalam duapuluh enam cabang olahraga. Kompetisi yang diadakan empat tahun sekali ini telah diresmikan oleh Ratu Elizabeth II.
Carlos Ballve, yang dikenal sebagai “Litus” oleh teman-temannya, adalah salah satu pemain bertahan dalam tim hoki Spanyol yang berlaga di Olimpiade ini. Namun dibalik prestasinya , usai kompetisi akbar tersebut, ia memutuskan akan masuk ke sebuah seminari di Belgia untuk mengikuti pendidikan calon imam.
Menurut laporan harian El Pais Spanyol, meski ia selalu menganggap dirinya seorang beriman, baru pada tahun 2005 ia menjadi sadar, betapa penting Tuhan dalam hidupnya. Dalam musim panas tahun itu, segala sesuatu mulai berubah, saat ia mengikuti kompetisi kejuaraan dunia hoki U-21. “Kami mengawali kompetisi itu dengan sangat buruk”ujarnya. “Hal ini membuat saya pergi ke misa pada hari Minggu itu, dan membuat perjanjian denganNya” tambahnya kemudian. Ballve mengatakan bahwa jika Ia turut serta dalam kompetisi itu, ia akan pergi ke Medjugore (tempat penampakan Bunda Maria yang masih diteliti oleh Vatikan)bersama ayahnya. Akhirnya, mereka mengukir sejarah. Belum pernah sebelumnya U- 21 memenangkan medali, namun kini mereka mendapatkan tempat ke tiga.
Ballve menepati janjinya. Namun ia mengakui bahwa hidupnya tidak berubah dan tetap “pergi ke pesta dengan para gadis, menghabiskan banyak uang, dan tidak berdoa.” Sesuatu di dalam dirinya berkata : “ Litus, kamu bebas melakukan apa yang engkau kehendaki, namun tetap engkau tak bahagia”. Meski ia sedang dalam puncak prestasinya, Ballve memutuskan untuk berhenti dan pergi mencari Tuhan. “Saya mengatakan kepada-Nya, bahwa saya tidak tahu apa yang salah, hal-hal aneh muncul. Saya ingin berterus terang denganNya, jadikanlah aku seperti apa yang Kau inginkan.” Jelas Litus.
Hidupnya kemudian berubah. Ia memohon agar keinginannya untuk tampil di olimpiade dikabulkan. Ballve mengatakan pertandingan di Olimpiade itu merupakan “pengalaman yang luar biasa dan berharga.” Ia mengatakan dan berharap “tidak hanya untuk meraih kemenangan, tapi menumbuhkan iman saya, berbagi dengan orang-orang dari seluruh dunia,” lapor surat kabar itu.
( Rosiany T Chandra)
Dimuat di Warta Dunia, majalah Komunikasi Agustus 2012 Sumber: Olympic athlete to enter seminary after Games/Ucan News

Fiat Voluntas Tua

“Saya ikut terharu sekaligus bangga kepada mereka”, ujar Ibu Ulin saat menatap perarakan dalam prosesi pentahbisan imam.
Jauh-jauh hari sebelum tanggal 6 Juni 2012, gereja Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan sudah bersolek untuk mempercantik diri. Gereja yang termasuk kuno di kota Bandung ini awalnya mempunyai dua meja altar. Satu menghadap ke dinding, peninggalan dari masa sebelum Konsili Vatikan II, dimana saat itu dalam Perayaan Ekaristi, imam berdiri membelakangi umat. Satu meja altar lain diletakkan di tengah panti imam setelah masa Konsili Vatikan II. Meja altar yang terbuat dari kayu inilah yang kita kenal dan biasa gunakan sehari –hari sebelumya.
Renovasi yang dilakukan di panti imam memindahkan meja altar kuno yang terbuat dari batu alam tersebut. Dari tempatnya yang menghadap ke dinding, kini ia dipindahkan ke tengah-tengah panti imam. Secara khusus telah didirikan kerangka besi sebagai penyangga untuk mengangkat serta memindahkan meja altar yang konon berton beratnya itu. Kini, meja altar batu alam inilah yang kita gunakan kembali. Ia berdiri kokoh dengan kakinya yang indah di tengah panti imam.
Rupanya renovasi ini dilakukan untuk mengantisipasi acara pentahbisan tiga orang pastor yang telah dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2012 yang lalu. “Dengan demikian panti imam menjadi lebih luas dan lega”, ujar Pastor kepala paroki, A. Sudarno, OSC. “ Disamping itu, lantai panti imam yang diganti dengan batu alam adalah untuk menyesuaikan dengan meja altar serta suasana yang ada di dalam gereja”, tambahnya kemudian.
Ketiga orang calon tertahbis yang ditahbiskan sore hari itu adalah Frater diakon Medardus Eko Budi Setiawan, OSC, Frater diakon Antonius Budiman, OSC dan Frater diakon Agustinus Alfridus Seran, OSC. Misa dengan tema Fiat Voluntas Tua ( Jadilah Kehendak-Mu) dipimpin oleh Mgr Ignatius Suharyo, Administrator Apostolik Keuskupan Bandung yang didampingi oleh Mgr Glen Lewandowski, Master General OSC dan Pastor kepala Paroki, Agustinus Sudarno, OSC.
Sebelum Perayaan Ekaristi, hampir seratus orang imam dari Keuskupan Bandung berjalan apik dalam sebuah perarakan untuk masuk menuju pintu utama gereja. Keseragaman kasula yang dikenakan mereka menambah hikmat dan sakralnya upacara ini. Kurang lebih ada 800 umat serta undangan yang hadir di perayaan Ekaristi tersebut. Sementara itu, dari wajah ketiga frater diakon yang tertahbis, tersirat keanekaragaman perasaan yang tersembul dibalik mimik mereka masing-masing. “ Saya ikut terharu sekaligus bangga kepada mereka”, ujar Ibu Ulin saat menatap prosesi itu. “ Saya ikut merasakan apa yang dirasakan ibu mereka”, imbuhnya kemudian dengan mata berkaca-kaca.
Sejurus dengan tema tahbisan, dalam homilinya Bapa Uskup menyampaikan bahwa sesaat setelah Maria mengatakan : “ Jadilah menurut kehendakMu”, ia pun ditinggalkan oleh malaikat yang menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Tuhan Yesus. Disampaikan kemudian oleh Bapa Uskup bahwa, Bunda Maria tampaknya tak mampu menjalaninya sendiri. Oleh sebab itu ia pergi mencari dan mengunjungi Elizabeth agar bisa mendapat dukungan untuk saling menguatkan. “Semoga para imam yang ditahbiskan dapat saling meneguhkan pula diantara sesama”, harap Bapa Uskup selanjutnya. Selain itu, dikatakannya bahwa Maria sering mengalami peristiwa yang sulit dimengerti. Namun ia menyimpan dan merenungkannya sambil mencari dan mencoba menemukan apa makna yang melintas di dalam perjalanan hidupnya dengan mata kontemplatif. “ Dengan mata kontemplatif ini, diharapkan kita mampu meneladani pula bagaimana Bunda Maria akhirnya bisa menemukan kehendak Tuhan dalam hidupnya.
Di penghujung misa, Propinsial OSC, Pastor Anton Subianto, OSC menyampaikan bahwa , Pastor Eko akan tetap melayani di Cigugur. Sedangkan Pastor Anton akan mendapat tugas di Keuskupan Agats- Papua. Pastor Agus akan mendampingi para frater di Skolastikat OSC di Jl. Sultan Agung. Usai misa pentahbisan, kepada para tamu yang hadir telah dibagikan kartu kenangan sebagai ungkapan syukur dan terima kasih dari ketiga pastor yang telah ditahbiskan tersebut.
Usai misa, acara ramah tamah telah disiapkan dengan baik oleh segenap panitia pentahbisan, lengkap dengan hiburan musik kecapi yang mengiringi santap malam segenap umat, imam dan undangan yang telah hadir di misa sore itu. “ Segenap rangkaian upacara telah berlangsung rapih, praktis dan elegan”, demikian ujar pastor Nana. Sebuah apresiasi dan rasa terima kasih kepada segenap panitia juga telah disampaikan oleh Pastor Samong, sore hari itu.
Profisiat bagi Pastor Eko, Pastor Agus dan Pastor Anton!!. Selamat bertugas. ( Rosiany T Chandra) Tulisan telah dimuat di Komunikasi Juli 2012

Apa Itu Graphology?

Graphology adalah ilmu yang mempelajari tentang analisa tulisan tangan untuk mengintepretasi karakter dan kepribadian seseorang, termasuk ’identitas’ diri seseorang.
Graphology merupakan alat tes kepribadian yang sangat sederhana dan tidak bias. Menulis adalah gerakan motorik yang dihasilkan oleh kontraksi sistem syaraf dan otot, yang merupakan refleksi dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar manusia. Pikiran sadar akan mengatur apa yang ditulis sedangkan pikiran bawah sadar akan mengatur cara tulisan tersebut dibuat. Oleh karena itu, tulisan tangan merupakan cerminan dari pikiran, suasana hati, spontanitas dan cara pandang seseorang tentang keseluruhan lingkungannya.
Physical, Mental, Emotional
Beratus-ratus tahun yang lalu, Aristoteles membagi manusia ke dalam tiga aspek yaitu body, mind and spirit atau sekarang lebih dikenal dengan istilah physical, mental and emotional dan graphology dapat mengintepretasi ketiga aspek tersebut. Wujud fisik manusia adalah identitas tentang seseorang, sama seperti DNA, sidik jari , tanda tangan ataupun tulisan tangan. Tulisan tangan dan tanda tangan seseorang adalah unik dan tidak mungkin sama dengan tulisan tangan orang lain sehingga bila tulisan tangan kita dimasukkan ke dalam ratusan tumpukan tulisan tangan orang lain, kita akan dapat mengenali tulisan tangan atau tanda tangan kita sendiri.
Yang dapat diketahui melalui graphology tentang body/physical adalah kesehatan penulis, keadaan tertentu seperti ketergantungan pada obat-obatan atau alkohol dan juga dorongan fisik yang dimiliki oleh penulisnya (termasuk kecenderungan agresif, kasar dan dorongan sexual). Graphology akan berbicara mengenai kepandaian dan kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh seseorang ketika dihubungkan dengan aspek mind/mental. Mengapa demikian? Manusia memiliki kepandaian untuk menggunakan simbol-simbol tertulis sebagai alat komunikasi dan tidak ada mahluk lain memiliki kepandaian tersebut.
Jika anda memberikan pulpen kepada seekor kera, kera tersebut tidak akan mampu menggunakan coretan yang dihasilkan untuk berkomunikasi dengan kera yang lain. Itu sebabnya, kepandaian seseorang akan terdeteksi melalui tulisan tangannya dan di dalamnya termasuk juga cara berpikir, kemampuan untuk merespon perubahan situasi, minat dan bakat yang sesuai, kejujuran, dan itikad baik dalam diri seseorang.
Sedangkan untuk aspek spirit/emotional, graphology memberikan informasi mengenai cara pandang seseorang tentang dirinya, masa lalu, masa depan serta caranya memandang orang lain sebagai kesatuan lingkungannya. Informasi tersebut meliputi, seperti: penghargaan terhadap diri sendiri, visi dan misi, orientasi dalam hidup, interaksi sosial, kejujuran, depresi, trauma masa lalu, ketelitian, keinginan untuk mencapai tujuan serta cara yang digunakan untuk mendapatkan tujuan dan masih banyak karakter lainnya.
Tulisan otak
Tulisan tangan sebenarnya adalah tulisan dari otak manusia yang merupakan gambaran dari kepribadian setiap individu. Pengaruh alam bawah sadar/subconscious mind dibandingkan dengan alam sadar/conscious mind adalah sekitar 88-90%. Dengan kata lain pengaruh conscious mind pada tulisan hanya 10-12% saja. Seperti fenomena gunung es, yang tampak cuma ujungnya saja. Analoginya ibarat komputer, semua yang kita lihat di monitor adalah conscious mind, sementara semua data, software dan program-program adalah subconscious mind.
Jadi, dalam graphology, konten apa yang kita tulis adalah hasil conscious mind yang cuma 10-12% itu. Bagaimana kita menulisnya, dinamika, tarikan garis, penempatan letak, bentuk dll adalah hasil dari subconscious mind kita. Karena itu memanipulasi graphology adalah nyaris tidak mungkin, karena dia harus memanipulasi, secara sadar, alam bawah sadarnya sendiri.
Manfaat Graphology
Hasil analisa graphology dapat pula digunakan dalam mengetahui titik-titik keunggulan seseorang maupun kekurangannya. Sehingga secara dini, analisa bisa dimanfaatkan sebagai pedoman bagi pemilihan lingkungan yang akan mengembangkan serta mendukung potensi seseorang ataupun lingkungan yang akan mengurangi dampak kekurangan tersebut. Jurusan yang ideal bagi pemilihan bidang studi dan karir juga merupakan hal yang bisa didapatkan dari hasil analisa graphology.
Dalam organisasi, Graphology dapat membantu dalam memberikan penilaian, baik terhadap pekerjaan maupun individu pemegang jabatan/kandidatnya. Sehingga, dasar penentuan apakah seseorang tepat berada di posisinya atau tidak akan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan tersebut dan dapat dievaluasi dengan menggunakan alat yang sama. Selain itu Graphology dapat memberikan gambaran detail mengenai kepribadian seseorang guna pembentukan satu teamwork maupun bagi hubungan intra personal. Disamping itu hasil analisa graphology dapat memberikan usulan bagi gambaran orang yang tepat untuk posisi yang pas.
Disisi lain, penggunaan graphology dapat diterapkan kepada anak-anak dalam waktu yang sedini mungkin. Kita coba untuk merubah kebiasaan dan kepribadian anak kita, karena mereka adalah harta yang berharga. Pertanyaannya kemudian apakah graphology sebagai cerminan dari pikiran dan kepribadian kita dapat memberikan solusi untuk merubah kebiasaan serta kepribadian seorang anak? Jawabannya adalah YA.
Dengan merubah cara anak anda menulis maka kita merubah “komputer” yang dimilikinya menjadi lebih pintar dan metoda untuk merubah cara anak anda menulis dikenal dengan istilah “Grapho-theraphy”. Para psikolog di Amerika juga telah menerapkan grapho-therapy lebih dari 30 tahun lamanya dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa grapho-theraphy adalah metoda yang tercepat, termudah dan terbaik untuk merubah perilaku/kebiasaan seseorang.
Selain dapat memberikan gambaran mengenai kepribadian anak, graphology juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal di dalam kehidupan manusia. Antara lain ia dapat memainkan peranan yang menarik dalam strategi penyelesaian yang efektif diantara dua individu yang memiliki kepribadian yang berlainan.
Rosiany T Chandra, Certified Master Handwriting Analyst) ________________________________________________________

Jumat, 24 Agustus 2012

Tulisan sebagai Pantulan Jiwa

Saat berjalan-jalan di mall, Deny mendadak ingin sekali merangkul istrinya, Lia. Namun seperti biasanya, Deny kembali agak enggan. Kendati Lia tidak langsung menampiknya, namun dari bahasa tubuhnya yang agak menjauh, Deny langsung memahami bahwa istrinya kurang nyaman untuk “menjajal” intimitas mereka di depan publik. Awalnya Deny kecewa dan merasa seperti “ditolak”. Hal yang sama terjadi, saat mereka sedang berdiskusi membicarakan sebuah rencana libur panjang bersama. Ketika ada topik yang kurang berkenan dihatinya, Lia langsung diam dan sontak masuk kedalam dirinya sendiri. Saat itu Deny kesal karena tidak tahu bagaimana harus bersikap. Karena ikut teriritasi, Deny dengan suara tajam mengatakan bahwa Lia harus mengungkapkan apa yang ia sebenarnya inginkan. Tapi Lia malah tambah ciut, dan tetap diam seribu bahasa dalam “sarang kenyamanan” yang ia bangun sendiri.
Kondisi mulai berubah, saat seorang kawan menyarankan mereka untuk pergi ke seorang ahli Graphologist. Seorang Graphologist dapat menganalisa karakter dan perilaku seseorang melalui tulisan tangannya. Prosedurnya pun sangat cepat dan sederhana. Orang tak perlu bertatap muka dengan sang ahli. Ia cukup mengirimkan tulisan tangannya di atas selembar kertas HVS tak bergaris dan mengimbuhkan tanda tangan di bawahnya. Seminggu kemudian, hasil analisa sudah bisa ia terima.
Dipaparkan oleh sang Graphologist, bahwa tulisan Lia mempunyai derajat kemiringan ke kiri (left slant). Tipe penulis seperti ini biasanya gampang menarik diri secara emosional. Secara sadar ia menyikapi gugahan respons emosinya tersebut , namun ungkapan perasaan itu menuju ke arah dirinya sendiri. Ia berusaha mencernanya sendiri, oleh sebab itu Lia kesulitan dalam mengungkapkan apa yang ia rasakan. Lia bukanlah seorang yang spontan dan hangat untuk bisa mengekspresikan emosinya secara terbuka. Meski demikian, Lia mempunyai kelembutan hati yang menjadi daya pesona tersendiri bagi Deny. Hal ini teranalisa dari konsistensi bentuk bulat utuh dari lengkungan bagian atas huruf yang ia tulis (contoh: huruf m, n).
Lain halnya pada Deny. Tulisan Deny mencerminkan ia adalah seorang yang dengan mudah dan spontan mengungkapkan apa yang sedang ia pikir dan rasakan. Tulisannya mempunyai derajat kemiringan ke kanan (right slant) yang lugas. Hal ini sekaligus menandakan pula bahwa ia seorang yang emosional. Indikasi ini dipertegas kembali oleh beberapa goresan huruf tajam yang ada pada tulisan Deny.
Indikasi aksara diatas hanyalah satu dan dua hal dari sekian ratus indikasi lainnya yang bisa terlacak dari sebuah tulisan tangan. Dari hasil konseling berbekal analisa kedua tulisan tangan mereka itu, Deny dan Lia jadi bisa lebih memahami satu sama lain, sehingga belajar untuk tidak memaksakan kehendak atau harapan mereka masing-masing. Deny berusaha untuk tidak memojokkan Lia atau memaksanya untuk ‘open’, melainkan perlahan-lahan merubah situasi lebih nyaman bagi diri Lia. Hingga tiba saatnya ia tak melihat sebuah “ancaman” untuk harus terbuka, barulah Lia mau keluar dari zona persembunyiannya. Di sisi lain, Lia mulai menyadari bahwa ia harus belajar mengatakan apa yang ia rasakan kepada Deny.
Peranan Alam Bawah Sadar
Bagaimana tulisan tangan itu mampu merefleksikan kepribadian adalah sama sekali bukan karena unsur gaib yang terkandung di dalamnya. Intepretasi dari sebuah tulisan adalah sangat logis dan sistematis. Semua aksi, termasuk menulis, bermula dari otak. Ketika seseorang mengambil pena untuk menulis, otak mengirimkan pesan kepada otot lengan dan tangan dalam menuntun sebuah gerakan. Garis, goresan, lingkaran, titik adalah hasil refleksi dari dalam diri manusia. Kendati alat menulis dipegang oleh tangan, tulisan tangan sebenarnya adalah tulisan dari otak manusia yang merupakan gambaran dari kepribadian setiap individu.
Pikiran manusia secara sadar menentukan apa yang anda tulis dan alam bawah sadar mengontrol bagaimana cara kita menulis. Pengaruh alam bawah sadar/subconscious mind dibandingkan dengan alam sadar/conscious mind adalah sekitar 88-90%. Dengan kata lain pengaruh conscious mind pada tulisan hanya 10-12% saja. Seperti fenomena gunung es, yang tampak cuma ujungnya saja. Analoginya ibarat komputer, semua yang kita lihat di monitor adalah conscious mind, sementara semua data, software dan program-program adalah subconscious mind. Jadi, dalam graphology, konten apa yang kita tulis adalah hasil conscious mind yang cuma 10-12% itu. Bagaimana kita menulisnya, dinamika, tarikan garis, penempatan letak, bentuk dll adalah hasil dari subconscious mind kita. Karena itu memanipulasi graphology adalah nyaris tidak mungkin, karena dia harus memanipulasi, secara sadar, alam bawah sadar yang di luar kontrolnya sendiri.
Oleh sebab itu tulisan tangan merupakan barometer suasana hati, fisik, emosi dan kesehatan mental seseorang. Sebagai tambahan terhadap karakteristik lain yang bisa di dapatkan dari tulisan tangan antara lain adalah : kesehatan fisik dan emosi, gaya pemikiran, interaksi sosial, potensi produktivitas, tujuan orientasi, talenta & kemampuan, ketakutan, integritas, sikap & selera seksual, kemampuan sosial & komunikasi dan lain sebagainya.
Manfaat Graphology
Manfaat Graphology selain bisa diterapkan untuk pengenalan akan diri sendiri, bisa pula digunakan bagi relasi intrapersonal, baik bagi perkawinan, sosial atau hubungan bisnis, problematika emosional dari sisi psikologi, pilihan bidang studi, karir dalam dunia pendidikan. Di perusahaan dan industri bisa dimanfaatkan dalam seleksi calon karyawan yang pas untuk posisi yang ditawarkan, promosi serta komposisi teamwork karyawan. Selain itu dalam kriminologi, Graphology dapat mendeteksi ketidakjujuran, potensi bahaya tertentu dan pemalsuan dokumen serta tanda tangan.
Dibalik itu, ada beberapa hal yang tak bisa dideteksi oleh analisa Graphology, antara lain: usia, jenis kelamin, profesi, ras/suku, masa depan. Namun kenyataannya, Graphology dapat membantu kita untuk merubah kehidupan yang ada, dalam arti mengetahui kelemahan kita saja, tidaklah cukup. Pertanyaannya, mampukah kita memanfaatkan, mengolah dan menempatkan segala keunggulan dan kelemahan tersebut? Jawabannya adalah YA!
--Tulisan Adalah Cermin Dari Jiwa Anda-- Rosiany T Chandra, Certified Master Handwriting Analyst (CMHA)

“Uji Nyali” Di Lantai Orang Lain

Salah satu warisan dari para anggota Societeit Concordia dari zaman dahulu yang masih tetap dilestarikan hingga kini di BP Bumi Sangkuriang adalah tradisi Ballroom Nite tiap hari Jumat malam.
Untuk menunjang tradisi serta memupuk bibit bibit baru yang mahir berdansa, BS menyediakan fasilitas pelatihan les dansa Ballroom dan Latin yang dibimbing oleh tiga orang guru yang sudah berpengalaman di arena pertandingan baik di dalam maupun luar negeri. Mereka adalah Ibu Tjia Mei Lan, Deni Rohendi dan Awang. Murid murid yang telah giat berlatih pagi harinya, bisa menyalurkan hobby berdansa mereka di Ballroom Nite dengan iringan band live music. Acara mingguan ini kerap telah dinanti nantikan oleh komunitas dansa BS, maupun oleh penggemar dansa di kota Bandung pada umumnya.
Pada hari Sabtu, tanggal 11 Agustus yang lalu, komunitas dansa BP Bumi Sangkuriang mengadakan outing ke Jakarta. Ibu Tjia Mei Lan, sebagai ketua seksi dansa Bumi Sangkuriang, bersama dengan Pak Darmawan Saputra, wakil ketua III jauh jauh hari sudah merencanakan dan mempersiapkan rencana ini dengan baik.
Tujuan diadakan outing ini adalah untuk saling mengakrabkan dan sebagai penambah semangat diantara para anggota yang telah giat berlatih. Selain sebagai refreshing, para peserta outing juga akan “menguji nyali” di arena dansa orang lain. Ketika group tenis BS mengadakan pertandingan persahabatan ke luar kota, demikian pula halnya komunitas dansa mengadakan uji coba/test floor, berdansa dalam suasana dan publik yang berbeda.
Oleh sebab itu, lokasi yang akan dituju di Jakarta hari itu adalah restoran Sim Yan – Milenium. Tiap Sabtu disana disediakan arena dansa dengan live music. Pengunjung dapat berdansa sambil menikmati santap siang/brunch dari pkl. 10.00 hingga pkl.14.00. Pagi itu pkl. 06.30 seluruh peserta yang berjumlah 19 orang berkumpul di Paskal Hypersquare. Bu Mey Mey, demikian Ibu Tjia Mei Lan akrab disapa, sudah sejak pagi menyiapkan beberapa konsumsi yang akan disantap di bis. Setelah mendata dan berfoto bersama, bis melaju ke Jakarta tepat pada pkl 07.00.
Perjalanan lancar dengan diiringi gelak canda tawa diantara para peserta, hingga tak terasa tepat tiga jam kemudian rombongan sudah tiba di Milenium- Gajah Mada Plaza. Kalau kita membandingkan dengan komunitas tenis yang siap bertanding dengan segala perlengkapan raket dan lain sebagainya. Demikian pula halnya yang terjadi dengan komunitas dansa, berikut sepatu serta baju dansanya. Olahraga dansa ini memang sangat menguras tenaga dan energi. Oleh sebab itu, membawa dua sampai tiga baju ganti merupakan sebuah keharusan dalam setiap acara melantai. “Disamping itu, selain menguras energi fisik, dansa juga menguras energy emosi yang tertuang dalam penghayatan dansa itu sendiri”, tutur Deni, guru tari ballroom di bis. “ Namun usai berdansa, ada sebuah sensasi kepenuhan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sensasi itu hanya bisa dirasakan mulai dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun!”, demikian imbuhnya kemudian yang disambut gelak tawa serta anggukan setuju peserta lain.
Di Sim Yan, rombongan yang terbagi dalam dua meja bundar, segera memesan makanan. Sebagian peserta ada yang langsung menyantap hidangan, namun ada juga beberapa peserta yang langsung melantai. Agaknya lantai dansa lebih menarik daripada hidangan yang menggoda air liur. “ Aku kagok makan euy, kalau lagi berdansa! ujar salah satu peserta.
Dalam diri setiap pedansa, mau diakui atau tidak, selain ingin menikmati alunan musik dalam gerak, pasti ada keinginan untuk ditonton orang. Komunitas dansa Bumi Sangkuriang sudah menampilkan dansa mereka di tengah tengah publik dansa di Sim Yan. Ada kepuasan sendiri yang tersirat di wajah wajah berpeluh anggota rombongan ini. Pasangan Koko – Inge melantai Rumba dengan indahnya. Pasangan Awang – Li Fung menarik perhatian pengunjung dengan goyang Bachata nya. Pasangan Deni dan muridnya juga mencuri perhatian publik dengan tarian waltznya. Felan dan Budi menampilkan seluruh hasil latihan mereka sehari-hari dengan baik. Pasangan Johnny – Susan tetap menawan dan kompak, ketrampilan yang tak dimakan usia. Ada Drg. Yos juga ikut berdansa dengan bu Mey Mey. Ibu Alida yang belum lama bergabung dengan komunitas dansa ini, langsung merasa terpacu ingin segera mahir. Ibu Ingried menghayati setiap gerakan kakinya saat berdansa dengan pak Cen Nan.
Usai berdansa, rombongan meneruskan ‘penjelajahan’ dari lantai dansa ke mall Central Park. Sebelumnya rombongan singgah sejenak di Hotel Royal Regal untuk sekedar melihat arena dansa yang ada disana. Sesampai di mall, peserta berpencar masing masing dengan minat yang berbeda. Ada yang langsung mau makan bakmie, seperti Mbak Hetty. Li Fung, Nelly dan bu Alida segera mencari restoran May Star. Pak Koko, Inge dan yang lainnya ada yang ngopi atau kalap shopping.
Pkl. 19.00, seperti yang disepakati bersama sebelumnya, seluruh rombongan berkumpul kembali di bis dan siap menuju Bandung kembali. Kebersamaan selama perjalanan ini meninggalkan kesan yang kian mengakrabkan seluruh komunitas dansa BS. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini, terutama kepada Pak Koko, yang telah menginspirasi banyak murid sehingga makin giat berlatih. Last but not least kepada guru guru dansa : Bu Mey Mey, Deni dan Awang yang dengan semangat menularkan ilmunya sehingga tradisi di Bumi Sangkuriang tetap terpelihara. ( Rosiany T Chandra)