Senin, 10 September 2012

Embun Perawan

Saat kuinjak butir embun perawan pagi
Nuansa dingin menusuk kaki menyergap jiwa
Hati yang pengap makin tergolek lemah
Kutadahkan wajah menatap pesona sang surya
Rasa hangat menjalar mencairkan selaput embun
Yang membalut hati dengan rasa dingin membeku
Kembali kurasa tak sebatangkara
Kehangatan pun ternyata datang menerpa
Diawali embun mutiara pagi..
Juli 2012

Gadisku Dan Kecoa

Beberapa hari lagi, gadisku akan kuliah ke FKG Trisakti, Jakarta. Tempat pondokan dan beberapa keperluan yang lain sudah mulai disiapkan semenjak beberapa minggu yang lalu.
Jakarta - Bandung memang ga jauh sih untuk berpisah dan mandiri dari orang tua.Kini, sebenarnya dimanapun di dunia ini hanya terpisah sejauh jarak jangkauan teknologi saja. Ataupun hanya terpisah ruang airport to airport.Selain itu, dengan usia seorang lulusan sekolah menengah tinggi, rasanya tak ada yang perlu aku kuatirkan secara berlebihan.
Aku jadi teringat saat aku pergi dari rumah dulu untuk kuliah ke luar negeri dengan usia yang 2 tahun lebih muda dari usia gadisku saat ini.Bersamaku saat itu, seorang sahabat masa kecilku ikut serta berangkat untuk merajut mimpi mimpi anak muda untuk kuliah ke Jerman.
Aku masih ingat, saat itu kedua orang tuaku mengantar aku hanya sampai bandara saja. Sejauh yang aku ingat, ibuku tak menyiratkan sebuah ekspresi di wajahnya. Entah apa yang ada di hatinya, sulit aku tebak. Aku hanya ingat bahwa ayahku menahan rasa haru diwajahnya..Akhirnya bulir airmata itu tumpah juga akhirnya.
Untuk usiaku yang 17 tahun saat itu, aku cukup bisa menahan emosiku dengan baik. Aku tidak ikut larut dalam suasana haru yang menyusup seketika. Usai mengencangkan sabuk pengaman di kursi pesawat yang membawaku ke negeri transit Singapura, tak terbendung lagi air mataku. Aku menangis sejadi jadinya.Sahabat yang duduk disampingku juga ikut menangis. Tak ada satu pun dari kami bisa berucap kata kata. Kami juga tidak saling menghibur, kami tidak saling bertatap..Namun kami tahu bahwa kami masing masing sedang menangis. Entah apa yang bermain di benak sahabat ku saat itu, hingga kini tak kuketahui. Yang aku tahu saat itu, ketika roda pesawat menyentuh daratan di Singapura, aku makin menangis karena dengan sadar mengetahui bahwa aku kini sudah kian menjauh dari rumah.
Kami duduk di deretan yang berisi tiga tempat duduk. Dijung sana duduk seorang bule, yang belakangan kami ketahui adalah seorang bule Jerman.Si bule tentu memperhatikan kami berdua yang menangis tak henti henti. Akhirnya ia penasaran juga dan mengajak kami berdialog. Dari situ kami tahu bahwa ia adalah seorang guru dan iapun memaklumi ketika mengetahui mengapa kami menangis!
Setelah tiba di negeri "mimpi", awalnya kami bak orang yang bengong..tak mengerti apa apa saat diajak berbicara dalam bahasa Jerman. Semua yang tampak adalah tulisan Jerman, segala yang di dengar, bahasa itu juga. Segala yang di TV, di majalah dan dimana mana....semua Jerman. Capek deh..!Kendati aku sudah les bahasa Jerman jauh jauh hari sebelum berangkat, rupanya itu tak terlalu banyak membantu.Belum lagi hati yang masih tetap galau pisah dari rumah...
Singkat cerita, toh akhirnya setelah 3 bulan menetap disana, kami berdua survive juga..Kini, 32 tahun telah berlalu, sahabatku bahkan telah menikah dengan orang sana dan masih tetap bermukim disana hingga kini. Sedangkan aku pulang kembali ke ibu pertiwi.
Kembali ke kisah gadisku yang hendak merajut mimpinya, aku tak terlalu khawatir, karena tak ada kendala bahasa dan "medan peperangannya" relatif lebih lembut dari apa yang kami alami saat itu. Selain itu, gadisku juga cukup mandiri dan bisa menggunakan akal sehatnya dengan baik. Ia tergolong gadis yang pemberani dan tidak cengeng. Ia tak gentar akan ular berbisa, berani memegang dan berfoto dengannya. Ia berani memegang cacing, anjing dan binatang lainnya dengan penuh kasih dan kelembutan. Ia juga gemar berkuda dan amat sayang sama binatang yang satu ini. Selain menunggang serasi, ia juga meloncat sesekali dengan kudanya. Sejak kecil ia mengerjakan segala sesuatu keperluannya dengan baik dan disiplin. Mempersiapkan jauh jauh hari segala keperluannya dan mencatat apa apa yang ia perlukan. Hal ini bahkan sering merepotkan aku, karena aku sering "di desak" untuk action jauh hari demi plan nya yang sudah ia susun rapih.
Hanya ada satu yang aku kuatirkan tentang dirinya, dan ini cukup mengganggu pikiran ku akhir akhir ini. Gadisku tak bisa melihat kecoa!! Kalau ada kecoa di kamar mandi atau di kamar tidurnya, ia langsung menjerit histeris. Dan segera meminta agar seseorang membantu untuk menyingkirkannya. Kalau di rumah ada pembantu, mereka lah sasaran jeritannya untuk segera datang dan "memusnahkan" binatang itu! Jika kecoanya sudah matipun, ia tetap akan berteriak untuk minta seseorang segera mengambilnya untuk menyingkirkannya..
Pusinglah aku jadinya....! Gimana caranya supaya tempat pondokan bebas dari kecoa???? Nyaris tak mungkin di Indonesia..!? Galauuuu...... Sukses ya nak, semoga tak ada kecoa nanti yang menghampiri ya!

Sabtu, 25 Agustus 2012

Nonton Bareng Soegija di Bandung

Yulvi (23), mahasiswi Fakultas Vikom Universitas Pajajaran Bandung bersama teman-teman kuliahnya ikut antri untuk menonton pemutaran perdana film Soegija di Blitz - Paris Van Java, Bandung. Bersama mereka, serombongan besar umat paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan dan St Laurentius , Bandung komplit dengan para gembalanya ikut nonton bareng memadati studio cinema yang berkapasitas 190 tempat duduk tersebut. “Kegiatan nonton bersama ini terutama menjadi sebuah ajang dalam memupuk tali persaudaraan dan keakraban antar umat”, ujar Pastor Agustinus Sudarno, OSC yang berada di tengah-tengah umat parokinya.
Yulvi mengatakan bahwa, ia bersama teman-temannya tergerak untuk menonton film ini, kendati belum mengetahui siapa sosok Soegija ini sebenarnya. “ Sutradara Garin Nugroho menjadi salah satu daya tarik bagi saya, selain setting dari gereja kuno serta pesan nasionalisme dalam suasana kemerdekaan tentu punya daya tarik sendiri”, ujar mahasiswi yang berjilbab ini. Disamping itu biaya produksi yang 12 M ikut membuat ia penasaran.
“ Sayang karakter Soegija yang diperankan aktor Nirwan Dewanto, belum berhasil menampilkan sosok Soegija yang berwatak seperti yang saya baca di bukunya, demikian ujar Anita Lestari usai acara nonton bareng ini. “ Sepertinya sosok Soegija “tertutup” oleh peran Mariyem yang lebih menonjol”, imbuhnya kemudian. Namun Anita mengatakan bahwa, ilustrasi musik dan setting artistik jadoel di film ini sangat bagus.
( Rosiany T Chandra) Telah dimuat di HIDUP Juli 2012

Tradisi Morning Coffee

Usai misa hari Minggu pagi di Kapel Kabar Gembira Maria, Intan bergegas keluar kapel yang terletak di halaman belakang sekolah St Aloysius- Bandung. Kapel bagi para mahasiswa ini sekaligus menjadi tempat beribadat para frater dan pastor dari biara Ordo Salib Suci (OSC), yang memang menempati lahan yang bersebelahan langsung dengan sekolah katolik tersebut.
Intan adalah salah satu mahasiswi katolik di sebuah Perguruan Tinggidi Bandung. Ia segera bergabung dengan teman-teman seiman lainnya, yang sudah menunggu di depan kapel. Mereka saling bertegur sapa, lantas berjalan bersama-sama menuju halaman biara yang menyatu dengan halaman samping kapel. Di ruang makan biara, sudah menunggu beberapa rekan mahasiswa lainnya. Suasana makin riuh penuh canda dan tawa. Beberapa frater juga ikut nimbrung, sehingga menambah semarak Minggu pagi itu. Aroma kopi dan teh menjadi penghangat dan pelengkap keakraban diantara mereka.
Daya Pikat
‘Morning Coffee’, sudah menjadi tradisi Gereja Mahasiswa ( GEMA) sejak awal berdirinya komunitas ini pada tahun 1976. Bermula pada saat itu, Pastor Harry Leermakers, OSC melihat banyak mahasiswa merindukan tempat untuk berkumpul untuk ngerumpi. Baik bagi mahasiswa pendatang dari luar kota maupun dari Universitas dan Perguruan Tinggi setempat. Januari 1976, bersama dengan beberapa aktivis mahasiswa, dimulailah saat itu misa perdana di kapel GEMA (demikian selanjutnya disebut) dengan delapan orang mahasiswa, sebagai tanda didirikannya PUSRO ( Pusat Rohani). Dua minggu kemudian, misa dihadiri oleh enambelas orang. Demikian seterusnya mereka mengajak beberapa teman lainnya.
Seiiring waktu pada tahun 1979, PUSRO berganti nama Gereja Mahasiswa ( GEMA). Lokasi yang dijadikan ajang pertemuan pada saat itu adalah biara OSC. Sejurus berselang, pada tahun 1980 an, di areal belakang GEMA didirikanlah sebuah bangunan tempat sekretariat dengan beberapa ruangan yang dijadikan basis aktivitas mahasiswa di luar kampus. Disini terdapat dapur beserta segala perlengkapannya, ruang tamu, ruang rekreasi, ruang doa, ruang redaksi dan ruang studi yang kini dilengkapi dengan Wi Fi serta beberapa perangkat komputer.
Second Home
Sepulang kegiatan kampus mereka biasanya bersosialisasi sambil mengerjakan tugas-tugas ataupun sekedar saling bertegur sapa layaknya seperti di rumah sendiri.” Tak ada jam malam yang berlaku, namun mereka diwajibkan untuk melapor kepada saya dan satpam, jika harus bermalam dalam mengejar deadline sesuatu yang harus diselesaikan”, pesan Pastor Hendra Kimawan, OSC yang sejak 2009 bertugas sebagai pastor pendamping. Kini, gedung tersebut sedang dalam tahap renovasi, yang diprakarsai oleh beberapa mantan aktivis GEMA.
Pastor (alm) Jan Sunyata, OSC yang saat itu sebagai dosen pengajar agama katolik di ITB membawa banyak mahasiswa katolik untuk ikut bergabung di GEMA. “Setelah bergabung, sebagian besar dari mereka yang memang anak kos, seperti menemukan second home, tempat mereka bisa berbagi dan berlabuh”, ujar Anjar Anastasia, aktivis pendamping mahasiswa di GEMA. “Hingga kini gedung tersebut menjadi tempat nostalgia yang tak pernah putus diantara alumni”, imbuhnya kemudian. “ Meski pada awalnya kami tak saling kenal, ketemu teman-teman disana langsung merasa dekat”, kata Lukas, mantan aktivis dari Flores.
Pengembangan Gereja Mahasiswa
Dari sejak berdirinya hingga kini, GEMA senantiasa didampingi oleh satu dan/atau dua pastor pendamping serta biarawati. Saat masa pendampingan Pastor Dany Sanusi, OSC ( 1995- 1999), GEMA membuka relasi dan jaringan baru dengan kampus Universitas dan Perguruan Tinggi, seperti ITB, Unpar dan Unpad, dimana mulai diadakan kuliah agama katolik bagi mahasiswa katoliknya. Disamping itu Pastor Dany melihat adanya potensi jumlah mahasiswa katolik yang kurang lebih berjumlah 500 an saat itu di STPDN ( Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri). “ Sebagian besar mahasiswa tidak punya teman curhat yang bisa menampung gejolak muda mereka”, kenang Pastor Dany. Selain itu letak kampus IPDN (kini Institut Pemerintahan Dalam Negeri)di Jatinangor jauh dari gereja terdekat yang ada. Selain IPDN, kampus UNPAD dan dua perguruan tinggi lainnya juga berada di wilayah Jatinangor.
“ Pihak IPDN merespons baik usulan yang disampaikan untuk membangun sebuah kapel di dalam lahan IPDN” jelas Pastor Dany kemudian. Dan tak lama kemudian berdirilah kapel St. Albertus Magnus, yang sedari awal didirikan, bukan hanya tempat beribadat para mahasiswa, namun juga terbuka bagi umat yang tinggal di sekitar kampus. Kegiatan di St Albertus Magnus kemudian menjadi bagian dari reksa pastoral Gereja Mahasiswa.
GEMA Sebagai fasilitator
Secara struktural, GEMA diketuai oleh seorang koordinator ( Leo Naibaho), sekretaris ( Maria Yana) dan bendahara( Caesilia Natalia). Aktivitas anggota mahasiswa ditampung dalam Kelompok Pelayanan GEMA (KPG). Selain dalam kegiatan berliturgi, tiga bulan sekali mereka menerbitkan buklet. Disamping itu, KPG melayani setiap KMK ( Keluarga Mahasiswa Katolik ) yang ada di kampus-kampus dalam setiap kunjungan rutin yang mereka lakukan sebulan sekali, antara lain saling bersilaturahmi dalam menyelenggarakan ibadat bersama. Disamping itu, GEMA bersosialisasi pula dengan merajut jaringan dengan orang muda katolik/non katolik di seluruh Indonesia.
Sebagai fasilitator, untuk mempererat unit unit KMK, GEMA mengajak KMK yang ada di masing –masing Universitas dan Perguruan Tinggi untuk misa bersama. Secara innovatif, GEMA mencoba merancang misa yang berbau orang muda, sejauh tetap dalam kerangka liturgis. Selain itu nilai – nilai yang berbau tradisi dan konvensional diusahakan tetap sebagai daya pikat yang kental. Sudah menjadi tradisi dari generasi sebelumnya, dalam kurun waktu setelah Rabu Abu dan sebelum Minggu Palma, diadakan lima kali Ibadat Rabu Tobat. Ibadat ini menjadi daya tarik sendiri, dimana antara lain ditampilkan drama kecil, pembicara dengan tema dan penyajian yang berbeda, baik dari dalam maupun luar gereja. Ibadat ini biasanya melibatkan rumah biara lain, imam Projo, susteran & frateran dll.
Kepedulian Dan Pelatihan
Kepedulian sosial GEMA ditunjukkan pula dalam kunjungan ke Panti Werdha, Rumah Yatim dan membagikan makanan ke anak jalanan. Dalam memupuk tunas kepemimpinan, secara rutin dalam lima tahun berturut-turut diadakan Student Leadership Camp. Tahun ini akan diadakan di Gambung ( 27/8- 2/9) dengan tema : Kepedulian. Camp ini terbuka bagi setiap mahasiswa katolik yang berada di dalam/luar Bandung. Berbagai pelatihan lain juga pernah diberikan GEMA, seperti pelatihan liturgi, fotografi, jurnalistik, videografi dan Ajaran Sosial Gereja( ASG). Terdapat kurang lebih 5000 mahasiswa katolik yang berada di Keuskupan Bandung. GEMA terbuka bagi siapa saja yang katolik dan mahasiswa. Tidak diperlukan persyaratan khusus dalam mendaftar. Kini, ada sekitar tiga puluh an mahasiswa yang aktif dalam kegiatan GEMA sehari-hari.
“Sejauh ini, biasanya mereka datang untuk membicarakan berbagai kegiatan yang direncanakan di KMK masing-masing universitas”, jelas Pastor Hendra. “ Ketika kegiatan di KMK berjalan seirama beriringan dengan program aktivitas yang berlangsung di GEMA, disinilah GEMA lebih bersifat sebagai Forum dan fasilitator”, papar Pastor Hendra, seorang ahli Teologi Kitab Suci.
Masalah internal seperti konflik keluarga, tantangan perkuliahan serta keprihatinan soal ekonomi kerap menjadi problematika yang dihadapi para mahasiswa. Sebisa mungkin GEMA berupaya mendampingi mereka dalam mencari solusi yang tepat. Interaksi atau sharing dengan senior bisa menjadi salah satu alternatif solusi yang baik, selain konseling dengan para pastor pendamping jika diperlukan.
“ Dewasa ini masih cukup banyak mahasiwa yang hanya fokus kepada bidang studinya saja, sehingga mengabaikan interaksi dalam belajar berorganisasi”, kata Pastor Hendra dengan nada prihatin. Namun pastor Hendra berharap, mereka datang ke GEMA bukan hanya untuk ngobrol saja, namun lebih sebagai tempat memupuk iman. Seiiring waktu, tradisi mingguan Morning Coffee ini bersinergi dengan CafĂ© du Croisier, acara dwibulanan ‘spiritual evening coffee’ dari biara OSC yang dikemas dengan presentasi, ngerumpi serta diskusi topik topik rohani yang menyengat jiwa muda.
( Rosiany T Chandra)

KTP Sapi

Heribertus Susilarto (40) hafal betul nama nama sapi yang diperahnya setiap pkl. 04.30 pagi dan pkl. 15.45 sore harinya. Tanpa menoleh pada papan nama yang tertera diatas setiap sapi yang ada di Pertapaan Trappist Rawaseneng, ia kenal dan akrab dengan Rani, Anas, Patricia dll, nama-nama sapi yang ada di sana.
Heri, demikian ia disapa rekan- rekannya, adalah pria sederhana yang putus sekolah hingga kelas 5 SD, karena ketiadaan biaya. Namun sehari-hari, bersama rekan-rekan yang lain, ia amat rajin dan disiplin sebagai pemerah susu. Kedua tangannya yang lincah dengan terampil memerah sapi, yang kurang lebih berjumlah 135 ekor di peternakan milik Ordo Cisterciencis Strictioris Observantiae (OSCO) yang terletak di daerah Temanggung- Jawa Tengah.
“ Lah saya tahu sapinya sudah dari bayi, jadi sudah hafal sama belang, ciri khas dan bentuk badannya”, demikian papar Heri ketika ditanyakan, bagaimana caranya ia mengenal sapi –sapi peliharaannya tersebut. “ Selain itu, kan saya bapaknya dan yang bikin KTPnya! “, candanya yang disambut gelak tawa rekan –rekan lain sesama pemerah susu yang ada di kandang peternakan yang di kelola dengan baik oleh para rabib disini.
Dua kali sehari, produksi susu siap di transport kepada para pelanggan di wilayah Temanggung dan Semarang. “ Setiap sapi menghasilkan kira –kira 7 ltr - 12 ltr susu setiap kali pemerahan”, ujar suami Sumiyati ini. “ Namun produksi susu bisa terhambat jika sapi stress, terutama ketika tidak mendapat cukup isitirahat siang”, imbuhnya kemudian. Oleh sebab itu, pada jam jam tertentu, seusai jam makan siang, dilarang bagi pengunjung untuk memasuki wilayah peternakan.
Sama seperti semangat spritualisme OSCO, ‘Ora Et Labora’, Heri pun rajin berdoa dan bekerja. “ Aku doa minta anak ”, ujar umat Paroki St Maria Rawaseneng ini dengan polos. Ia mengakui setelah dua tahun pernikahan, momongan yang mereka rindukan, belum kunjung datang.
(Rosiany T Chandra)
Telah dimuat di Apa & Siapa majalah HIDUP nr 35, Agusutus 2012

Kali Ini Bukan Bergaya Dengan Sutil

Indrawati Tjiptorahardjo
Malam itu, Memeng tidak sedang meramu atau mengaduk-aduk masakan dengan sutil di dapurnya yang luas. Indrawati Tjiptorahardjo, demikian nama lengkapnya memang sehari-hari punya hobby dan kecintaan khusus pada kegiatan masak memasak.
Namun malam itu ( 27/05/2012) ia tidak sedang beraksi dengan piranti masaknya , melainkan dengan stick dirigen di atas podium lobby Bale Pertemuan Bumi Sangkuriang, Bandung .
Dengan penuh penghayatan, Memeng menggerak-gerikkan stick dirigen tersebut kian kemari saat memimpin konser 150 siswa/i yang tergabung dalam Indra Music School, yang dipimpinnya. Mereka tampil dalam sebuah orkestra, masing –masing memainkan alat musik biola, piano, flute, gitar dsbnya. Konser ini merupakan acara tahunan yang digelar bagi murid-muridnya yang sudah giat berlatih sepanjang tahun.
Sejumlah lagu klasik dan modern telah dipersiapkan dan diaransemen Memeng, lulusan Piano Paedagogy, East Carolina University, USA ini bagi anak didiknya jauh hari sebelum jadwal pementasan. Tak heran bila akhirnya konser ini mendapatkan sambutan yang antusias dari kurang lebih 450 penonton yang memadati lobby Bumi Sangkuriang, sebuah country club yang telah berusia 133 tahun itu.
Selain mengajar di sekolah musiknya, Memeng juga pernah aktif sebagai organis di katedral maupun di parokinya, St. Laurentius, Bandung. “Saya tidak mengajarkan murid-murid berdasarkan kurikulum musik yang baku, melainkan berdasarkan fleksibilitas yang telah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing murid”, ujar Memeng yang masih menjabat sebagai ketua lingkungan dalam periode kedua ini.
( Rosiany T Chandra)
Telah dimuat di HIDUP edisi Juli 2012

Ungkapan Kasih Si Tampang Preman

Kim Hok sangat terharu ketika untuk kesekian kalinya ia bisa kembali menuntun ibunya sambil menatap Bunda Maria di Lourdes pada suatu senja di bulan April yang lalu.
“Ya Bunda, aku amat bersyukur masih dikasih kesempatan bisa hadir lagi disini bersama ibuku”, begitu gumamnya dalam hati saat berdoa menyapa Bunda Maria di tempat ziarah gua Maria –Lourdes. Sambil tetap menggamit pundak ibunya, diiringi sikap tubuh khusyuk membungkuk ia menyampaikan rasa terima kasihnya sambil tetap mengingat betapa banyak orang yang nasibnya tak seberuntung dengannya.
Lajang bernama lengkap Cornelius Kok Kim Hok ini memang gemar berziarah sambil berwisata, baik di dalam maupun ke luar negeri. Setiap kali bepergian, ia selalu mengajak ibunya, Maria Tju ( 78). Tak pernah sekalipun ia meninggalkan ibunya, entah itu sampai ke kutub utara sekalipun. Sehari-hari, tutur katanya pun sangat santun disertai hormat bakti terhadap segala keperluan ibunya. “Kan kasian Mama, dulu kami hidup serba susah. Jangankan bepergian, untuk membesarkan kami yang sembilan bersaudara pun sudah kumuh bergelimang peluh dan air mata”, ujar Kim Hok terharu! “Jadi sekarang saatnya ia menikmati hari tua bersama saya”, imbuhnya kemudian.
Sosok Preman
Penampilan sekilas pria pecinta pernik asesories ini memang tampak kontroversial. Watak dan hatinya lembut dan pengasih, namun sosoknya tak pelak lagi nampak garang a'la preman dengan segala atribut anting dan gelang yang menggelantung meriah. Namun ungkapan yang mengatakan “Jangan menilai sesuatu dari bungkusnya”, agaknya memang sangat tepat ditujukan bagi pria kelahiran 1955 ini. Terlebih ketika ia masuk ke dalam gereja. Sikap tubuhnya yang heboh itu sontak berganti dengan sikap hormat dan tulus yang tak dibuat-buat.
Jauh sebelum ia dibaptis pada tahun 1996 di gereja St. Paulus –Bandung, Kim Hok sudah rajin berdoa Novena dan membaca renungan rohani setiap malam. Saat itu ibu dan adik-kakaknya sudah menjadi katolik. Suasana doa dalam rumahnya memupuk imannya hari demi hari hingga membawanya menjadi seorang katolik, yang ia yakini sebagai sebuah panggilan bukan suratan takdir. "Sampai sekarang pun, kalau malam tak berdoa Rosario, seperti kerasa punya hutang!”, demikian ungkapnya diiringi senyum dan tawa lebar. “Sesulit apapun kendala yang dihadapi dalam pekerjaan, selalu ada jalan. Tak pernah sekalipun Ia mengecewakan saya”, aku pria yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga SD ini. Selain itu Bunda Maria selalu membantunya. Itulah yang senantiasa membangkitkan semangatnya untuk berziarah.
Berdagang Ikan Asin
Sejak masa kecil hingga 1990 ia tinggal di Garut. Bersama orang tua,ia hidup berdagang ikan asin. Kendati hidup prihatin, ia melawati masa kecilnya dengan bahagia. Sejak kecil Kim Hok memang gemar memasak. Hobby masaknya itu dapat ia salurkan kerna saat berangkat remaja ia bekerja pada sebuah catering di Garut. Disana ia banyak belajar tentang seluk beluk bisnis catering ini. Kemudian pada tahun 1992, Kim Hok hijrah ke Bandung. Disini ia mulai bergulat jatuh bangun dalam mengawali usaha jasa catering dengan mandiri kecil-kecilan. Tahun demi tahun berselang, usahanya membuahkan hasil serta berkembang pesat. Kim Hok melayani pesta dari pesanan 100 hingga 4000 orang. “Namun belum pernah untuk 5000 orang seperti Tuhan Yesus menyediakan roti dan ikan di bukit”, diiringi gelak tawa Kim Hok yang memang gemar bercanda.
Berkat Untuk Dibagikan
Kini, berkat rezeki yang dimilikinya, Kim Hok tetap hidup sederhana dan senang bisa berbagi sebanyak mungkin kepada sesama. “ Aku hidup sendiri, makan juga hanya sepiring nasi, buat apa aku berkat banyak-banyak kalau tak dibagikan kepada orang lain”, tuturnya dengan mimik serius. Pria yang punya hobby dansa ini serta merta menangguk kebahagiaan ketika bisa menyisihkan rezekinya bagi berbagai keperluan gereja, seperti: kasula, piala, madah bakti, monstran, perbaikan jalan salib dsbnya. “ Berbagi sesuatu kepada orang lain, tanpa melihat sisi materinya, bagiku adalah sebuah saluran ungkapan cinta kasihku kepada anak istri yang tak kumiliki”, gelak Kim Hok dengan santai. Selain itu ia menyampaikan bahwa saat muda, ia amat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tak sempat menikah. “ Kini serba tanggung juga untuk menikah”, katanya dengan raut wajah tanpa sesal sedikitpun.
Selain senang berbagi kepada para saudara dan keponakannya, kepada para karyawannya pun Kim Hok tak pelit dan selalu memperhatikan kesejahteraan mereka. “ Sehari-hari, sebelum saya keluar rumah, saya musti menyediakan makanan yang cukup bagi mereka. Kan kasian mereka tak bisa keluar rumah, sedangkan saya kan bisa makan dimana saja”, demikian paparnya sambil merapihkan gelang yang gemerincing di pergelangan tangannya. “ Pak Kim Hok adalah bos yang terlalu baik, kocak dan sangat dermawan”, kata Soleh, karyawan yang telah mendampinginya selama 16 tahun. “ Ia sangat cepat mengulurkan bantuan kepada korban bencana alam” tambahnya kemudian.
Sebaliknya kepada mereka, Kim Hok bersikap seperti kepada saudaranya sendiri. Oleh sebab itu kepercayaan yang ia berikan telah berbuah loyalitas masa kerja hingga belasan tahun. “Biarlah saya makan ikan peda, asal mereka boleh menikmati daging“, demikian umpama ilustrasi yang ingin ia ungkapkan tentang kepeduliannya terhadap karyawannya.
Tak Usah Dipikir
Saat musim sepi pesta pernikahan tiba ataupun di sela-sela kesibukannya ia bebas pergi berwisata kemana saja. Namun ia tetap mengutamakan ziarah kepada Bunda Maria dan ke biara-biara. Kecintaannya kepada saudara, keluarga dan para keponakannya demikian besar, sehingga ia menekankan pentingnya kebersamaan dan kerukunan dalam keluarga. Sehingga apa yang ia miliki adalah milik seluruh keponakan dan saudaranya juga. Hal ini dibuktikan dengan kunci rumahnya yang dimiliki oleh seluruh keponakan-keponakannya. Mereka bebas tinggal dengan leluasa di rumah Kim Hok yang luas. “Saya sudah merasakan sendiri betapa tak enaknya hidup dalam kondisi serba kekurangan, oleh sebab itu saya gemar memberi kepada siapa saja yang memerlukan”, demikan pengakuannya ketika disinggung tentang kedermawaannya.
Di hari tuanya ia tak bercita apa-apa. “Biarkan semua mengalir dan jalanin saja, yang penting aku tetap bisa memberi dan berbagi”, harap Kim Hok. Ia percaya Tuhan yang akan mengatur, dus tak usah dipikir panjang.
( Rosiany T Chandra)
telah dimuat di HIDUP no 29/Juli 2012