Sabtu, 31 Maret 2012

Lila, sang penari


Peluh masih bercucuran menetes dari dahinya yang putih mulus. Ia menyekanya dengan lap handuk kecil yang selalu dibawanya, baik pada saat latihan maupun kini, di sebuah club dansa yang rutin dikunjunginya.

Lila membungkuk sambil membenarkan tali sepatu dansanya. Sorot matanya memancarkan keletihan, namun seberkas kepuasan membias dibalik binar bola matanya. Ia baru saja selesai berdansa dengan salah satu muridnya. Wajahnya tak menyiratkan usia yang sesungguhnya, apalagi sintal tubuhnya. Lila baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh lima. Seiiring itu, lagu berirama tango, La Cumparsita terdengar dengan gagah membahana yang dimainkan oleh House Band disana.

Lila menyenderkan tubuhnya di kursi sambil meneguk anggur merah yang baru saja dituangkan pelayan kedalam gelasnya. Sembari mengamati murid-muridnya yang berlatih dansa, kakinya masih ikut bergoyang-goyang mengikuti irama lagu Tango tersebut. Hampir dua tahun terakhir, ia memang dibantu oleh dua orang asisten. Kendati staminanya masih prima mengajar pagi dan sore di studionya, kehadiran dua asistennya telah banyak meringankan pekerjaannya sebagi guru dansa .

Sesekali ia berdiri dari pojok ruangan dansa untuk sekedar memanjangkan lehernya yang sudah jenjang guna mengamati setiap pasangan murid yang sedang berdansa. Malam itu ia berdandan sedikit istimewa. Namun rambutnya tetap ia cepak sebagai ekor kuda, khas gaya seorang penari. Hanya anak-anak rambut yang sedikit menghiasi keningnya. “ Kakinya masih kurang nutup tuh”, ujarnya kepada Dedi, salah satu asistennya, sambil menunjuk kepada salah seorang murid. Ia berharap Dedi segera memperbaikinya nanti pada jadwal latihan biasa. Hari itu, setiap Jumat malam adalah saat yang ditunggu –tunggu oleh para murid Lila. Mereka semua boleh tampil dengan pasangan masing-masing setelah giat berlatih sebelumnya. Bagi yang tak mempunyai pasangan, bisa berlatih dengan Dedi atau Adang. Mereka siap dengan sabar dan sepenuh hati membagikan ilmunya.

Di pojok sebelah sana, sekelebat sepasang pedansa mampir di penglihatannya. Pencahayaan di arena dansa itu memang agak redup, sehingga Lila tak bisa melihat dengan jelas kedua penari itu. Mereka menari dengan sangat indahnya, sesuai dengan beat irama tango yang menghentak-hentak bak hendak berperang. Lila hafal gerakan tubuh si pria. Sejenak Lila terhenyak. Ya, dia pasti Wilan…dia pasti Wilan, gumamnya di dalam hati. “ Ya pasti”, tanpa sadar ia berucap. Dedi, yang duduk disampingnya spontan berkata: “ Ya bu, pasti akan saya latih lagi, biar kakinya nutup”. Spontan Lila melirik ke arah Dedi sambil tergelak : “ Baiklah, terima kasih”, tanpa mengungkapkan kegusaran hati yang sebenarnya kepada Dedi. Ia merubah sikap duduknya untuk menutupi gejolak hatinya yang sedikit rusuh. Dedi masih tetap dengan mimik serius menanggapi instruksi induk semangnya.

Wilan pernah menjadi partner dansanya selama delapan tahun. Berbagai kompetisi di dalam dan di luar negeri pernah mereka menangkan. Lila dan Wilan adalah pasangan dansa nasional yang disegani untuk kategori International Ballroom. Mereka berlatih dan bekerja secara professional. Saat itu, suami Lila mendukung penuh prestasi istrinya. Demikian pula halnya kenyataan yang ada pada istri Wilan. Pasangan pedansa ini ditemukan oleh guru dansa mereka bersama, seorang Belanda totok yang tak pulang ke negerinya pada zaman revolusi, setelah menikahi seorang Nyai dari tatar Sunda.

Kedekatan secara fisik sudah harus terjadi pada saat berdansa. Tanpa kendali kontak fisik, tak mungkin seorang pedansa akan memaklumi instruksi dari pasangan dansanya. Wilan dan Lila saling melengkapi dalam berdansa. Setiap kontak mata mengisyaratkan sesuatu. Prestasi demi prestasi pun diraih mereka. Di luar arena dansa, mereka jarang berkontak. Meski demikian, mereka tetap menjalin kedekatan dalam berlatih, sehingga apabila setiap sentuhan ataupun hentakan ringan yang diberikan oleh Wilan, Lila sudah faham betul, gerakan apa yang diinginkan Wilan untuk ia peragakan. Apa yang sering disebut orang body language itu sudah mendarah daging pada pasangan dansa yang ditakuti oleh lawan-lawan mereka pada zaman itu.

Sambil tetap memegang handuk kecilnya, Lila tampak sudah lebih nyaman dengan dirinya. Matanya masih menerawang jauh dan pikirannya masih berputar-putar. Kakinya sudah tak bergoyang- goyang lagi walau musik masih tetap mengalun, berubah ke irama waltz yang mendayu-dayu . Sejak usia balita, Lila sudah berlatih balet. Penghayatan akan setiap gerakan membuatnya terlatih menjadi seorang yang sangat sensitif dan peka. Pernah suatu kali ia bertanya kepada Adang:” Dang, kenapa ya, kita ini sering sulit dimengerti oleh orang lain? “ “ Bu Lila, mungkin karena kita bahasanya body language ya? “, timpal Adang dengan polosnya. Mereka tergelak geli bersama sore itu. Sejak suami Lila berpulang tiga tahun yang silam, Lila memang mencurahkan seluruh waktunya kepada studio dansanya.

Nenek dari tiga orang cucu yang sudah remaja ini, semakin menikmati passion dansanya sambil mengajar. Dua orang anaknya sudah menikah. Yang sulung seorang dokter, si bungsu adalah seorang pelukis. Terutama ia amat bangga kepada si bungsu yang mewarisi darah seninya. Di sisi lain, ia kagum juga kepada profesi putri sulungnya. Ia akui, ia bukan lah seorang kutu buku. Imaginasi dan perasaannya lebih bermain daripada segala hafalan istilah kedokteran.

Sorot matanya tetap tak lepas dari gerak tubuh Wilan dan pasangannya yang masih berdansa. Lila tak mengenal pasangannya itu. Namun Lila tak peduli, ia tampak menikmati dansa mereka…Gerakan Wilan masih tetap sempurna seperti dulu. Pasangannya juga mengimbangi kemahiran Wilan dengan luwesnya. Kendati ia tetap bangga kepada Wilan, tak urung ada perasaan sedih yang menyesak dadanya saat itu. Untuk menutupi kegelisahan hatinya, ia beranjak mengambil mantel untuk menutupi tubuhnya yang tiba- tiba berkeringat kembali. “ Bu Lila, mending duduk disini”, ujar Dedi mempersilahkan tempat duduknya kepada Lila, sambil berfikir bahwa induk semangnya kena angin malam. “ Oh..tak apa-apa”, jawab Lila terkejut.

Hampir tiga tahun sudah berlalu, sejak terakhir Lila menjadi pasangan Wilan. Saat itu, Lila sibuk mengurus suaminya yang sedang sakit parah dan kemudian pergi menghadapNya. Untuk beberapa bulan, Lila vakum dari dunia dansa. Tidak seperti pada sebuah perkawinan. Tidak ada perjanjian tertulis yang mengatakan seorang partner dansa harus setia kepada pasangannya. Dengan berat hati, Lila mengatakan kepada Wilan, agar ia mencari seorang partner dansa yang baru. Menunggunya adalah mustahil saat itu, karena situasi dan kodisi suaminya yang tak menentu. Lila masih ingat ujar Wilan saat itu:” Uruslah suamimu, aku akan menunggu”. Lila amat terharu pada saat itu akan kesetiaan Wilan.

Satu tahun berlalu, suami Lila akhirnya tak tertolong. Lila amat terpuruk kehilangan suami yang dikasihinya. Suami Lila tak gemar berdansa, namun ia amat menikmati ketika melihat istrinya lincah menari balet. Itulah kisah awal mengapa ia jatuh cinta kepada Lila. Lila juga amat menghormati Otto, suaminya, serta menghargai kepercayaan yang telah diberikan almarhum. Hanya pedih dan duka yang ia rasakan berbulan-bulan kemudian. Sejurus berselang, tak ada berita dari Wilan. Diam-diam Lila masih tetap berharap, satu waktu bisa kembali berdansa dengan Wilan.

Seiring waktu, terbetik kabar bahwa Wilan telah pindah ke luar kota. Dengan seorang teman, ia membuka studio dansa disana. Lila amat menyayangkan, hingga kini Wilan tak pernah pamit kepadanya. Lila ingin segera menghampiri Wilan. “Bu Lila, ayo turun”, suara Dedi mengajaknya, sehingga membuyarkan seluruh lamunannya. “ Siap!”, balas Lila serta merta. Sesaat kemudian, mereka sudah berada di lantai dansa. Kaki mereka dengan lincahnya mengikuti alunan musik waltz yang seakan datang bergelombang seperti pasang dan surut di bibir pantai. Ketika gerakan tarian mereka melewati Wilan, sekonyong-konyong sorot mata Lila dan Wilan bertemu. Lila dan Wilan sama-sama terhenyak. Serentak mereka masing-masing terpaku diam. Baik Dedi, maupun pasangan Wilan hampir tersandung gara-gara mereka berhenti tiba-tiba.

Lila dan Wilan berhamburan dalam pelukan. Tak sedikitpun ada rasa kecewa di hati Lila, ditinggal Wilan. Dedi dan pasangan Wilan, bingung memperhatikan apa yang terjadi saat itu. “ Aku senang sekali menemukan kamu disini”, bisik Lila pada Wilan, sambil tetap merangkul erat Wilan. Kontak fisik itu masih saja terasa seperti dulu. Bahkan seandainya Lila menutup mata sekalipun, ia sudah hafal benar kalau sosok itu adalah Wilan. “Maafkan aku ya Lila, tidak meminta izin padamu, saat aku mulai berpartner dengan pasangan ku ini”, bisik Wilan masih di telinga Lila. “ Aku takut melukai hatimu”, sambung Wilan selanjutnya. “ Kamu mau kan memaafkan ku?”, pintanya sekali lagi. Tak ada kata-kata yang bisa terungkap dari bibir Lila saat itu. Airmatanya deras mengalir di pipi saat itu. Ia terisak. Ia ingin berkata-kata, namun kerongkongannya seperti tersumbat. Namun Lila yang masih berada di pelukan Wilan, mengangkat dagunya dan menatap ke arah Wilan. Dalam bening bola mata Lila, terpancar sebuah maaf yang tak bertepi..seluas samudera. Wilan tahu persis apa arti kontak mata dari Lila saat itu. Hatinya lega sudah. Sebuah batu yang menghimpit selama ini, tiba-tiba seperti terangkat. “ Kenalkan, ini Wilan, partnerku dulu”, ujarnya kepada Dedi. Wilan juga segera memperkenalkan partnermya, Niken kepada Lila.

Terngiang sebuah kutipan di telinga Lila yang mengatakan: Banyak jalan pintas untuk mendapatkan kebahagiaan, salah satunya adalah berdansa.

Hari itu , Lila belajar bahwa pernyataan itu tidak sepenuhnya benar. Tak jauh berbeda seperti kehidupan suami istri, dalam berdansa sekalipun, kesedihan kerap datang menghampiri. Itupun tanpa keterlibatan emosional atau kehadiran cinta antara mereka berdua. Kesedihan dan kebahagian memang sudah saling memiliki, tak terhindari, dimana pun mereka berada dan tak terbatas, pada dunia dansa juga.( Rosiany T Chandra)

Rabu, 29 Februari 2012

Salib Sebagai Sumber Hiburan Dan Kekuatan


Sekitar lima (5) tahun yang lalu, saya berkunjung ke sebuah biara
imam-imam OSC di kota Uden, Belanda. Setelah makan siang bersama, ada seorang pastur tua yang mengajak saya dengan berkata: "Mari, kita pergi ke kamar saya. Disitu kita bisa merokok dengan santai, tanpa mengganggu siapapun!" Nampaknya kami mempunyai hobi (jelek) yang sama.
Di antara kepulan asap, pastur tua itu tiba-tiba bertanya: "Coba kamu amati dua salib yang terpajang di dinding kamar saya itu. Apa beda diantara keduanya?" Sekilas saya pandang kedua salib itu: salib yang satu itu mempunyai "corpus" (tubuh) Yesus; sementara yang lainnya itu salib yang kosong atau polos: tak tergantung siapapun pada palangnya. Maka saya menjawab: "Salib yang mempunyai "corpus" itu adalah salib Katolik, sementara salib yang kosong itu adalah salib versi Protestant." Mendengar jawaban saya semacam itu, pastur tua itu lalu berkomentar: "Jawaban kamu lucu, tapi kurang bermutu. Perbedaan diantara kedua salib itu bukanlah perbedaan antara Katolik dan Protestant! "Ooh, begitu," ujar saya, "lalu apa bedanya dong?"
Setelah mengisap serutunya dengan nikmat, pastur tua itu lalu berkata lagi: "Salib yang dengan 'corpus" itu adalah Salib Kristus. Setiap malam saya berdoa sambil memandang salib itu untuk mencamkan dalam hati bahwa Kristus begitu mencintai saya hingga IA rela menderita dan mati agar saya lepas dari kuasa dosa dan maut. Sebaliknya, salib yang kosong itu adalah salib saya sendiri. Setiap malam, saya menggantungkan emosi saya, meletakkan perasaan saya pada salib kosong itu, khususnya rasa sedih dan susah yang saya alami pada hari itu. Dengan cara itu, saya merasa seolah-olah saya itu tergantung dekat dengan Yesus, serasa saya itu senasib-sepenanggungan dengan Yesus sendiri. Ringkasnya, justru kalau saya itu sedih dan susah, saya itu sungguh merasa dekat dengan Yesus, dan menimba hiburan serta kekuatan langsung daripadaNYA."
Saya terkesan dengan kisah pastur tua itu. Salib itu bukan hanya sekedar lambang atau hiasan belaka melainkan suatu ajakan untuk bisa hidup lebih dekat dan akrab dengan Yesus, Tuhan dan Junjungan kita. Kita sering berkata bahwa salib itu berarti penderitaan. Namun sebetulnya tidak setiap dan tidak semua penderitaan itu pantas disebut "salib hidup." Penderitaan itu hanya bisa disebut "salib" bila menjadi suatu ajakan dan kesempatan untuk makin mendekati Yesus, menjadi solider denganNya yang telah rela menderita demi cinta bagi manusia. Salib adalah penderitaan yang diresapi oleh rasa dan suasana cintakasih.

Keunikan iman Kristiani ialah melihat penderitaan bukan sebagai suatu beban melainkan sebagai suatu jalan, bukan sebagai suatu kutukan melainkan suatu kesempatan untuk mengungkapkan cinta kita kepada Allah dan sesama manusia. Yesus bersabda bahwa setiap orang itu "harus memikul salibnya setiap hari dan MENGIKUTI AKU." (Lukas 9: 23). Penderitaan itu hanya mempunyai nilai rohani, hanya menjadi "salib" kalau membawa kita kepada Yesus, mendekatkan hati kita dengan HatiNYA yang bersimbah dengan cintakasih. Dengan cara itu, "salib kita" bisa
menjadi suatu cara untuk berpartisipasi dalam "Salib Kristus", yakni salib sebagai sumber hiburan dan keselamatan.

Kisah tentang seorang ibu muda berikut mungkin bisa menjadi contoh tentang apa artinya berpartisipasi dalam Salib Kristus itu.

Seorang ibu mengandung untuk pertama kalinya. Saat usia kehamilannya mencapai tujuh bulan, analisa medis mengatakan bahwa janin yang dikandungnya adalah janin yang bercacat. Kemungkinan besar, janin itu akan meninggal saat ia dilahirkan; dan andaikan ia selamat dari proses kelahiranpun, seumur hidupnya bayi itu akan tumbuh menjadi seorang anak yang cacat, sakit-sakitan, dan terus menderita. Mendengar hasil diagnosis semacam itu, rasa panik dan sedih langsung melanda hati ibu
itu. Apa yang harus ia lakukan? Banyak pihak menyarankan agar ibu itu menggugurkan saja bayi yang tengah dikandungnya itu. Alasannya, kerna bayi itu kelak hanya akan tumbuh sebagai bayi yang menderita dan tak berguna. Tambahan lagi, kedua orang tuanya bukanlah orang yang berada. Rumah saja harus mereka kontrak! Dari mana bisa mendapat biaya untuk
merawat anak yang kelak akan sakit-sakitan sepanjang hidupnya itu? Bahkan ada yang berbisik: "Gugurkan saja janin itu. Kamu kan masih muda. Jadi masih banyak kesempatan untuk hamil lagi dan mendapatkan anak yang sehat di kemudian hari!"

Perang batin berkecamuk dalam hati ibu itu. Namun setelah berdoa dan berunding bersama suaminya, keduanya memutuskan untuk terus melahirkan anak itu, apapun resikonya! Betul saja: setelah lahir, bayi itu tak pernah bisa lepas dari kesakitan dan perawatan obat serta rumah sakit. Kedua orang tuanya sungguh harus berjuang untuk menyelamatkan nyawa bayinya dan menyelamatkan nafkahnya sehari yang pas-pasan!
Pada saat bayi itu berusia empat (4) tahun, seorang dokter ahli bedah otak tertarik pada kasusnya. Ia lalu menawarkan untuk mengoperasi bayi itu dengan biaya gratis. Operasi itu bisa mengurangi rasa sakit yang dialami bayi itu setiap hari, kendati tidak total memulihkan kesehatannya. Dokter itu juga lalu berusaha ikut membantu meringankan beban orang tua bayi itu dengan memberi sumbangan berkala untuk membeli obat-obatan. Ketika dokter itu ditanya mengapa ia terdorong untuk membantu keluarga muda itu, maka ia menjawab: "Hati saya tergerak oleh cinta ibu itu akan bayinya yang cacat. Ia sungguh berjuang mati-matian demi menyelamatkan jiwa anaknya. Semoga ia kelak mempunyai anak lain yang sehat sebagai balas dari cinta dan pengorbanannya!"
Ibu itu kini telah melahirkan anak kedua yang yang sehat dan lucu. Ia berkata bahwa anak kedua itu sungguh rahmat Allah yang membahagiakan hidupnya, Namun, katanya lirih, "Anak yang pertama itu sungguh buah hati saya. Saya mencintainya dengan segenap jiwa raga saya!" Salib yang ditanggung ibu itu telah membuat hatinya merekah penuh kasih sayang. Ia sungguh berpartisipasi dalam Salib Kristus: salib yang meluap dari rasa cinta untuk menyelamatkan nasib manusia. (ditulis oleh Pastor Agus Rachmat OSC)

Saya sangat suka tulisan yang menguatkan ini, sehingga saya unggah ke blog atas izin penulis

Kamis, 26 Januari 2012

INTRODUKSI GRAPHOLOGY



Graphology adalah ilmu yang mempelajari tentang analisa tulisan tangan untuk mengintepretasi karakter dan kepribadian seseorang, termasuk ’identitas’ diri seseorang.

Graphology merupakan alat tes kepribadian yang sangat sederhana dan tidak bias. Menulis adalah gerakan motorik yang dihasilkan oleh kontraksi sistem syaraf dan otot, yang merupakan refleksi dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar manusia. Pikiran sadar akan mengatur apa yang ditulis sedangkan pikiran bawah sadar akan mengatur cara tulisan tersebut dibuat. Oleh karena itu, tulisan tangan merupakan cerminan dari pikiran, suasana hati, spontanitas dan cara pandang seseorang tentang keseluruhan lingkungannya.

Beratus-ratus tahun yang lalu, Aristoteles membagi manusia ke dalam tiga aspek yaitu body, mind and spirit atau sekarang lebih dikenal dengan istilah physical, mental and emotional dan graphology dapat mengintepretasi ketiga aspek tersebut. Wujud fisik manusia adalah identitas tentang seseorang, sama seperti DNA, sidik jari , tanda tangan ataupun tulisan tangan. Tulisan tangan dan tanda tangan seseorang adalah unik dan tidak mungkin sama dengan tulisan tangan orang lain sehingga bila tulisan tangan kita dimasukkan ke dalam ratusan tumpukan tulisan tangan orang lain, kita akan dapat mengenali tulisan tangan atau tanda tangan kita sendiri.

Yang dapat diketahui melalui graphology tentang body/physical adalah kesehatan penulis, keadaan tertentu seperti ketergantungan pada obat-obatan atau alcohol dan juga dorongan fisik yang dimiliki oleh penulisnya (termasuk kecenderungan agresif, kasar dan dorongan sexual) Graphology akan berbicara mengenai kepandaian dan kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh seseorang ketika dihubungkan dengan aspek mind/mental. Mengapa demikian? Manusia memiliki kepandaian untuk menggunakan simbol-simbol tertulis sebagai alat komunikasi dan tidak ada mahluk lain memiliki kepandaian tersebut.

Jika anda memberikan pulpen kepada seekor kera, kera tersebut tidak akan mampu menggunakan coretan yang dihasilkan untuk berkomunikasi dengan kera yang lain. Itu sebabnya, kepandaian seseorang akan terdeteksi melalui tulisan tangannya dan di dalamnya termasuk juga cara berpikir, kemampuan untuk merespon perubahan situasi, minat dan bakat yang sesuai, kejujuran, dan itikad baik dalam diri seseorang.

Sedangkan untuk aspek spirit/emotional, graphology memberikan informasi mengenai cara pandang seseorang tentang dirinya, masa lalu, masa depan serta caranya memandang orang lain sebagai kesatuan lingkungannya. Informasi tersebut meliputi, seperti: penghargaan terhadap diri sendiri, visi dan misi, orientasi dalam hidup, interaksi sosial, kejujuran, depresi, trauma masa lalu, ketelitian, keinginan untuk mencapai tujuan serta cara yang digunakan untuk mendapatkan tujuan dan masih banyak karakter lainnya.

Dalam organisasi, Graphology dapat membantu untuk melakukan penilaian baik terhadap pekerjaan maupun individu pemegang jabatan/kandidatnya. Sehingga, dasar penentuan apakah seseorang tepat berada di posisinya atau tidak akan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan tersebut dan dapat dievaluasi dengan menggunakan alat yang sama.

Disisi lain, penggunaan graphology dapat diterapkan kepada anak-anak dalam waktu yang sedini mungkin. Kita coba untuk merubah kebiasaan dan kepribadian anak kita, karena mereka adalah harta yang berharga.
Pertanyaannya kemudian apakah graphology sebagai cerminan dari pikiran dan kepribadian kita dapat memberikan solusi untuk merubah kebiasaan serta kepribadian seorang anak? Jawabannya adalah YA.

Dengan merubah cara anak anda menulis maka kita merubah “komputer” yang dimilikinya menjadi lebih pintar dan metoda untuk merubah cara anak anda menulis dikenal dengan istilah “Grapho-theraphy”. Para psikolog di Amerika juga telah menerapkan grapho-therapy lebih dari 30 tahun lamanya dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa grapho-theraphy adalah metoda yang tercepat, termudah dan terbaik untuk merubah perilaku/kebiasaan seseorang.

Selain dapat memberikan gambaran mengenai kepribadian anak, graphology juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal di dalam kehidup manusia. Antara lain ia dapat memainkan peranan yang menarik dalam strategi penyelesaian yang efektif diantara dua individu yang memiliki kepribadian yang berlainan.

Hasil analisa graphology dapat pula digunakan dalam mengetahui titik-titik keunggulan seseorang maupun kekurangannya. Sehingga secara dini, analisa bisa dimanfaatkan sebagai acuan bagi pemilihan lingkungan yang akan mengembangkan serta mendukung potensi seseorang ataupun lingkungan yang akan mengurangi dampak kekurangan tersebut.(Rosiany T Chandra, Master Of Graphologist)

Kamis, 29 Desember 2011

Pastor ala IL Divo


Keakraban yang terjalin diantara para alumni KEP Paroki St Laurentius - Bandung bukan hanya telah menghangatkan persahabatan antara mereka, melainkan juga telah melahirkan suatu idea kreatif untuk memberikan sesuatu yang unik bagi gereja. Karena itu terbersitlah sebuah rencana untuk menggelar suatu Charity Concert yang mengusung nama Opera van Santa Claus.

Opera van Santa Claus ini telah sukses diselenggarakan di The Venue Hall Eldorado - Bandung pada tanggal 15 Desember yang lalu. Tak kurang dari 1500 karcis habis terjual dari target semula 1000 karcis. Habisnya karcis ini bahkan terjadi beberapa minggu sebelum hari H. Jumlah sebanyak ini sama sekali tak diduga oleh panitia yang seluruhnya berjumlah 84 orang.
Rupanya banyak penonton tergelitik untuk menyaksikan acara yang didukung oleh 250 orang pemain ini, karena mereka secara khusus ingin melihat gaya dan gerak delapan orang pastor yang ikut tampil dalam opera yang diramu dengan kocak dan heboh ini. “ Saya ingin menyaksikan bagaimana beda pedampilan pastor di mimbar dan di
pentas!”, ujar Ibu Linda sambil tergelak-gelak saat ditanya alasannya
ikut menonton.

Memang yang menjadi pelakon utama dengan dialog live ini adalah Pastor Eko Wahju, OSC yang berperan sebagai Santa Claus, sedangkan Pastor Bayu Ajie, Pr adalah dalang dari Opera yang dirancang oleh Project P ini. Ketika banyak umat yang memuji acting Pastor Eko yang jenaka, ia berujar: “ Melalui gaya Poject P yang segar ini, sabda Yesus tetap dikumandangkan dan dimuliakan”. Sedangkan Pastor Bayu yang memang seorang pecinta wayang, telah berhasil memadu kepiawaiannya dalam mendalangi sang Santa dalam berpetualang untuk membagi-bagikan kado kepada berbagai lapisan masyarakat. Selain itu Pastor Budi Wibowo, OSC dengan tak kalah lucu dan imutnya mampu beradu acting dengan Cindy Bernadette yang hadir sebagai bintang tamu, disamping penyanyi Once dan group musik D’Cinnamons.

“ Tiketnya terjangkaulah”, ujar Mario yang mengeluarkan Rp.15.000,-untuk datang menonton tampilan teman-temannya dari PSM Unpar. “Kami sengaja mematok harga tiket VVIP, seharga Rp.250.000,- guna menutupi kesenjangan bagi tiket umum tersebut”, papar Bu Nanoet sebagai ketua panitia. “ Agar lebih banyak orang bisa ikut ambil bagian dalam usaha penggalangan dana demi persiapan pemekaran gereja St. Laurentius”, demikian imbuhnya ketika ditanyakan tujuan diadakannya malam sosial ini.

Selanjutnya di puncak acara, lima orang pastor tampil di pentas dengan koreografi ala gaya panggung Il Divo, sehingga penampilan mereka dengan baju ordo yang khas bernuansa hitam putih merah tersebut telah mengundang tepuk tangan riuh penonton yang mendapati pastor mereka kali ini tampil dengan sensasi yang berbeda. Para pastor dari Ordo Salib Suci ini dengan serius telah berlatih untuk menyuguhkan karya Mozart, die Zauberfloette ke atas panggung.

“Opera Van Santa Claus ini selain sebagai ajang untuk saling
mengeratkan keluarga KEP, juga bertujuan untuk menggugah peran serta OMK, dan berbagai kelompok koor, sekaligus juga keterlibatan para pastor, yang menunjukkan bahwa kepedulian terhadap gereja adalah menjadi tanggung jawab kita bersama”, demikian sampai Pastor Yulius Hirnawan, OSC dari St. Laurentius. (Rosiany T Chandra)

LIONS CLUB INDONESIA


Lions Club adalah sebuah organisasi non-pemerintah terbesar berskala internasional yang berdiri sejak tahun 1917 di Oak Brook, Illinois, USA. Saat itu sejumlah club independen menanggapi secara positif gagasan Melvin Jones – seorang agen perusahaan asuransi, untuk mempersatukan diri mengabdi pada tugas-tugas kemanusiaan tanpa mempersoalkan politik, agama, kebangsaan dan kepentingan pribadi para anggotanya. Lalu terbentuklah sebuah organisasi, tempat dimana berkumpul orang-orang yang dipersatukan oleh semangat kebersamaan tadi dalam memberi dan berdedikasi untuk menolong sesama. Seiiring dengan berjalannya waktu, Lions Club kini telah berkembang menjadi empatpuluhenamribu club dengan jumlah 1,46 juta anggota yang tersebar di 206 negara di dunia.

Lions Club Indonesia lahir pada tanggal 18 November 1969. Kini, kurang lebih tercatat 5500 anggota dari empat distrik yang terdiri dari sejumlah club-club yang tersebar di banyak kota-kota di Indonesia, termasuk kota Bandung.

AKTIFITAS

Di Bandung terdapat sebelas Lions Club, yang dikoordinir oleh seorang ketua wilayah. Hak otonomi yang diberikan kepada setiap club serta kebijaksanaan untuk mengkonsentrasikan kegiatan pada pengabdian yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, menyebabkan masing-masing club mempunyai keunikan sendiri-sendiri dalam bentuk pelayanan bakti sosialnya. Salah satu contoh kegiatan dari Lions Club Bandung Lestari yang saat ini sedang dilaksanakan adalah kepedulian pada kebutaan/penglihatan. Para Lions membaktikan dirinya secara sukarela menjaring anak anak SD (dari sekolah yang kondisinya memprihatinkan) dalam pemeriksaan mata gratis, serta menyediakan kacamatanya sekaligus. Selain itu, beberapa club lain mengkhususkan diri pada pembinaan anak asuh, pemberian gizi berupa makanan tambahan pada balita di beberapa posyandu. Kemudian ada club yang memfasilitasi pengumpulan massa untuk pendonoran darah, ataupun pada penghijauan alam serta pengadaan fasilitas MCK serta saluran air bersih.

Disamping kegiatan rutin tersebut, Lions Club juga tanggap mengulurkan bantuan berupa kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan atas bencana alam yang terjadi, seperti pada saat banjir dan gempa yang melanda Indonesia beberapa waktu yang lalu. Untuk menggalang kebersamaan dari beberapa club yang ada di Bandung, dari waktu ke waktu, diadakan pula kegitan pelayanan bersama berupa operasi bibir sumbing, sunatan massal serta pemberian kaki palsu bagi korban bencana/kecelakaan.

MOTTO LIONS

Aktifitas pelayanan yang dilakukan Lions adalah sesuai dengan yang termakna dalam kata LIONS itu sendiri : L= Liberty, I=Intelligence, O=Our Nation’s, S= Safety, yang artinya adalah Untuk Kebebasan, Kecerdasan dan Keselamatan Bangsa dan Negara kita. Dengan memilih motto ‘We Serve’ atau ‘Kami Mengabdi’, kiranya setiap pribadi Lion menjadikan lambang tersebut sebagai simbol kebanggaan dalam setiap pelayanan yang mereka berikan pada masyarakat.

Pada umumnya setiap orang yang mempunyai semangat pelayanan, baik pria ataupun wanita yang memiliki kepribadian yang baik dan reputasi yang terpuji didalam masyarakat dapat menjadi anggota Lions Club. Namun keanggotaan di dalam Lions Club hanya dapat diperoleh berdasarkan undangan/sponsor dari seorang Lions.

Dana yang diperlukan bagi berbagai kegiatan sosial tersebut, dihimpun dari berbagai kreatifitas acara penggalangan dana yang diselenggarakan masing-masing Lions Club, seperti pertandingan charity golf atau acara hiburan lainnya. Dana yang terkumpul di kas sosial akan disalurkan secara aktif dan bertanggung jawab kepada berbagai proyek demi membangun kepentingan umum dalam peran serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan tanpa membedakan latar belakang budaya, suku dan golongan.( Rosiany T Chandra)

WULAN, JANGAN MENYERAH!


Pada awalnya saat membaca judul buku "Wulan, Jangan Menyerah," pembaca tentu menduga bahwa Wulan adalah sosok seorang wanita muda dan ceria. Ternyata Wulan yang dimaksud adalah singkatan dari "Warga Usia Lanjut." Buku ini berisi sepuluh kisah nyata dari para WULAN tersebut yang ditulis oleh Ny. M. A. S. Teko, seorang aktifis wanita katolik yang telah sepuh. Sehari sebelum HUT nya yang ke 80, pada tanggal 8 Oktober 2011, telah diadakan acara bedah buku tersebut di Gedung Wanita, Jl. RE Martadinata, Bandung. Bu Teko, demikian ia akrab disapa, adalah ibu tujuh orang putera puteri yang bersuamikan bapak F.X. Teko Sukarmin, seorang pensiunan polisi.

Buku ini ia tulis dengan tujuan untuk memberi nasehat serta memotivasi anak cucu serta menyapa siapa saja, terutama warga usia lanjut, agar dalam perjalanan hidup tetap memiliki tekad untuk berbudi luhur dan jujur sekaligus tidak cepat menyerah. “ Bukan matahari terbit saja yang indah, namun suasana matahari terbenam pun punya gaya dan pesonanya sendiri”, demikian pesan yang disampaikan bu Teko, ketika mengibaratkan peran Wulan dalam siklus hidup alami. Selain itu, Bu Teko juga terinspirasi oleh tulisan Ruslan Abdulgani di sebuah media cetak beberapa tahun yang lalu, yang mengatakan bahwa secara alami, segala ciptaan Tuhan pasti menua, demikian pula daun-daun hijau akan mengering, namun tetap bisa menjadi pupuk yang subur pada akhirnya.

Untuk mengisahkan perjuangan serta produktivitas mereka, Bu Teko yang hingga saat ini masih aktif sebagai direktris dari LPIP (Lembaga Pendidikan Indonesia Perancis), di dalam bukunya bercerita tentang sepuluh pribadi wulan yang layak menjadi contoh agar pedoman hidup : “Aku sanggup- Aku bisa” bisa memotivasi siapa saja agar tetap produktif di usia senja.

Selain masih tetap mengajar public speaking di lembaga pendidikan miliknya, Bu Teko adalah pendamping serta pengasuh para tuna netra dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi serta kepercayaan diri mereka. Selain itu ibu yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris ini adalah seorang mantan pembawa acara langganan Pemda kota Bandung bagi tamu-tamu agung dari dalam maupun luar negeri. Kini Bu Teko, umat paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria- Buah batu, Bandung ini juga masih aktif di berbagai organisasi seperti Wanita Katolik, Legio Maria, disamping memberi berbagai pelatihan baik di dalam maupun luar kota. Disamping itu, untuk kebugaran tubuhnya, ia masih bermain tenis serta sesekali masih bertanding dalam suasana persahabatan ke luar kota.

Sepertinya semangat Tidak Cepat Menyerah, Aku Sanggup, Aku bisa, yang tertoreh dalam sepenggal puisi di dalam buku inilah, yang ingin ia bagikan kepada kita semua, khususnya warga lanjut usia.( Rosiany T Chandra)

Pastor Leo Van Beurden, OSC TAK PERNAH DIDOAKAN, TAK PERNAH DIMIMPIKAN


Barangkali kita masih belum lupa, bahwa pada hari Jumat, 29 April 2011 lalu adalah hari perkawinan Pangeran William dengan Kate dari negeri Inggris. Hari itu banyak orang yang nongkrong di depan TV, guna langsung menyaksikan peristiwa bersejarah itu.

Situasi itu pula yang sepertinya terjadi di ruang rekreasi pastoral Gereja Katedral, Bandung. Tak lama kemudian, seseorang menyampaikan pada Pastor Leo, bahwa ada telepon dari negeri Belanda untuknya. Ia pun digiring ke arah arena tempat berkumpulnya tamu- tamu yang ingin menyaksikan “ peristiwa bersejarah” tersebut.
Ternyata yang menelepon adalah walikota Kerkdriel, kota kecil tempat kelahiran Pastor Leo di negeri Belanda. Masih dengan terheran-heran, Pastor Leo menjawab suara dari video call yang ditayangkan Skype melalui layar tancap yang telah dipersiapkan itu. “ Apakah anda bisa melihat saya ? “, terdengar suara dari seberang sana. “ Ya, saya melihat anda, seorang bapak dengan kumis yang terhias rapi! “, demikian gurau Pastor Leo yang memang dari sononya kocak. Hadirin pun gelak tertawa, baik yang ada di Katedral saat itu, maupun yang ada di negeri Belanda, seperti yang tampak jelas di latar belakang layar.

Barisan Kesatriaan

Sejurus berselang, sang walikota mengambil sebuah lencana dan mengarahkannnya ke kamera, sehingga tampak jelas bentuk serta warna lencana tersebut. ”Orde Van Oranje – Nassau memberikan penghargaan ini kepada anda dan sekaligus mengangkat anda sebagai Ridder in de Orde Van Oranje – Nassau”, pesan sang walikota dalam bahasa Belanda. Langsung riuh gemuruh suara tepuk tangan bersamaan terdengar bersamaan, baik dari Katedral, Bandung maupun yang berasal dari sejumlah penonton yang ada di Belanda. Itu adalah kali pertama kali bagi Orde Van Oranje - Nassau, memberikan sebuah penghargaan melalui sebuah tele-conference.
Ini adalah sebuah kejutan luar biasa yang sedikitpun tak pernah mampir dibenaknya. Seperti yang ia ungkapkan kemudian: “ Sama sekali tak pernah di doakan, tak pernah di impikan, tak pernah disangkakan! “

Ridder in de Orde Van Oranje – Nassau artinya adalah Ksatria dari Orde Van Oranje – Nassau. Orde Van Oranje - Nassau adalah keluarga dimana ratu dan raja Belanda berasal. Penghargaan ini diberikan setiap tahun oleh Kerajaan Belanda kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi sebuah karya pelayanan di bidang sosial kemasyarakatan. Singkatnya, Pastor Leo Van Beurden resmi masuk dalam barisan ksatriaan dari Orde Van Oranje – Nassau sejak 27 Desember 2010 dengan nomer 10.003604, demikian yang tertera pada serifikat dan lencana yang ia terima secara fisik pada tanggal 19 Juni 2011 di negeri Belanda, langsung dari sang walikota Kerkdriel.

Sebuah Kejutan Bagi Imamat ke Empat Puluh

Semula, kejutan ini akan diberikan sebagai hadiah bagi imamatnya yang ke empatpuluh, pada 27 September tahun lalu. Namun karena berbagai kendala yang dihadapi, terutama tentang status kewarganegaraannya yang sudah WNI, ternyata memakan waktu lebih lama dari perkiraan semula. “Meski demikian, akhirnya berbagai surat rekomendasi yang diperlukan berhasil dikumpulkan oleh berbagai pihak yang sudah membantu, terutama dari seorang rekan sesama OSC di Bandung, yang dikontak oleh Gerard, kakak saya.”, tambah pastor Leo. Usaha itu kemudian membuahkan hasil, ketika Februari 2011, didapatlah sebuah kepastian dari Orde Van Oranje – Nassau.
Sejak itu diaturlah berbagai strategi yang diperlukan, bagaimana mengupayakan pemberian penghargaan tersebut pada tanggal 29 April 2011, mengingat pada tanggal itu Pastor Leo tidak bisa berada di Belanda.

Karya Sosial Kemasyarakatan

“Sebenarnya masih banyak orang lain yang lebih berjasa dan layak menerima penghargaan ini dari saya “ ujar Pastor yang sejak 1971 berkarya di Indonesia ini. “Namun saya bersyukur dan beruntung karena toch, pada akhirnya saya merasa bangga, karena merasa ada yang menghargai pekerjaan saya” , ungkapnya dalam logat Belanda yang kental.
Salah satu yang mendasari keputusan pemberian penghargaan ini adalah, semangat misi pelayanannya yang tak pernah surut di luar negeri, tiga bulan semenjak ia ditahbiskan di negeri kelahirannya. Selain itu, karya sosialnya terutama di bidang pendidikan, koperasi serta pelayanan orang sakit tentu mendapat catatan tertentu dalam keseluruhan penilaian tersebut. Di bidang pendidikan, Pastor yang humoris ini adalah ketua Yayasan Salib Suci sejak Mei 1999 hingga kini. Yayasan ini membawahi enampuluhsembilan sekolah katolik ( tigabelasribu anak) yang tersebar di Jabar, bukan hanya di Bandung, melainkan sampai ke Indramayu, Pamanukan, Ciledug- Cirebon, Jatibarang ( duapuluh enam lokasi) dll. Kecintaan serta totalitasnya pada dunia pendidikan tak perlu diragukan lagi, dimana ia turut serta membangun dalam meletakkan nilai – nilai dasar di sejumlah sekolah katolik tersebut pada awalnya. ” Saya berusaha supaya anak-anak mendapat pendidikan; pertama budi pekerti, kemudian menjadi orang yang cerdas, jujur, berdisiplin, bersih dan cinta sesama manusia”, ungkapnya.
Keprihatinannya pada bidang sosial ekonomi juga tampak dalam karya nyatanya dalam membangun koperasi bagi nelayan di Indramayu, pada masa awal kedatangannya di Indonesia.

Sejurus itu, tanggung jawab sebagai pastor kepala, St. Petrus- Bandung tetap ia lakoni sehari-hari. "Seminggu sekali orang-orang yang merasa lapar dan tidak kebagian berkat yang Tuhan sediakan, ya gelandangan, pemulung, fakir miskin datang ke halaman saya dan diberi makanan. Mereka bisa makan sampai kenyang dan hanya bayar dua ribu rupiah.” ujar pastor yang tak canggung bergaul dengan lapisan masyarakat manapun ini. Menyikapi soal kerukunan antar umat, mantan Vikjend Keuskupan Bandung ( 1988- 1997) ini berkata: “Saya berusaha menjalin hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh agama lain dengan mengadakan pertemuan dengan mereka”

Selain mengemban karya pastoral dimana ia ditempatkan, pastor kelahiran 1942 ini, masih sempat menulis tiga buah seri buku ‘How To Enjoy The Holy Bible’ yang sampai kini masih dicetak ulang. Dua buku berisi kumpulan khotbah-khotbahnya juga sudah di terbitkan.
Agaknya semua yang ia kerjakan, telah mendapat perhatian khusus dan menjadi bagian yang penting dari Orde Van Oranje - Nassau, dimana dalam keputusannya memang tak terkait dengan agama tertentu.

“ Saya berterima kasih kepada umat dan Keuskupan Bandung, terlebih-lebih kepada teman se ordo, OSC ( Ordo Salib Suci), yang telah memungkinkan saya bisa berkembang hingga saat ini “, demikian pesannya pada akhir pembicaraan.(Rosiany T. Chandra)