Selasa, 05 Maret 2013
Bukan Hanya Cerita Di Dalam Hati
Senin, 04 Maret 2013
Jerat Dansa
Minggu, 03 Maret 2013
Ingat Pesan Pastor
Bukan Setengah Dewa
Gambaran sosok “manusia setengah dewa” yang kerap kita berikan kepada seorang Romo, akhirnya tidak bisa lagi kita pertahankan. Sekurangnya Minggu siang ( 14/10) itu, cap tersebut layak dipertanyakan serta dikupas tuntas.
Bagaimana sebenarnya kehidupan seorang Romo sehari -hari sering menjadi pertanyaan yang menggelitik untuk diketahui sebagian besar umat. Namun pertanyaan tersebut seringkali tak terjawab sejurus dengan gambaran “sosok manusia tanpa cela” yang telah diberikan oleh umat, sehingga mau tak mau image tersebut ikut dipelihara oleh sebagian besar imam.
Bertempat di gereja St Helena – Lippo Karawaci, tabir itu kemudian disingkapkan oleh peluncuran sebuah buku ‘Asyiknya Jadi Romo’, karya Pastor Heribertus Kartono, OSC. Acara launching buku ke empat karyanya ini, di bedah oleh Sr. Ayda, OSU, Bapak Didiek Dwinarmiadi( wartawan Kompas) dan Pastor Dr. Haryatmoko, SJ.
Buku ini berisi sembilan puluh kisah pengalaman Pastor Heri, demikian ia akrab disapa dalam kehidupannya sehari hari. Ceritera yang ia paparkan sangat variatif. Tidak hanya kisah tentang tantangan saat ia berpastoral, namun juga tentang bunga rampai kehidupannya sehari hari baik di tengah keluarga maupun orang orang yang ia kasihi.
Sama seperti sosoknya yang kocak, demikian pula adanya dengan kisah kisah yang ia tulis dengan jenaka. Meski demikian, sebenarnya tidak semua peristiwa yang ia tulis adalah kejadian yang konyol atau lucu. Bahkan beberapa kisah diantaranya adalah cerita yang mencekam, salah satunya sebut saja, kisah perampokan yang dialaminya. “Namun dibalik setiap peristiwa yang ia alami, Pastor Heri mampu melihatnya dari sisi positif dan jenaka, sekalipun hal itu adalah peristiwa pahit. Sehingga ia senantiasa menemukan solusi yang tepat”, ujar Pastor Haryatmoko dalam sesi bedah buku tersebut.
Oleh sebab itu, buku ini juga menawarkan sebuah pencerahan, seperti yang dungkapkan oleh Laurentia Ng, salah satu pengunjung;” Kisah kisah dalam buku ini mengajarkan saya bahwa kita harus bisa mengolah setiap tantangan hidup yang datang, dengan bumbu kejenakaan, sehingga bebannya menjadi lebih enteng!”
“ Sikapnya yang kerap mentertawakan diri sendiri dalam sebuah kondisi yang sedang tak mudah dihadapi, justru merupakan kiatnya untuk keluar dari situasi yang sulit “, ujar pastor Haryatmoko dengan mimik yang tak kalah kocaknya.
Bapa Uskup Mgr Ign Suharyo dalam kata pengantarnya di buku, menyebutkan bahwa Pastor Heri memang mempunyai bakat besar untuk menuliskan kisah-kisah hidup sehari –hari. Ada yang lucu, ada yang nakal (= seperti penulisnya), ada yang rada serius, yang semuanya merupakan bunga-bunga kehidupan.
Disamping itu, buku ini juga menjawab beberapa keraguan tentang panggilan imam yang kian surut. Ternyata menjadi imam itu asyik asyik aja kog, dan imam itu tentunya adalah seorang manusia seutuhnya, bukan setengah dewa!! ( Rosiany T Chandra)
Selasa, 16 Oktober 2012
A Flirt On The Street
Tadi pagi usai berolahraga pagi, aku segera memacu laju mobilku agar segera tiba di rumah untuk memulai aktifitas yang lain. Di tengah perjalanan , aku teringat sesuatu. Ada wesel pos hasil menulis yang sudah beberapa hari berada di dalam tas ku. Aku belum sempat saja ke kantor pos untuk menebusnya.
Karena kantor pos berada di seberang jalan,Segera aku ingin memutar balik arah mobilku, namun aku sudah melewati lajur antrian panjang mobil mobil yang ingin berbalik arah.Aku tidak lagi berada di jalur tersebut. Akan tetapi aku belum melewati mulut arah perputaran tersebut.Secara reflex sambil menghidupkan sign lampu ke kanan, aku segera menepikan mobil, berharap ada mobil di dalam antrian yang berbaik hati mengizinkan aku masuk dalam lajur antrian.
Benar saja, mobil di belakangku berbaik hati mengizinkan aku masuk. Segera aku lambaikan tangan ke belakang dari kaca jendela mobil yg aku buka. Setelah berhasil memutar arah, jalan menyempit,sehingga aku memperlambat laju mobilku, agar si pengemudi yang memberi aku jalan tadi, bisa melaju terlebih dahulu. Sengaja aku membuka jendela kiri mobil, kembali berterima kasih sambil melambaikan tangan ku. Rupanya ia juga membuka kaca mobilnya, lambaian tanganku di balas kembali olehnya.Kali ini ditambah sebuah kedipan mata! Sesaat aku terkesima, namun secara reflex segera mengedipkan mata kembali kepada si pria handsome paruh baya. ha ha...A flirt on the street! What a very nice day:) :) Langsung saja mobil ku pacu sekencang2nya...
Senin, 10 September 2012
Embun Perawan
Saat kuinjak butir embun perawan pagi
Nuansa dingin menusuk kaki menyergap jiwa
Hati yang pengap makin tergolek lemah
Kutadahkan wajah menatap pesona sang surya
Rasa hangat menjalar mencairkan selaput embun
Yang membalut hati dengan rasa dingin membeku
Kembali kurasa tak sebatangkara
Kehangatan pun ternyata datang menerpa
Diawali embun mutiara pagi..
Juli 2012
Gadisku Dan Kecoa
Beberapa hari lagi, gadisku akan kuliah ke FKG Trisakti, Jakarta. Tempat pondokan dan beberapa keperluan yang lain sudah mulai disiapkan semenjak beberapa minggu yang lalu.
Jakarta - Bandung memang ga jauh sih untuk berpisah dan mandiri dari orang tua.Kini, sebenarnya dimanapun di dunia ini hanya terpisah sejauh jarak jangkauan teknologi saja. Ataupun hanya terpisah ruang airport to airport.Selain itu, dengan usia seorang lulusan sekolah menengah tinggi, rasanya tak ada yang perlu aku kuatirkan secara berlebihan.
Aku jadi teringat saat aku pergi dari rumah dulu untuk kuliah ke luar negeri dengan usia yang 2 tahun lebih muda dari usia gadisku saat ini.Bersamaku saat itu, seorang sahabat masa kecilku ikut serta berangkat untuk merajut mimpi mimpi anak muda untuk kuliah ke Jerman.
Aku masih ingat, saat itu kedua orang tuaku mengantar aku hanya sampai bandara saja. Sejauh yang aku ingat, ibuku tak menyiratkan sebuah ekspresi di wajahnya. Entah apa yang ada di hatinya, sulit aku tebak. Aku hanya ingat bahwa ayahku menahan rasa haru diwajahnya..Akhirnya bulir airmata itu tumpah juga akhirnya.
Untuk usiaku yang 17 tahun saat itu, aku cukup bisa menahan emosiku dengan baik. Aku tidak ikut larut dalam suasana haru yang menyusup seketika.
Usai mengencangkan sabuk pengaman di kursi pesawat yang membawaku ke negeri transit Singapura, tak terbendung lagi air mataku. Aku menangis sejadi jadinya.Sahabat yang duduk disampingku juga ikut menangis. Tak ada satu pun dari kami bisa berucap kata kata. Kami juga tidak saling menghibur, kami tidak saling bertatap..Namun kami tahu bahwa kami masing masing sedang menangis. Entah apa yang bermain di benak sahabat ku saat itu, hingga kini tak kuketahui.
Yang aku tahu saat itu, ketika roda pesawat menyentuh daratan di Singapura, aku makin menangis karena dengan sadar mengetahui bahwa aku kini sudah kian menjauh dari rumah.
Kami duduk di deretan yang berisi tiga tempat duduk. Dijung sana duduk seorang bule, yang belakangan kami ketahui adalah seorang bule Jerman.Si bule tentu memperhatikan kami berdua yang menangis tak henti henti. Akhirnya ia penasaran juga dan mengajak kami berdialog. Dari situ kami tahu bahwa ia adalah seorang guru dan iapun memaklumi ketika mengetahui mengapa kami menangis!
Setelah tiba di negeri "mimpi", awalnya kami bak orang yang bengong..tak mengerti apa apa saat diajak berbicara dalam bahasa Jerman. Semua yang tampak adalah tulisan Jerman, segala yang di dengar, bahasa itu juga. Segala yang di TV, di majalah dan dimana mana....semua Jerman. Capek deh..!Kendati aku sudah les bahasa Jerman jauh jauh hari sebelum berangkat, rupanya itu tak terlalu banyak membantu.Belum lagi hati yang masih tetap galau pisah dari rumah...
Singkat cerita, toh akhirnya setelah 3 bulan menetap disana, kami berdua survive juga..Kini, 32 tahun telah berlalu, sahabatku bahkan telah menikah dengan orang sana dan masih tetap bermukim disana hingga kini. Sedangkan aku pulang kembali ke ibu pertiwi.
Kembali ke kisah gadisku yang hendak merajut mimpinya, aku tak terlalu khawatir, karena tak ada kendala bahasa dan "medan peperangannya" relatif lebih lembut dari apa yang kami alami saat itu. Selain itu, gadisku juga cukup mandiri dan bisa menggunakan akal sehatnya dengan baik. Ia tergolong gadis yang pemberani dan tidak cengeng. Ia tak gentar akan ular berbisa, berani memegang dan berfoto dengannya. Ia berani memegang cacing, anjing dan binatang lainnya dengan penuh kasih dan kelembutan. Ia juga gemar berkuda dan amat sayang sama binatang yang satu ini. Selain menunggang serasi, ia juga meloncat sesekali dengan kudanya. Sejak kecil ia mengerjakan segala sesuatu keperluannya dengan baik dan disiplin. Mempersiapkan jauh jauh hari segala keperluannya dan mencatat apa apa yang ia perlukan. Hal ini bahkan sering merepotkan aku, karena aku sering "di desak" untuk action jauh hari demi plan nya yang sudah ia susun rapih.
Hanya ada satu yang aku kuatirkan tentang dirinya, dan ini cukup mengganggu pikiran ku akhir akhir ini. Gadisku tak bisa melihat kecoa!! Kalau ada kecoa di kamar mandi atau di kamar tidurnya, ia langsung menjerit histeris. Dan segera meminta agar seseorang membantu untuk menyingkirkannya. Kalau di rumah ada pembantu, mereka lah sasaran jeritannya untuk segera datang dan "memusnahkan" binatang itu!
Jika kecoanya sudah matipun, ia tetap akan berteriak untuk minta seseorang segera mengambilnya untuk menyingkirkannya..
Pusinglah aku jadinya....! Gimana caranya supaya tempat pondokan bebas dari kecoa????
Nyaris tak mungkin di Indonesia..!? Galauuuu......
Sukses ya nak, semoga tak ada kecoa nanti yang menghampiri ya!
Langganan:
Postingan (Atom)



