Rabu, 06 Agustus 2014
Ketika Hati Sudah Berpaut
Alkisah, hiduplah seekor kuda belang nan elok di sebuah desa di Prambanan yang tak jelas namanya. Sama seperti nasib hidupnya yang tak jelas, demikian pula identitasnya pada saat itu. Sehari –hari ia membantu pekerjaan induk semangnya, yaitu menarik andong, istilah kerennya, delman.
Sama seperti induk semangnya, hidupnya pun dari hari ke hari amat prihatin. Ia sudah cukup bersyukur bila mendapat jatah makan dedak sehari sekali. Menjelang malam, biasanya hanya rumput yang menjadi kudapannya menyongsong hari esok subuh yang akan dimulai dengan rutinitas yang sama, yakni mengangkut penumpang demi beberapa lembar uang ribuan bagi induk semangnya.
Otot punggungnya yang ringkih menanggung beban, tak pernah dihiraukannya. Kompresan air hangat yang diberikan induk semang sedikitpun tak mengurangi reda nyeri otot yang masih amat belia, bahkan cenderung menghilangkan semua bulu surainya yang terurai indah.
Perawakannya tidak gagah. Baru dua setengah tahun usianya. Ototnya pun belum terbentuk sempurna. Namun belang hitam putih yang berbercak di tubuhnya membuatnya tampak ceria dan lucu bak mainan bernyawa. Di bawah terik mentari siang, tubuhnya berkilau bercampur keringat bercucuran, menambah bercak belangnya kian menawan. Ia pun tak sempat merenungi nasibnya. Yang ia ketahui, ayahnya konon adalah seekor kuda balap yang pernah juara. Ia hanya harus pasrah…mengapa nasibnya jauh berbeda dengan sang ayah, yang tak pernah ia kenal apalagi datang menjenguknya.
Satu hari, seorang pemuda, pemilik sebuah stable pacuan kuda di Pangandaran datang berwisata ke Prambanan. Ia amat tertarik dan jatuh hati dengan si belang, saat ia menaiki andong yang di hela oleh si belang. Si pemuda bertanya pada induk semangnya, apa si belang mau di lepas oleh pemiliknya. Walau dengan berat hati si belang meninggalkan induk semangnya, apa mau dikata, ia tak bisa menolak takdir.
Singkat cerita, si belang pun berpindah induk semang dan pindah ke kandang yang lebih lumayan di Pangandaran. Nasib mujur sedikit mulai berubah. Ia mendapat nama Joko Wanalu, identitasnya yang baru sesuai nasibnya yang baru pula. Joko menempati kandang sendiri dengan asupan makanan kuda pacu yang lebih memadai. Joko Wanalu tak perlu bangun pagi pagi lagi untuk menghela andong. Si Joko masih punya waktu di pagi hari untuk menikmati semilirnya angin pantai Pangandaran serta berjemur di bawah teriknya mentari. Kali ini tidak dalam berpeluh basah, namun dalam suasana santai merumput di pagi hari. Oleh pemiliknya, ia dirawat baik, terlebih lagi kasih sayang yang berlimpah.
Oleh sebab ia mantan kuda andong, saat dituntun ia perlu sedikit di tarik bak menarik sapi yang di cocok hidungnya. Ia tak terbiasa berjalan tanpa beban yang harus diangkutnya. Perlahan dengan penuh kesabaran sang pemuda melatihnya dengan penuh kasih dan kesabaran. Hari demi hari berlalu, sebulan kemudian, gizi yang terserap menampakkan hasil. Joko Wanalu menjelma menjadi seekor kuda yang kendati tetap kecil, namun gagah dan berwibawa.
Suatu hari, ia disertakan dalam sebuah pacuan kuda. Tak disangka, keiukutsertaannya yang pertama kali itu membuahkan hasil juara pertama. Tak terkira senangnya ia dan dan sang pemilik Joko Wanalu. Seiring dengan waktu, pengalaman bertandingnya pun bertambah. Juga dalam pertandingan tunggang serasi dan jumping. Satu saat ia dipindahkan oleh pemiliknya ke Bandung.
Joko Wanalu bertambah usianya. Ia mulai tertarik pada lawan jenisnya. Satu hari ia jatuh cinta pada seekor kuda yang imut imut belia, yang bernama Azumi. Azumi adalah seekor kuda yang berwarna abu abu dengan bercak putih. Surainya yang indah tertiup angin amat memikat hati Joko Wanalu. Saat merasa di perhatikan, Azumi pun mulai menebarkan pesonanya, Dengan suara nyaringnya, ia mulai meringkik sambil mengibas-ngibaskan surainya…..dengan harapan pesonanya berbalas. Joko Wanalu mendekati Azumi yang memang sedang birahi. Perlu diketahui, masa birahi kuda betina memang hanya sebulan sekali pada saat ovulasi saja. Dan itu berlangsung satu dua hari saja.
Temaram sinar bulan malam itu menjadi saksi betapa indahnya kasih berpaut antara dua hati. Pemilik Joko Wanalu dan Azumi memang membiarkan itu semua terjadi. Induk semang mereka yang sama, bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka.
Saat itu, sang pemuda pun sedang memadu kasih dengan gadisnya. Terinspirasi oleh paduan kasih Joko Wanalu dan Azumi, sang pemuda pun ingin segera meminang sang kekasih dan menikahinya. Sejurus berselang, Azumi mengandung dan sebelas bulan kemudian, lahirlah baby Elena, bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Konon, Elena adalah anak pertama Azumi, walau ia sudah pernah beberapa kali menjalin kasih dengan kuda lain.
Suatu hari, Joko Wanalu menarik hati seorang wisatawan yang sedang bertandang ke kandang. Ia ingin menghadiahkan Joko Wanalu kepada anaknya. Pemuda, pemilik Joko Wanalu yang memang sedang memerlukan biaya bagi pernikahannya, sepakat memberikan si Joko pada penawar baru.
Dengan berat hati Joko Wanalu harus meninggalkan Azumi terkasih dan baby Elena. Apa mau dikata… Hancurlah hati Azumi. Joko Wanalu adalah cinta terbesarnya. Sepeninggal Joko Wanalu, Azumi tidak pernah menebarkan pesonanya lagi pada siapapun. Untuk menghibur hati Azumi, ia pun pernah beberapa kali dijodohkan ke kuda yang lain. Namun perkawinan tak pernah membuahkan hasil. Cinta jiwa raganya sudah berpaut pada Joko Wanalu..
Tak kehilangan akal, pemilik Azumi kembali mencari Joko Wanalu ke kandang lain yang juga terletak di Bandung. Joko Wanalu ditemui dalam keadaan sehat. Hidupnya berkecukupan. Kandangnya indah luas. Makanan berlimpah dan hidup di sayang-sayang. Mantan kuda andong ini tak perlu berpacu lagi. Kini ia menjadi kuda pajangan yang hanya sesekali saja ditunggang oleh anak si pemilik baru. Joko Wanalu mendapat nama baru yang keren : Toblerone, sejurus dengan nasibnya yang berubah.
Namun takdir berkata lain. Tragis, Joko Wanalu ternyata ditemukan dalam keadaan sudah dikebiri…..!!
Hancurlah hati Azumi, jika saja ia mengetahuinya. Menangis darah pun tak ada artinya.( Rosiany T Chandra)
Terlahir dari sebuah kisah nyata
Minggu, 18 Agustus 2013
Pius : Pencipta Sosok Yesus dan Orang Kudus
Kini ia semakin betah di “sarang” baru yang ia bangun di bengkelnya. Disini ia bisa “liar” berkreasi, seakan-akan roh pada patung patung itu sendiri yang menghampiri, memberikan inspirasi pada dirinya.
Dahulu tidur- tiduran dan “bersarang” di ITB, bak di rumah sendiri selama hampir delapan tahun rupanya tak sia sia, bagi pria berkumis ini. Satu per satu teman seangkatan Pius Prio Wibowo lulus mendahuluinya. Mau tak mau Pius berjumpa serta berkenalan dengan teman teman dari angkatan baru yang segera menyusulnya. Namun mahasiswa Seni Murni Patung ini sedikit pun tak terusik, bahkan semakin betah dan akrab saja dengan lingkungan Lab Studio Patung Fakultas Seni Rupa dan Desain ( FSRD) Institut Teknologi Bandung. Disana ia seperti menemukan sebuah oasis yang memuaskan dahaga jiwanya. Disamping itu, pesona habitat
artistik ini seakan telah menggelorakan kubangan magma inspirasi serta imaginasi yang tiada hentinya bergemuruh di benak dan kalbunya. “Belakangan baru saya sadari, bahwa jiwa kesenimanan saya banyak ditempa di situ”, kenang Pius dengan penuh nostalgia.
Kelak aneka bentuk patung dan salib Yesus yang tersebar di pelbagai gereja di nusantara adalah hasil buah karyanya sejak 1994 hingga kini. Selain patung Yesus dan aneka relief yang terpasang di meja altar gereja, ia juga menghasilkan puluhan patung Bunda Maria dan para Orang Kudus yang ada di beberapa gereja, antara lain yang tersebar dari Lampung (Gereja Hati Kudus, Metro) hingga Flores Gereja Santa Maria Magdalena di Nanga Hure, Maumere). Patung patung yang mendeskripsikan perjalanan sengsara Yesus di Taman Getsemani terpajang pula salah satunya di Jalan Salib Gereja Santa Perawan Maria, Karmel – Lembang. Bahkan beberapa kaligrafi serta relief bagi mesjid adalah hasil pahatannya pula, selain beberapa monumen serta kreasi medali penghargaan yang diciptakan untuk berbagai event.
Seni Lebih Kuat Dari Tarikan Otot
Awalnya, anak ke 10 dari 13 bersaudara, pasangan (alm) Yohanes
Albertus Soeparlan dan (alm) Maria Helena Soepinah ini lebih tertarik ke bidang atletik. Semasa Sekolah Menengah Pertama, ia memang sempat menjuarai lomba sprint dan volley. Sejurus dengan prestasi di bidang olahraga ini, Pius sekaligus juga meraih juara dalam sebuah lomba gambar. Disamping itu, pelajaran prakarya juga adalah hal yang ia gemari. “Oleh sebab itu saya sering ikut membantu membuat patung pahlawan untuk perayaan 17 Agustus di lingkungan tempat tinggalku”, ujar Pius yang lahir dan besar di Bandung. Selulus SMP, Pius sempat bingung dalam menentukan bidang yang ingin ia tekuni. Sempat ia bersekolah di Sekolah Guru Olahraga (SGO). Namun sesaat kemudian ia menyadari bahwa naluri seninya bergema lebih kuat daripada tarikan ototnya. Alhasil iapun banting stir untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta (1982).
Saat masa sekolah di Yogya ini, ia kerap berkunjung ke pelukis (alm) Affandi. Ia banyak belajar dari karya ekspresionisme Sang Maestro. Selain itu ia bergaul dengan kalangan seniman Yogya, antara lain ia kagum dengan seniman patung Edi Sunarso. Pius menyadari bahwa ia sangat menikmati ketika mengamati mereka berkarya. Hal ini yang selanjutnya memantapkan niatnya untuk memilih bidang seni yang ditekuninya hingga kini.
Titik Tolak Berkesenian
Tahun 1984 ia diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB jurusan Seni Murni Patung. Pius mengatakan bahwa daya tarik seni patung terletak pada media tri matra (tiga dimensi), yang memungkinkan ia melihat serta mewujudkan sesuatu dari sudut yang lebih lepas/ekspresif. “Sedangkan seni lukis hanya bermain di ranah dwi matra ( dua dimensi) dengan ekspresi internal” tutur suami seniman kaca patri, Sandra S. Hariadi. Selain itu ia menjelaskan, ada pula yang disebut lukisan semi tiga dimensi, yakni relief. “ Seorang pematung harus bisa menggambar”, ujar dosen dan kepala Studio Seni Patung ITB ini. “ Memahami anatomi manusia adalah bagian dari titik tolak dari berkesenian”, imbuhnya kemudian. Selanjutnya Pius membeberkan bahwa di dalam tubuh manusia terkandung unsur estetika yang perlu disingkapkan melalui sebuah karya seni. Untuk ini diperlukan teknik dasar modelling, carving, serta memahami berbagai bentuk dan komposisi yang didukung oleh sebuah konsep yang kokoh.
Semasa kuliah, ia sempat mengikuti lomba monumen yang diikuti pula oleh dosennya. Saat itu ia berhasil menjadi pemenang, dan sekaligus mengalahkan dosennya. Momen ini ia kenang sebagai hal yang menambah kepercayaan dirinya untuk kukuh berkarya di seni patung. Lulus 1991 dari ITB, ia bekerja pada seniman Sunaryo dan magang di mantan dosennya, Rita Widagdo. Selanjutnya ia ke Belanda, berguru kepada Prof Ans Hey untuk ‘Stone Carving’. Dilanjutkan kemudian ke Perancis untuk menimba ilmu kepada Prof Jean Kammal.
Pius mengaku bahwa ia lebih menyukai berkreasi di jalur abstrak.
Menurutnya ini menjadi sebuah daya tarik karena “arena” ini tak mudah diintervensi, yang mengizinkan imaginasinya “liar” berkelana lebih jembar. “Meski demikian, esensi bentuk tubuh manusia yang telah berubah wujud menjadi sebuah bentuk abstrak tetap wajib memiliki nilai kontinuitas serta misi yang ingin disampaikan” pesan pria bersahaja dan halus budi ini.
Peduli Narapidana
Bersamaan dengan waktu ia diterima di ITB, Pius membangun sebuah Bengkel Seni Rupa. Awalnya bengkel ini bergerak di bidang pendidikan seni rupa yang menghasilkan teori pemahaman estetika bentuk. Namun seiring waktu, perusahaan mengembangkan diri di bidang yang lebih luas dan mengarah kepada praktika yang diwujudkan dalam khazanah ruang publik dan masyarakat, seperti monumental eksterior, patung, relief, piala, restorasi dll. Saat ini di bengkelnya Pius dibantu oleh beberapa orang berbakat eks narapidana. “Mereka perlu diberi hak kesempatan untuk berkerja kembali di dalam masyarakat”, ungkap pria yang masih sempat menjadi ketua lingkungan Santo Rafael, paroki Santa Odilia, Bandung.
Sejak ia masih bersekolah di SMP St. Yusuf – Bandung, berbagai rupa karyanya kerap dipamerkan hingga kini. Selain berpameran di berbagai kota besar di Indonesia, Pius juga diundang untuk memperkenalkan hasil karyanya ke segenap mancanegara, antara lain seperti Pameran “Marquis de Sade” et les Pleres de Lacoste, di Perancis ( 1993), Pameran Seni Rupa Asia di Kyungsung University, Pusan, Korea ( 1997), Taiwan dan Singapura. Disamping itu, monumen hasil rancangannya sebagian telah menjadi poros kota serta landmark di beberapa wilayah pemukiman. Salah
satunya, sebut saja monumen ‘Rama’ di Gelora Bung Karno, Senayan –Jakarta dan patung Phitecanthropus Erectus di Museum Nasional.
Tak terhitung sejumlah relief indah telah menghiasi beberapa lobby bank, hotel serta gedung perkantoran terkenal di Jakarta serta kediaman pribadi para pecinta seni. Dalam merancang sesuatu ia selalu mengupayakan agar apa yang ia ciptakan dapat menggugah orang yang melihat, sehingga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Terlebih lagi jika melalui hasil pahatannya, ia dapat menuntun orang untuk lebih khusyuk berdoa
sehingga menjadi lebih dekat kepadaNya. ( Rosiany T. Chandra)
Kulihat Ada Cahaya
Aku melihat dengan jelas apa yang sedang dirundingkan oleh tim dokter yang sedang mengelilingi ranjangku. Salah satu diantaranya memeriksa data di monitor yang terpasang di atas samping kepalaku. Tiba tiba aku bisa berada diantara dimensi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku berada di saat kini, di masa lalu dan di masa yang akan datang sekaligus.. Aku bingung sendiri, aku kini sedang berada di mana ya? Rasanya aku seperti ada di pojok atas ruangan yang berbau steril tersebut. Sedikit di atas atap ruang ICCU tersebut. Namun dengan pandangan mata elang yang terekam 360*. Bahkan aku mendengar dengan jelas apa saja yang sedang dibicarakan tim dokter tersebut. “ Aku melihat sorot mata Kartika, adikku yang tertunduk lesu, sambil membiarkan air matanya mengalir “, bisikku lirih kepada sebuah cahaya terang yang tiba tiba menyapaku. “ Kami memutuskan untuk tidak menambah dosis obat, biarkan semua mengalir apa adanya. Mari kita doakan”, ucap provinsial, mantan muridku itu yang disertai persetujuan kakakku.
Aku ingin berucap sesuatu, serta merta ingin menyetujui keputusan keluarga tersebut atas tubuhku yang terbujur ringkih dan kaku oleh kanker yang telah menggerogotinya. Sekonyong-konyong rasa sakit yang menyiksa tak kurasakan lagi.. Aku seperti dilepaskan dari rasa nyeri tak kepalang yang menghujam tubuhku beribu ribu laksa. “ Kalimat kalimatku yang berupa teriakan keras rupanya tak terdengar oleh mereka”, laporku pada cahaya tersebut. Aku juga bingung kenapa mereka tak bisa mendengarku. Padahal jelas jelas aku menujukan jeritanku kepada mereka.
Cahaya itu Tersenyum
“ Anakku yang kukasihi..mari ikutilah Aku..!” perintah suara dibalik cahaya yang menyilaukanku. Sejenak aku ragu.. Aku melihat sekumpulan umat dari parokiku datang menjengukku. Pak Supit dan ibu memegang tanganku. Hangat terasa genggaman tangan mereka di kiri kanan tubuhku…mereka sedang berdoa bagiku. Aku amat terharu. Sehari hari mereka banyak membantuku baik sebagai anggota dewan paroki, maupun sebagai sahabat bersepeda jika hari Sabtu tiba. Sesaat kemudian, aku bisa mendengar segala pembicaraan yang terjadi di ruang tunggu di luar kamar ICCU yang aku tempati. “ Pastor Robert adalah Pastor moderator kami yang sangat bijaksana dan senantiasa menghangatkan suasana dengan gaya jenakanya.”, jelas Bu Vera kepada salah satu ibu, umatku dari Cigugur yang sudah puluhan tahun tak pernah ku jumpa. Aku lupa lupa ingat siapa namanya. Namun parasnya tak banyak berubah. Salah satu anggota mudika yang aktif di masa aku bertugas sebagai salah satu pastor rekan di sana. Wajahnya menyiratkan keprihatinan ketika mendengar dari bu Vera bahwa harapan hidupku tinggal mujizat dari Yang Kuasa saja.
Pastor Andika tampak sedang memimpin doa bagi semua umat yang ku kenal satu persatu. Sangkin banyaknya mereka di luar sana, tak semuanya mendapat kesempatan masuk ke dalam ruangan dimana tubuhku berada. Doa yang mereka lambungkan sangat mententramkan hatiku. “ Aku baik baik saja disini…tak usah kuatir!”, ujarku sekuat tenaga di telinga mereka satu persatu…Aneh, mereka tetap tak mendengarku. Aku mulai kecewa dan panik juga. Doa Rosario meneduhkan dan menyamankan jiwaku yang galau. Kepada cahaya tersebut ku katakan bahwa aku ingin kembali kepada mereka. Umatku membutuhkanku. “Biarlah aku bersama mereka”, pintaku separuh memelas. Cahaya itu tersenyum kepadaku…”Aneh juga ya, cahaya bisa tersenyum, hal yang baru bagiku”, kataku lirih kepada almarhum ayahku yang berada disampingku. Kehadirannya sedikit banyak menghilaukan kegalauanku.
Tentram Di Keraguan
Anehnya saat itu, bukan hanya rasa sakit yang hilang, namun kedamaian yang bukan dari bumi, yang belum pernah kurasakan sebelumnya datang bersemayam di jiwaku. Aku melihat paru paru ku penuh dengan air, dengan selang oksigen di hidungku. Tubuhku yang ringkih dan makin kecil mengejutkan diriku sendiri. Aku sebenarnya tak mau kembali lagi ke tubuh yang sakit dan tak nyaman itu. Aku seolah berdiri di depan pintu kematian, sebuah pintu yang tidak dibatasi oleh apapun seperti yang ada di dunia. Pintu ini adalah sebuah tempat yang tanpa batas. Aku tak bisa mengatakan bahwa itu adalah pintu surga. Tapi aku merasa begitu dekat sekali dengan makna sebuah cinta yang memelukku sehingga aku tak memiliki rasa takut lagi.
Suara manik manik Rosario yang gemerincing dari seorang sahabatku yang sedang berdoa di samping tempat tidurku semakin memantapkan langkahku dan sekaligus meneduhkan hatiku. Aku bukan diriku lagi saat itu. Aku berjalan semakin jauh..meski bibirku ingin melontarkan luapan rasa terima kasihku, namun aku tak mampu lagi. Aku berjalan semakin jauh dengan iringan lagu lagu yang didengarkan melalui CD player yang terletak di samping tempat tidurku.” Biar kini daku bersyukur, Tuhan, merasa tenteram di keraguan..”. Lagu ini semakin jelas terdengar di telingaku.
Sejurus hal ini, semua menjadi begitu jelas.. jelas sekali terekam semua kisah perjalanan kilas balik yang aku alami dalam hidup pelayananku. Kini, tak sedikitpun ada rasa cape dan lelah akibat jadwal pelayanan yang padat yang kurasakan. Bahkan rasa kecewa yang pernah aku rasakan ketika tak memiliki waktu untuk menulis lagi sirna saat itu juga. Langkahku semakin ringan dan mantap melangkah, memenuhi panggilan Yang Kuasa. “Aku tidak terpaksa meninggalkan kenikmatan dunia.., karena disini aku baik baik saja, bahkan mungkin kenyamanan yang ku alami ini adalah kenikmatan surgawi sejati yang tak dimiliki oleh para sahabatku yang aku tinggalkan!” ( Rosiany T Chandra)
Dimuat di majalah Komunikasi Agustus 2013
Minggu, 12 Mei 2013
PYM
Saya bukan termasuk teman dari jadul nya Romo Kartono. Kami baru saling mengenal pada tahun 2006 dari seorang teman saya Laurent. Berjalan dengan waktu, kami bertiga tetap keep in touch di virtual space dan senantiasa saling mempercandai, saling menimpali guyonan sekaligus saling mendukung juga.
Seringkali PYM (Paduka Yang Mulia = kami menyebut beliau demikian) mengirim tulisan untuk majalah HIDUP atau tulisan untuk konsumsi blog nya kepada kami. Tujuannya adalah meminta masukan atau penilaian atas tulisan tersebut. Biasanya saya sering memberi tanggapan atau penilaian tertentu untuk apa yang saya anggap perlu untuk diperbaiki. Sejujurnya saya memang suka gaya penulisannya yang sederhana, mudah dimengerti dan tak bertele-tele, sesuai gambaran refleksi dirinya sendiri. Tulisan darinya saya baca sebagai pengisi waktu luang yang biasanya sekaligus sebagai penambah wawasan yang bermutu.
Sejak Oktober 2008, saya membantu di buletin paroki Pandu. Dalam hal mempersiapkan tulisan-tulisan, saya banyak dibimbing dan diarahkan oleh hopeng saya ini. Saya banyak belajar hal hal baru dalam dunia tulis menulis sebagai dunia yang amat dicintainya.
>
Sosok Jenaka
Sebenarnya saya banyak mengenal Romo Kartono lebih dekat melalui tulisan-tulisannya yang saya baca. Ia adalah sosok yang jenaka, jujur, rendah hati dan mempunyai kepekaan yang sangat terasah dengan baik. Dibalik pribadinya yang jenaka, pada dasarnya ia adalah orang yang boleh dibilang tertutup. Walau guyonan guyonan yang dilontarkannya terkesan keluar dengan spontan, sebenarnya ia amat piawai mengendalikan dirinya dengan baik. Candanya amat khas dan tiada duanya! Anehnya lagi, walaupun candanya terdengar kelewat batas jika diucapkan orang lain, tapi jika ia yang melontarkannya, rasanya tak ada orang yang akan tersinggung, malah gerrrrr….!!Jika anda mampu menangkis candaannya dengan baik, jangan berharap anda akan jadi pemenang. Dengan ‘licik’nya ia mampu berkelit dan anda akan dibuat terpingkal-pingkal oleh lontarannya yang tak terduga!
Eittt…jangan senang dulu jika satu saat anda dipuji PYM. Anda baru saja akan sumringah..,secepat kilat anda akan ‘dijatuhkan’ kembali dengan komentar berikutnya yang bikin gemess tiada tara. Ha ha ha…Jika ia tampil tak usil, malah kita merasa aneh. Terfikir oleh saya dan Laurent, jika sekarang aja usilnya demikian, apalagi dulu ya sewaktu kanak-kanak dan remaja. Mungkin harus ditanyakan kebenarannya ke teman sepermainannya. Ha ha..
Tetap Tersemat
Hal hal tersebut diatas sepertinya yang membuat umat cepat merasa akrab dengan Romo yang acapkali agendanya sudah penuh dengan pertemuan pertemuan jauh hari sebelum ia tiba di tanah air. Tampaknya ia amat menikmati tugas pelayanan ini yang diembannya dengan hati riang gembira serta diiringi dengan persiapan yang matang pula. Pin OSC yang senantiasa tersemat di krag bajunya mencerminkan semangat CROSSIER tetap menyala nyala dimanapun ia berada.
Amat menyenangkan punya hopeng yang ‘rame’ ini. Terima kasih untuk persahabatan yang telah terjalin. Saya sangat menikmatinya.
Selamat pesta Imamat 25 tahun Romo:
Mazmur 23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku:seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa. ( Rosiany T Chandra , 15 Agustus 2009)
Selasa, 05 Maret 2013
Bukan Hanya Cerita Di Dalam Hati
Senin, 04 Maret 2013
Jerat Dansa
Minggu, 03 Maret 2013
Ingat Pesan Pastor
Langganan:
Postingan (Atom)


